“Mas?”
Reza tersadar dari pikiran kotornya. Dia mendadak salah tingkah, gelagatnya seperti orang yang kepergok maling.
“A-aku mandi dulu,” ujar Reza sambil berlalu dari hadapan Aluna.
“Handuknya sudah aku siapin di dalam kamar mandi,” kata Aluna.
“Oh, iya, terima kasih,” ucap Reza, dia langsung masuk ke dalam kamar mandi dengan langkah terburu-buru.
Setelah pintu itu dia tutup rapat, Reza menghela napas panjang, dia mengelus dadanya yang terasa berdebar kencang. Ini tidak baik. Dia takut lepas kendali dan menggauli Aluna tanpa persetujuan.
Reza menatap ke bawah, sesuatu miliknya sudah berdiri tegak meminta pertanggungjawaban.
“Tidak. Tidak. Jangan bangun. Kenapa kamu mudah sekali bangun, Jamal.” Reza berbicara pada adiknya, ya adiknya, sesuatu miliknya.
Dia mendesah kesal. Dengan cepat Reza menghidupkan shower, membasuh tubuhnya dengan air dingin, berharap gejolak di dalam tubuhnya segera lenyap.
***
Pagi ini Dewi datang ke butik bersama Tristan.
Sebulan lagi mereka akan melangsungkan pernikahan. Karena itu Dewi dan Tristan mulai mempersiapkan semua yang diperlukan, terutama gaun pernikahan.
Dewi sangat menantikan hari ini, dengan semangat dia memilih gaun idamannya.
Namun, di balik semangat Dewi, ada Tristan yang mulai merasa bosan, sudah hampir satu jam dia menunggu, dan calon istrinya itu belum juga selesai memilih gaun yang diinginkan.
Tristan memijat pelipisnya, dia membuka ponselnya, membaca berita hari ini untuk mengalihkan rasa bosan.
REZA HANDOYO, PEWARIS TUNGGAL HANDOYO GROUP DIKABARKAN SUDAH MENIKAH DIAM-DIAM.
Tajuk dalam berita itu membuat Tristan mengernyit.
Siapa yang tak mengenal Reza Handoyo di dunia bisnis. Tentu saja Tristan mengenalnya. Apalagi pria itu adalah direktur utama perusahaan pusat.
Tapi, siapa wanita beruntung yang dinikahi pria itu? Tristan menerka-nerka. Selama ini Reza tidak pernah digosipkan dekat dengan wanita mana pun, bahkan di usianya yang hampir menginjak kepala tiga Reza belum pernah terlihat menggandeng seorang wanita, gosip tentang Reza yang menyukai sesama jenis pun sempat beredar. Tapi sekarang, gosip itu patah dengan kabar pernikahannya.
Tristan ikut senang mendengar hal itu. Terlebih selama ini Tristan sangat kagum padanya.
“Sayang.” Suara Dewi memecah lamunan Tristan, dia menatap calon istrinya yang sudah mencoba salah satu gaun. “Bagus tidak?” tanya Dewi.
Tristan mengamati sejenak. Dia menatap gaun itu dan mencocokkannya dengan muka Dewi.
“Lumayan,” ucap Tristan.
“Lumayan? Maksudnya enggak cocok ya?” tukas Dewi.
“Coba yang lain,” kata Tristan.
Dewi mendengus. Dia masuk kembali ke ruang ganti untuk mencoba gaun lain yang disarankan oleh pegawai butik.
Saat Dewi masuk, Tristan tiba-tiba mendapatkan telepon dari kantor. Pria itu tentu langsung mengangkatnya, walau hari ini sebenarnya dia mengajukan cuti.
“Halo?”
“....”
“Baik, saya akan segera ke sana.”
Setelah panggilan terputus, Tristan bangkit dari duduknya, dia berjalan menuju tirai yang ditutup, lalu menyibak tirai itu tanpa peduli kalau Dewi sedang berganti pakaian di dalam sana, toh Tristan sudah pernah melihat setiap inci tubuh Dewi, karena mereka pernah melakukan ‘itu’ saat dulu status mereka masih berselingkuh di belakang Aluna.
Dewi bahkan sama sekali tidak terkejut ketika Tristan menyingkap tirai, justru para pegawai butik itu yang terkejut dengan tindakan Tristan.
“Pak, seharusnya Anda tidak sembarangan membukanya, calon istri Anda sedang berganti pakaian,” kata si pegawai butik.
Tristan tidak menggubrisnya, dia langsung menatap Dewi yang terlihat tenang.
“Ada apa, Sayang?” tanya Dewi.
“Sekretaris kantor telepon aku. Malam nanti direktur utama mau mengadakan pesta dan mengundang para petinggi, jadi sekarang aku harus datang ke ballroom untuk gladi resik di sana. Aku juga perlu menyiapkan pakaian dan semuanya,” terang Tristan.
“Apa kamu tidak berniat mengajakku? Aku tunanganmu, calon istrimu, satu bulan lagi kita akan menikah, bukankah seharusnya kamu sudah mulai mengenalkanku dengan rekan-rekan kerjamu?” ujar Dewi.
Tristan diam sejenak. Dia tampak berpikir.
Apa yang dikatakan Dewi ada benarnya. Tidak lama lagi mereka akan menikah dan setelah menikah nanti pasti Dewi akan selalu mendampinginya di setiap acara perusahaan. Jadi, tidak ada salahnya dia mengajak Dewi sekarang, dengan begitu nanti setelah menikah Dewi sudah bisa berbaur dengan para istri rekan-rekan kerjanya. Apalagi jika Dewi bisa akrab dengan istri petinggi perusahaan, itu akan menguntungkan bagi Tristan.
“Iya, kamu ikut,” ucap Tristan.
Senyum Dewi seketika terukir semringah.
“Mbak, saya mau satu gaun untuk acara pesta nanti malam. Pilihkan yang paling bagus dan mewah ya.” Dewi dengan semangat langsung meminta pegawai butik itu agar segera menyiapkan gaun terbaik untuknya.
***
“Pesta pernikahan?” Aluna mengernyit. “Bukankah waktu itu sudah?” ujarnya.
“Itu cuma pesta ala kadarnya. Aku mau kasih kamu pesta pernikahan yang sempurna, tamu-tamu penting dan petinggi dari perusahaan besar akan datang, lalu kamu dan aku akan menjadi bintang utamanya, aku rajanya dan kamu ratunya,” cakap Reza sambil tersenyum mengusap pipi Aluna.
“Apa itu tidak berlebihan?” tanya Aluna.
“Tidak. Sudah seharusnya seperti itu. Dunia harus tahu kalau aku sudah menikah. Pesta ini juga sebagai caraku untuk memperkenalkanmu ke semua orang kalau kamu istriku,” jelas Reza.
Aluna tertegun. Kenapa Reza mau menikah dengannya? Dia pria baik dan sempurna. Harusnya dia bisa mendapatkan wanita yang lebih sempurna dari dirinya. Aluna merasa aneh.
Apa alasan Reza menikahinya? Padahal mereka belum pernah bertemu sebelumnya. Bahkan sudah jelas sejak awal Reza menikah dengannya... semua itu seperti membeli seorang gadis untuk dijadikan b***k. Tapi sekarang, Aluna justru merasakan kasih sayang yang begitu sempurna.
Apa mungkin ini hanya awalan saja? Mungkin saja nanti saat Reza sudah bosan... pria itu akan membuangnya.
“Aluna?” Reza memecah lamunan panjang Aluna. Pria itu menatap Aluna heran. “Memikirkan sesuatu?” tanyanya.
Aluna menggelengkan kepala diiringi senyuman tipis.
“Apa ada yang perlu aku siapkan untuk pesta nanti malam?” tanya Aluna kemudian.
“Kamu hanya perlu tetap ceria dan percaya diri. Urusan lainnya biar pelayan yang mengurusnya. Nanti sekitar jam tiga sore mereka akan mulai mendadanimu dan beberapa gaun dan aksesoris akan dibawa ke sini, kamu bebas memilih gaun mana pun yang kamu sukai,” cakap Reza.
Aluna mengangguk paham.
“Aku ada perlu sebentar. Aku pergi dulu ya,” pamit Reza.
“Iya. Hati-hati.”
Reza mengusap puncak kepala Aluna, gemas. Lalu dia pergi keluar dari dalam kamar.
“Dia terlalu sempurna untukku, Tuhan,” gumam Aluna. Dia masih merasa tidak percaya bahwa kehidupan pernikahannya seindah ini. Semakin lama Aluna semakin terbuai, dia takut merasa candu dengan sikap baik Reza dan membuatnya jatuh hati pada pria itu.
Aluna menghela napas panjang, dia lantas bangkit dari duduknya.
Namun, saat tubuhnya baru saja berdiri, pandangannya terasa kabur. Aluna dengan cepat duduk kembali bertumpu pada kasur.
“Kenapa kepalaku tiba-tiba pusing?” gumam Aluna.