Yang kau butuhkan

1050 Kata
Aleta coba mencari peruntungan kali ini, ia yang sudah rapih mengenakan baju kemeja rapih mendatangi satu persatu restoran untuk menyerahkan lamaran pekerjaan. Meskipun masih sekedar menaruh lamaran, ia sangat berharap mendapat interview pekerjaan. Yah meski ia pun tahu, ia hanya lulusan SMP. Mencari pekerjaan sangatlah sulit di jakarta, ia pun sangat menyayangkan keputusan manajer yang langsung memecatnya kemarin. Setelah menyerahkan lamaran pada manajer restoran, Aleta pun terduduk sambil kipas kipas. Menampak didahinya keringat yang bercucuran banyak, ia baru saja berkeliling barusan dan rasanya kali ini sudah cukup. Aleta beristirahat. "Ya tuhan panas sekali sih." keluh Aleta kipas kipas. Mendadak angin berhembus sejuk. Rasanya enak sekali saat lagi panas begini dikasih angin. Aleta pun berkata. "Alhamdulillah, enak banget dah. Apalagi pas lagi panas begini minum es cendol." ujar Aleta. Tiba tiba ada seorang ibu mendekati Aleta. "Dek mau es cendol enggak? Nih buat kamu." ujar wanita itu menyodorkan es cendol padanya, Aleta terkejut. "Eh? Ibu gimana?" tanya Aleta. "Saya ada. Ini ya buat kamu." sodor ibu itu. Aleta terpaksa menerimanya dan ibu itu pun pergi. Aleta merasa aneh, kenapa bisa kebetulan begini ya? Ia pun menyelurup es cendolnya hingga puas. Benar benar rezeki yang tidak disangka sangka. Setelah beberapa saat ia duduk meminum es. Ia melihat diseberang ada keluarga yang sedang duduk di taman, menghampar tikar. Mereka saling bercanda dengan anak perempuannya dan bahkan saling kejar kejaran. Visual keluarga yang sangat indah. Aleta merasa ikut bahagia melihat keluarga kecil itu. Seandainya saja ibu dan ayahnya masih hidup, ia pasti juga akan merasa sebahagia itu. Tiba tiba anak perempuan itu berjalan mengejar balon yang terbang hingga ke jalan raya. Aleta yang melihat ada mobil sedang melaju ke arah anak itu langsung berlari mendekati sang anak. Ia berlari sangat kencang hingga mendahului mobil itu dan beralih mendorong si anak. Aleta yang kini akan ditabrak mobil itu. Aleta pasrah, ia menutup matanya. Semenit berselang, Aleta tidak merasakan tubuhnya ditabrak atau tergilas ban roda. Ia masih bisa bernafas! Aleta pun membuka kedua matanya dan terkejut ketika melihat mobil berhenti berada tepat didepannya. Sang pengemudi mobil merasa aneh, padahal ia tidak menginjak rem tapi kenapa mobilnya tiba tiba berhenti? Bahkan didepan mobilnya ada seorang wanita sekarang. Apakah mobilnya berhenti karena tahu ada seorang wanita didepannya?! Sang sopir pun langsung merinding dan menginjak pedal gasnya berlalu pergi. Meninggalkan Aleta yang terdiam, masih syok dengan kejadian ini. Bahkan berkali kali ia coba menepuk pipinya mengira ini mimpi. Orang tua dari anak perempuan itu pun mendekati Aleta. "Makasih ya mbak, saya enggak tahu kalo enggak ada mbak." ujar ibu itu. Aleta mengangguk. "Iya Bu sama sama." ujar Aleta. Sejam berlalu Aleta masih terdiam ditempat duduk. "Kenapa ya aku tadi enggak ketabrak" batin Aleta sembari termenung. Padahal tadi, ia merasa sudah sangat dekat dengan sang pencipta. Dengan ibu dan ayahnya. Aleta melihat matahari bersinar sangat terik diatas, ia mulai bercucuran keringat lagi dahinya. "Coba kalo hujan, pasti adem." celetuk Aleta. Tiba tiba rintik air mulai berjatuhan dari atas langit. Aleta terkejut saat melihat ke atas, ternyata benar ini hujan! Terik seperti ini tapi kok turun hujan?! Apa karena perkataannya barusan?! Masa sih?! Hujan semakin deras, Aleta pun segera mencari tempat untuk berteduh. Ia meneduh didepan restoran yang tadi ia kunjungi. Banyak orang yang juga berteduh disana termasuk para tukang ojek online. Aleta terus memandangi air hujan yang mengucur dari atas kanopi. Jika mengingat hujan, Aleta suka teringat dengan kejadian enam tahun yang lalu. Saat ibu dan ayahnya dinyatakan meninggal karena kecelakaan. Di hari penghujan itu Aleta melihat mobilnya ringsek, banyak darah segar mengalir, mayat ibu dan ayahnya yang terjepit. Sangat sedih, hingga tiap kali mengingat hujan ia selalu menitikkan air mata, termasuk sekarang. Aleta berguguran air mata saat memandangi hujan. Namun tiba tiba saja Aleta merasa ada sesuatu yang lembut di tangannya. Ternyata itu sapu tangan. Kenapa mendadak bisa ada sapu tangan di tangannya?! Bahkan setahunya ia tidak membawa sapu tangan tadi! Aleta merasa heran, kenapa banyak kejadian aneh belakangan ini? Ia merasa seperti diperhatikan oleh seseorang. Orang itu seperti memberikan segala hal yang ia butuhkan. Entah itu siapa. Tidak Aleta, jangan berpikiran yang tidak tidak. Hidupmu sudah cukup kacau, jangan memikirkan hal aneh. Lagian mana ada orang yang bisa tahu apa yang ia butuhkan? Hanya orang ajaib yang bisa seperti itu. Jika sedang galau seperti ini, ia selalu curhat dengan Mirna. Tapi sayangnya ia sudah tidak bekerja ditempat itu lagi, dan mungkin tidak akan bertemu dengan Mirna lagi. Gadis itu cepat atau lambat pasti akan melupakannya. Tiba tiba ponselnya berbunyi. Panjang umur tuh orang, ternyata dari Mirna! Aleta pun segera mengangkat teleponnya. "Al! Lo enggak merasa kenal sama anak direktur kan?" tanya Mirna panik. "Enggak. Siapa tuh anak direktur?" tanya Aleta. "Pak Alister!" "Enggak." "Pokoknya Lo sekarang harus ke restoran 21! Pakai baju seragam biasa, karena Lo mau disuruh kerja lagi sama dia!" ucap Mirna langsung membuat Aleta melongo. "I,ini serius Mir? Aku enggak salah denger? Aku bakal diterima kerja lagi di restoran 21? hwaaa!" "Iye bawel, pokoknya buru Lo kesini dan langsung menghadap pak Alister." "Tapi ada manajer galak Mir. Nanti kalo aku diomelin lagi gimana?" tanya Aleta menciut. "Tenang aja, dia udah angkat koper dari sini." ujar Mirna. "Angkat koper? Maksud kamu dipecat?!" tanya Aleta "Tepat! Udah buru kesini!" "Iya iya. Aku kesana sekarang." Meskipun terasa aneh, tapi semua keberuntungan seperti berpihak padanya belakangan ini. Aleta merasa benar benar sedang merasa diperhatikan oleh sesuatu. Dan sepertinya itu bukan manusia biasa. Lantas siapa gerangan jika selain itu? Beberapa saat kemudian Aleta berada tepat didepan restoran 21. Ia masuk ke dalam restoran dan mendekati Mirna yang sedang bekerja. Mirna tak berkata banyak, ia langsung mengarahkan temannya itu ke lantai dua, ruangan paling pojok yang baru kali ini ia lihat menyala lampunya. "Pokoknya Lo harus ngomong yang baek baek sama dia, oke?" ujar Mirna. "Iyeh." jawab Aleta "Salim dulu." Mirna menyodorkan punggung tangannya. "Emang aku anak kecil apa?!" tandas Aleta "Hahaha yaudah gih sana." tawa Mirna menyuruh Aleta masuk. Aleta pun mengetuk pintu terlebih dahulu sebanyak tiga kali lalu membukanya. "Permisi pak." ujar Aleta langsung terhenyak ketika melihat seorang pria tampan terduduk menantinya. Indah Adalah satu kata yang bisa Aleta lampiaskan didalam hatinya ketika melihat lelaki tampan dihadapannya. Alis mata tebal, hidung mancung, wajah putih dan bersih serta penampilannya yang berjas rapih. Aleta sempat pangling saat melihatnya hingga ia terdiam lima detik saat melihatnya. Tapi kenapa seperti pernah melihatnya ya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN