"Kamu suka sama anak lelaki itu?" tanya Alister curiga.
Aleta langsung menjawab. "Saya suka pak."
"Kamu benar benar suka sama anak itu?!" Alister mengulangi perkataannya kesal.
"Y-ya... suka dalam arti bukan dalam konteks hubungan sepasang kekasih." ujar Aleta merasa jika Alister sedang salah paham padanya.
"Lalu dalam hubungan apa?" tanya Alister penasaran.
"Adik dan kakak mungkin? rasa kasihan? Terlebih saya suka anak kecil." terang Aleta.
"Kamu suka anak kecil? Kenapa kamu suka anak kecil?" tanya Alister.
"Karena dia imut dan lucu." jawab Aleta
"Kalau saya berubah jadi anak kecil apa kamu akan suka sama saya?" tanya Alister serius.
"Eh? Pfft.. bapak aneh aneh aja sih." Aleta tertawa.
"Saya serius. Kok malah tertawa?" tanya Alister.
"Ya bapak aneh aja. Kenapa bapak bisa berpikiran kayak gitu? Intinya saya ingin menolong anak itu karena rasa kasihan aja. Bagaimanapun saya pernah merasakan kesusahan seperti yang anak itu alami, jika melihat anak itu, saya jadi teringat dengan diri saya sendiri. Yang tidak pernah lepas dari belas kasihan orang lain." ujar Aleta lirih.
"Oh begitu." Alister paham maksud perkataannya.
"Kalau begitu, sekarang saya tugaskan kamu untuk membantu mengurus anak itu." ujar Alister.
"Wahh makasih banyak ya pak." ucap Aleta
"Iya."
Beberapa saat kemudian Aleta memberikan beberapa paket makanan yang sudah dibungkus pada anak lelaki bernama Farhan itu. Farhan pun merasa semringah dan langsung menerimanya.
"Waah, terima kasih banyak ya kak." ujar Farhan.
"Iya sama sama. Kamu makan yang banyak ya. Jangan lupa kasih ke keluarga kamu." ujar Aleta.
Farhan tampak sedih setelah mendengarnya.
"Aku enggak punya keluarga kak, aku tinggal sendirian di kolong jembatan."
"Di kolong jembatan? Kasihan sekali kamu. Lalu kalau kolong jembatannya banjir bagaimana? Kamu tidur dimana?" tanya Aleta cemas.
"Aku pindah ke halte kak." jawab Farhan.
Aleta merasa tidak tega, tangannya terus mengusap rambut Farhan. Gadis itu mendadak teringat sesuatu. Ia kan tinggal sendiri di rumah, apa baiknya ia memberi saran kepada Farhan agar tinggal bersamanya ya?
Itulah yang dipikirkan oleh Aleta barusan, namun tiba tiba saja seseorang menolak hal itu.
"Jangan, dia tidak boleh tinggal bersama kamu." ucap Alister yang lantas berjalan mendekati Aleta.
"Eh? Kok enggak boleh pak?" tanya Aleta penasaran.
"Dia laki laki, dan kamu perempuan. Saya tidak akan membiarkan kalian tinggal bersama." ujar Alister. Aleta merasa aneh, kenapa mendadak Alister jadi bersikap seperti ini?
Apakah mungkin dia masih menyangka kalau dirinya adalah p*****l? Si penyuka anak anak? Ini benar benar diluar akal sehat!
"Pak, saya dan anak ini tidak mungkin mengarah ke hal seperti itu. Apa yang bapak pikirkan itu ngaco pak." ujar Aleta mencoba menyalahkan pemikiran Alister yang salah besar.
"Awalnya mungkin akan seperti itu, tapi kita tidak tahu setelahnya akan berakhir seperti apa."
"Berakhir seperti apa maksud bapak?" tanya Aleta mengernyit.
"Y-ya hal seperti itu." ujar Alister mencoba menutupi. Aleta benar benar tidak percaya Alister insist dengan pemikirannya yang seperti itu. Ia pun menghela nafas, kalah.
"Lalu Farhan mau tinggal dimana pak? Kasihan dia tidak memiliki tempat tinggal." tanya Aleta. Alister berpikir sejenak.
"Tempat banyak anak yang tidak memiliki keluarga." ujar Alister.
"Panti asuhan maksud bapak?" tanya Aleta
"Iya, dimana kamu bisa menemukan tempat itu?" tanya Alister.
"Farhan, apa kamu mau tinggal di panti asuhan?" tanya Aleta pada Farhan.
"Apa disana aku bisa makan kak dan mencari uang?" tanya Farhan polos.
"Disana kamu ada yang kasih makan dan enggak perlu mencari uang lagi Far." ujar Aleta.
"Kalo begitu enggak apa apa kak. Aku mau tinggal di panti asuhan." ujar Farhan semringah.
Aleta tersenyum dan mengusap pucuk kepala Farhan. "Yaudah nanti kakak cari informasi ya seputar panti asuhan terdekat dari rumah kakak." ujar Aleta. Ia kembali menambahkan.
"Untuk sementara, kamu bisa tinggal di rumah kakak dulu." ujarnya, Alister tidak terima.
"Enggak, jangan." ucap Alister langsung menolak mentah mentah usulnya. Aleta sedikit sebal dengan sikapnya. "Cuma sehari aja pak." pinta Aleta.
"Kalau tidak, begini aja. Kita cari bersama sama dimana panti asuhan sekitar sini." usul Alister.
Aleta menghela nafas, mau tak mau ia pun setuju dengan usul sang anak bos itu.
