Pasti berat bagi Aleta kala tahu lelaki yang selama ini terlihat naksir dirinya malah menyukai orang lain. Guna menghibur Aleta yang sedang patah hati, Mirna pun mencoba untuk mengalihkannya dengan topik lain.
"Al, Lo mau enggak sama teman gue?" tanya Mirna. Aleta terkejut. "Eh? Siapa?" tanyanya.
Melki langsung nyerobot. "Tunggu, emang lu punya teman cowok Mir? Jangan jangan yang dimaksud teman cowok ternyata adek Lo lagi haha." tawa Melki, Mirna memasukkan kripik ke dalam mulut Melki ketika tertawa.
"Sembarangan, adek gue masih SD!" desis Mirna tidak terima
"Ya kali kan, Lo mau jodohin adek Lo yang masih SD sama Aleta." ujar Melki
"Stres Lo! Kebanyakan minum oskadon kali ya Lo." desis Mirna
"Itu teman kamu Mir? Teman apa, sekolah?" tanya Aleta.
"Teman sekolah tapi sekarang jarang ketemu lagi. Dia pasti kalo chat gue selalu minta dikenalin sama teman cewek gue. Lo coba aja Al sama dia, hitung hitung move on dari pak Alister." ujar Mirna.
Aleta terdiam. Entah kenapa ia masih bimbang, jujur ia pun masih bingung dengan perasaannya terhadap Alister. Apakah maksud dari perasaan yang tidak tenang ini adalah karena ia cemburu dengan Selena?
Mungkinkah diam diam ia telah jatuh cinta pada Alister?
Astaga Aleta, apa sebenarnya yang kamu pikirkan? Kenapa kamu harus menyukai orang yang sudah pasti milik orang lain? Jika membandingkan antara penampilannya dengan Selena, ia merasa kalah jauh.
Gadis itu suka memakai baju serba ngepas dan glamour. Dia juga kelihatan sangat suka berdandan dan cantik. Sedangkan Aleta, ia bahkan tidak terlalu cantik dan tidak suka menonjolkan kecantikannya. Ia gadis yang biasa saja.
Rasanya pantas saja jika Alister bersanding dengan Selena. Tapi entah kenapa jauh didalam lubuk hatinya, Aleta tidak terima.
Jika benar apa yang dikatakan Mirna kalau sebenarnya ia sedang patah hati. Mungkinkah ia harus menerima tawaran dari Mirna agar berlindung dari kata patah hati dan beralih move on?
Aleta sangat bimbang.
Di dunia siluman. Kerajaan klan siluman ular putih.
Alister hanya terdiam ketika dijadikan tontonan oleh ayah, selir, paman dan saudara saudaranya. Rata rata dari mereka bahkan nampak jijik melihat Alister. Beberapa dari mereka pun saling berbisik. Dia adalah bibi Alister, Alicia.
"Terlalu lama berhubungan dengan manusia, bau tubuhnya jadi seperti kaum menjijikan itu." desis Alicia berbisik pada adiknya Alexa.
"Aku rasa dia berniat melupakan tentang ibunya." bisik ibu Selena pada anaknya.
Alister mencoba mengabaikan mereka namun sayangnya tatapan tajam ayahnya tidak bisa ia abaikan. Bahkan saat ini ayahnya sedang berjalan mendekatinya lalu...
Menampar pipinya.
"Ayah tidak Sudi kamu berhubungan lagi dengan gadis itu!" tandas Aaron. Alister tersentak, ia bahkan tidak heran dengan hal ini. Ia merasa pantas menerima tamparan ayahnya. Tapi ada hal yang sangat ia ingin katakan dan hal itu sangat berseberangan dengan pemikiran ayahnya.
Bahwa ia... sangat menginginkan Aleta, sesumbar untuk memilikinya bahkan ia ingin menua bersamanya sampai akhir hidupnya.
Aaron membaca pikiran Alister dan langsung marah.
"APA YANG KAMU PIKIRKAN HAH?! KAMU PIKIR HANYA KARENA KAMU MENCINTAINYA AYAH AKAN MERESTUI HUBUNGAN KALIAN?!"
Alister memalingkan wajahnya ke arah lain, percuma ia berpikir seperti itu. Ia pun tahu sikap keras ayahnya.
"LUPAKAN DIA DAN NIKAHI SELENA!" pekiknya.
"Al ingin tanya, apa ayah pernah melihat wanita lain setelah ibu ratu?" tanya Alister. Aaron terkejut. Entah kenapa ia tahu arah pembicaraan ini mau kemana.
"Sama halnya saya, ketika saya mencintai seseorang tidak ada alasan lagi bagi saya untuk berpaling ke wanita lain. Itulah yang dinamakan cinta sejati, ayah pun tahu karena ibu pernah bercerita tentang hal ini.
Ketika kita menemukan cinta sejati, bahkan seluruh wanita di dunia ini ia anggap tak terhitung."
Aaron tersentak mendengar perkataan Alister yang sangat membuat hatinya terenyuh, apalagi ia pun tahu istrinya pernah mengatakan itu. Entah kenapa ia jadi merindukan istrinya yang telah tiada.
"Tapi ini berbeda, dia manusia Alister!"
"Meski dia seorang manusia sekalipun." ujar Alister yakin. Aaron terkejut.
"Namanya Aleta, salah satu hal yang saya ketahui adalah dia pecinta binatang termasuk ular. Awalnya memang saya sangat amat membenci kaum mereka.
Tapi ketika saya bertemu Aleta semua pemikiran saya berubah. Saya pernah diselamatkan olehnya, bahkan dia pernah dipukul karena mencoba membela saya.
Didepan orang banyak yang cenderung membenci saya dan menganggap saya menakutkan dia membela saya. Mulai dari sana saya sadar, jika tidak semua manusia seperti pembunuh ibu ratu.
Mulai dari sana saya sadar, tidak semua manusia di dunia ini seperti anggapan kita selama ini. Benar jika ada orang yang mengatakan satu titik bisa mengalahkan selembar kertas putih.
Apakah kita akan terus memiliki anggapan seperti itu juga?" tanya Alister. Semua terdiam ketika mendengar ungkapan Alister termasuk Aaron.
Sore harinya Aleta yang baru akan pulang tiba tiba di tarik tangannya oleh seseorang. Ternyata itu adalah Mirna. Lalu disusul Melki yang tiba tiba muncul dibelakangnya.
"Al, pokoknya Lo harus pergi ke taman anggrek jam 7!" pinta Mirna.
"Eh? Mau ngapain?" tanya Aleta heran.
"Si Aldi bilang iya katanya! Dia mau ngajakin Lo nonton!" ujar Mirna antusias.
"Eh? Aldi? Siapa?" tanya Aleta.
"Itu loh teman sekolah yang gue omongin tadi siang. Pokoknya lu nanti harus dandan yang cantik, rapih dan enggak boleh malu maluin!" pinta Mirna.
"Tunggu, kok tiba tiba sih? Aku juga belum siap untuk jalan apalagi pacaran sama orang lain."
"Ah enggak! Pokoknya Lo harus mau! Lo pernah kan jalan sama Melki? Ya begitu rasanya, anggap aja dia kage bunshinnya Melki." ujar Mirna.
Melki menggerutu. "Apaan sih kage bunshin, emang gue Naruto?" protes Melki.
"Tapi aku enggak siap." ujar Aleta ragu. Mirna memegang kedua pundak Aleta, gadis itu menatapnya serius.
"Dengerin gue, Lo itu lagi patah hati dan harus diobatin. Caranya adalah dengan cara begini. Gue yakin dia orang yang baik kok, jangan kunci hati Lo Al, buka...kasih peluang buat orang lain masuk." ujar Mirna, Aleta terdiam menatapnya yang tampak bersungguh sungguh mengatakannya.
Sekitar pukul tujuh malam, Aleta sudah rapih mengenakan dress berwarna biru muda dan bawahan celana jins. Ia terlihat sangat cantik saat itu hingga beberapa lelaki yang melihatnya tampak terpesona.
Ini pertama kali dalam hidupnya Aleta keluar rumah dengan berdandan seperti itu selain ke tempat kerja.
Ia benar benar merasa malu saat dilihat oleh banyak pejalan kaki. Apakah dandanannya terlalu mencolok? Itu pikirnya.
Tepatnya saat ini Aleta sedang berada ditaman anggrek. Sejujurnya ia bukan tipe orang yang suka menunggu, kalau saja ia tahu lelaki itu akan datang terlambat, ia lebih memilih datang telat.
Aleta yang merasa pegal karena terus berdiri pun memutuskan untuk duduk di kursi yang tersebar di sepenjuru taman.
Tidak ingin melamun saja menunggu, ia pun mengirim chat pada Mirna. "Mana orangnya?" itu isi chat Aleta. Mirna yang kebetulan sedang online segera membalasnya.
"Sabar, dia baru pulang kerja. Dia pasti lagi bingung milihin baju buat ketemu sama Lo." balas Mirna.
"Lamaaaa, banyak nyamuk tau :(("
"Coba kalo Lo ajak Melki, tuh nyamuk bakal dijadiin lalap sama dia :')"
"Udah kayak daun kemangi aja heheh"