"Itu loh yang di ujung." ucap Mirna sambil menunjuk mata ke arah Alister. "Wih, keren. Gimana tuh rasanya duduk di mobil mewah? Adem ya? Terus Lo bisa nonton tipi gak didalem? Pas duduk ada yang mijitin gak?" tanya Melki, Mirna langsung menyahut. "Mulai deh kampungannya. Kenapa enggak sekalian tanyain tuh mobil bisa manjat atau enggak?" desis Mirna.
"Lu kira monyet." semprot Melki
"Ngomong monyetnya jangan liat gue dong." desis Mirna. Merasa tersinggung saat dilihat seperti itu oleh Melki.
"Ya terus gue harus liat kemana? Ke tembok? Kan gue lagi ngomong sama lu. Ya kecuali lu berubah jadi tembok dulu." ujar Melki tertawa.
"Berubah berubah, lu kira gue satria baja hitam?!" desis Mirna.
Aleta yang mendengar mereka terus bertengkar langsung memijat kepalanya. Masih pagi sudah mendengar duo tuyul berperang membuat pusing kepala saja.
Tiba tiba muncul Selena berjalan masuk ke dalam restoran. Kecantikannya yang begitu mempesona lantas membuatnya jadi perhatian semua pengunjung disana termasuk Melki yang sampai menganga melihatnya seperti itu.
Mirna langsung menutup mulutnya khawatir lalat masuk. Entah kenapa Aleta merasa ini seperti pernah terjadi, Dejavu kah? Ia merasa seperti pernah melihat kejadian ini. Apakah mungkin hanya pemikirannya saja?
Rambut panjang Selena yang seolah terkena kipas seakan menjadikannya seperti iklan sampo. Langkah demi langkah Selena berjalan melewati banyak lelaki yang tampak terpesona hingga hatinya keluar dari dadanya.
Beberapa wanita pasangan si pria pun serentak menampar pacarnya itu. Beberapa pengunjung wanita juga ada yang saling bergosip dengan temannya.
"Dia bukannya Selena itu kan? Yang suka ada di televisi?" tanya salah satu wanita.
"Gila ada Selena Raymond di restoran ini. Foto ah."
"Keren banget restoran ini bisa ada artis terkenal macam Selena."
Sepanjang Selena berjalan semua saling menjadikan gadis itu sebagai pusat perhatian. Malah ada yang diam diam memfotonya.
Selena masuk ke dalam ruang kerja Alister. Tidak ada yang Alister hadiahkan pada Selena selain tatapan benci yang teramat sangat pada gadis itu.
Angin tiba tiba langsung menutup pintu ruangannya. Ternyata Alister tidak ingin banyak orang melihat hal apa yang akan terjadi selanjutnya setelah ini.
Alister dengan sangat cepat langsung berada didepan Selena dan mencekiknya. "Mau apa kamu?!" tandas Alister
"Sensitif banget sih, takut ya calon permaisurinya diculik lagi?" tanya Selena tersenyum nista.
Alister semakin mengencangkan cekikan lehernya. Selena merasa sedikit sesak karenanya.
Tiba tiba seseorang mengetuk pintu ruang kerjanya. Alister segera melepas cekikannya dan menyuruh yang mengetuknya segera masuk.
Beberapa saat sebelumnya
Mirna menyikut lengan Aleta. "Eh ngapain tuh mereka berduaan didalam dengan keadaan pintu tertutup? Heuu gue tau, mereka pasti mau.." belum selesai bicara Melki angkat bicara.
"Mau apeh? Enggak usah mikir ngeres, otak lu tuh butuh disapu kebanyakan sampahnya." cerocos Melki.
"Apaan sih, kebiasaan nih si Melki suka nyerobot ngomong padahal enggak diajakin." desis Mirna yang merasa tidak mengajak Melki bicara.
Seorang waitress yang berniat mengantar kopi untuk Alister tampak kebingungan karena pintu ruangan Alister ditutup. Mirna pun mendekatinya dan berbisik sesuatu. Setelahnya waitress itu pun memberikan segelas kopi itu pada Mirna.
Aleta terheran melihat Mirna yang lantas memanggilnya. "Al sini!" pekiknya menyuruh Aleta mendekatinya. Aleta pun menurut meski ia pun bingung mau apa Mirna memanggilnya seperti itu.
