Mencium keningmu

1280 Kata
Seusai Aleta menyelesaikan makannya, Alister dan Aleta pun pamit pergi. Namun Farrel keburu mencegahnya. "Let tunggu.." Aleta menatap Farrel yang tampak ragu ingin mengucapkan sesuatu hal. "Kenapa?" tanya Aleta "Gue mau ngajakin Lo muncak (naik gunung), Lo mau enggak?" tanya Farrel langsung membuat Aleta semringah. "Wah, mau mau! Mau ke gunung apa Rel?" tanya Aleta "Gunung gede, gimana?" tanya Farrel Aleta menimbang sebentar lalu mengiyakan perkataannya. "Yaudah, boleh. Meskipun udah pernah sih kesana." ujar Aleta. Alister memegang tangan Aleta. "Jangan pergi, di pegunungan banyak makhluk buas." cegah Alister. Aleta jadi bimbang, ia memikirkan perkataan Alister. "Heh, dipikir Lo sendiri diri bukan makhluk buas?" desis Farrel. Alister melengoskan wajahnya sebal. Aleta yang mencoba melerai pertengkaran mereka langsung angkat bicara. "Makasih ya pak sebelumnya karena sudah khawatir tentang saya, tapi selama ada Farrel disamping saya. Saya yakin dia akan selalu melindungi saya kok. Lagipula saya sudah cukup terbiasa dengan hal seperti muncak ke gunung." ujar Aleta. Alister terdiam mendengarnya. "Kalau begitu saya juga ikut." ujar Alister tiba tiba. Farrel tidak terima. "Kok Lo gitu sih? Kenapa mendadak Lo bikin keputusan enggak jelas kayak gini? Seolah olah Lo udah kenal lama sama Aleta? Lo sadar enggak sih Aleta tuh nganggep Lo cuma sebagai anak bos doang." ketus Farrel. Aleta kembali menginjak kakinya sampai Farrel meringis kesakitan. "Duh sakit Al!" Aleta tersenyum pada Alister merasa tidak enak. "Muncak capek loh pak. Pulang pulang badan bapak pasti bakal remuk. Serius." ujar Aleta mencoba menolak dengan cara baik baik. "Tidak apa apa, saya terbiasa dengan pekerjaan berat." jawab Alister tersenyum. "O,oh.. hehe. Tapi banyak nyamuk loh pak. Nyamuk di gunung sama di kota beda banget pak. Nyamuk gunung lebih besar dan nyelekit kalo digigit." ujar Aleta "Saya terbiasa dengan nyamuk." "Hehe." Aleta perlahan merasa penolakan baik baiknya itu percuma. Alister tampak yakin dengan keinginannya. "Kapan rencananya kita kesana?" tanya Alister. "Enggak! Pokoknya kalo dia ikut, gue enggak ikut!" tandas Farrel. "Itu bagus, kalau begitu kita berdua saja ya Aleta." ujar Alister coba menjadi pemenang dalam hal ini. Farrel yang tidak terima dengan ini langsung menyerobot. "Enak aja kagak kagak. Al Lo enggak bisa berduaan sama dia! Bisa bisa Lo jadi makan malam dia lagi." desis Farrel "Apa sih makan malam, emangnya aku ayam." ujar Aleta. "Iya elo itu ibarat seekor ayam, yang sangat enak ketika dimakan sama kaum dia." "Kaum?" tanya Aleta penasaran Alister merasa tertantang "Bagaimana dengan anda sendiri? Bukankah seekor ayam segar adalah makanan kaummu juga?" Alister membalikkan keadaan dan membuat Farrel sedikit tertekan dengan perkataannya. "S,seenggaknya gue enggak kayak lo!" ucap Farrel. "Ini kenapa pada ngomongin ayam sih? Aku manusia, bukan ayam. Lagian perkataan kalian itu aneh, kayak seakan kalian bukan seorang manusia aja gitu." ujar Aleta. Secara serentak Alister dan Farrel saling menunjuk. "Dia memang bukan manusia!" ucap mereka bersamaan. "Hah?" Aleta pun dibuat terheran saat itu. Beberapa saat kemudian didepan rumah Aleta. Alister membuka pintu mobil dan membiarkan Aleta keluar dari mobilnya. Entah kenapa Aleta merasa diistimewakan saat itu. Aleta merasa canggung saat Alister terus memandangnya. Lelaki tampan bak seorang model itu benar benar sering membuat jantung Aleta bermasalah. Untuk menghentikan hobi Alister yang senang memandangnya lama, Aleta inisiatif bicara. "Pak, makasih ya sudah memberi saya tumpangan. Niatnya cuma dianter pulang eh malah jadi makan. Maaf ya pak ngerepotin bapak." ujar Aleta. "Tidak perlu meminta maaf, saya senang mengantar dan mengajak kamu makan. Bahkan..." "Bahkan?" tanya Aleta "Bahkan saya berharap ini bisa terjadi sepanjang waktu." terang Alister serius, entah kenapa Aleta merasa suasana memanas. Kenapa ini? Kenapa melihat Alister berbicara seperti itu langsung membuat wajahnya memanas dan pipinya cenderung kemerahan? Aleta tenang, dia pasti cuma salah satu dari sekian banyak orang yang senang menggombal! "Apa kamu pikir saya menggombal?" tanya Alister, Aleta tersentak. Lelaki ini seolah ia membaca apa yang dipikirkannya barusan. "S-saya masuk dulu ya pak. Makasih atas semuanya, s-sampai jumpa." pamit Aleta dan langsung segera berbalik namun Alister langsung menahan tangan Aleta hingga gadis itu kembali berbalik menghadap Alister dan maju wajahnya ke depan wajah Alister, mereka saling berhadapan. Bahkan Aleta bisa merasakan betapa indahnya wajah Alister dari dekat. Alister tersenyum menyeringai seiring wajahnya yang kian mendekat dan semakin maju ke depan wajah Aleta. Gadis itu gugup, ada apa ini. Kenapa seakan tangan dan seluruh badannya berhenti bergerak, seakan tidak bisa menolak apa yang Alister lakukan saat itu. Nafasnya yang hangat mulai terasa begitu dekat seiring bibir merah itu terus maju dan hampir menyentuh bibir Aleta. Aleta memejamkan mata ketakutan. Alister yang melihat Aleta takut langsung menghentikan niatnya mencium bibirnya, ia alihkan bibir itu mengecup kening Aleta. Gadis itu tersontak dan hampir keluar separuh nyawanya ketika Alister mencium keningnya. Aleta tidak percaya dan mengusap usap keningnya berulang kali. Untunglah ia bisa bergerak lagi sekarang. Detik itu juga Aleta pun langsung menjauh dari Alister dan kabur, masuk ke dalam rumah. Alister tersenyum menyeringai. Ia endus tangan yang barusan menyentuh tangan Aleta. Wangi tubuh gadis itu benar benar membuatnya sangat b*******h. Tiba tiba mobil Pajero miliknya menghilang saat itu juga dan Alister berubah menjadi seekor ular putih lalu langsung masuk ke pekarangan rumah Aleta. Tengah malamnya. Aleta sudah tertidur pulas dan tampak tenang. Pintu kamar mendadak terbuka dan masuklah seekor ular putih ke dalam kamar. Ia terus berjalan melata hingga naik keatas kasurnya, sampai tepat berada disamping Aleta. Tiba tiba ular itu mengubah jadi seorang pria tampan berpakaian serba putih dan tidur disebelah kanannya. Dia adalah Alister. Lelaki itu terus memandang Aleta yang saat itu dalam posisi tidur telentang. Ia peluk Aleta dari samping seolah gadis itu adalah boneka beruang kesayangannya yang takkan ia lepas. Aleta mengusik, ia yang tadinya telentang langsung mengubah posisi tidurnya dengan memiringkan tubuhnya ke sebelah kanan, hingga wajah mereka berhadapan, bibir Aleta dan Alister bahkan saling bersentuhan karena terlalu dekat. Alister terus memandang wajah tidur Aleta. Menyaksikan dengan penuh kesungguhan wajah indah sang permaisuri yang baru baru ini singgah di hatinya sambil tersenyum menyeringai. Esok paginya Suasana restoran 21 mendadak mendung karena ada seorang anak kecil yang terus menangis karena kelaparan. Sebenarnya dia bukanlah anak kecil yang jadi pelanggan di restoran atau anak yang terpisah oleh orang tuanya melainkan seorang pengamen dengan pakaian kumal yang sering lewat disekitar restoran. Katanya dia belum makan dua hari ini. Orang yang menemukan anak ini pertama kalinya adalah Aleta. Gadis itu menemukan si anak lelaki sedang menangis di pinggiran restoran. Lalu ketika ditanya, anak itu menjawab ia kelaparan karena belum makan dua hari. Aleta, Mirna dan beberapa karyawan lainnya pun inisiatif patungan agar membelikan anak itu makanan dari restoran. Alister yang baru datang, melihat Aleta, Mirna, Melki dan dua waitress lainnya sedang duduk di pinggiran restoran bersama sang anak lelaki. Alister yang penasaran pun mendekat. "Ada apa?" tanya Alister. "Anak ini kasihan pak belum makan selama dua hari." ujar salah satu waitress. "Oh." Alister melihat dari ujung ke ujung anak lelaki yang sedang dipegang tangannya oleh Aleta. Alister merasa cemburu melihat sang anak sebegitu mudahnya digandeng tangan oleh Aleta. Apakah mungkin Aleta menyukai anak lelaki itu?! Alister langsung melepas tangan Aleta dari memegang tangan anak itu. Bahkan keadaan jadi berbalik, ia yang jadinya menggandeng tangan Aleta dan menarik gadis itu untuk berdiri disisinya. "Biar urusan ini jadi urusan kalian. Aleta kembali bekerja." ujar Alister membawa Aleta pergi. Semua terheran dan saling bergosip tentang kedekatan mereka, apalagi Mirna yang sudah mencium kedekatan mereka sejak awal. Ia tampak senyam senyum sendiri saat itu, Melki yang melihatnya langsung ilfeel. "Dih senyam senyum sendiri. Lagi latihan jadi orang gila ya?" ejek Melki. "Iya kan elu gurunya." ujar Mirna tidak mau kalah. Aleta yang terus dibawa Alister langsung melepas tangannya. "Maaf pak, tapi saya juga harus membantu anak itu. Saya kasihan melihatnya. Hanya sebentar saja kok pak." ujar Aleta. Alister menatap Aleta serius. "Sekarang saya ingin bertanya sama kamu." ujarnya. Aleta bertanya. "Tanya apa pak?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN