Part 6

1790 Kata
Pukul setengah dua belas malam, aku masih terjaga. Dari tadi berusaha memejamkan mata, berharap kantuk segera datang melanda. Sulit. Yang ada, kelopak malah terasa perih. Berguling ke segala penjuru kasur, mencari-cari posisi nyaman, tetap saja yang kuharapkan tak juga kunjung tiba. Ah, entah rasa apa ini? Imajinasi liar bergerilya menghantui seisi kepala. Menarik jejak pandang mata akan kejadian di dalam restoran tadi. Laki-laki itu, Om Bram, kerap menatapku penuh pesona. Netra kecoklatan berbulu lentik disertai seringai nakal menggoda, sanggup membekukan saraf di tubuh ini. Sirna kuasaku mengontrol setiap gerak, hingga getar lemah meruntuhkan raga. PRANG! Duh, ini kali kedua aku menjatuhkan sendok makan. Yang pertama tentu masih cukup banyak alasan jika ditanya. Kali ini? Entah jawaban macam apakah keluar dari lisanku? Seketika Della menoleh heran. "Elu kenapa, sih, Lya? Parkinson lu?" tanya gadis itu sembari mengunyah makanan. "Hus!" Bram menimpali. Mata laki-laki itu mendelik ke arah putri kesayangannya. Della menyeringai. "Maaf .... " kataku setelah memungut sendok di bawah meja. Hal konyol sebelumnya tak pernah mau diulang. Melirik-lirik ke titik arah yang kurang penting. Seperti tadi, pangkal paha Om Bram. Dih! "Pake yang baru, nih, Cuy. Jangan yang itu. Kotor." Della menyodorkan tempat sendok dan garpu dari tengah meja. "Terima kasih, Del." Aku tak berani melihat ke arah Om Bram. Ngeri. Khawatir mata laki-laki flamboyan itu kembali 'kelilipan'. Bisa-bisa mendadak pingsan jiwa raga ini. Bahaya! Tiba-tiba punggung telapak tangan Della mendarat di dahiku. Begitu cepat dan tak terduga. Seketika aku terkejut serta bertanya, "Ada apa, sih, Del?" seraya menepis lengannya. Dia mengerutkan dahi beberapa saat. "Kok, anget? Elu demam?" tanyanya kemudian. "Apaan, sih?" Aku merengut. Penasaran turut meraba-raba area wajah. Benar! Agak hangat. Bukan karena sakit, tapi akibat ... "Beneran elu gak sakit, Cuy?" Della masih tak percaya. "Endaaakkk!" jawabku tanpa berani coba-coba melirik Om Bram. Bahaya! "Kok, muka elu merah?" tanya Della kembali. Dih, belum puas juga dia menginterogasi. "Aku makan sama sambel, Della. Kamu ndak lihat ini?" Tanpa pikir panjang kuambil wadah sambal, lalu menuang sesendok demi sesendok ke atas nasi. "Nih! Nih! Nih! Ini juga! Ini! Ini .... " "Stop Alya! Apa-apaan ini?" Spontan Om Bram bangkit dari duduk, lalu menahan tanganku dengan jemarinya yang kuat. "Sudah! Sudah! Kenapa jadi begini?" Darahku terasa berhenti mengalir. Membekukan gerak tubuh ini. Diam terpana dengan mulut menganga. Cengkeraman jemari itu ... seperti sengatan listrik dahsyat, hingga tersetrumlah aku jadinya. Lebay! "Lya .... " panggil Della kaget melihat kondisiku yang terlihat mengejang. "Lya!" Aku hanya bisa menggerakan ekor mata dan bertanya dengan mulut masih terbuka, "Apa?" "Elu punya penyakit ayan?" Della meringis ngeri. "Sialan! Kurang ajar lu!" kataku langsung tersadar tiba-tiba, lalu meninju bahu Della berkali-kali. "Aduh, ampun! Sakit gue, Cuy!" teriak gadis itu seraya menggeser menjauhiku. "Gue, kan, cuma bercanda aja. Hahaha." Om Bram hanya menggeleng-geleng melihat tingkah kami. Sementara piring nasi yang penuh dengan sambal tadi, sudah dia jauhkan dari hadapanku. "Sudah! Sudah! Kalian berdua ini kayak anak kecil aja," seru Om Bram menyadarkanku. "Maaf, Om. Habisnya aku kesel." Aku mencari-cari piring nasi yang sudah menghilang. "Nasiku mana, ya?" Della masih cekikikan. Belum puas rupanya dia menggodaku. Om Bram menyodorkan piring baru. "Ganti saja. Bahaya kalo kamu makan nasi tadi. Penuh sambal begitu," ujar Bram sambil memperhatikan sikapku yang mulai gugup. "Nanti cantikmu akan pudar, Lya." Mendadak aku kehilangan kesadaran. Begitu cepat terjadi. Penglihatan ini tiba-tiba menghitam, pekat. Selanjutnya tak tahu apa yang terjadi. Kecuali sempat mendengar teriakan Della, "Alya .... !!!" TUIIINNGGG ... GEDEBUK! Dunia oleng. Seberapa lama tak sadarkan diri, aku tak tahu. Sampai kemudian perlahan gendang telinga ini mendengar suara-suara halus serta aroma obat-obatan kimia. "Nah, dia sudah siuman, Pak." "Alya .... " Suara besar dan berat. "Cuy .... " Yang ini suara cempreng. Hafal sekali, siapa pemiliknya. Kucoba membuka mata. Perlahan. Masih bias. Lalu wajah-wajah itu, menatap tajam penuh tanda tanya. "Kamu sudah merasa agak baikan sekarang, Alya?" tanya Bram seraya membantuku bangkit. "Aku di mana, Om?" Kusapu seluruh sudut ruangan, dan juga sosok berbaju serba putih di belakang meja sana. Dokter? Mantri suntik? Ataukah profesor? Jidatnya itu, lho, mirip etalase konter penjual pulsa. Mengilap silau! "Kamu lagi ada di klinik," jawab Bram pelan. Dekat sekali dengan daun telingaku. "Kenapa aku ada di sini?" Aku masih bingung. Bram menarik napas, lalu menghempaskannya begitu saja. Semilir menyapu helai rambutku. Seperti tengah dibelai manja oleh ... ah, halusinasi lagi. Aku harus kuat sekarang. "Tadi kamu pingsan di restoran," jawab Bram kembali. Ya, Tuhan. Hembusan napasnya itu begitu panas. Panas ... panas ... panas ... terasa membakar tengkorak kepalaku. "Oh, begitu?" "Ya." Kucoba menapakan kaki yang terayun dari atas ranjang periksa pasien. Hendak turun. Bram bermaksud membantu dengan memegang bahuku. "Jangaaannn!" Tak sadar aku berteriak, hingga dokter botak licin di belakang meja itu terperanjat. Dia menatapku heran. Masih memegang sebuah pulpen yang meninggalkan garis panjang di atas kertas. Della ikut terkejut. Hampir saja ponsel yang sedang dia mainkan terlepas dari genggaman. "Kenapa lagi, Cuy? Elu saraf?" tanya Della sambil menyilangkan telunjuk di dahi sendiri. "Hehe," aku menyeringai. "Maaf. Spontanitas." "Oke ... oke," jawab Bram dengan kedua tangan mengembang serta mundur menjauh. Tadi benar-benar di luar kontrol. Takut Om Bram menyentuhku kembali. Khawatir akan membuat aliran darah ini tiba-tiba berhenti total. Makanya secara refleks langsung berteriak. Halah! "Tekanan darah anak Bapak rendah. Mungkin faktor kelelahan atau ada hal lain yang mempengaruhinya," tutur dokter botak itu menjelaskan sambil menuliskan sesuatu di atas kertas baru. Yang tadi tercoret panjang dibuang, akibat terkejut dengan teriakanku. 