Sang calon istri

1222 Kata
"O,oh hehe. Saya kira anaknya." Bu Nisa merasa malu sudah beranggapan seperti itu. Aleta berkata "Dia adalah anak jalanan yang tidak memiliki tempat tinggal Bu, dia hidup sebatang kara. Sehari hari dia tinggal di kolong jembatan. Saya merasa kasihan ketika mendengar cerita hidupnya. Makanya kami mencoba mencarikannya tempat tinggal dan dari sanalah kita menemukan ide untuk menitipkannya ke panti asuhan ini." terang Aleta. "Oh begitu. Yasudah mari Bu, Pak. Silahkan masuk." Bu Nisa memperkenankan mereka masuk ke dalam panti. Didalam panti mereka saling berbincang banyak hal. Lalu tak terasa waktu bergulir cepat dan mereka berdua pun segera pergi meninggalkan Farhan di panti itu. Farhan melambaikan tangan pada mereka yang sudah berada didalam mobil, hingga akhirnya mobil itu jalan menjauh dan pergi. Didalam mobil, Aleta yang sedang duduk di kursi kedua merasa sangat senang dan lega sekarang. "Makasih banyak ya pak, aku jadi lega sekarang. Farhan sudah memiliki rumah dan tidak tidur dikolong jembatan lagi." terang Aleta. Alister tersenyum. "Saya juga ikut senang. Apapun yang membuat kamu senang, akan saya lakukan." ujar Alister. Aleta tersentak, kenapa ya? Lelaki ini selalu berusaha untuk memenangkan hatinya? Padahal Aleta belum menjawab pernyataan cinta Alister. Di dunia ini orang jahat banyak, orang yang suka mempermainkan perasaan, penipu dan orang yang suka menggombal juga banyak. Makanya Aleta mencoba untuk bersikap biasa saja ketika dikatakan seperti itu oleh lawan jenis. Tapi, entah kenapa ketika bersama Alister. Ia merasa itu berbeda, rasanya dia adalah orang yang berbeda dari kebanyakan orang, seolah ia diciptakan tuhan hanya untuknya. Ditambah ketika bersama Alister ia merasa sangat nyaman, lelaki ini dengan tanpa permisi telah masuk ke dalam benteng yang yang sudah ia ciptakan sejak lama. Lelaki itu selalu berhasil menerobos masuk ke dalam benteng pertahanannya. Di kerajaan klan siluman ular putih. Tepat didalam gua, terdapat sebuah istana yang luas dan megah. Dikelilingi keseluruhannya dengan bebatuan kristal putih dan sisik berwarna perak yang menjadi dindingnya. Seorang pria tampan dengan kepala bermahkotakan kristal, sejak tadi terus melihat layar magis didepannya yang memperlihatkan gambar Alister terus memperhatikan Aleta ketika sedang bekerja. Pria ini menggeram marah. "Anak itu benar benar!" pria bernama lengkap Aaron maximilian ini langsung menghentak tongkat yang dipegangnya ke tanah hingga istana itu jadi bergetar seperti terkena gempa. Lima wanita selir yang tadi memijatinya dan para penjaga yang berdiri di penjuru singgasana pun cemas melihat kemarahan sang raja. Namun tidak termasuk seorang gadis cantik yang kini berdiri didepan sang raja. Malahan baru baru ini ia tersenyum licik melihat ekspresi marah sang raja. "Kenapa dia malah berhubungan dengan manusia?! Kaum yang sangat kita musuhi sejak lama!" desis Aaron. "Sepertinya paman harus menyegerakan upacara pernikahan aku dan Alister deh." usul Selena. Aaron terdiam memikirkan perkataan Selena barusan. Ia merasa itu adalah satu satunya cara, keputusan yang sangat tepat ia lakukan agar mencegah Alister berhubungan lebih banyak dengan kaum manusia. Kaum yang telah merenggut nyawa istrinya! "Baiklah, Selena. Paman akan menyiapkan upacara pernikahan untuk kalian. Tapi sebelum itu kamu harus pergi ke dunia manusia dahulu, kalau perlu seret Alister agar bisa kembali ke dunia ini lagi!" ketus Aaron. Selena tersenyum licik. "Oke." Esok paginya di restoran 21 ada pelanggan yang sangat cantik dengan paras elok dan mempesona. Ia berjalan masuk ke dalam restoran dengan rambut beterbangan seperti iklan sampo. Semua lelaki dibuat terpana melihat lekuk tubuhnya yang seksi dan pakaiannya yang serba ngepas, termasuk Melki yang sampai menganga hingga Mirna cepat cepat langsung mengatup mulutnya agar tak ada lalat masuk. Wanita cantik itu bukankah dia artis yang suka ada di televisi?! Oh benar! Dia adalah Selena Raymond! Artis cantik yang sedang naik daun belakangan ini! Alister hampir tidak percaya melihat Selena bisa bisanya muncul di restoran itu. Ia pun segera mendekati Selena yang sudah menempelkan bokongnya ke atas kursi. "Ngapain kamu kesini? Menyamar sebagai artis pula." tanya Alister curiga. Selena melihat kukunya yang sangat terurus itu. Lalu ia beralih memandang Alister dan tersenyum. "Kamu enggak liat ini dimana? Ini restoran kan? Ya aku mau makan." ujar Selena berpura pura. Alister tersenyum mentah. "Apa ayah yang menyuruh kamu?" tanya Alister. "Lebih tepatnya ayahmu menyuruh aku untuk menyeret kamu kembali ke dunia siluman." terang Selena. Alister tersenyum picik. "Seret kalau bisa. Apa kamu mampu melawan saya, hmm?" tanya Alister. Selena setengah kesal diremehkan seperti itu. Ia pun mengubah dua kucing yang ada diluar restoran menjadi manusia kekar seolah preman. Selena berseru. "Tangkap dia!" pekik Selena. Aleta terkejut saat melihat Alister diburu oleh dua orang pria kekar. Alister yang tidak mau melihat Aleta tahu kekuatannya langsung menjentikkan jarinya hingga setelahnya waktu pun terhenti. Disaat semua orang berhenti bergerak. Selena berjalan mendekati Alister, semakin cepat dan tahu tahu dia sudah ada tepat dibelakang Alister dengan tangan yang melaju untuk menusuknya dengan pisau. Namun Alister keburu menghilang. Selena mencari sekeliling, lelaki itu tidak ada di manapun. Tahu tahu ada sebuah lingkar sihir diatas kepalanya. Selena hampir akan terkena sinar laser yang keluar dari lingkar sihir itu, untungnya ia berhasil menyadarinya lebih awal dan beralih menghindar dari serangan itu. Jika saja ia tidak sempat menghindar, ia pasti bisa terbelah jadi dua bagian. Jurus itu, adalah laser pembelah yang bisa membelah benda sepadat apapun menjadi dua bagian. "Oke, kalau kamu berniat melakukan pertarungan serius denganku. Akan aku ladeni." ucap Selena yang langsung menciptakan sebuah pedang berwarna putih perak dari telapak tangannya. Selena berlari sangat kencang menuju Alister lalu menghilang dan tiba tiba berada tepat diatas Alister dengan tangan bersiap menebas. Alister dengan cepat menciptakan pedang berwarna hitam dari telapak tangannya dan tabrakkan pedangnya ke pedang Selena yang ada diatasnya. Mereka terus bertarung pedang, membentur dan menabrakkan pedang satu sama lain hingga keluar percikan api. Sangat sengit, lalu kadang Selena menghilang dan dengan cepat Selena mengeluarkan lingkar sihir dari telapak tangannya bersamaan dengan keluarnya sebuah bola api yang mengarah ke belakang punggung Alister. Alister secepat mungkin menghindar, namun Selena sudah membaca gerakannya dan berhasil melukai pipi Alister dengan pedangnya. Alister membuat waktu melambat antara dirinya dan Selena. Disaat itu juga ia melangkah mundur menghindarinya. Ia usap darah dari luka sayat dipipinya dan lantas tersenyum menyeringai. Dari belakang tubuhnya tiba tiba keluar energi berbentuk ular putih besar yang langsung menyerang Selena dan terus membuat gadis itu kerepotan menghadapi serangannya dengan pedang, hingga bahkan membuat Selena terus mundur ke belakang. Tiba tiba ular itu membuat waktu antara mereka berjalan lambat dan disaat yang sama sebuah es berbentuk runcing meluncur cepat mengarah ke Selena yang saat ini masih dalam gerak lambat. Selena tidak menyangka dan merasa ini sudah waktunya ia akan mati di tangan Alister. Ia pun memejamkan matanya. Tiba tiba sebuah perisai pelindung menghalangi es berbentuk runcing itu mengenai Selena. Alister merasa kesal saat melihat ada orang yang berniat ikut campur dalam masalah ini. Dia adalah...Alvino Esther Maximilian. Tidak lain dia adalah adik lelakinya. "Apa sebenarnya yang kakak lakukan?! Selena adalah calon istri kakak!" pekik Alvino. Alister tersenyum picik. "Jadi kamu juga ada di pihak dia?" tanya Alister sedikit menyinggung tentang kehadirannya yang tiba tiba itu. Alvino terdiam. "Kakak adalah penerus ayah, jika kakak terus berurusan dengan manusia, kakak bisa celaka!" tandas Alvino. "Sudahlah Vin, kamu tidak usah mengingatkan kakak tentang hal itu." ujar Alister. "Apa kakak sekarang sudah mulai menyukai manusia? Apa kakak lupa kalau dulu kakak sangat membenci mereka? Ibu juga meninggal karena---" "TIDAK USAH IKUT CAMPUR!" pekik Alister. Alvino terkejut. Ini pertama kalinya ia melihat Alister sebegitu marahnya. Entah kenapa ia merasa Alister seolah berubah menjadi sosok yang tak ia kenal. Alvino pun mematut terdiam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN