Waktu yang terhenti

1116 Kata
Lelaki ini tersenyum. Ia menawarkan Aleta duduk didepannya. "Kamu Aleta?" tanya lelaki itu. "Iya. Saya Aleta." jawab Aleta. "Saya tahu kinerja kamu selama bekerja sangat bagus disini dan kamu termasuk tipe karyawan yang pekerja keras. Jadi atas kesalahan kemarin kiranya tolong dimaklumi, saya berjanji tidak akan ada lagi peristiwa seperti ini ke depannya." "E,eh iya pak enggak apa apa." "Jadi, kamu mau kan bekerja di restoran ini lagi?" tanya Alister. "M-mau pak!" Alister tersenyum. "Kalau begitu kapan kamu bisa kembali bekerja di restoran ini?" "Secepatnya pak, kapanpun saya mau." "Sekarang mau?" "Mau banget pak!" "Baik, kalau begitu silahkan kembali bekerja." "Iya pak. Sebelumnya makasih banyak ya pak, saya enggak tahu harus bilang apa ke bapak. Saya berjanji akan bekerja yang giat, rajin dan terus semangat. Pokoknya enggak bakal ngecewain bapak deh pak. Janji." Alister mengeluarkan jari kelingkingnya pada Aleta. Pinky promise. "Janji?" Aleta terkejut, kenapa dengan anehnya anak direktur ini menawarkannya pinky promise? ia langsung mengait kelingking Alister ragu. "J-janji pak." Alister tersenyum. "Oke. Saya terima janji kamu." Aleta balik tersenyum kikuk. Ia pun mempermisikan diri keluar dari ruangan itu. Alister tersenyum menyeringai setelahnya, ia endus kelingking yang menyentuh tangan Aleta tadi. Lelaki tampan itu merasa sangat berhasrat saat mengendusnya. Saat keluar dari ruangan Alister. Aleta merasa seperti pernah melihat Alister entah dimana. Ia pun berpikir sejenak dan tiba tiba ia teringat sesuatu. Tidak salah lagi, Alister adalah lelaki yang ada didalam mimpinya kemarin malam! Wajahnya yang tampan dan tak mudah dilupakan itu membuat Aleta semakin yakin kalau ia adalah lelaki yang ada dalam mimpinya. Sepanjang bekerja Aleta melayani banyak pelanggan, namun entah kenapa ia merasa diperhatikan oleh Alister. Aneh, kenapa lelaki itu terus menatapnya sembari tersenyum? Seolah tidak ada pemandangan lebih bagus yang bisa dijadikan tontonan. Tidak, Aleta kamu pasti salah. Mana mungkin Alister memperhatikan kamu! Pede banget. Aleta pun mencoba mengabaikan Alister dan fokus kerja. Tiba tiba Mirna menyikut lengannya. "Tuh liat, Lo diliatin terus tuh sama pak Alister." ujar Mirna seraya menunjuk ke arah Alister yang sedang berdiri agak jauh didepan mereka. Aleta mencoba mengabaikan. "Udahlah Mir, enggak usah ngada ngada. Dia itu lagi liatin pelanggan. Tuh liat pelanggannya cantik cantik." ujar Aleta. "Hmph enggak mungkin, orang dia liatnya ke elu." ujar Mirna insist. "Aku enggak mau kegeeran, nanti ujungnya sakit malah jadi nyesek." "Tapi gue penasaran loh, apa yang membuat pak Alister tiba tiba pecat pak Ferry dan masukin Lo kerja." ujar Mirna bingung. "Ya mungkin ada yang ngadu ke dia kalo pak Ferry suka berbuat semena-mena sama karyawannya." ujar Aleta tak mau ambil pusing. "Gue yakin ada apa apa diantara kalian berdua." "Mulai deh, mulai." "Eh serius, kalian pacaran ya?" goda Mirna langsung membuat Aleta memutar matanya. Aleta meninggalkannya. Tiba tiba Melki mengagetkan Mirna dari belakang. "Dor!" Mirna pun kaget dan langsung menyebut "ayam" sebagai latahannya. "Melki! Lu seneng banget si bikin gue kaget!" Mirna kesal. "Iya, kan ngagetin elu dapet pahala." ujar Melki langsung dicubit perutnya oleh Mirna. "Ih cubit cubit mulai deh gatel." ujar Melki. "Eh ngomong ngomong si Aleta balik lagi?" tanya Melki. "Botol minumnya ketinggalan." "Hah? Kok botol minum?" "Bukan, jadi tuh alasan kenapa pak Ferry dipecat dan Aleta kembali bekerja bisa jadi karena cinta. Cinta antara pak Alister dan Aleta. Uhhhh uwuuu." ujar Mirna bibirnya sengaja dimonyongin ketika menyebut cinta. "Dih, kok gue geli ya ngedenger lu ngomong kayak gitu." ujar Melki yang kembali dicubit perutnya oleh Mirna. "Lu gatel banget sih jadi cewek, gue garuk nih!" ancam Melki. "Garuk garuk, lo pikir gue bentol!" "Lo yang nyebut loh, gue enggak nyebut." "Tapi Lo yang mancing!" "Gue enggak punya pancingan!" "Mulut lu kayak pancingan!" "Mulut lu kayak baskom!" "Pancingan masih mending bisa nangkap ikan!" "Baskom masih mending buat naro makanan!" Aleta yang melihat mereka berantem pun langsung menyudahi. "Ini apa apaan sih pada ribut! Melki kamu ke sayap kanan, Mirna ke sayap kiri." ujar Aleta langsung dicerocosi Melki. "Sayap kanan sayap kiri, lu kira lagi main bola." cerocos Melki langsung pergi ke area restoran sebelah kanan. Segerombolan lelaki masuk ke dalam restoran. Penampilan dan gaya mereka terlihat seperti preman. Mereka bertato, celana sobek dan hidung bertindak. Aleta yang semula takut pun mendekati mereka. "Mau makan disini atau dibawa pulang kak?" tanya Aleta. Pria bertato yang juga seorang pemimpin dari gerombolan itu tersenyum menyeringai melihat keseluruhan tubuh Aleta yang begitu menarik perhatian ditambah wajah gadis itu sangat imut. Pria itu langsung mendekati Aleta dan memegang bokongnya. Aleta tersentak dan langsung marah, ia pun menampar pria itu dengan kencang. "Berengsek!" pekik Aleta. "Woho, dia marah." ujar pria bertato itu dan langsung ditertawai oleh teman teman gerombolannya. Mirna yang barusan melihat Aleta diganggu oleh pria bertato itu langsung mendekatinya dan tak lupa mendorong pria itu. "Cowok gila lu! Beraninya sama cewek! Mending kalian pergi dari sini kalo maunya ganggu orang!" pekik Mirna. Melki dan seluruh pengunjung langsung terkejut mendengar pekikan Mirna, hal itu lantas memicu banyak perhatian termasuk Alister yang baru keluar dari ruangannya. Pria bertato itu tiba tiba mendorong Mirna hingga terjatuh. Semua pengunjung panik dan ketakutan, Aleta tidak Sudi temannya diperlakukan seperti itu, ia pun langsung berniat menghajar pria bertato itu namun si pria berhasil menghindar dan malah justru dia yang menghempas Aleta hingga kepalanya terbentur meja dan berdarah. Alister sangat marah ketika melihat Aleta diperlakukan seperti itu. Ia pun langsung berjalan cepat menuju pria bertato itu dan langsung meninju wajahnya hingga ia terpental. Semua melongo melihat betapa kuatnya pukulan Alister saat itu, satu pukulan bisa membuat pria bertato itu terpental jauh menubruk meja. Segerombolan lelaki tadi pun berniat menghajar Alister, mencoba balas dendam. Namun Alister keduluan menghentikan waktu dan menghajar mereka semua yang jadi patung secepat kilat. Waktu kembali berputar dan Aleta bisa melihat segerombolan lelaki itu jatuh tak berdaya, bonyok, seperti habis terkena pukulan. Aleta merasa aneh, kenapa. Apa yang terjadi barusan? Kenapa tiba tiba mereka saling berjatuhan? Waktu seolah ada yang dilewatkan begitu saja. Beberapa menit kemudian kening Aleta dipakaikan obat merah oleh Mirna. "Duh tuh orang bener bener parah, kok bisa sih orang kayak mereka kesini. Nyerang cewek lagi, enggak ada nyali banget!" gerutu Mirna. Aleta merasa perih ketika obat merah itu menyentuh keningnya. "Aw.. pelan pelan." rintih Aleta. "Eh dan Lo liat kan gimana pak Alister ngebelain Lo tadi? Dia bener bener kayak superhero yang turun dari langit tau gak." ujar Mirna, Aleta kembali membayangkan bagaimana Alister melawan segerombolan pria tadi. Baginya Alister benar benar terlihat keren dan hebat. Eh tunggu, Aleta. Kenapa kamu malah memikirkan lelaki itu?! Sadar Aleta dia anak bos! "Lo liat kan gimana pak Alister begitu sangat marah tadi? Itu marah karena ngeliat Lo luka! Lo sadar kan Al?" ujar Mirna tanpa sadar mengubah suasana menjadi pelik. "Ah kamu Mir, enggak. Apaan sih." Aleta mencoba menapikan semua persangkaan itu. Bagaimanapun ia tidak percaya jika Alister menaruh perhatian padanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN