Ah tidak, bisa bisa ia diomeli nanti. Ayahnya kan sangat membenci siluman ular, apalagi dulu ia pernah terlibat perkelahian dengan siluman ular, meskipun ia pun tahu, itu dari klan siluman ular hitam bukan putih.
"Aku enggak tahu pah, mungkin cuma selewat aja kali." sahut Farrel.
Frans mendadak teringat sesuatu. "Oh iya, nanti sore kamu ke rumah Aleta ya. Papa ingin memberikan sesuatu sama dia." ujar Frans.
"Yaudah pa." ujar Farrel.
Tiba tiba Frans dan Farrel mengendus bau siluman disekitar kedai. Frans langsung tahu ketika orang itu muncul dihadapan mereka. Dia adalah Alister.
Frans langsung menggeram dan mengeluarkan cakarnya menunjukkan jika dia merupakan siluman serigala.
"Mau apa kamu kemari?!" ketus Frans
Alister menatap Farrel. "Aleta diculik." ujarnya sedikit lirih. Farrel langsung berjalan cepat ke arahnya dan memukulnya.
"Ini semua gara gara Lo kan?! Karena berdekatan sama Lo jadi dia ikut kebawa bahaya!" pekik Farrel.
Alister terdiam. Ia tidak merasa jika perkataan Farrel salah, ia hanya merasa hal itu adalah kebenaran.
Frans bisa melihat Alister tampak terdiam menyesal saat itu. Farrel yang kembali ingin memukul Alister lagi langsung dihentikan oleh Frans.
"Sudahlah. Yang terpenting saat ini adalah kita cari Aleta sampai dapat." ujar Frans. Farrel merasa kesal, sangat kesal hingga ingin terus memukul Alister berkali kali. Bagaimanapun penyebabnya pasti karena dia!
Beberapa saat kemudian
Frans, Farrel dan Alister saling bekerja sama mencari Aleta. Alister mengumpulkan banyak ular dan memberinya tugas untuk mencari Aleta sedangkan Frans dan Farrel mencari seluruh daerah dengan indera penciumannya yang tajam.
Sudah beberapa wilayah mereka telusuri namun hasilnya masih nihil. Frans pun tidak memiliki pilihan. Ia segera memejamkan matanya lalu mencium banyak bau diselubungi wilayah itu. Farrel yang ada di tempat terpisah dengan Frans pun ikut melakukan cara itu.
Ia memejamkan mata dan mencium seluruh bau di sekitar wilayah itu. Seluruh bau tercium oleh hidung mereka. Bau makanan, bau tempat sampah, bau got yang mampet, bau mulut seseorang, bau rambut yang jarang dicuci, bau kentut, bau kaki, bau semua manusia didaerahnya itu...hingga akhirnya mereka menemukan bau tubuh Aleta!
Farrel dan Frans pun memberitahu Alister kalau mereka sudah menemukan jejak Aleta. Saat itu tak ada yang mereka lakukan selain mengikuti bau itu.
Setelah ditelusuri lama, akhirnya mereka menemukan tempat dimana Aleta disekap. Jika dilihat keseluruhan, itu adalah rumah yang sudah lama ditinggalkan penghuninya. Kumuh dan tak terawat, sampah dedaunan berserakan, pohon dan rumputnya pun tak pernah dipapas.
Siapapun mungkin tidak ada yang menyadari jika rumah itu dilindungi oleh kekuatan magis, seolah membuat siapapun yang ada didalamnya tidak bisa terlacak kecuali dengan indera penciuman milik klan serigala.
Alister, Frans dan Farrel segera menerobos masuk menembus benteng pertahanan magis itu dengan kekuatan masing masing. Disaat bersamaan, Selena yang merasa ada seseorang menembus benteng pertahanan magisnya langsung meninggalkan Aleta dan hendak keluar.
Ternyata benar ketika dilihat, para pria kekar bawahannya sedang bertarung dengan manusia serigala. Apa apaan ini? Kenapa bisa bisanya ada manusia serigala disini?!
Tiba tiba seseorang memukulnya dari belakang hingga membuat Selena terhempas ke belakang bahkan sampai membentur dinding. Selena merintih, matanya membulat sempurna saat melihat Alister muncul didepannya.
Bisa terlihat betapa bencinya sorot mata Alister ketika melihat Selena. Langkah demi langkah Alister berjalan ke depan gadis itu. Selena bisa melihat sebuah energi berbentuk ular besar berdiri dibelakang Alister, seolah bersiap akan melahap Selena saat itu.
"Ja-ng-an pak." ucap Aleta terbata.
Alister yang melihat Aleta sedang terkulai lemah dengan tangan dan kaki terikat lantas berlari menuju ke arahnya. Namun sebelum itu ia jadikan setengah tubuh Selena menjadi es. Ia benar benar muak dengan Selena hingga tidak ingin melepasnya barang sesaat. Ia pasti akan membalas semua perlakuan Selena terhadap Aleta!
Selena yang merasa kesal karena setengah tubuhnya dibekukan langsung berteriak. "Hey! Kau gila hah?!"
Alister segera membuka ikatan tali di tangan dan kaki Aleta. Alister sangat merasa bersalah ketika melihat tanda kontrak yang tampak seperti tato memenuhi seluruh tubuh Aleta termasuk wajahnya.
Tidak salah lagi, tanda itu pasti sedang memakan seluruh energi Aleta hingga ia terkulai lemas seperti ini. Semestinya ini tidak terjadi, ia benar benar merasa bersalah.
Alister tampak cemas dan khawatir, entah kenapa Aleta bisa menangkap jelas ekspresi wajah Alister saat itu. Kenapa ya dia terlihat cemas? Bukankah seharusnya dia membenci manusia hingga sampai ingin membunuhnya?
Terkadang Aleta penasaran, sebenarnya lelaki seperti apa dia ini? Segala hal tentangnya begitu misterius. Dia tiba tiba datang dan selalu bertingkah menjadi pahlawan supernya.
Padahal menurutnya, ia gadis yang biasa saja bahkan jika dibandingkan dengan Selena, gadis itu jauh lebih cantik.
Telah sejak lama Aleta tidak pernah memikirkan tentang penampilannya kecuali ketika di tempat kerja. Ia bukanlah gadis yang senang berdandan, asal tahu saja.
Bahkan aslinya dia bukanlah gadis yang pede. Ia terpaksa melakukan ini semua karena tuntutan pekerjaan. Ia masih selalu merasa jika ada orang yang masih lebih hebat dan lebih cantik dibanding dirinya.
Apakah Alister tertarik dengannya karena penampilan? Mungkin itu adalah pertanyaan konyol dan tentu jawabannya pasti tidak. Entah kenapa Aleta yakin tentang itu.
Lantas apa gerangan yang membuat Alister melupakan dendamnya dan terus menjadi malaikat pelindung baginya? Aleta benar benar penasaran dengan hal ini.
Saat itu Aleta dipangku oleh Alister dan dibawa pergi menuju rumahnya. Farrel yang melihat Aleta dibawa menghilang langsung mengepal.
Tahu tahu Alister sudah berada di kamar Aleta. Ia baringkan Aleta ke kasur lalu selimuti.
Ia pegang luka tanda bekas gigitan di leher Aleta hingga perlahan sebuah cahaya biru menyelimuti seluruh tubuh Aleta. Semua tanda yang menjalar sekujur tubuh Aleta perlahan menghilang dan bersih.
Alister hadapkan tangannya ke atas kepala Aleta namun gadis itu keduluan memegang tangannya dan setengah sadar. "Pak, kenapa..bapak...baik sama...saya." ujar Aleta lantas terpejam tidur.
Alister kembali hadapkan tangannya ke atas kepala Aleta, seketika sebuah cahaya biru seperti masuk ke dalam kepala Aleta.
Tepatnya saat ini, Alister sedang mencoba menghapus ingatan Aleta tentang kejadian tadi termasuk identitasnya yang sudah terbongkar sebagai siluman ular.
Ia hanya tidak ingin Aleta berpikir macam macam tentangnya...
Esok paginya, Aleta terbangun dari pejaman matanya. Ia berkeliat lalu menguap sebentar. Ia merasa amat segar hari ini. Dilihatnya jam di dinding. Matanya langsung terbelalak saat melihat jam sudah menunjukkan pukul 06.30
Gawat! Ia bisa kesiangan!
Aleta pun langsung beranjak dari kasur dan mengambil handuknya. Ia ngibrit masuk ke dalam kamar mandi. Menghabiskan waktu sepuluh menit didalam lalu keluar dan lari menuju kamarnya kembali untuk memakai baju.
Beberapa saat kemudian, di restoran.
Aleta berdiri didepan pintu restoran, setiap kali pelanggan membuka pintu Aleta tersenyum ceria menyambut mereka, mengucapkan selamat datang dan menawarkan "Mau makan disini atau dibawa pulang kak?"
Selalu seperti itu berulang kali, hingga seseorang membuka pintunya lagi dan Aleta menyambutnya kembali.
"Mau makan disini atau di--" Aleta terkejut saat melihat orang yang membuka pintu adalah Alister. Pemilik wajah tampan tanpa satupun kekurangan, hidung mancung dan alis mata tebal ini menatap Aleta dan tersenyum padanya.
Aleta merasa canggung ketika dilihat seperti itu, ia cepat cepat menunduk karena malu. Bukan hanya karena faktor malu ia seperti itu, namun untuk menetralisir degup jantungnya yang berdebar kencang ketika dilihat oleh Alister.
"Pagi." ujar Alister dengan suara lembut yang seolah bernyanyi dibawah telinganya. Tak ada yang Aleta lakukan selain menjawab suara yang begitu dekat itu.
"P-pagi." ujar Aleta memalingkan wajah ke arah lain, memastikan jika ia tidak melihat wajahnya yang tiba tiba bersemu merah itu.
Alister masih tetap tersenyum melihatnya, namun beberapa saat
Lelaki itu lantas pergi, meninggalkan Aleta yang beralih memegang dadanya. Memastikan jantungnya tidak copot saat itu.
Aleta merasa aneh, kenapa tiap kali dekat dengan Alister jantungnya seolah tidak bisa tenang? Melihat ketika wajah tampannya tersenyum dan sikap perhatiannya yang tulus selama ini. Benar benar membuat hari hari Aleta jadi semakin menyenangkan.
Tidak! Tunggu! Aleta kenapa kamu jadi memikirkan pak Alister sih?!
Terlebih dengan ciuman Alister yang mendarat dikeningnya belakangan ini. Ciuman yang datangnya tiba tiba dan mengagetkan, sekaligus menghanyutkan.
Entah kenapa Aleta jadi tidak memiliki kemampuan untuk berhadapan dengan Alister termasuk saat ia harus menatap matanya. Wajah Aleta pasti akan berubah memerah dan lebih cenderung mengalihkan wajah ketika melihatnya.
Aleta terus mencuri pandang Alister yang sedang bekerja didalam ruangannya, kebetulan memang pintu di ruangannya selalu dibuka, jadi Aleta bisa melihat apa yang dilakukannya didalam ruangan itu. Mirna yang melihat Aleta terus memperhatikan Alister langsung mendehem.
"Ehem ehem. Siapa ya yang kemarin dianter pulang sama anak bos?" sindir Mirna yang langsung memicu perhatian Melki.
"Si Aleta dianter sama siapa emang?" tanya Melki penasaran.