Beberapa bulan kemudian...
Berita tentang kandasnya hubungan Fito dan Gisella mewarnai halaman berbagai media massa. Baik media cetak, elektronik ataupun media online. Nama Fito dan Gisella menempati urutan teratas diberbagai kanal berita entertainment.
Pihak management yang pertama kali melempar berita tersebut lewat fake account dan setelah berita meluas barulah mereka merilisnya secara resmi. Membuat seolah- olah kalau putusnya hubungan Fito dan Gisella sudah berlangsung cukup lama.
Berita yang mereka rilis tidak sepenuhnya rekayasa. Bagi Fito, hubungannya dan Gisella memang telah berakhir sejak lama.
Awal kemunculan berita tersebut tidak membuat Fito diserang secara pribadi. Publik sepertinya hanya menganggap sebagai hal yang biasa terjadi di dunia selebriti. Jangankan putus saat pacaran, kawin cerai saja tidak lagi dipandang aneh.
Hujatan mulai datang saat Gisella muncul sebagai bintang tamu diberbagai media. Gisella menjadikan dirinya sebagai korban dari pengkhiatan yang dilakukan oleh Fito. Netizen mulai gempar, sampai nama Fito dan Gisella menjadi trending topic. Berita lama kembali dimunculkan. Beberapa akun gosip terang-terangan menyebut nama Fida seakan Fida masih sendiri. Entah sebagian dari mereka yang tidak tahu atau sengaja menutup mata dari fakta yang ada. Sehingga begitu mudahnya jari mereka menulis sesuatu yang bahkan mereka sendiri tidak tahu kebenarannya.
Sama seperti Gisella, tawaran menjadi bintang tamu berdatangan dari mana-mana. Paling banyak datang dari para youtuber yang tiba-tiba latah menjadi podcaster. Tapi Fito masih bisa menahan diri dengan menolak tawaran-tawaran tersebut. Iming-iming materi tidak membuatnya goyah. Tujuannya membiarkan masalah pribadinya menjadi konsumsi publik jelas bukan karena uang! Fito hanya ingin orang-orang tahu bahwa hubungannya dengan Gisella telah berakhir!
namun...
Jika boleh serakah... Fito mau, Fida dan keluarganya bisa melihat status barunya dengan hati yang terbuka.
Harapan itu mungkin nyaris tak terlihat tapi kemungkinan tetaplah ada!
Gencarnya pemberitaan tentang kasus perselingkuhan Fito tentu saja dimanfaatkan oleh ph untuk meluncurkan film terbaru mereka.
Gosip dengan cepat berubah haluan. Kini, Fito dan Gisella dituding melakukan settingan demi mendongkrak popularitas film tersebut.
Berbeda dengan pertama gosip muncul, kali ini, baik pihak management yang menaungi Fito maupun pihak ph tidak ada satupun yang mengeluarkan statment apa-apa. Publik seakan dibiarkan menebak- nebak sendiri.
Fito semakin terpojok karena dia sendiri memilih untuk bungkam dan menolak tawaran menjadi bintang tamu berbagai acara. Awalnya Fito merasa dengan diam berita tentang dirinya akan cepat mereda tapi nyatanya semakin liar bergulir karena ada banyak pihak yang menungganginya. Didunia yang Fito jalani sangat sulit membedakan antara kawan dan lawan. Orientasi mereka semuanya bermuara pada materi. Terlalu banyak basa basi dan sandiwara.
Fito duduk sebentar dan kembali berdiri mengintip kerumunan diluar rumahnya. Wartawan sampai mengejarnya ke kediaman orangtuanya. Ibunya sampai mengeluh tidak enak hati pada tetangganya. Fito maklum dengan keresahan ibunya. Siapapun pasti akan merasa terganggu dengan kerumunan, suara bising kendraan dan suara berisik yang terjadi siang malam. Fito sudah mengutus orang untuk menemui mereka tapi tetap saja mereka belum merasa puas dan ngotot ingin bertemu dengan Fito.
Fito duduk kembali. Satu jam lagi dia akan menghadiri acara nonton bareng filmnya tapi untuk keluar rumah saja ia tidak bisa. Para pemburu berita pasti akan menahannya.
Fito harus segera keluar dari rumahnya. Tidak mungkin baginya tinggal lebih lama lagi sementara para penonton sudah mulai berdatangan. Akbar tidak henti-henti menelfonnya.
" Mereka sudah sampai mana?" tanya Fito pada Aldi.
" Sudah mau masuk komplek." jawab Aldi dengan ponsel masih didekat telinga.
" Kita bersiap sekarang,mas." sebut Aldi sembari mengangkat tas Fito ke arah pintu belakang. Rencananya mereka akan keluar lewat pintu belakang. Sementara itu, Ayah Fito akan keluar untuk mengalihkan perhatian wartawan yang ada diluar pagar.
" Sekarang,mas..." kode Aldi yang diangguki oleh Fito.
Pintu terbuka. Dua orang masuk dengan membawa kardus besar yang terlihat cukup berat.
" Hati-hati,nak..." pesan bu Ratih saat Fito menyalaminya.
" Doakan Fito ya,bu..."
" Ibu selalu mendoakanmu."
Setelah Fito dan Aldi menghilang dibalik pintu dan mobil yang menjemputnya berlalu, bu Ratih segera menyusul suaminya ke depan. Sesuai arahan Aldi, mereka akan membagikan nasi kotak dan meminta wartawan untuk pulang.
#
Fida dan dokter Ryan baru saja mengantar utusan dari pihak WO yang mengurusi rangkaian acara pernikahan mereka ke pintu ketika suara ponsel Fida terdengar dari atas meja kerjanya. Pertemuan dengan pihak vendor yang terlibat sering dilakukan dikantor Fida demi alasan kepraktisan. Selain Fida dan dokter Ryan yang bekerja di tempat yang sama juga untuk memudahkan saat harus melibatkan orang tua calon mempelai serta tidak menyita waktu dokter Ryan terlalu lama. Sebagai seorang dokter, Ryan sangat berdedikasi tinggi terhadap pekerjaannya yang menyangkut nyawa orang. Sebelum benar-benar cuti dia ingin melaksanakan pekerjaannya sebaik mungkin. Fida meraih ponselnya.
Sela sahabatnya yang menelfon.
" Sebentar ya, aku terima telfon dulu." ucapnya sambil menjauh dari dokter Ryan yang mengekorinya. dokter Ryan mengangguk meski sebenarnya penasaran sama sipenelfon yang membuat Fida menjaga jarak darinya.
" Kamu sudah lihat berita?"
Sela bahkan tidak menanyakan kabar Fida terlebih dahulu.
Fida menghela nafas berat dan Sela tahu artinya.
" Kamu nggak jadi ragukan?" cecar Sela nggak sabaran.
" Apa itu ada kaitannya denganku?" tanya Fida pada dirinya sendiri.
" Tentu saja ada. Kamu tahu itu dengan pasti."
" Aku bingung...." jawab Fida dengan jujur. Matanya melirik dokter Ryan yang kembali melihat-lihat fhoto desain dekorasi tempat pesta akan dilangsungkan. Rencananya pernikahan mereka akan dihelat di sebuah hotel mewah. Tiga buah ballroom sudah dipastikan akan mereka sewa.
" Pasti, tapi kamu jangan memutuskan apa-apa disaat sekarang ini."
Seiring bertambahnya umur, Sela juga kian bijaksana.
" Lihat hatimu.... tanyakan apa yang sebenarnya kamu inginkan? tapi lihat juga sekelilingmu dengan jelas. Jangan sampai keputusanmu menjadi penyesalan nantinya."
Sela benar. Fida tidak mungkin bersikap egois pada kedua orang tuanya. Pada dokter Ryan dan juga keluarganya.
" Tapi apapun keputusan yang nantinya kamu ambil, aku akan tetap mendukungmu. Kebahagiaanmu harus diatas segalanya."
Fida terharu mendengar dukungan dari sahabatnya. Sela tidak pernah pergi darinya. Selalu menemaninya selama ini. Setelah orangtuanya,Sela adalah orang yang paling disayangi oleh Fida karena Fida sendiri merasakan hal yang sama dari sahabatnya itu.
Sekarang ini, bukan hanya tentang kebahagiaannya semata tapi orang lain juga. Pernikahan mereka sudah diumumkan saat pertunangan. Tidak mungkin Fida mundur lagi. Apapun yang ada didepan sana...Fida akan menghadapinya.
" Kamu sudah fix dengan desain yang tadi?"
Suara dokter Ryan membawa kembali lamunan Fida. Fida berjalan mendekati dokter Ryan dan duduk dihadapannya.
" Sudah... kelihatannya pilihan mereka memang yang terbaik." jawab Fida.
dokter Ryan tersenyum," Mereka sudah biasa melakukannya."
" Iya" angguk Fida.
dokter Ryan kembali tersenyum. Jenis senyuman miris yang coba ia sembunyikan. Dan memang Fida tidak menangkap kegetiran disana.
Bukan pihak WO yang memilih tapi dokter Ryan sendiri. Sengaja ia membuatnya seolah seperti itu agar tidak menjadi pemicu masalah diantara mereka.
dokter Ryan memang memimpikan konsep pernikahan seperti itu. Tapi jika sejak awal ia usulkan ada ketakutan Fida tidak setuju dan ia pasti akan kecewa nantinya. Tapi, melihat Fida yang setuju begitu saja juga membuatnya miris. Kenapa tidak terlihat antusiasme sedikitpun dari calon isterinya ini?
dokter Ryan sadar kalau dirinya yang paling menantikan pernikahan tersebut karena cinta sepihak yang dirasakannya. dokter Ryan juga telah berjanji untuk bersabar menanti perasaannya berbalas. Namun perasaan kecewa seringkali datang tanpa bisa dicegah.
" Maaf, kamu masih mau disini?" tanya Fida," Sebentar lagi aku ada meeting."
dokter Ryan berdiri, ia sendiri juga mau mengunjungi pasiennya.
dokter Ryan tidak perlu bertanya tentang meeting yang akan dihadiri oleh Fida karena sejujurnya ia sendiri tahu semua agenda kerja Fida. Rasa kurang percaya diri membuatnya menjadi stalker.
" Rapat terakhirkan?"
Fida mengerutkan dahinya.
" Maksudku, lusa kamu sudah mulai cutikan?"
Fida mengangguk.
" Ya sudah, aku keluar duluan." pamit dokter Ryan memupus keinginan Fida untuk bertanya lebih lanjut.
Fida mencoba mengingat kapan ia pernah membicarakan perihal cutinya pada dokter Ryan. Ia sendiri belum menemukan kapan waktu yang paling pas dan berapa lama ia akan cuti. Seingatnya, Fida hanya memberikan gambaran saja pada sekretarisnya.
Fida bahkan belum sempat menanyakan tentang rencana dokter Ryan setelah resmi menikah nanti
tbc