"Eh kita ngomongin dia nanti kupingnya panas lagi. Udah lu tunggu aja dulu dia. Nanti juga dateng."
"Iyeh."
"Oh iya coba fotoin muka lu. Gue mau liat lu dandan apa enggak."
"Ah repot banget sih kamu."
"Di screening dulu sama gue sebelum ketemu calon pacar :D"
Aleta pun membuka aplikasi kamera lalu hadapkan wajah ke kamera depan lalu foto. Selesai selfie ia pun membagikan fotonya pada Mirna.
"Udah tuh."
"Nah bagus, gitu dong. Kalo perlu itu bibir tebelin pakai lipstick biar cetar hihi."
"Enak aja, emang aku cabe."
"Haha bukan tapi rawit."
Aleta tertawa geli saat melihat chat dari Mirna. Tak terasa setengah jam sudah berlalu namun lelaki itu masih belum muncul. Bahkan Mirna saja sudah tidak lagi berbalas chat dengannya.
Aleta merasa bosan. Sebenarnya apa yang membuat lelaki ini begitu lama datang?
Dua jam kemudian lelaki itu masih belum datang. Aleta benar benar merasa sebal.
Apalagi banyak nyamuk disana, ditambah angin menyeliwir dingin tanda mau hujan. Sepertinya ia tidak bisa menunggu lagi saat itu. Ia pun memutuskan untuk pergi namun tiba tiba saja ia merasakan sakit seluruh tubuhnya dan panas.
Apa jangan jangan itu karena...!
Aleta mengintip ke dalam bajunya dan melihat tanda hitam itu kembali menjalar. Aleta benar benar tidak percaya, tanda hitam itu kembali muncul di tubuhnya!
Aleta merasakan pening yang sangat di kepalanya. Semestinya ia membawa motor tadi, hanya karena taman itu dekat dengan rumahnya ia malah memilih jalan kaki.
Ia coba berjalan namun gontai, ia tampak sempoyongan dan terus berjalan meski ia coba meraba raba apapun disekitarnya seperti pohon, dinding rumah hingga warung.
Bahkan seorang penjaga warung sempat menanyakan keadaannya yang sangat terlihat tidak baik. Aleta terus melanjutkan perjalanannya hingga akhirnya ia menabrak tiga pria yang ternyata preman daerah itu.
Mereka yang tergoda dengan kecantikan dan kemulusan tubuh Aleta mencoba menggodanya. "Hai cantik, mau kemana?" tanya salah satu preman.
Setelah melihat secara keseluruhan, akhirnya para preman itu pun ahu jika Aleta sedang kesulitan menahan rasa sakit. Mereka mencoba mengajak Aleta saat itu, menuntunnya berjalan, membawanya ke suatu tempat. Aleta merasa tidak kuat, ia setengah sadar saat itu.
Ia terus dibawa oleh mereka dalam keadaan seperti itu.
Aku mau dibawa kemana? Kenapa aku jadi dibawa oleh mereka? Sadar Aleta, tapi aku enggak kuat. Kepalaku pusing sekali.
Di dunia siluman.
Alister yang sedang berada di dalam sel tahanan tiba tiba merasakan ada hal yang tidak beres menimpa Aleta. Ia pun memejamkan mata dan disana terlihat bayangan Aleta sedang dibawa oleh tiga pria tak dikenal. Alister membuka matanya dan langsung berjalan mendekati jeruji besi.
Ia pegang jeruji itu namun sebuah aliran magis seperti listrik seolah menyetrum tangannya. Alister berpikir sejenak mencari cara agar ia bisa keluar dari sel tahanan itu. Ia pun duduk bersila kemudian memejamkan kedua matanya.
Roh Alister tiba tiba keluar dari tubuhnya dan ia melewati sel tahanan itu lalu merasuki tubuh prajurit kerajaan yang sedang berjaga.
Ia hajar prajurit yang memegang kunci sel lalu rebut kunci itu hingga akhirnya ia bisa membuka pintu sel itu dan kembali ke tubuhnya semula.
Alister keluar dengan cepat dari dalam sel lalu menghilang.
Tahu tahu ia sudah ada didepan portal yang menghubungkan ke dunia manusia. Ia berjalan masuk ke dalam portal itu dan tersedot ke dalamnya.
Aleta terus dituntun oleh tiga preman itu, entah tujuan mereka kemana. Namun tampaknya mereka sedang merencanakan sesuatu yang buruk pada Aleta dan mengambil ini sebagai kesempatan yang tidak bisa mereka lewatkan. Mereka berniat memperkosa Aleta.
Namun tiba tiba saja, ditengah jalan. Tiga preman ini merasakan udara yang begitu dingin saat itu. Lebih dari udara ingin ketika turun hujan, bahkan ini bisa disamakan udara freezer di kulkas. Seolah olah salju akan turun malam itu.
