Dilematis ... itulah kata yang paling tepat menggambar kondisi hatiku saat ini. Jatuh cinta teramat dalam pada sosok laki-laki pujaan. Entah karena fisik ataukah sikapnya selama ini? Aku sendiri bingung. Di usia muda dan belum pernah menjalin hubungan serius dengan lelaki mana pun, rasa ini mendadak luluh lantak begitu dekat dengannya. Bramanditya Satriadireja. Seorang laki-laki berusia lebih dari empat puluh tahun dengan segala aura dan pesona luar biasa. Sanggup membuat mata-hati buta serta menghilangkan kewarasan seketika. Terdengar aneh dan tak lazim. Namun itulah yang terjadi.
Salah satu kesalahan fatalku —mungkin— berawal saat mengenal Della. Menjadi sahabat tak terpisahkan, lalu menerima tawaran dia untuk tinggal bersama. Tadinya hanya berniat hendak meminimalisir pengeluaran keuangan, karena harus benar-benar berhemat hidup di tengah nuansa perkotaan besar seperti sekarang ini. Nyatanya dari sanalah, justru dipertemukan dengan hal yang bisa membuatku tertekan setiap saat. Tersiksa menahan gemuruh di dalam d**a, tiap kali bertemu Bram. Ah, ini cinta ataukah nafsu belaka?
Mungkinkah karena telah lama aku tak merasakan kehangatan kasih sayang seorang bapak? Begitu pilu hingga tak bisa dilupakan hingga saat ini. Kehilangan sosok panutan di saat tubuh ini masih tumbuh berkembang. Terbujur kaku dan dingin tanpa mampu mengucapkan salam perpisahan atau pun memeluk erat untuk terakhir kali. Aku hanya menangis dan menangis dalam dekapan Mbok. Perempuan tua yang juga ikut menyusul kepergian Bapak sesaat sebelum pengumuman kelulusan sekolah tingkat atasku.
Aroma hangat dan begitu menyejukkan terasa lekat ketika mengenal Om Bram. Mengisi hampir setiap rongga hati yang lama tak tersentuh. Berbarengan dengan gejolak kedewasaan yang kian membuatku butuh akan hadirnya sesosok laki-laki idaman. Entahlah, pilihan ini jatuh padanya. Bukan Andre si laki-laki berdarah Eropa, atau juga Ryan, pemuda sebaya yang pernah membuatku hampir kehilangan kesucian.
"Maaf, Alya. Aku tak ingin merusak hidupku dan hidupmu. Masa depan kita," ujar Ryan seraya melepas dekapannya pada tubuhku yang sudah hampir polos.
"Ryan .... " panggilku perlahan. Memprotes perlakuan pemuda itu mengurungkan pelukan. "Lakukanlah sesukamu. Aku .... "
"Tidak, Lya. Maaf, aku gak bisa," ujar Ryan menjauh.
"Ryan .... " Aku berusaha menarik tubuhnya agar mendekat, tapi dia tetap menolak.
Pemuda itu melempar botol minuman di pinggir kasur, lalu berucap, "Semua gara-gara minuman laknat ini! Aku tak berniat menidurimu, Lya. Tadinya hanya ingin membuktikan efek obat pemberian salah satu temanku." Ryan mendengkus keras. "Sasaranku sebenarnya bukanlah kamu, Lya. Tapi ... Ratna!"
"Aku tak peduli apa pun yang kamu bicarakan itu, Ryan," kataku masih memaksa menarik tubuhnya. "Aku hanya inginkan kamu."
Kembali Ryan mendorong tubuhku hingga terjerembap di atas kasur. "Tidak, Lya. Maafkan aku."
"Ayolah, Ryan. Aku sudah tak tahan."
Kembali aku harus menerima penolakan pemuda itu. Otak ini rasanya sulit dikontrol. Hentakan kewanitaanku kian menguat. Melupakan rasa malu yang seharusnya melindungi kesucian dan muruah. Semua terjadi setelah beberapa saat meneguk minuman pemberian Ryan. Perlahan namun pasti, kegelisahan mendekap hasrat. Berharap sentuhan-sentuhan jemari dan bibir dia berlanjut menyusuri area sensitif tubuh ini.
"Pakai kembali bajumu, Lya. Aku tak ingin apa yang kita lakukan ini, diketahui oleh Bu Bariah. Pemilik rumah kontrakanku." Ryan menyodorkan sehelai baju yang sempat terlepas tadi. Dia bangkit sambil menarik kembali celana panjangnya yang sudah melorot sebatas lutut. Kemudian bergegas mengambil segelas air mineral untuk kuminum. "Ayo, aku antar kamu pulang sampai kontrakanmu. Mumpung belum pagi."
Setengah sadar, aku menuruti permintaan Ryan. Pikiran kacau dan masih dalam pengaruh obat yang dia maksud.
"Ryan .... " Aku memeluk pemuda itu saat hendak membantu berdiri. "Aku ingin .... "
"Sudahlah, Lya. Ayo, kita pulang," kata Ryan menepis dekapanku dengan kasar.
Laki-laki sialan! Tak tahu diri! Tadi dia memaksaku meminum air mineral dalam kemasan botol itu. Sekarang seakan-akan tak merasa bersalah membiarkan gejolak hasrat ini menghentak kuat. Ataukah mungkin dia tak normal?
"Antara kita tak pernah terjalin hubungan apa-apa, Lya. Kita cuma teman biasa. Lagipula ... aku tak mempunyai rasa apa-apa sama kamu. Maafkan aku, ya," tutur Ryan setelah tiba mengantarku hingga depan pintu kos, menggunakan sepeda motornya. "Aku pamit pulang, ya, Lya."
Pemuda itu langsung tancap gas begitu aku masuk ke dalam kamar. Berbaring di atas kasur dengan sisa perasaan aneh yang membelai setiap persendian. Begitu rindu akan sentuhan-sentuhan lembut di sepanjang lekuk tubuhku. Hanya bisa memeluk guling dengan erat, hingga kantuk pun datang menyergap.
Setelah kejadian itu, Ryan seperti berusaha menghindar tiap kali hendak berpapasan denganku. Ada saja alasan yang dikemukakan jika dipinta berbicara secara empat mata. Sampai kemudian, kami pun tak pernah lagi bertegur sapa. Semua kembali seperti sedia kala. Saling terdiam bagai tak pernah berjumpa sama sekali. Kecewa? Sebenarnya tidak. Toh, sebelumnya aku tak menaruh perasaan apa pun padanya. Hanya geram saja karena dia sempat menyentuh sebagian tubuh ini dengan percuma.
Hari-hariku dilewati dengan resah dan tak bersemangat. Itulah makanya, lebih betah berdiam di dalam perpustakaan ketimbang berbaur dengan teman-teman kuliah lain. Di samping karena alasan efisiensi ekonomi, juga karena ingin kembali ke niat awal untuk sungguh-sungguh belajar demi masa depan. Di tempat itu pula aku bertemu Della. Gadis cantik berkulit putih, anak orang kaya, namun menutup diri dari pergaulan. Tak ada teman dekat maupun sosok kekasih yang pernah terlihat. Aneh ....
Dari kedekatanku dengan Della inilah, seorang laki-laki lain mulai mendekat. Dia adalah Andre. Hubungan pertemanan yang cukup ganjil. Di mana sikap Andre terlihat biasa, tak begitu dengan Della. Aku pikir, gadis itu seperti menyimpan rasa dan harapan lain terhadap laki-laki itu. Di balik sifat 'jaim' dan kerap menunjukkan permusuhan, ada bibit-bibit cinta yang bersemayam di hatinya. Bias mata itu sulit berdusta, walau lisan berkata tidak. Sayang sekali, sinyal-sinyal itu tak mampu diterjemahkan Andre. Dia malah berusaha menjamah kebekuanku.
Sekarang kunci permasalahan ada dalam genggamanku. Menerima kehadiran Andre dengan resiko melukai Della, ataukah bertahan dalam kesendirian namun tersiksa menyembunyikan rasa ini pada Bram. Kedua pilihan tersebut jelas akan membuat gadis itu murka. Dia tak akan membiarkan setiap perempuan mendekati papahnya. Juga melihat orang yang disuka jatuh pada pelukan sahabat sendiri. Sementara Bram, aku pikir, memiliki perasaan sama. Halusinasi? Ah, perlakuan laki-laki berbulu d**a lebat itu tak layak jika disebut sebagai hubungan antara ayah dengan anak angkat. Anak? Ya, seperti yang pernah Della ungkapkan beberapa waktu lalu. Kedipan mata menggoda itulah sebagai salah satu respon penolakan akan ketulusan Bram 'mengadopsi' aku. Ingin bertanya langsung padanya, tapi tak berani. Untuk apa?
Sial! Semua jadi kacau begini. Salah satu jalannya aku harus pergi dari kehidupan mereka berdua, Bram dan Della. Kembali ke tempat kosan dan menjalani hidup dalam kesendirian.
"Lya .... " Satu suara membuyarkan lamunanku.
"Om .... " Kusebut nama itu begitu membalik badan. Menemukan sosok laki-laki yang selalu membuat d**a ini bergemuruh. Dia berdiri persis di belakangku.
"Kamu lagi ngapain malam-malam begini di teras rumah?" Bram melihat-lihat sekeliling. Mungkin tengah memastikan kalau aku sedang sendiri di sana.
Aku tersenyum. Menundukkan wajah. Tak ingin Bram memperhatikan raut wajahku yang muram. "Ndak apa-apa, Om. Hanya ingin sendiri saja. Ndak bisa tidur," jawabku sekenanya.
Dia berdiri persis di sampingku. Hanya mampu melewati pundaknya saat berjajar seperti ini. Benar-benar tinggi dan harus mendongakkan kepala jika hendak beradu tatap. Apalagi lebih dari itu.
Ya, Tuhan! Pikiran macam apa pula yang ada dalam kepala malam-malam begini. Ah, mengapa hanya itu dan itu selalu? Tak adakah hal lainnya?
"Tiba-tiba aku terbangun, keluar kamar, dan melihat pintu depan rumah terbuka. Aku pikir ada maling atau perampok. Ternyata pencurinya kamu, Lya," kata Bram pelan.
Aku? Tak seperti biasanya Bram menggunakan kata itu. 'Saya' atau 'Om' yang suka dia pakai saat berbicara denganku. Kini? Mengapa demikian?
"Maksud, Om?" tanyaku penasaran dengan kata 'pencuri' yang diucapkan Bram untukku barusan.
Laki-laki itu tersenyum. Itu yang kulihat saat memberanikan diri menoleh. Hanya sesaat. Tapi hasilnya .... seluruh aliran darah di dalam tubuh ini seketika memanas.
"Kamu pencuri penghuni rumah ini, Lya," jawab Bram masih belum kupahami.
"Alya ndak mengerti maksud Om."
Tangan Bram hinggap menyentuh pundakku. Oh, tidak! Kuatkan aku, Tuhan. Jangan sampai jatuh pingsan seperti kemarin. Tetap bertahan, fokus, sadar, dan dalam kontrol penuh.
"Della ... putriku," kata Bram akhirnya. Sedikit membuatku kecewa mendengar jawaban itu. "Kehadiranmu di rumah ini, aku lihat telah membuatnya bahagia."
"Seperti itu, ya, Om?" Aku menelan ludah. Pahit.
Jemari Bram bergerak-gerak meremas daging pundakku. Semoga saja tidak sampai membuat pertahanan kaki ini ambruk. Desiran darah mulai bergerak naik ke atas kepala.
"Dia anak perempuanku satu-satunya. Sudah lama ditinggal pergi almarhumah istriku. Sejak saat itu, Della jarang ingin bermain dan bergaul dengan teman-teman sebaya dia. Hanya akulah satu-satunya yang dia anggap teman, di samping sebagai seorang papah. Itu berjalan hingga dia beranjak dewasa seperti sekarang ini," tutur Bram semakin merapatkan tubuhnya padaku. Uh, tetaplah bertahan dan eling, Alya! "Tapi semenjak ada kamu, perhatiannya padaku agak berkurang. Di sisi lain aku merasa sangat senang, Lya. Tapi aku juga ... cemburu."