Mirna langsung memberikan nampan berisi segelas kopi itu pada Aleta. "Nih Al, kasih pak Alister ya. Pas udah didalem Lo dengerin deh tuh apa yang mereka bicarakan.
Gue tahu Lo suka kan sama dia? Sekarang gue serahin tugas James Bond ini sama Lo. Selamat menguping." ujar Mirna nyengir dan langsung ngibrit setelah menyerahkan nampan segelas kopi itu padanya.
Aleta pun menghela nafas panjang lalu menggeleng. "Dasar enggak jelas." Ia pun segera mengetuk pintu ruang kerja Alister.
Tak lama suara Alister terdengar. "Masuk."
Aleta pun membuka pintu ruang kerjanya dan masuk ke dalam. Aleta terkejut saat melihat Alister dan Selena sedang berdiri berhadapan didepan dinding. Apa sebenarnya yang sedang mereka berdua lakukan?
"Kenapa mereka dalam posisi berdekatan seperti itu? Apa mungkin perkataan Mirna ada benarnya kalau ternyata mereka sedang dalam posisi ingin melakukan hal itu?" batin Aleta curiga jika mereka sedang ingin berciuman.
Alister mendengar suara pikiran Aleta dan berniat menjelaskan semuanya namun Selena tidak mau membiarkan Alister begitu saja. Ia langsung memeluk Alister dan bahkan mencium bibirnya.
Alister tersontak dan langsung melihat bagaimana perubahan wajah Aleta saat itu.
Ia bisa langsung merasakan perasaan Aleta saat itu. Seperti yang ia ketahui, jika dua orang yang saling terikat kontrak akan saling merasakan perasaan satu sama lain.
Perasaan sakit hati yang menjalar didalam hatinya sangat begitu terasa. Mungkinkah ini yang Aleta rasakan saat ini?
Tapi gadis itu tampak diam saja sekarang, ia berjalan menuju meja Alister dan menaruh segelas kopinya disana. "S-saya taruh disini ya pak.
M-maaf mengganggu." ujar Aleta dan langsung pergi. Alister langsung menghempas Selena dan berniat mengejarnya namun Aleta sudah keduluan pergi menutup pintu.
Alister kesal, sangat kesal hingga ia membuat semua benda disekitarnya termasuk kursi dan meja melayang dan berniat menjatuhkannya ke tubuh Selena yang dibawahnya.
Namun tiba tiba saja sebuah perisai pelindung melindungi Selena dari hantaman benda benda itu. Ternyata itu adalah perbuatan Alvino.
"Lagi lagi." gerutu Alister yang kembali gagal menyakiti Selena.
"Jika kakak membunuh kak Selena, aku tidak tahu apa yang akan ayah lakukan. Bahkan kemungkinan besarnya ayah akan semakin benci dengan perempuan manusia itu." ujar Alvino. Alister mencoba menahan emosinya yang hampir meluap.
"Ayah ingin menemui kakak, kali ini kakak harus mau ikut denganku ke dunia siluman. Atau jika kakak tidak mau, terpaksa kami akan menculik perempuan manusia itu lagi." ujar Alvino.
Alister terdiam seraya mengalihkan wajahnya ke arah lain.
Saat makan siang, Aleta bersama Mirna dan Melki duduk di ruangan sepetak tempat biasa mereka makan. Mereka saling duduk memakan nasi bungkusnya yang baru mereka beli di warteg.
"Enggak heran loh kalo mereka benar benar pacaran. Selena artis, cantik, bodynya juga bikin cowok melotot termasuk Melki." ujar Mirna langsung diinjak kakinya oleh Melki. Mirna kesal. "Ish!"
Aleta menghela nafas panjang, ia merasa sangat malas memakan nasi bungkusnya.
"Tadi aja gue liat dia tiba tiba keluar bawa Selena. Gue yakin pak Alister mau ngajakin Selena shopping, atau nemenin dia syuting, jumpa fans dan akhirnya makan siang. Semua jadwal yang bakal mereka lakuin udah ada di otak gue." ujar Mirna.
"Lu udah kayak peramal aja Mir. Al enggak usah dengerin omongan dia, dia itu tersesat dari jalan lurus." ujar Melki langsung diinjak kakinya oleh Mirna. Ia merintih kesakitan saat itu.
Mirna terus melihat Aleta yang tampak murung dan lebih cenderung menghela nafas setiap ingin menyuap makanan.