Esok paginya.
Aleta tampak menunggu seseorang didepan pintu restoran. Nyatanya ia sedang menunggu Alister saat itu. Ia masih ingat meskipun sekilas apa yang terjadi tadi malam.
Tahu-tahu paginya ia sudah berada didalam kamarnya. Terbangun dengan ingatan yang setengah jelas seperti itu.
Maka dari itu ia ingin menanyakan pada Alister apa yang terjadi tadi malam termasuk apa yang lelaki itu lakukan disana. Kenapa Alister bisa berada disana tadi malam?
Setelah menunggu hingga beberapa lama, akhirnya ia melihat Alister muncul keluar dari mobil Pajeronya. Aleta menunggu hingga lelaki itu masuk ke dalam restoran.
Baru saja Alister akan memegang handle pintu, Aleta sudah membuka pintunya lebih dahulu. "Pak. Saya ingin bicara sama bapak." ujar Aleta.
Alister sudah bisa menebak apa yang akan Aleta tanyakan saat itu. Ia tersenyum dan membiarkan Aleta memandunya ke dalam ruang makan. Memastikan tidak ada orang yang mendengar mereka saat itu, meskipun Mirna dan Melki terus mencuri pandang mereka dari luar.
Aleta mulai berbicara. "Bapak kemarin nolongin saya ya dari tiga preman itu?" tanya Aleta langsung masuk ke intinya. Alister tersenyum dan mengangguk. "Iya." jawabnya.
"Kenapa bapak bisa ada disana tadi malam? Bapak juga membawa saya pulang bahkan ke kamar! Iya kan?" tanya Aleta. Alister masih tersenyum malah selanjutnya ia tertawa kecil.
"Enggak kok, saya cuma antar kamu sampai depan rumah aja. Selebihnya mungkin kamu yang jalan sendiri ke kamar." ujar Alister berbohong.
Aleta yang semula curiga perlahan percaya dengan yang dikatakan Alister. "O,oh gitu ya? Aku kira bapak masuk ke rumah dan nganter aku ke kamar." ujar Aleta seraya menggaruk kepala.
"Eh tapi kenapa bapak bisa ada disana tadi malam?" tanya Aleta yang kembali curiga.
"Kebetulan saya tidak sengaja melihat kamu dibawa oleh preman, saya merasa ada yang tidak beres lalu mendekati kalian." terang Alister.
"Kamu semalam pusing ya? Kamu sakit? Badan kamu panas enggak?" tanya Alister khawatir, tangannya memegang kening Aleta, memeriksa suhu tubuhnya.
Aleta terkejut dan wajahnya langsung bersemu merah melihat Alister sebegitu perhatiannya padanya. Aleta memalingkan wajahnya, menjauhkan dirinya beberapa sentimeter dari Alister termasuk tangannya. "A-aku enggak apa-apa." ujar Aleta gugup.
"A-aku balik kerja dulu." ujar Aleta yang langsung berpaling pergi, namun lelaki itu tiba-tiba menarik tangannya hingga wajah Aleta berada tepat dihadapan wajah Alister. Lelaki itu tersenyum.
"Ada satu hal yang perlu kamu ketahui." ujar Alister.
Aleta menunggu kelanjutan perkataannya.
"Saya..akan selalu menjadi malaikat pelindung kamu dimana pun kamu berada, sesulit apapun keadaan kamu. Saya akan selalu hadir dan memperjuangkan kebahagiaan kamu." ujar Alister.
Aleta tersentak, ia terpatung mendengar perkataan baik yang keluar dari mulut Alister barusan. Perkataan yang sanggup membuatnya tersentuh dan kagum.
Siapa gerangan orang yang tidak akan jatuh cinta dengan sosok ini. Manusia yang menganggapnya seorang malaikat pelindung bagi si gadis malang...
Mungkin benar yang dikatakan oleh Mirna... bahwa aku telah dengan sangat lancang mencintai pak Alister.
Di ruang makan, Aleta terus melihat nasi bungkusnya sembari terus memikirkan sesuatu. Ia tak sendiri saat itu, Melki dan Mirna juga duduk didepannya ikut makan.
Mirna yang sejak tadi melihat Aleta tampak melamun langsung menegurnya. "Makan yang banyak Al, badan Lo udah kurus jangan terlalu banyak mikirin yang enggak-enggak." ujar Mirna. Aleta menyunggingkan senyum sekilas.
Melki langsung angkat bicara. "Heh Lo enggak nyadar, semua ini tuh gara-gara Lo! Aleta itu lagi mikirin si Aldi taher atau apalah itu namanya. Dia tuh lagi galau karena mikirin itu! Peka dong lu jadi cewek." tandas Melki.
Mirna langsung merasa bersalah. "Sori Al.. gue enggak tahu Lo lagi mikirin hal itu. Emang si Aldi ngeselin awas aja kalo ketemu gue cincang dia jadi makanan piranha!" desis Mirna.
Aleta tersenyum. "Bukan kok, aku enggak lagi mikirin hal itu." ujar Aleta.
"Terus Lo lagi mikirin apa? Cerita dong sama emak."
"Lo emak terus gue bapaknya gitu?" cerocos Melki.
"Bukan! Tapi uyutnya!" ralat Mirna
"Sompret lu." ketus Melki.
"Kayaknya penyakitku makin parah deh." ujar Aleta. Melki dan Mirna tersentak.
"A-apa maksudnya? Lo punya penyakit Al? Kenapa enggak bilang ke kita sejak awal?" tanya Mirna khawatir.
"Iya Al, maafin kita ya. Kita enggak bermaksud bikin perasaan Lo terguncang. Harusnya gue udah resleting aja mulut Mirna." ujar Melki dan langsung menarik resleting di mulut Mirna. Mirna langsung menutup rapat mulutnya.
"Bukan penyakit kayak gitu masalahnya." ujar Aleta.
"Terus apa?" tanya Mirna dan Melki serentak.
Aleta memajukan wajahnya, Mirna dan Melki ikut memajukan wajahnya mendekat. Aleta membisik.
"Penyakit... jatuh cinta." ujar Aleta.
Mirna dan Melki langsung tertawa membahak. "Gila hahaha!" bahkan Mirna sampai memukul meja didepannya.
"Ini serius? Lo kena virus mematikan yang enggak bisa disembuhkan sejak jaman dahulu kala itu?" tanya Melki masih tertawa.
Aleta mengangguk.
"Sama siapa?" tanya Mirna "Jangan jangan pak Alister lagi hahaha." tawa Mirna.
"Emang keliatan banget ya aku suka sama dia?" tanya Aleta penasaran.
"Keliatan! Bahkan gue perhatiin lu suka liatin dia mulu." ujar Mirna.
Aleta merasa sangat malu hingga coba menyembunyikan wajahnya saat itu juga. "Akh maluu."
"Tapi Lo yakin enggak apa apa? Pak Alister udah punya Selena?" tanya Melki.
"Iya Al, mending Lo nyari cowok lain deh dan secepatnya lupain pak Alister." ujar Mirna.
Aleta dilanda kebingungan. Ia yang tadinya merasa sangat senang kembali murung. "Terus gimana caranya aku bisa lupain dia?" tanya Aleta cemberut.
"Lo butuh piknik deh Al." ujar Mirna.
"Kok piknik sih?" tanya Aleta heran tiba tiba menyuruhnya piknik.
"Besok kan hari Minggu, nah Lo refreshing deh tuh. Cari kesibukan kayak jalan jalan. Eh tapi gue saranin Lo kesananya sama cowok ya biar cepat move onnya." ujar Mirna.
Melki angkat bicara. "Lo gimana sih, si Aleta itu jones. Lo tahu sendiri kemarin rencana kencannya gagal. Ini lagi disuruh kesana bawa cowok. Mau bawa si Farhan yang kemarin?" tanya Melki. Aleta tertawa.
"Iye iye, maap." ujar Mirna.
"Nanti malem aku memang rencana mau muncak sih sama teman." ujar Aleta.
"Ih serius? Huwaaa gue pengen ikuuut!" rengek Mirna
"Eh kamu suka muncak juga Mir?" tanya Aleta
"Gue dari dulu emang pengen banget muncak, cuma ya karena sibuk kerja jadi enggak pernah kesampaian." ujar Mirna.
"Kamu mau ikut enggak Mir?" tanya Aleta
"Mau! Mau banget!" Mirna antusias.
"Wahh Alhamdulillah kalo gitu. Aku senang kalo rame." ujar Aleta.
"Melki juga ikut pokoknya!" ujar Mirna.
"Hah? Ogah, ngapain gue ikut ikutan elu? Dibayar berapa gua?!" tandas Melki
"Ish ayolah Mel, temenin gue juga." ujar Mirna merengek seperti bayi.
"Enggak, males. Cukup Lo berdua aja yang ngaku pecinta alam. Kalo gue pecinta kasur." ujar Melki.
"Dasar tukang rebahan! Mentang mentang Minggu, gue sumpahin kutilan punggung lu." rutuk Mirna.
Sebenarnya ada satu orang yang Aleta tinggalkan disini, ia adalah Alister. Aleta hanya tidak ingin kehadiran Alister menggagalkan rencananya untuk move on.
Mulai dari detik ini, Aleta akan bersikeras melupakan Alister, semoga saja rencana ini dapat berjalan dengan lancar.
Disaat ketika ia mulai mengetahui tentang perasaannya terhadap Alister, detik itu juga ia mencoba untuk menghapus perasaan tersebut.
Mungkin itu adalah... pilihan terbaik.
Sekitar pukul 19.00 Aleta sudah mempacking semua barang yang diperlukannya untuk pergi ke Bogor malam ini juga. Mirna pun sudah siap dengan semua perlengkapan yang dibawanya hingga tas ranselnya yang biasanya kempes kini gendut.
Selagi Aleta sibuk dengan menyiapkan keperluannya di kamar. Mirna sibuk memakan camilan yang baru baru ini dibelinya di supermarket, sembari ngemil ia menghabiskan menit ke menit itu menonton televisi diatas sofa. Seolah rumah sendiri.
"Al, Lo punya aer dingin kan?" pekik Mirna.
"Ambil aja di kulkas." jawab Aleta.
Mirna pun langsung berjalan ke dapur, membuka kulkas. Ia ambil gelas di dalam rak lalu kucurkan air ke gelas.
Diteguknya air itu hingga beberapa kali tegukan ke dalam tenggorokannya. Ia merasa sangat puas dan lega bahkan sampai ia bersendawa.
Tiba tiba ia mendengar suara ketukan pintu didepan. Ia langsung memekik. "Al, ada tamu!" pekiknya. Aleta langsung keluar kamar.
"Siapa?" tanyanya, Mirna mengendikkan pundak.
Aleta segera membuka pintunya dan ia langsung tersenyum melihat lelaki bertopi hitam itu.
"Oh kamu Rel." ujar Aleta ketika mendapati Farrel yang tinggi melebihinya lima senti itu berdiri didepannya.
"Katanya mau ngajakin teman juga ya Al?" tanya Farrel.
"Iya tuh orangnya." unjuk Aleta ke arah Mirna yang juga sedang melihatnya. Farrel tersenyum menyapa Mirna, gadis itu balik tersenyum meski terasa kikuk.
Sejak kapan Aleta memiliki teman laki laki setampan itu?! Dasar Aleta curang!