Chapter 46

1584 Kata
Setelah mandi dan bersiap - siap, Raka keluar dari kamarnya untuk memeriksa Zara dan juga Andika.  Saat berjalan ke kamar Zara, Raka melihat ada Andika di dalam kamar Zara dan sedang asyik memakan cemilan yang di bawa Zara dari rumahnya.  “Andikaa !!!” Teriak Raka dari luar kamar Zara.  Kamar Zara sengaja Zara buka sedikit, karena ada Andika.  “Ehh Raka.. sinii..” panggil Andika.  “Lo keluar deh sekarang !!!” Seru Raka.  “Ihh kenapa sih? Nggak papa, Lo nggak liat itu ointu sengaja di buka, biar Lo nggak mikir macam - macam.” Kata Andika dari dalam kamar Zara.  “Mana Zara??” Tanya Raka.  “Tuh di kamar mandi.” Jawab Andika. Andika masih asyik mengunyah cemilan yang di berikan Zara.  “Gue kan udah bilang dari tadi kalau Lo nggak usah masuk ke kamar Zara, gue bilang Lo di luar aja. Kenapa sekarang Lo ada di dalam?” Tanya Raka mulai mendekatkan dirinya pada pintu kamar Zara.  Zara yang sedang asyik make up di dalam kmar mandi, mendengar keributan itu. Dan segera keluar agar orang - orang yang ada di sekitar kamar Zara tidak terganggu. Kriiikkkkk (bunyi pintu kamar mandi terbuka)  “Kenapa sih ribut - ribut?” Tanya Zara yang sudah selesai dengan segala make upnya.  Raka tidak bisa berkata - kata semalam satu menit, karena melihat Zara begitu cantik keluar dari kamar mandi.  “Itu tuuhh Raka.. dia marah - marah karena gue masuk ke dalam kamar Lo. Dia takut kali, gue ngapa - ngapain Lo.” Ucap Andika.  “Hahahah.. coba aja Andika berani, dia belum tau nih siapa gue.” Seru Zara.  “Tuhhh dia lebih garang daripada gue, jadi Lo tenang aja. Kenapa sih pakai di permasalahkan segala. Zaranya aja nggak kenapa - kenapa, Zara santai aja. Iya kan Zara?” Kata Andika dengan santainya.  “Iyaa Raka.. tenang ajaa.. kamu masuk juga gihh, cobain cemilan yang aku bawa sebelum kita berangkat.” Ucap Zara berjalan ke meja tempat ia menyimpan cemilan tersebut.  “Nahh.. bener banget tuuh.. sini Lo bantuin gue nih habisin makanannya Zara.” Ucap Andika.  Raka akhirnya masuk ke dalam kamar Zara, tapi tetap posisi pintu kamar Zara tetap terbuka. Raka bergabung dengan Andika untuk memakan sedikit cemilan yang di bawa Zara sembari menunggu Zara menyiapkan semua perlengkapannya untuk di bawa meeting.  “Tas, Laptop, dokumen map coklat, dokumen map pink, sama apa lagi yah?” Tanya Zara pada dirinya sendiri.  Tapi Raka mendengar pertanyaan yang di lontarkan Zara.  “Handphone kamu udah masuk?” Tanya Raka.  “Oh iya handphone aku lagi di charge.” Ucap Zara lalu berdiri melihat baterai ponselnya sudah terisi berapa persen.  “Aku udah siap nih.. kita berangkat sekarang aja yuk.” Seru Zara.  “Okeyy.. ayo kita ketemu sama nenek lampir itu.” Seru Andika lalu berdiri dari tempat duduknya.  Andika membersihkan sisa makanan dan plastik bekas makanan dari meja di kamar Zara. Raka juga ikut membereskan mejanya Zara.  “Ihh ngapain di beresin sih? Biar gue aja. Yuk berangkat aja.” Kata Zara.  Zara sudah siap dengan laptop di tangan kirinya, dan dokumen - dokumen penting di tangan kanannya serta tas yang menggantung di pundaknya.  “Di beresin dulu, masa kita yang udah makan, Lo yang beresin, kan nggak baik kayak gitu.” Ucap Andika.  “Hahahah.. songong banget Lo.. biasanya juga nggak Lo bersihin kan.” Kata Zara.  “Iyaa—“ “Ehmm aku ambil tas dulu yah.” Ucap Raka memotong pembicaraan Andika.  “Woii Andika ayo cepetan keluar, ambil perlengkapan Lo juga.” Ucap Raka lagi. “Iyaa - iyaa.. tunggu sebentar kenapa sih? Gue nggak akan tinggal di kamarnya Zara kok.” Seru Andika.  “Hahah.. dengerin aja Andika, nanti doi kumat lagi marah - marahnya.” Seru Zara Sambil tertawa. Setelah membereskan meja di kamar Zara, Andika keluar dari kamar Zara lalu berjalan menuju kamarnya untuk mengambil tasnya juga. Raka, Zara dan Andika sudah siap untuk berangkat meeting di salah satu hotel ternama di Bali yang sudah di pilih oleh Cindy.  Saat setelah sampai di hotel, sudah terlihat Cindy yang sedang duduk di Loby hotel dengan pakaian yang super mewah. Cindy sangat terlihat seperti wanita karir yang sangat cerdas. Cindy pun menyadari kedatangan Raka, Cindy lalu bergegas berjalan menghampiri Raka di temani dengan sekertarisnya yang berjalan mengikuti Cindy.  “Ohhh akhirnya sampai jugaa !!! Aku udah dari tadi tau nungguin kalian. Ayo masuk.” Kata Cindy lalu menggandeng tangan Raka. Raka berusaha melepas tangan Cindy, tapi saat Raka berhasil melepasnya, Cindy lagi - lagi mencoba untuk menggandeng tangan Raka.  Zara sampai heran melihat tingkah Cindy, sedang Andika sudah terbiasa dengan sikap Cindy yang seperti itu terhadap Raka.  “Tunggu - tunggu.. aku sepertinya lupa sesuatu.” Kata Cindy lalu berbalik ke Zara. “Ohh halo mba Cindy.. kenalin nama saya Zara, saya sekertaris baru Pak Raka.” Ucap Zars kemudian menjulurkan tangan kanannya untuk berjabat tangan dengan Cindy.  “Hai Zara, kenalin gue Cindy. Anaknya pak Handoko  seorang pengusaha ternama di Bali.” Ujar Cindy dengan sangat lantang. Tapi Cindy membalas tangan Zara.  “Ohh iyaa salam kenal Mba Cindy.” Ucap Zara.  “Emang seperti itu, biarin aja.” Bisik Andika.  “Iyaa - iyaa.”  Raka, Andika, dan Cindy mengambil tempat duduk yang sudah di sediakan. Sedangkan Zara, membantu presentasi meeting yang akan di bahas hari itu.  “Ayoo kalau begitu kita mulai saja yah.” Ucap Raka.  “Iya Raka, silahkan.” Ucap Cindy lalu menyilangkan kakinya. Cindy duduk dengan gayanya yang sangat angkuh.  Meeting pun di mulai, dan semuanya berjalan dengan sangat lancar. Cindy sangat menyukai konsep pekerjaan yang di tawarkan Raka. Cindy juga menyukai cara pembawaan Zara dalam mempresentasikan konsep pekerjaannya.  “Wahh keren banget yahh.. emang nggak salah nih papa aku menunjuk perusahaan kamu sebagai mitra kerjanya selama beberapa tahun belakangan ini.” Ucap Cindy sambil bertepuk tangan.  “Yaa.. terima kasih Cindy.” Ucap Raka lalu tersenyum.  “Kebiasaan sekali yah kamu. Kasih ekspresi apa kek gitu? Jangan tegang - tegang banget gitu.” seru Cindy.  “Oh iya tadi nama kamu siapa?” Tanya Cindy menunjuk Zara.  “Zara Mba.. Zara.” Jawab Zara.  “Oh iya Zara.. kamu juga sepertinya cerdas yah, cara kamu membawakan konsep pekerjaan kalian tuh bagus banget. Terarah dan tertata rapih. Ohh iya satu lagi dan nggak gugup sama sekali.” Ucap Cindy.  Cindy adalah perempuan cantik, cerdas dan jujur. Kalau dalam hal memuji, Cindy memang selalu jujur, tanpa memandang siapa pun itu . Yah meskipun sikapnya terhadap Raka sangat berlebihan karena Cindy juga orang yang sangat ambisius. Cindy akan berusaha mendapatkan apa yang dia inginkan. Tetapi kekurangannya juga, Cindy selalu mekaksakan cara apapun itu untuk mendapatkan keinginannya.  “Hehe.. makasih Mba Cindy. Saya sudah terbisa berbicara di depan umum kok, dan memang public speaking saya sangat di akui di kampus saya.” Ucap Zara.  “Wahh bagus dong kalau gitu. Ehhmm Andika, Lo sendiri ngapain di sini? Raka kan sudah dapat sekertaris baru, ngapain Lo masih ikut meeting?” Tanya Cindy.  “Andika tangan kanan saya, jadi dia harus tau kontrak antara perusahaan kita. Emang dari dulu Andika suka ikut meeting kan.” Ucap Raka.  “Lo udah bosen liat gue?” Tanya Andika.  “Hahaha nggak kok, masa gue bosen sih. Lo kan yang selama jni bantuin gue untuk dekat sama Raka.” Ucap Cindy.  “Hah? Kapan coba? Perasaan nggak pernah deh. Gue kan jarang angkat telepon dari Lo.” Ucap Andika.  “Hmm iya juga yahh. Iya deh, Lo nggak pernah bantuin gue. Tapi gue yang selalu mengganggu Lo kan? Itu maksud Lo?” Tanya Cindy.  “Nahh itu baru benar.” Seru Andika.  “Dihh dasar !!! Okeyy lahh, terus itu mana kontraknya ? sini gue baca dulu.” Tanya cindy.  Zara lalu memberikan satu map tebal hitam yang sudah berisikan satu rangkap kontrak yang harus di tanda tangani oleh Cindy.  Cindy membaca perlahan - lahan setiap pasal yang tertera di dalam kontrak tersebut.  “Ada copyannya nggak? Gue minta tong, untuk gue kasih liat bokap gue. Gue mau telepon bokap gue dulu, apakah dia setuju atau tidak. Karena kalau gue sih udah setuju sama kontrak ini.” Ucap Cindy.  “Ada Mba Cindy, tunggu saya kirimkan ke email Mba Cindy yahh.” Ucap Zara.  “Kalau ada pertanyaan Lo bisa di jelasin sama Andika.” Ucap raka.  “Iyaa langsunh aja sama gue.” Kata Andika.  “Iyaa ntar gue telepon bokap gue dulu.” Kata Cindy sambil mengambil ponselnya. Tuuuttt tuuuttt tuuuuttt (suara sambungan telepon) Cindy menghubungi Paka Handoko, Papanya. Cindy menyalakan mode Speaker agar Raka, Zara, Andika bisa mendengar apa yang di katakan oleh Pak Handoko. Beberapa menit Pak Handoko baru menjawab teleponnya.  “Halo.. Papa.. aku barusan habis selesai meeting nih sama Raka dan orang - orangnya.” “Ohh iya, terus gimana? Bagaimana konsep pekerjaannya? Apa sudah cocok dengan apa yang perusahaan kita butuhkan juga?”  “Kalau menurut Cindy sih sudah lumayan Pah, terus ini aku juga udah baca kontraknya dan Cindy juga merasa kontraknya sama - sama menguntungkan kedua perusahaan. Tidak ada yang dirugikan, jadi kalau menurut aku, kita ambil aja pekerjaan ini Paah Tapi semua terserah Papa aja sih, keputusannya mau gimana. Itu coba cek email Papa, aku ada nerusin kontraknya coba papa baca dulu.”  “Ohh ini yah kamu kirimkan kontraknya? Tunggu sebentar, Papa baca dulu yah. Kasih tau Raka, kalau papa baca dulu. Tunggu sepuluh menit kemudian.”  “Oke Pahh.. Raka denger kok, semua yang papa bilang.  “Ohh okeyy, tunggu sebentar yah.” ====
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN