Fito akhirnya bersedia melakukan wawancara dengan sejumlah wartawan yang hadir diacara premiere filmnya. Sudah bisa ditebak arah pertanyaan yang akan diterimanya. Meski hadir untuk meliput tentang film yang baru diluncurkan tapi tentu saja tujuan utama mereka untuk mengorek masalah pribadi para pemain. Masalah pribadi artis lebih menjual dibandingkan karyanya.
Gisella tidak hadir bersama pemain yang lain. Sakit menjadi alasan yang diberikan oleh pihak ph.
Fito tidak bertanya lebih jauh. Datang atau tidaknya Gisella tetap akan menjadi berita. Ditangan para wartawan semua sudut pandang bisa menjadi pokok pemberitaan.
" Sebagai proyek come back, apa mas Fito merasa sudah puas dengan penampilan mas pada film ini?" tanya seorang wartawan setelah sesi basa basi singkat.
" Saya sudah melakukan sebaik mungkin. jadi, kalau dibilang puas...ya saya merasa cukup puas." Jawab Fito," Tapi kedepannya tentu saya akan berusaha lebih keras lagi."
" Soal berita akhir-akhir ini, apa tanggapan mas Fito?"
Begitu cepat pertanyaan berubah menyasar ranah pribadi.
" Apa tidak ada lagi pertanyaan tentang film ini?" tanya Fito sarkas.
" Tapi orang-orang ingin tahu kebenarannya dari pihak mas Fito." celetuk salah seorang wartawan yang Fito sendiri tidak familiar dengan nama portalnya.
" Iya mas, selama ini mas Fito selalu diam jadi orang-orang jadi penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi."
Mereka bertanya silih berganti, bahkan tak jarang suara mereka beradu satu dengan yang lain. Berebutan untuk melemparkan pertanyaan yang pada dasarnya mirip. Resiko pekerjaan sebagai artis yang tidak banyak orang fahami karena yang terlihat hanya yang enak-enaknya saja. Padahal dibalik semua gemerlap yang terlihat, selebritis seringkali dipandang sebagai objek semata.
" Bagaimana mas Fito, apa benar hubungan mas Fito dan mbak Gisella berakhir karena mas Fito ketahuan selingkuh?"
" Apa dengan anak pemilik rumah sakit tempat mas Fito kemarin dirawat?"
" Mbak 'itu, apa dia mantan pacar mas Fito?"
" Apa mas Fito akan kembali padanya? bukannya si mbak sudah mau menikah?"
Bagai dengungan lebah yang mengelilingi kepalanya. Suara mereka tidak bisa didengar dengan jelas oleh Fito.
Melihat suasana mulai tidak kondusif maka beberapa orang dari panitia acara mulai turun tangan untuk menertibkan para wartawan.
Wajah-wajah kurang puas jelas terlihat dari mereka setelah Fito hanya bersedia menjawab satu pertanyaan saja sebelum berlalu meninggalkan tempat berlangsungnya acara dengan dibantu oleh security dan bodyguard kantornya.
Benar hubungan saya dan Gisella telah berakhir seperti yang pernah saya bilang sebelumnya tapi bukan karena hadirnya pihak ketiga... kandasnya hubungan kami karena memang tidak ada kecocokan sejak semula...
" Benar-benar tidak bisa dipercaya.." geleng Sela setelah mematikan televisi yang menayangkan berita tentang Fito.
" Bisa-bisanya dia bilang tidak cocok dari awal setelah selama ini lengket kemana-mana?"
Fida tersenyum melihat kekesalan sahabatnya itu. Fida sedang kedatangan Sela yang mengaku rindu dan ingin menghabiskan waktu lebih banyak berdua sebelum Fida resmi menjadi istri orang.
" Kamu nggak tetiba ragu kan?"
Fida melotot pada Sela," mau sampai kapan kamu nanya kek gitu terus?"
" Sampai kamu terlihat yakin dengan pilihanmu yang sekarang."
Mulut Fida terkunci. Tidak punya pembelaan sedikitpun. Sela pasti tahu apa yang ia rasakan.
" Kamu kenapa bisa yakin dengan Seno padahal kalian baru kenal?"
Setelah sempat membisu, Fida menanyakan pertanyaan yang belum pernah ia tanyakan pada Sela. Temannya yang tomboi dan cerewet itu tiba-tiba saja menikah dengan pria pendiam yang tidak pernah ada dalam lingkup pergaulan mereka. Setahu Fida, Sela dan Seno bahkan hanya bertemu beberapa kali sebelum resmi menikah. Seno adalah keponakan bos Sela. Sela bekerja disebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang ekspedisi setelah menolak tawaran pekerjaan dari Fida. Rupanya jodoh yang memanggil Sela untuk ngotot bekerja disana. Sela dan Seno bukan teman sekantor, hanya pernah bertemu saat Seno mengunjungi Pamannya. Mungkin itu yang dinamakan jodoh. Bisa datang darimana saja.
" Karena yakin." jawab Sela," Saat bertemu dan berkenalan dengannya aku punya keyakinan kalau dia orangnya. Aku merasa dia orang yang aku inginkan berada disisiku sampai aku tua."
Fida ikut tersenyum melihat senyuman Sela. Fida bersyukur melihat sahabatnya bahagia.
" tapi...," Fida sengaja menggantung kalimatnya.
" tapi apa?"
" Apa kamu yakin dia menginginkan hal yang sama?" goda Fida membuat Sela mendelik sebal.
" kamu nggak yakinkan?" Fida belum puas menggoda Sela.
" kamu nggak sedang membuatku merasa semakin insecure kan?"
Fida tergelak. Sela masih saja kurang percaya diri dengan masa lalunya yang sering mematahkan hati para mantannya. Sela takut akan mengalami karma atas perbuatannya dulu. Fida yakin ketakutan Sela muncul karena dia terlalu mencintai suaminya yang merupakan pria baik-baik. Seno adalah pria kampung yang menjalani hidupnya dengan lurus dan tak neko-neko. Pada dasarnya Sela juga wanita baik. Meski sering berganti pacar tapi dia tidak sampai melakukan seks bebas. Sela masih menjalani kewajibannya sebagai umat beragama.
" Kamu wanita baik. Sudah tepat berjodoh dengan dia. Bukankah wanita baik untuk laki-laki yang baik juga?"
Sela mengangguk," Betul! Makanya kamu cocok dengan dokter Ryan, bukannya dengan si kunyuk'! "
Fida tersenyum tipis. Entah sudah berapa banyak gelar yang Sela sematkan buat Fito semenjak mereka putus.
Sela terlihat belum puas karena belum bisa membalaskan perbuatan Fito padanya. Seringkali Sela lupa kalau dalam sebuah hubungan pertemanan ataupun percintaan, yang namanya perselingkuhan dan pengkhianatan itu sering terjadi. Kalau kita mau lebih bijaksana, hal tersebut nantinya pasti akan kita syukuri karena akan menjadi proses seleksi untuk menentukan orang yang cocok dan pantas bersama kita. Orang yang memutuskan hubungan terlebih dahulu dianggap sebagai orang jahat padahal mungkin dibanyak kasus mereka tidak demikian adanya. Mereka hanya mencoba jujur dengan perasaannya sendiri. Kalau pacar kita minta putus berarti dia tidak cocok dengan kita. Dibanding menjadikan diri sendiri sebagai korban lebih baik kita bangkit dan merubah pola fikir kita terhadap sebuah masalah. Pelajaran sulit yang akhirnya bisa difahami oleh Fida setelah terpuruk sekian lama. Setelah banyak air matanya yang terbuang sia-sia.
" Aku akan mencoba membuka diri. Semoga dia memang jodohku dunia akhirat."
" Amin..." ucap Sela lantang sambil memeluk erat tubuh Fida.
Dua orang sahabat itu melanjutkan hari mereka dengan menonton drama korea lawas reply 1988. Nantinya mereka tidak mungkin bisa sebebas ini lagi keluar masuk kamar tidur masing-masing.
Dunia baru sudah menanti Fida. Meski tidak tahu akan seperti apa jadinya namun Fida tetap berharap semuanya akan baik-baik saja. Semoga ke depannya hidupnya berjalan lancar dan ia bisa menjalani perannya dengan baik.
tbc