"Kok berasa dingin banget ya bos? Brr, kayak ada didalam kulkas." celetuk salah satu preman. "Ah bodo amat, mau cuaca bagaimana kek. Yang penting kita harus sikat nih cewek." ujar preman yang mengaku dirinya bos diantara mereka.
Suara derap langkah kaki seseorang tiba tiba terdengar dari belakang mereka. Salah satu preman yang merasa diikuti pun menoleh ke belakang.
Ia terkejut saat melihat ada ular putih raksasa dibelakang sana. Mengira salah lihat, ia pun mengucek matanya atau menepuk pipinya.
Tiba tiba ular raksasa itu menghilang dan berubah menjadi seorang pria sangat tampan yang berjalan sangat lamban dibelakang sana. Dia adalah Alister.
Dua preman yang melihat Alister langsung laporan ke bosnya.
"Kayaknya tuh cowok ngikutin kita deh bos." ujar salah satu preman. Preman lainnya menyahut.
"Betul tuh bos. Perasaan gue juga enggak enak." celetuk preman itu.
Sang bos preman pun menoleh ke belakang dan mendecih. "Kalian nih, lawan satu orang aja takut! Nih liat gue, bakal gue bejek bejek dia jadi perkedel!" pekik bos preman itu meremehkan. Ia serahkan Aleta pada mereka berdua dan langsung berjalan mendekati Alister.
"Kenapa Lo liatin kita terus? Nantangin kita hah?" desis bos preman. Alister masih terdiam, langkah kakinya menghenti. Ia menatap bos preman itu dan tak berbuat apa apa.
"Heh! Enggak ada nyali Lo!" pekik bos preman itu.
Tiba tiba saja Alister menghentak kaki kirinya ke tanah lalu kemudian muncul serangan es dari bawah tanah dan langsung menghempas satu anak buahnya hingga terguling, Alister menghentak kaki kanannya ke tanah lalu seketika muncul serangan es dari bawah tanah dan menghempas anak buahnya yang kedua.
Bos preman ini pun syok berat hingga dibuat terpatung dan gelagapan. Bahkan lucunya ia sampai kencing di celana saat itu.
Langkah demi langkah Alister berjalan mendekati bos preman itu. Namun sang bos preman yang sudah parno duluan langsung memaksa kakinya untuk kabur, tak lupa menuntun anak buahnya itu dan pergi.
Aleta sempoyongan dan hampir ingin terjatuh, tahu tahu Alister sudah ada disampingnya dan menjadikan dadanya yang bidang tempat bersandar kepala Aleta.
Aleta merasa sangat pusing, ia menatap wajah Alister sekilas yang begitu tampan namun perlahan semakin buram dan akhirnya ia jatuh pingsan dipangkuan Alister.
Lelaki itu mencium wangi rambut Aleta yang begitu khas dan memeluknya erat. Ia sangat berhasrat ketika memeluknya. Merasakan kehangatan tubuh yang mungil itu. Menjadi satu satunya yang ia butuhkan.
Memilikinya seutuhnya adalah sumber kepuasan nafsunya. Mulai dari detik ini, tidak ada yang bisa memisahkan mereka berdua.
Alister merangkul Aleta dan ia gunakan jurus teleportasi. Tahu tahu ia sudah berada di kamar Aleta. Ia baringkan gadis itu ke atas kasurnya dan selimuti. Ia sentuh tanda kontrak di leher Aleta dan seketika cahaya biru keluar dari telapak tangannya.
Tanda hitam yang menjalar hingga ke wajahnya kini menghilang kembali. Lelaki itu tersenyum saat memandang wajah tidur Aleta. Alister duduk disampingnya, mengusap rambut hitam Aleta dan membelainya lembut.
Alister membaringkan tubuhnya disamping Aleta, dengan posisi miring menghadap gadis itu. Ia terus memandang wajah Aleta yang berada disampingnya sembari memikirkan perkataan ayah dan pamannya tadi.
Ayahnya mengatakan ia masih tidak akan membiarkan dirinya mendekati Aleta bahkan ia sampai memenjarakannya tadi. Berbeda dengan pamannya Anderson, yang setuju dengan pendapat Alister terkait pembicaraannya tadi yang mengatakan jika semua manusia tidak bisa disamaratakan.
Disatu sisi ia merasa diabaikan oleh ayahnya namun disatu sisi ia merasa dibela oleh pamannya. Padahal seingatnya, Alister tidak pernah berdebat panjang lebar dengan ayahnya, sejak dulu lelaki itu selalu sepemikiran dengan ayahnya, ini adalah pertama kalinya Alister berseberangan dengan pemikiran ayahnya.