Sejam berlalu, Aleta yang sedang sendirian makan siang di sebuah ruangan langsung terbatuk hingga keselek saat tahu ada Alister tiba tiba muncul.
Aleta pun cepat cepat minum, namun ia semakin batuk saat Alister duduk disampingnya. Aleta merasa heran, kenapa tiba tiba dia disini? Dan darimana datangnya senyuman manis yang hampir membuatnya diabetes itu?
Sabar Aleta, kamu harus bisa menahan godaan pak Alister yang memicu syahwat!
"Sendirian?" tanya Alister memulai pembicaraan. Aleta mengangguk.
"Kamu enggak bareng teman kamu?" tanya Alister. Aleta menggeleng.
"Mirna lagi beli makan diluar bareng Melki pak."
"Kamu enggak diajak?"
"Enggak, aku udah beli duluan. Ini lagi makan hehe."
Mereka saling terdiam setelahnya. Suasana berlangsung canggung saat itu.
"Bapak enggak makan?" tanya Aleta.
"Enggak, udah tadi." jawab Alister.
Aleta kembali memakan makanannya. Agak sedikit mempercepat gerakan makannya agar bisa cepat cepat kabur dari tempat itu.
"Kamu kaget ya dengan kejadian tadi?" tanya Alister, Aleta terdiam sejenak menelan makanannya.
"Iya pak kaget, bahkan ketika kepala saya berdarah saya merasa sangat takut saya kenapa napa." ujar Aleta.
"Jangan khawatir, saya bertaruh tidak akan ada lagi kejadian seperti ini lagi ke depannya." ujar Alister, Aleta terkejut. Kenapa lelaki ini terlihat sangat yakin dengan perkataannya?
"Saya sudah menyuruh satpam untuk mengawasi restoran ini." ujar Alister. Aleta mengohkan perkataannya. Kirain ada hal aneh yang tersembunyi dibalik perkataannya tadi.
Aleta terus makan, Alister tiba tiba tertawa melihat bibir Aleta belepotan ketika makan. Mungkin karena saking terburu burunya jadinya bumbunya kemana mana.
Aleta merasa aneh melihat Alister tiba tiba tertawa. "Kok kamu makan kayak bebek ya?" tanya Alister, Aleta terkejut. Ia pun usap usap ujung bibirnya namun Alister mencegahnya. "Jangan pakai tangan nanti kotor."
Alister diam diam mengeluarkan kekuatan di telapak tangannya dan langsung muncul sebungkus tisu kecil. Ia ambil tisu dan usap ujung bibir Aleta.
Mereka berdua saling bertatapan saat itu. Aleta bisa merasakan betapa lembutnya usapan tangan Alister sampai Aleta berpikir kenapa lelaki ini begitu perhatian padanya.
Baru kali ini Aleta merasa diperhatikan oleh seseorang. Bentuk perhatian yang sangat ia rindukan sejak lama.
Dan disaat pemilik mata tajam itu menatapnya, jantung Aleta seperti bermasalah. Berdebar tidak karuan ditatap lama oleh lelaki tampan didepannya ini.
Perasaan yang aneh.
Aleta juga bisa merasakan nyeri yang amat sangat di tengkuk leher kanannya. Itu adalah area bekas gigitan yang bertanda tato beberapa waktu lalu. Rasanya sakit sekali hingga ia terus memegang tengkuk lehernya.
"Kening kamu masih sakit?" tanya Alister, sudah tak lagi mengusap bibir Aleta.
"Masih pak. Tapi besok juga hilang kok pak. Bapak jangan khawatir hehe." ujar Aleta sesaat melihat wajah cemas Alister.
"Tutup mata kamu." ujar Alister.
"Eh? Mau ngapain pak?" tanya Aleta
"Dalam hitungan ketiga kamu harus menutup mata kamu. Satu, dua, tiga." ujar Alister, didalam hitungan ketiga Aleta pun mau tak mau langsung menutup matanya.
"Bapak mau ngapain pak?" tanya Aleta penasaran.
Alister langsung mengarahkan cahaya biru ditelapak tangannya ke luka di kening Aleta.
Secara cepat tidak dalam waktu lima detik, luka di kening Aleta kian menghilang. Berbalik dengan itu, Aleta tidak merasakan efek apa apa selama penyembuhan itu.
"Halo? Pak? Bapak disini?" tanya Aleta meraba raba sekitar dan hasilnya ia memegang wajah Alister. Lelaki itu memegang kuat tangan Aleta supaya tangan yang memegang wajahnya tidak terlepas.
Aleta yang merasa sedikit aneh karena tangannya dipegang pun langsung membuka mata. Ia Iangsung terkejut saat tangannya memegang wajah Alister, saat mau melepas, tangan Alister menahan tangan Aleta. Lelaki ini tersenyum menyeringai menatap Aleta.
Tatapan itu, mirip seperti singa yang bersiaga menerkam mangsanya. Sangat berhasrat dan penuh nafsu. Sorot mata dan senyuman itu, membuat Aleta kian tertelan ketika melihatnya.
"Apa jantung kamu berdebar ketika melihat saya?" tanya Alister, Aleta terkejut. Sangat... sangat berdebar. Bahkan ketika dia terus menatapnya seolah mangsa yang siap untuk diterkam jantungnya berdegup sangat kencang. Imannya seperti goyah.
"Saya mencintai kamu Aleta." ujar Alister tersenyum, Aleta terkejut. Jantungnya menjadi semakin berpacu sangat kencang. Ada apa ini?
Tunggu, dia bilang apa tadi?
"Saya ingin kamu menjadi istri saya." ucapnya masih tetap tersenyum b*******h. Aleta terhenyak tidak percaya. Bagaimana mungkin? Apakah ia bermimpi?! Apakah dunia besok akan kiamat?!
Tidak mungkin seorang anak direktur mencintai karyawannya sendiri! Apalagi mereka baru berkenalan!
"Ke-kenapa b-bapak bisa suka sama saya?" tanya Aleta
Baru akan menjawab, tiba tiba Melki dan Mirna muncul sembari membawa dua bungkus mie ayam. "Setdah ngantri parah, udah kayak pembagian BLT." keluh Mirna.
Cepat cepat Mirna langsung mingkem saat mengetahui ada anak direktur di ruang makan. Ia pun tutup resleting di mulutnya.
"Siang pak hehehe." sapa Mirna begitupun Melki
Alister menyapa mereka sembari tersenyum. "Siang."
Mirna langsung menyikut Melki dan berbisik. "Elu kenapa gak bilang ada pak Alister!" cerocos Mirna.
"Sengaja, biar lu malu!" bisik Melki langsung dihadiahi injakan kaki oleh Mirna.
"Duh gila lu!" keluh Melki.
"Teman kamu sudah datang, sekarang sudah waktunya saya pergi." Ia berbisik pada Aleta. "Jika kamu sendirian lagi, jangan sungkan panggil saya. Karena saya akan selalu ada buat kamu." bisik Alister tersenyum menyeringai.
Deg!
Aleta kembali berdebar. Senyuman itu dan sorot mata itu, benar benar membuat jantung Aleta bermasalah!
Alister pergi keluar dari ruangan itu meninggalkan Aleta yang terpatung diatas makanannya.
"Ciye-ciye, udah diajak pedekate nih yee." goda Mirna langsung ditatap culas oleh Aleta. "Enggak usah mulai, jones enggak bakal ngerti!" ujar Aleta.
"Tuh liat Mel, mukanya merah kayak gitu masih juga belum ngaku. Emang kalo udah jones kelamaan terus dapet pacar bakal sok enggak peduli gitu." ujar Mirna
"Elu ngomongin jones mulu, gue kan kesinggung pea." ujar Melki.
"Terus gimana? Dia bisikin apa tadi sama lu?" tanya Mirna.
"Dia bilang...
"Dia bilang?"
"Jangan jadi jones kayak Mirna!" tandas Aleta langsung kabur membawa makanannya. Melki tertawa geli.
"Ish! Anak setan! Melki lu ketawa mau gua kepang mulut lu?!"
Malam harinya Aleta yang sudah siap akan pulang dan sudah ada diatas tunggangan motor maticnya tiba tiba dikejutkan dengan hilangnya kunci motornya.
"Kok enggak ada ya?" tanya Aleta mencari di saku kantung celananya maupun tasnya. "Duh gimana ini." Aleta mulai bingung.
Mirna dan Melki juga sudah duluan pulang. Restoran sebentar lagi akan tutup, Aleta mulai kebingungan. Ia pun meminta waktu beberapa menit kepada para karyawan lain untuk tidak dulu menutup restoran.
Ini pasti karena kejadian tadi saat Aleta jatuh membentur meja. Mungkin saat itu kunci motor yang ada di saku celananya jatuh.
Aleta pun mencari cari dibawah meja dan kursi. Waktu terus bergulir hingga pukul sembilan malam tiba, Aleta masih belum menemukan kunci motornya.
Pada akhirnya Aleta pun pasrah, ia yang tengah dilanda kebingungan bertemu dengan Alister yang mau pulang.
"Kamu belum pulang?" tanya Alister.