"Yaudah, eh nanti kan sesudah pulang kerja?" tanya Aleta. Alister tersenyum. "Sekarang."
"Se-sekarang? Lalu gimana dengan pekerjaan saya pak?" tanya Aleta bingung.
"Nanti saya ijinin kamu." ujar Alister
"O,oh yaudah."
Aleta memegang kedua pundak Farhan
"Farhan, tunggu sebentar ya. Sebentar lagi kakak dan pak Alister mau nyari panti asuhan bareng bareng." ujar Aleta. Farhan mengangguk senang. "Iya kak."
Alister yang baru akan pergi langsung balik lagi mendekati Aleta. Ada sesuatu yang ia lupakan. Ia menyodorkan kunci motor pada Aleta. "Ini kunci motor kamu." ucap Alister.
Aleta merasa sangat senang. "Wah Alhamdulillah, bapak nemu dimana pak? Alhamdulillah ya Allah." ucap Aleta sangat bersyukur kunci motornya kembali lagi ke tangannya.
Sejujurnya kunci motor itu Alister yang menyembunyikan. Saat setelah para preman itu pergi, ia melihat kunci motor Aleta tergeletak dibawah meja.
Ia pun memungutnya lalu berencana untuk tidak memberikan kunci itu pada Aleta, ia sudah merencanakan acara semalam dengan sangat terukur.
Jika saja ia mengembalikan kunci motor itu, ia pasti tidak akan jalan berduaan dengannya tadi malam.
Aleta yang melihat Alister melamun melihatnya langsung melambai lambai ke depan wajahnya. "Pak?"
Alister segera tersadar dan tersenyum mencoba bersikap seolah tak ada apa apa. "Saya minta ijin dulu ya. Kamu tunggu disini dulu." ujar Alister berlalu masuk ke dalam restoran.
Beberapa saat kemudian Alister, Aleta dan Farhan sudah ada didalam mobil. Alister sibuk menyetir, sedangkan Aleta dan Farhan duduk di kursi kedua.
"Kenapa jadinya kamu duduk dibelakang Al?" tanya Alister menyayangkan Aleta yang duduk dibelakangnya.
"E-enggak kenapa napa pak." ujar Aleta yang mencoba menjaga jarak dari Alister. Sejujurnya, setelah lelaki itu mencium keningnya semalam, Aleta jadi gerogi tiap dekat dengan Alister.
Bahkan sejak tadi pagi ia terus bertekad untuk tidak berdekatan lagi dengan Alister. Meskipun pada akhirnya ia malah jadi ngejogrog didalam mobil bersamanya.
Terkadang Aleta berpikir, kenapa ia terus saja berhubungan dengan anak bos satu ini? Bukankah seorang anak bos seharusnya menghabiskan waktunya dengan harta dan wanita?
Setelah dipikir, bahkan Alister pernah bilang pada Aleta, kalau ia mencintainya. Ini benar benar hal yang diluar akal sehat. Sepanjang hidupnya, bahkan baru kali ini Aleta ditembak oleh lelaki yang sempurna secara keseluruhan.
Tapi semenjak Alister mengatakan jangan terlalu memusingkan hal ini, Aleta jadi tidak terlalu menganggap hal ini ada. Malah kesannya ia jadi menggantungkan Alister.
Padahal sejujurnya Aleta tidak tahu harus menjawab apa, ia bahkan belum pernah merasakan jatuh cinta sekalipun.
Seperti apa sebenarnya jatuh cinta itu?
Aleta termasuk orang yang tidak memperdulikan tentang cinta, contoh besarnya ketika ia SMP. Disaat semua orang disekitarnya sibuk dengan segala hal mengenai cinta, Aleta malah selalu fokus belajar dan bekerja sambilan.
Meskipun pada nyatanya Aleta selalu merasa tertinggal dari teman sebayanya.
Itu adalah hal yang wajar, namun ini juga adalah hidup yang berusaha ia jalankan. Hidup yang ketika kita kalah oleh keadaan dan tidak cukup mumpuni dalam berbagai bidang, kita akan kalah oleh persaingan.
Hidup yang tak jarang suka menelan banyak orang...
Dengan bantuan google map, akhirnya mereka bisa menemukan panti asuhan dekat sana. Nama panti asuhan ya adalah Sayang bunda. Alister menepikan mobilnya ke halaman depan panti asuhan. Dapat dilihat rumah panti asuhan yang luas dan memiliki banyak kamar.
Puluhan anak mulai dari umur terkecil hingga terbesar seolah berkumpul didepan halaman, bermain main dengan temannya.
"Nah kita sudah sampai Far." ujar Aleta. Farhan terlihat senang melihat banyak anak anak yang berkemungkinan jadi temannya itu.
Saat berjalan masuk ke dalam panti asuhan, mereka mendadak dihentikan oleh wanita bergamis dan kerudung panjang. Ternyata dia adalah Bu Nisa, pemilik panti asuhan tersebut.
"Ada perlu apa ya Bu? Pak?" tanya Bu Nisa.
Aleta langsung menjawab.
"Kami ingin menitipkan anak ini ke panti asuhan Bu." ujar Aleta. Bu Nisa mengernyit, ia berpikiran macam macam saat itu, apakah mungkin mereka ibu dan anak yang ingin membuang anaknya ke panti?
Alister yang mendengar suara pikirannya langsung angkat bicara. "Sebenarnya anak ini bukan anak kami." ujarnya meralat pemikiran Bu Nisa.