Tiba-tiba aku ingin menoleh. Mendongak. Menatap wajah laki-laki itu mumpung dekat. "Maksud, Om?" Lagi-lagi aku tak paham dengan kata Bram terakhir barusan.
"Ya, aku cemburu karena kamu berhasil mencuri hati Della. Dia sangat sayang sekali sama kamu, Lya." Hembusan napas Bram sempat menerpa wajahku. Hangat dan membangkitkan selera. Ya, Tuhan! Itu lagikah? "Itu tak pernah terjadi sebelumnya pada Della. Dia sangat protektif terhadap semua perempuan yang ada di sekelilingku. Dia tak ingin ada wanita lain yang bisa mengambil alih aku dari sisinya. Bahkan terhadap Bi Mamas sendiri. Kamu kenal, kan, siapa Bi Mamas?"
Aku mengangguk. Tak ingin tatapan mata ini lepas dari bola matanya. Kesempatan. Selagi ada dan dekat. Jarang-jarang, kan? Atau malah tak akan terulang lagi?
"Della sangat menyukaimu. Dia ingin kamu selalu berada di sini bersama kami. Sampai kapanpun, Lya," lanjut Bram berucap.
"Terima kasih atas kebaikan Om dan Della selama ini. Alya sangat beruntung bisa dekat dengan orang sebaik Om dan Della," jawabku terbata-bata. Gerakan jemari Bram di pundak berganti menjadi sentuhan halus. Aku berusaha sebisa mungkin untuk tetap bertahan.
Bram tersenyum. Tiba-tiba jemari tangannya yang lain berayun menyentuh daguku. "Kamu cantik, Lya. Pintar, rajin, baik hati dan .... "
Jantungku berdetak kencang. Berharap tak sampai ambrol memecah tulang rusuk serta memporak-porandakan isi d**a. Ini benar-benar di luar dugaan. Sentuhan itu .... seketika membuat wajah memanas. Menyengat hingga mendidihkan titik keringat yang mulai menyusup bagian ketiakku. Untunglah tak menggunakan bedak. Khawatir nanti akan menjadi olahan BURKET.
" ... dan apa, Om?" tanyaku tiba-tiba ingin memejamkan mata. Berharap napas laki-laki itu mendekat dan semakin mendekat.
Agak lama Bram memperhatikan bola mataku. "Tidak apa-apa, Lya. Aku hanya .... "
"Hanya apa, Om?" desakku penasaran. Ingin segera menuntaskan obrolan ini hingga berlanjut pada episode lainnya.
"Tidak. Tidak apa-apa."
Bohong! Mata itu berkata ada hal lain yang dia sembunyikan. Juga jakunnya yang turun-naik saat memandangku. Bram tak jujur.
"Om .... " panggilku perlahan.
"Hhmmm."
Tiba-tiba aku ingin sekali bertanya. Keberanian yang muncul begitu saja di ambang pertahanan tubuh yang kian melemah. "Benarkah Alya ini dianggap anak kandung sendiri bagi Om Bram?"
Bram tersenyum manis. "Aku mencintaimu, Lya."
Oh, tidak! Aku benar-benar tak tahan lagi. Seketika pijakan kaki seakan melayang. Penglihatan memudar dan berubah gelap. Sampai akhirnya semua menghilang bersamaan dengan pekat yang menyelimuti kesadaran.
Tak tahu apa yang terjadi. Berapa lama. Hingga akhirnya aku membuka mata di dalam sebuah ruangan yang tak pernah kulihat selama ini. Kamar Om Bram? Mungkin. Kasurnya begitu empuk. Wangi. Lalu ... mataku membentur pada sosok yang sedang duduk dekat kakiku. Memijit dengan lembut dan perlahan. Aku ....
Ya, Tuhan! Apakah aku sedang berada di ruang surga? Berharap tak segera pulih kesadaran ini. Lanjut pingsan dan bermimpi dengan laki-laki itu. Biarlah berlama-lama juga, yang penting hanya aku dan Om Bram. Namun itu hanya sekejap. Sampai gelegar suara layaknya petir menghentak jiwa.
"Papah!"
Itu suara Della. Dia berdiri di ambang pintu kamar yang terbuka. Berkacak pinggang disertai kilatan mata murka.
BERSAMBUNG