'Iya, dok. Faktor itu adalah ... orang yang sedang berada di sisiku saat ini,' kataku dalam hati tanpa berani melirik ke samping. Ada Bram di sana. "Anda punya riwayat penyakit yang pernah diderita sebelumnya, Neng?" tanya dokter kemudian. "Ada. Sakit lambung," jawabku pelan. "Ya, mungkin itu disebabkan penumpukan gas di dalam perut. Sulit buang angin dan menekan organ usus serta kulit perut," kata dokter tersebut. "Hubungannya ama sakit lambung apaan, dok?" tanya Della tiba-tiba menyela. "Kok, jadi ke gas? Sulit kentut maksudnya?" "Della .... " Bram mengingatkan anaknya. Dokter itu melongo. "Tadi si Neng ini bilang sakit kembung, kan?" Della menepuk jidat. "Lambung, dok! Lambung! Penyakit mag!" Gadis itu menaikan volume suaranya. "Busyet, deh!" "Della!" Bram mengingatkan kembali. Dokter terkekeh. "Oh, lambung? Saya kira tadi kembung. Maaf .... " Dia membetulkan colokan hearing aid di lubang telinganya. "Maaf. Alat bantu dengar saya ini tiba-tiba kurang peka. Mungkin batrenya ngedrop akibat teriakan si Neng ini tadi. Hehe. Maaf." Bram dan Della saling berpandangan dengan mimik mengeruh. Bingung. Sementara aku sendiri berusaha menahan diri, agar tawa ini tak ambyar. Mungkinkah Om Bram keliru membawaku ke tempat yang salah? Klinik macam apa ini? Sepanjang perjalanan pulang, aku lebih banyak diam. Tak berani melirik ataupun curi-curi pandang seperti sebelumnya pada laki-laki itu. Sumpah! Aku takut. Tak tahu mengapa, setiap kali dekat dan membaui aroma papah Della, diri ini tiba-tiba melemah, gugup, i***t, salah tingkah, serta segudang rasa menyebalkan lainnya. Jatuh cinta? Mungkin lebih dari itu. Gila! Jangan-jangan ini yang dinamakan cinta pertama. Sungguh tak tahu, karena seumur hidup belum pernah merasakan rasa sedahsyat ini. Aku melangkah ke luar kamar. Temaram. Hanya ada beberapa lampu kecil yang dibiarkan menyala dari arah ruang bawah. Bergegas menuruni anak tangga dengan langkah kecil. Khawatir jejak ini akan menimbulkan suara. Lumayan, cukup panas udara malam ini. Tenggorokanku serasa mengering kerontang. Butuh beberapa tegukan air dingin, untuk mengusir dahaga yang kian menyiksa. Perlahan kulangkahkan kaki menuju dapur. Tepatnya ke arah kulkas. Memburu botol air mineral dingin. Suara jerit pintu lemari pendingin itu terdengar nyaring di tengah kesunyian. Ataukah hanya perasaanku belaka karena khawatir membangunkan penghuni kamar sebelah. "Alya .... " Aku hampir tersedak. Suara itu tiba-tiba menggema tepat di belakang. Spontan memutar tubuh dan .... "Om?" Aku terkejut. Sosok Om Bram tengah berdiri mematung menatapku. Hanya mengenakan celana bokser pendek dan ketat. Bertelanjang d**a dengan sedikit mengilap basah, diterpa cahaya lampu temaram. Mungkin keringat. Aku ... ah, TIDAK! Jangan berlama-lama menatap tubuh itu. Harus fokus dan sadar. Mengontrol diri sepenuhnya agar tak melemah jatuh. Pingsan atau sejenisnya. "Kamu ngapain malam-malam begini ada di dapur?" tanya Bram dengan suara beratnya, menusuk-nusuk gendang telingaku. Seketika jantung ini berdebar kencang. "Minum, Om. Haus," jawabku sambil memejamkan mata. Semoga bisa tetap bertahan dalam posisi seperti itu. Merem. "Oh .... " timpal Bram pendek. "Alya .... " Duh, suaranya itu. Pelan tapi syahdu. Aku harus tetap fokus memusatkan pikiran pada titik kelopak mata, agar jangan sampai terbuka. Sedetik pun. "Alya .... " Ya, ampun! Dia belum pergi juga? Mau apa, sih, panggil-panggil aku? "Iya, Om .... " "Saya ingin .... " "Jangan, Om! Please, jangan!" "Alya!" "Jangan sentuh aku, Om. Kumohon!" "Saya mau ngambil minum juga. Kamu dari tadi ngalangin pintu kulkas, Lya." "Hah?!" Aku baru sadar, lalu secepatnya menggeser ke samping. Kalau maju bisa gawat, tabrakan dengan tubuh basah dan berbulu itu. Wuih, sangat berbahaya. "Oh, maaf, Om. Aduh." "Kamu kenapa, sih? Kok, dari tadi merem terus? Ngantuk? Ya, udah tidur sana," ujar Bram diiringi kekehannya. Ya, aku harus segera pergi dari tempat ini. Pergi tidur dan berharap tak akan lagi mendapat mimpi aneh seperti beberapa hari yang lalu. "Baik, Om. Alya mau tidur lagi. Selamat malam, Om." "Malam juga, Alya." Aku segera bergegas pergi meninggalkan laki-laki itu. Tetap pejamkan mata. Tutup kuping agar tak mendengar suara dia memanggil kembali. Jangan pernah mencoba menengok, apalagi curi-curi pemandangan di balik celana bokser pendek dan ketat itu. Pokoknya aku .... DUK! "Aduh!" "Kenapa, Lya?" tanya Bram dari kejauhan. Sial! Kepalaku terantuk tembok dekat tangga. Wajarlah, berjalan sambil tutup mata. "Kamu gak apa-apa, kan?" tanya Bram kembali. "Ndak apa-apa, Om. Hanya kesasar akibat gelap," jawabku sekenanya. "Kepalaku pusing .... " Yang terakhir ini cukup di dalam hati saja. Akhirnya dengan susah payah sambil menahan pening, sampai juga aku di depan pintu kamar Della. Malam ini tak mau tidur sendirian. Khawatir digeranyangi selimut berbahan bulu sintesis itu. TOK! TOK! TOK! "Della, buka pintu, dong." Lama tak ada jawaban. Kuulangi, "Della. Aku ingin tidur di kamar kamu, Del." Tak lama pintu terbuka. "Ngapain, sih, lu? Malem-malem berisik!" "Aku ingin tidur sama kamu. Di kamar kamu," aku merengek sambil mengusap-usap kepala yang tadi berbenturan dengan tembok. Della memperhatikan kepalaku. "Emang ada apa di kamar elu? Terus itu kepala, kenapa juga diusap-usap gitu? Elu ngigo?" Aku berpikir sejenak. "Aku mimpi buruk. Nih, kepalaku sampai kejedot. Aku takut, Del." "Hhmmm ... cuma mimpi?" Della mencibir. "Kirain ada pangeran berbulu masuk kamar elu?" "Pangeran berbulu?" Aku bingung. Jangan-jangan yang dia maksud itu papanya. Itu berarti Della sudah mencium gelagat aku menyukai .... "Maksud gue ... genderuwo, Cuy! Hahaha!" Jawab Della lengkap dengan tawanya. Ah, syukurlah. Tak seperti yang kusangkakan. Masih aman! "Dasar kamu!" "Ya, udah. Masuklah. Molor." "Iya, Del." Aku memasuki kamar Della dengan perasaan lega. Sempat risau tadi dengan kata-katanya. Ataukah suatu saat kelak dia akan tahu juga tentang perasaanku pada Om Bram? Berbahaya! BERSAMBUNG
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN