"Katakan pada ayah, kalau kakak menolak perjodohan ini. Karena ada gadis yang sudah kakak jalin kontrak." ujar Alister.
Alvino tersentak. "Apa?! Kakak sudah menjalin kontrak?! Dengan siapa kak? Apa jangan jangan, dengan gadis manusia itu?!" tanya Alvino.
Alister terdiam sejenak dan tak membalasnya. Ia memutar kembali waktu dan berkata pada Alvino.
"Kamu bisa pergi sekarang, kakak harus kembali bekerja." ujar Alister sambil mengubah dua pria kekar yang sedang berlari kearahnya kembali menjadi kucing.
Alvino tampak sedih disana, namun ketika ia berniat mendekati Selena, gadis itu sudah tidak ada disekitarnya.
Ternyata setelah dicari, Selena sedang berada disamping Aleta saat itu. Alister yang melihat hal itu langsung geram. Selena menarik tubuh Aleta dan menutup matanya.
Aleta langsung pingsan dipangkuannya. Selena yang ditatap tajam oleh Alister langsung tersenyum menyeringai. Ia dan Aleta menghilang detik itu juga.
Alister kesal hingga meninju meja di dekatnya. Tidak ada yang boleh melukai permaisurinya, sekecil apapun luka yang diterimanya, akan ia buat pembalasan setimpal!
Ketika membuka matanya, Aleta mendapati dirinya ada didalam sebuah gudang yang kumuh dan berantakan. Bahkan kedua tangan dan kakinya terikat ke kursi yang didudukinya.
Apa sebenarnya yang terjadi, padahal seharusnya ia sedang berada di restoran sekarang. Oh iya, kalau diingat, tadi kan ada seorang wanita cantik yang tiba tiba menarik tubuhnya dan menutup matanya! Apakah mungkin, wanita itu yang membawa Aleta ke tempat ini?!
Jadi, dialah penculiknya?!
Saat menerawang ke sekitar, Aleta mendapati lima pria berbadan kekar berjaga disepenjuru rumah itu. Padahal ia sangat berniat untuk kabur saat itu dan semestinya ia selalu siaga membawa pisau kemana mana.
Ia bahkan tidak kepikiran ada orang yang mau menculik orang semacam dirinya. Dan siapa juga yang dengan sangat bodohnya menculik orang semiskin dan sebangkrut Aleta?! Orang itu pasti buta.
Ia tidak memiliki keluarga maupun saudara terdekat seperti yang ia ketahui. Lantas kepada siapa sang penculik akan meminta tebusan?! Apakah tetangganya? Ia pasti tidak waras!
Lalu bagaimana jika tidak ada yang memberikannya tebusan?
Apakah mungkin dia akan dibunuh, diambil ginjalnya dan dimasukkan ke dalam koper lalu dihanyutkan?!
"Huwaaa aku enggak mau mayatku enggak ada ginjalnya dan dimasukin koper terus jadi makanan ikan! Aku bukan pelet! Gak mau! Gak mau!" batin Aleta seraya mengguncang guncang tubuhnya seperti cacing kepanasan, ia merasa sangat ingin keluar dari tempat itu.
Selena tiba tiba muncul dan berjalan mendekati Aleta, caranya tiba tiba muncul seperti itu benar benar ampuh membuat Aleta membungkam mulut dan terdiam.
Aleta terkejut saat melihat Selena menyunggingkan seringaian di bibir merah mudanya. Tunggu, ketika dilihat dari jelas. Aleta akhirnya paham, bukankah dia adalah Selena Raymond yang suka ada di televisi itu?!
Kenapa artis secantik dia bisa bisanya menculik gadis sebatang kara sepertinya? Apa sebenarnya motifnya?!
Selena mencengkeram kedua pipi Aleta. "Makhluk rendahan seperti kamu tidak pantas dengan Alister! AKU YANG LEBIH PANTAS DIBANDING KAMU!" pekik Selena. Aleta terkejut, apa katanya barusan? Tidak pantas untuk Alister?
Apakah mungkin...dia adalah pacar Alister?!
Aleta pun langsung mencoba menjelaskan. "Enggak, kamu salah paham, aku sama pak Alister enggak ada hubungan apa apa." jelas Aleta.
"PEMBOHONG!" Selena menampar pipi Aleta kencang. "KAMU PIKIR AKU ENGGAK TAHU? KAMU MANUSIA PENGGODA, KAMU MELANCARKAN SEGALA CARA UNTUK MEREBUT PERHATIAN ALISTER!" pekik Selena. Aleta tidak percaya, kenapa masalah jadi rumit seperti ini!
"Oh iya, mungkin kamu belum tahu tentang ini." ujar Selena.
"Apa?" tanya Aleta mengernyit.
"Alister adalah seorang siluman ular termasuk aku." terang Selena. Mata Aleta membulat sempurna. "K-kamu ngomong apa tadi? Dia seorang siluman?" tanya Aleta.
"Iya benar." jawab Selena.
Aleta langsung menahan tawa. Selena kesal. "Kenapa malah tertawa?!" tanya Selena.
"Jaman millenium gini masih ada ya hal kayak gitu?" tanya Aleta tidak percaya jika hal seperti siluman dan semacamnya ada.
"Oke, kalo kamu tidak percaya. Aku akan membuktikannya sendiri." ujar Selena tersenyum menyeringai. Aleta tersentak. Ia bisa melihat apa yang akan Selena lakukan saat ini, ia berada didalam posisi duduk lalu membungkuk. Aleta langsung tersentak saat melihat Selena langsung berubah menjadi seekor ular putih.
Tidak mungkin.
Jadi... apa yang dikatakannya adalah benar?!
Dan ia berkata jika Alister merupakan bagian dari mereka? Pantas saja jika selama ini Aleta merasakan banyak hal ganjil yang terjadi padanya.
Seperti ada yang perlahan mengabulkan semua permintaan hatinya!
Selena berubah kembali menjadi wujud manusianya. "Sekarang kamu percaya kan?" tanya Selena.
Aleta dibuat terpatung dan terdiam cukup lama melihatnya. "Alister adalah seorang pangeran di kerajaan kami. Dia adalah pewaris tahta dari kerajaan klan siluman ular putih." terang Selena. Aleta terkejut.
"Dia adalah siluman ular terkuat di kerajaan kami. Kekuatannya adalah elemen es, waktu, mengatur cuaca, menghapus ingatan, sihir tingkat tinggi dan masih banyak lagi.
Ketika masih kecil, kekuatannya sudah bisa terlihat oleh orang dewasa, seakan dia sudah menjadi dewasa sebelum waktunya. Dia benar benar telah menjadi kebanggaan kaum kami." tutur Selena. Aleta menyimak perkataannya.
"Suatu ketika ibu Alister dibunuh oleh seorang manusia. Mulai dari sana permusuhan kami dengan kaum manusia dimulai. Kami yang tadinya hidup berdampingan dengan kaum manusia jadi berbalik. Kami menganggap manusia bukan lagi saudara melainkan musuh." terang Selena.
Aleta merasa ada yang mengganjal pikirannya sejak tadi. Ia pun bertanya. "Tunggu, dulu manusia dan siluman ular saling hidup berdampingan? Tapi kenapa aku tidak tahu ya kalo manusia dan siluman ular hidup berdampingan?"
"Itu karena kami menghapus semua ingatan manusia yang pernah dekat dan mengenal kami. Setelah perang antara kaum kami dan manusia terjadi, kami menghapus ingatan para manusia itu. Mereka hidup tanpa mengingat kami sedikitpun." ujar Selena. Aleta tersentak.
"Kami masih punya hati dan membiarkan kalian semua hidup meski tanpa ingatan sama sekali tentang kami." ujar Selena. Aleta terdiam.
"Alister merasa sangat sedih karena kematian ibunya. Semenjak kejadian ibunya dibunuh dan perang itu terjadi, Alister sangat membenci manusia hingga bersumpah ingin membunuh setiap manusia yang terlihat oleh matanya. Dia benar benar terkenal sebagai si haus darah." tutur Selena. Aleta terkejut, entah kenapa ia merasa sedih.
Jadi begitu masa lalu pak Alister.. kenapa aku merasa sedih ya? Sebenarnya apa maksud dia mendekati aku? Bukankah seharusnya dia membenci aku?
"Kamu sekarang sadar kan, kamu dan Alister itu bukan pasangan cocok. Alister mendekati kamu bisa jadi bukan karena dia cinta kamu, bisa aja kan dia ingin membunuh kamu?" ujar Selena tersenyum picik.
Aleta terdiam. Apakah benar apa yang dikatakan Selena? Kalau sebenarnya...Alister mendekatinya karena ingin membunuhnya?
Dan kenapa mendadak hatinya merasa sakit?
Selena tersenyum puas melihat Aleta yang dirundung kebingungan. Tiba tiba Aleta merasakan nyeri yang teramat di tengkuknya. Itu adalah bekas gigitan Alister yang hingga sekarang sakitnya masih terasa.
Selena terkejut melihat tengkuk Aleta yang dipenuhi tanda kontrak berwarna hitam menjalar hingga hampir ke wajahnya.
Alister benar benar menjengkelkan! Bisa bisanya dia menjalin kontrak dengan seorang manusia rendahan. Lihat saja, Aleta akan mati terkunci di ruangan ini dimakan oleh tanda itu.
Seperti yang ia tahu, dua orang yang sudah terjalin kontrak harus selalu berada dekat. Jika salah satu dari mereka jauh maka yang akan paling menderita adalah sang penerima kontrak. Dia akan merasakan seluruh tubuhnya panas, pusing hingga termakan oleh tanda kontrak. Jika dia sampai termakan oleh tanda itu maka... kematian menunggunya.
Ya! Selena sangat sesumbar menunggu masa masa Aleta mati terkunci di rumah yang telah ia berikan pelindung ini. Alister tidak akan bisa mendeteksi keberadaan Aleta meskipun mereka sudah terikat batin saat ini.
Aleta terkejut saat melihat sebuah tanda berwarna hitam tiba tiba muncul di kedua tangannya. Saat mengintip ke dalam bajunya, tanda itu sudah menghiasi seluruh tubuhnya. Seperti tato. Ada apa ini? Kenapa mendadak tubuhnya jadi seperti ini?!
Bahkan seluruh tubuhnya merasa sangat panas, seperti terbakar. Kepalanya juga mendadak pening, Aleta merasa tidak kuat hingga akhirnya ia pun pingsan diatas kursi itu. Selena tersenyum picik melihatnya tak sadarkan diri. Ia merasa bangga atas kemenangan ini.
Setelah membuka kedai rumah makannya dan membalik tulisan closed menjadi open di dekat pintunya, ia bersama ayahnya sibuk membereskan bangku bangku lalu mengelapnya.
"Rel, kok papa kemarin malam mencium bau makhluk licik ya disini?
Apa ada pelanggan yang mencurigakan kemarin?" tanya Frans curiga. Farrel terdiam, ia merasa tersudutkan saat itu. Apakah mungkin ia cerita saja ya? Kalau kemarin ada siluman ular putih mendatangi kedainya?