Rival

1225 Kata
"B-belum pak." ujar Aleta. "Kok bisa? Restoran mau tutup sekarang." "Kunci motor saya hilang pak, saya cari enggak ketemu ketemu." terang Aleta. "Sudah cari sekitar?" "Sudah pak." Aleta menangis, ia berulang kali mengusap air matanya. Ia lelah sekali hari ini, ia ingin pulang, tapi kenapa ada saja masalah yang terjadi. Segala kunci motorlah hilang. "Hey jangan menangis." ujar Alister bantu mengusap air mata Aleta. "Saya antar pulang ya?" tanya Alister. "Eh? Enggak pak makasih, saya mau usahain cari sampai ketemu." "Restoran mau tutup. Kamu enggak kasihan karyawan yang lain juga mau pulang. Mereka harus menutup restoran ini." ujar Alister. "Terus gimana, aku bingung." Aleta kembali menangis. "Hey, kenapa nangis lagi? sudah jangan menangis." Alister kembali mengusap air mata Aleta. "Biar motor kamu ditaruh di dalam restoran aja. Nanti saya bilangin security. Dan untuk urusan pulang, saya yang akan mengantar kamu." ujar Alister. "Eh? Enggak ngerepotin bapak?" tanya Aleta. "Enggak." "Y-yaudah kalo gitu. Makasih banyak pak sebelumnya." "Sama sama." Beberapa saat kemudian mereka sudah menaiki mobil Pajero itu. Alister menyetir dan Aleta duduk disebelah kirinya. Mobil mulai berjalan menjauh dari area parkiran. Alister melihat Aleta yang raut wajahnya terlihat cemas. "Kamu mikirin apa?" tanya Alister sembari fokus menyetir. "Eh? Enggak pak. Saya hanya khawatir kalo kunci motor saya enggak ketemu." terang Aleta. "Jangan khawatir, besok saya akan menyuruh semua karyawan untuk membantu kamu mencarinya." ujar Alister. "Iya pak, makasih." balas Aleta. Jujur Aleta masih tidak percaya ia harus berakhir pulang dengan lelaki yang baru saja mengutarakan perasaannya padanya. Bahkan tadinya, Aleta tidak berniat untuk melakukan kontak mata ataupun menyapa Alister. Bagaimana tidak canggung, Alister baru saja mengatakan cinta kepadanya dan Aleta tidak tahu mau memasang ekspresi apa ketika menatapnya. Bahkan tadinya, ia ingin menghindarinya saja. Suasana hening, mereka saling fokus memandang ke depan. Mengamati jalan yang lumayan ramai ketika melewati jalan raya. "Soal perkataan saya yang tadi... tentang saya menyukai kamu..." Aleta terkejut saat Alister mulai membahas hal tadi. Tepat sekali seperti yang sedang Aleta pikirkan sekarang! "Tolong jangan diambil pusing." tambah Alister. Aleta terkejut. "Apa mungkin maksud bapak, apa yang bapak katakan itu salah?" tanya Aleta. "Yang saya katakan adalah benar. Tidak ada yang salah." balas Alister. "Saya mencintai kamu." tambahnya. "Kenapa bapak menyukai saya?" tanya Aleta heran. "Karena saya jatuh cinta pada pandangan pertama dengan kamu." ujar Alister. Aleta masih menatapnya. Lelaki tampan ini apakah dia bercanda? Diantara seluruh wanita paling cantik di muka bumi ini kenapa harus dirinya?! "Bapak enggak salah?" tanya Aleta "Saya tidak salah dan sangat yakin dengan pemikiran saya." Tidak masuk di akal. Seorang anak direktur menyukai dirinya? Ia pasti bercanda! Aleta terdiam, entah kenapa ia merasa sedikit canggung. Lelaki ini, apa sebenarnya yang ia inginkan darinya setelah ini? Memaksanya untuk berpacaran dengannya? "Jangan khawatir, saya tidak akan meminta apapun dari kamu setelah ini. Anggap saja perkataan saya tadi hal yang tidak perlu kamu pusingkan meskipun harus kamu pertimbangkan." Pertimbangkan? Aleta mendiamkannya, ia mencoba menidak pusingkan masalah ini sesuai perkataan Alister barusan. Tapi tetap saja tidak bisa, ia masih terus memikirkannya. Karena ini pertama kali dalam hidupnya seseorang mengatakan suka padanya. Terlalu banyak berpikir hingga tak sadar suara gemuruh muncul dari perut Aleta. Gadis itu benar benar merasa malu, apalagi ketika Alister menertawakannya. Rasanya Aleta benar benar ingin menenggelamkan dirinya ke dalam kolam karena saking malunya. "Kita makan ya." ucap Alister "Eh? jangan." "Cacing diperut kamu sudah pada demo loh." "B-biarin." "Makan ya, saya traktir." "Enggak pak jangan. Demonya juga mau udahan. Tuh udah enggak ada lagi suaranya, udah pada pulang." "Kenapa memangnya kamu enggak mau?" "Saya enggak mau berhutang budi sama bapak." "Siapa yang berhutang budi? Saya enggak merasa seperti itu. Yaudah saya enggak mau nganter kamu pulang. Nih mobilnya saya berhentiin." "Yaudah pak saya turun disini aja." "Pintunya saya kunci. Kamu enggak bisa keluar." Aleta menatap jengkel Alister. Ia menghela nafas sebentar lalu mengangguk. "Oke, saya mau diajak makan sama bapak. Tapi dengan syarat." Alister langsung merasa senang. "Oke, apa syaratnya?" tanya Alister. "Makannya di..." Beberapa saat kemudian disebuah rumah makan, Alister terus ditatap culas oleh seorang lelaki yang ternyata anak pemilik rumah makan itu. Farrel. Seolah lelaki ini tahu siapa sosok asli Alister sebenarnya. "Gue kok nyium nyium bau aura pemburu ya disini?" tanya Farrel, hidungnya terus mengendus endus sekitar Alister. Sedangkan Alister sendiri paham benar siapa lelaki yang memiliki darah asli keturunan serigala jadi jadian itu. Kenapa bisa bisanya ia bertemu dengan manusia serigala disini? Aleta yang sejak tadi duduk disamping Alister, sambil makan dengan lahapnya langsung menegur Farrel. "Rel! Kamu kayak enggak ada kerjaan aja sih liatin pak Alister terus? Naksir ya kamu? Ganti kelamin gih." ujar Aleta. "Dih, emang gue cowok apaan Let...masih normal gua. Yang gue heranin kenapa Lo bawa bawa makhluk satu ini kesini?!" sindir Farrel ketus. Aleta yang merasa tidak enak pada Alister langsung menginjak kaki Farrel. "Kamu enggak sopan banget sih Rel! Dia itu anak bos aku! Hormat kamu sama dia!" tandas Aleta. "Anak bos? Mencurigakan banget. Dia ini Let sebenarnya dia!" baru mau menjelaskan, Alister sudah keduluan menggunakan ilmunya agar mulut Farrel terbungkam tidak bisa terbuka. Mulutnya seperti dikunci. Alister tersenyum licik melihat Farrel yang mencoba menjelaskan namun tidak bisa membuka mulutnya. "Ngomong apa sih kamu, dasar orang aneh. Tamu itu harusnya dilayani, pak Alister ini kan datengnya bareng aku ya otomatis dia juga tamu kamu. Kamu harus layani dia juga dong." saran Aleta sembari terus makan. "Pak, bapak enggak makan?" tanya Aleta. Alister tersenyum lalu menggeleng. "Maaf ya pak, bapak terganggu ya sama kelakuan teman saya?" Aleta cemas. "Enggak kok." jawab Alister. "Dia ini memang kayak gini pak, orangnya rada enggak sopan. Tapi didalam hatinya dia orang yang baik kok pak. Saya udah lama berteman sama dia jadi saya tahu gimana luar dalem dia hehe." ujar Aleta. "Iya enggak apa apa." Alister terus melihat Aleta, ia menyadari ada sisa makanan diujung bibir Aleta. Ia pun segera mengambil tisu dan mengusap ujung bibir Aleta dengan lembut. Entah kenapa Aleta langsung dibuat berdebar melihat Alister begitu perhatian padanya. Aneh, kenapa tiap kali ditatap seperti itu oleh dua bola mata tajam dan alis mata tebal itu jantung Aleta sering berdegup kencang? Seperti mau meledak. Padahal ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Aleta tidak pernah merasa aneh seperti ini sebelumnya. Kenapa hanya dengan Alister semua terasa berbeda? Sesaat mereka bertatapan, Farrel langsung muncul dibelakang mereka sambil berkacak pinggang dan berdehem. "Ehem, ini kenapa mendadak suasana rumah makan jadi warna pink ya? Penuh lope lope!" ujar Farrel, yang baru saja menggunakan kekuatannya untuk mengembalikan mulutnya seperti semula, bisa bicara seperti awal. Aleta merasa canggung dan kembali memakan makanannya. Farrel yang merasa tidak beres dengan ini pun memutuskan berbicara empat mata dengan Alister. Ia membawa Alister menjauh dari Aleta. "Apa urusan Lo sama Aleta?" tanya Farrel. "Gue enggak bakal ngebiarin kalo Lo berbuat macem macem sama dia!" tambah Farrel kesal. Alister tersenyum licik. "Saya tidak akan berbuat apapun padanya. Anda bisa mengambil sumpah saya." ujar Alister "Apa sumpah Lo bisa gue percaya?" tandas Farrel. "Jika anda tidak percaya, itu juga tidak merugikan saya." bisik Alister tersenyum licik. "Aleta bukan cewek yang bisa Lo permainkan. Dia cewek biasa, sederhana, sebatang kara. Dia enggak punya siapapun. Dan gue berani bersumpah akan selalu melindunginya bahkan hingga akhir hayatnya." "Such wonderful phrase." ujar Alister tersenyum licik. "Gue enggak bakal sudi Lo ngedeketin dia. Karena dia...dia..." Gadis yang gue cintai... Alister mendengar suara pikirannya dan langsung mengepal. Ia menatap malas lelaki dihadapannya. Kelihatannya dia akan menjadi rival cintanya yang menyebalkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN