BAB 10 | Kenapa Kamu Ada Di Sini?

1774 Kata
“Dewi.” Pak Agus mendekati Dewi yang berdiri di teras rumah, wanita itu sedang menunggu Tristan yang katanya akan menjemputnya pukul tujuh. “Aduh, apalagi sih? Ayah enggak lihat aku lagi sibuk. Ayah mau minta tolong apa lagi?” tukas Dewi. “Kemarin kamu janji mau telepon Aluna. Sekarang apa boleh ayah pinjam handphone kamu untuk....” “Ayah. Aku mau pergi. Sebentar lagi Tristan datang jemput aku. Ayah jangan rusak suasana hatiku bisa enggak,” ocehnya. “Ayah kangen sama Aluna, Dewi. Aluna mau telepon ayah juga enggak bisa. Dia mau datang ke sini tapi dilarang sama ibu kamu. Ayah cuma mau minta tolong hubungi Aluna sebentar saja, ayah pengen denger suara Aluna,” cakap Pak Agus. Dewi mendengus kesal. Dia memilih mengabaikan perkataan Pak Agus, seolah-olah tidak mendengarnya. Tak lama kemudian mobil Tristan tiba, Dewi tersenyum semringah melihat kedatangan sang pujaan hati. Tristan keluar dari mobil itu, lalu melangkah mendekati Dewi dan Pak Agus yang duduk di kursi roda. “Selamat malam, Om,” sapa Tristan, seperti biasa dia selalu ramah pada Pak Agus. Pak Agus sebenarnya sedikit tidak suka dengan sosok Tristan, bagaimanapun juga Tristan telah melukai hati Aluna, tapi demi terlihat adil di hadapan Dewi, Pak Agus selalu tersenyum setiap kali Tristan menyapanya, karena sekarang Tristan adalah calon suami Dewi. “Saya izin ajak Dewi pergi ya, Om,” ujar Tristan. “Enggak perlu izin sama dia, Sayang. Sudah ayo buruan berangkat. Nanti kita terlambat, tahu sendiri kan jalanan kota Jakarta bagaimana,” ujar Dewi. Tristan tak berkomentar, dia memang sedang buru-buru. Akhirnya dengan senyum canggung Tristan berpamitan dengan Pak Agus, lalu melangkah menuju mobilnya, diikuti oleh Dewi yang bergelayut manja di lengan tunangannya itu. Pak Agus menghela napas panjang, melihat dua orang itu bermesraan membuat hatinya panas. Beliau ingat betul bagaimana dulu Aluna selalu membanggakan Tristan setiap kali bercerita dengannya, bahkan ketika awal hubungan mereka, Tristan terlihat sangat menyayangi Aluna. Namun, kasih sayang Tristan hanya sebatas itu, dan akhirnya laki-laki itu justru berselingkuh dengan saudara tiri Aluna. “Setidaknya sekarang Aluna menikah dengan laki-laki yang tulus dan setia padanya,” gumam Pak Agus. Diam-diam dia mengurai senyumnya. *** “Tuan Reza, Nyonya Aluna, selamat datang.” Sambutan itu datang dari penanggung jawab acara. Dia seorang wanita paruh baya, di belakangnya beberapa petinggi tampak siap menyunggingkan senyum ramah mereka untuk menyapa sang bintang utama dalam acara malam ini. Kalau kalian bertanya tentang Erik, dia tentu saja ada di belakang tuannya. Dia bersama Eva—asisten pribadi Aluna yang beberapa hari ini di skors oleh Reza karena saat awal dia bekerja sudah lalai dalam menjalankan tugasnya. “Selamat atas pernikahannya, Pak Reza.” Kalimat itu menjadi ucapan sambutan ramah tamah dan basa basi dari para petinggi perusahaan. Mereka tak mau absen untuk menjabat tangan sang direktur utama. Saat menginjakkan kaki ke dalam ballroom itu, semua pasang mata langsung tertuju pada Reza dan Aluna. Deg! Aluna mendadak gelisah. Menjadi pusat perhatian membuat Aluna merasa gugup. Dia menarik napasnya berulang kali, berusaha mengusir perasaan cemas yang mendadak menyerang dirinya. Ini seperti demam panggung. Tangannya bahkan terasa dingin dan sedikit gemetar. Aluna takut melakukan kesalahan. “Tenanglah. Aku ada di sini. Jangan khawatirkan apa pun,” bisik Reza, dengan lembut dia menggenggam erat tangan Aluna, memberi dorongan semangat pada sang istri. Perlahan Aluna mulai tenang, dia mencoba membiasakan dirinya untuk membalas sapaan dari para tamu undangan. Dia juga perlahan mulai berbaur saat diajak mengobrol oleh para istri petinggi-petinggi perusahaan. Di waktu dan tempat yang sama, sebuah Lexus hitam terparkir di parkiran khusus. Tak lama kemudian si pengendara mobil itu keluar. Tristan, dia pemilik mobil itu, dia merapikan jasnya sejenak, sebelum kemudian mendekati sisi kiri mobilnya, membukakan pintu untuk Dewi yang keluar dengan anggun. “Pak Tristan.” Seseorang menyapa Tristan, membuat si pemilik nama menoleh. “Pak David.” Tristan tersenyum ramah dan menjabat tangan Pak David ketika pria paruh baya itu mendekat padanya. “Syukurlah bukan hanya saya yang datang sedikit terlambat,” ujar Pak David. Dia adalah seorang pria berusia empat puluh lima tahun, duda yang ditinggal mati istrinya. Sudah lima tahun beliau menduda, dan sampai detik ini beliau masih setia dengan statusnya. “Oh, apa kita terlambat?” Dewi bersuara. Seketika fokus Pak David berpindah pada sosok Dewi yang belum pernah ditemuinya. Faktanya, Tristan tidak pernah mengungkapkan hubungannya dengan Dewi semenjak dia putus dengan Aluna. “Kita sedikit terlambat, Nyonya,” ujar Pak David, ramah. “Ngomong-ngomong, apakah Anda pasangan Pak Tristan atau....” Hanya wanita sewaan. Pak David ingin mengatakan itu, tapi dia menahannya demi menjaga sopan santun. “Saya tunangan Tristan,” kata Dewi. “Oh, wow. Itu cukup mengejutkan,” ucap Pak David, dia lantas menatap ke arah Tristan. “Saya pikir Anda sulit melupakan Aluna setelah berakhirnya hubungan kalian. Tapi ternyata hanya butuh satu tahun untuk mendapatkan penggantinya. Bahkan Anda dan wanita ini sudah bertunangan.” Perkataan Pak David sebenarnya cukup sarkas, tapi Tristan berusaha berpikir positif, dia mengabaikan hatinya yang sedikit tertohok. Tristan tersenyum tipis. “Bukankah kita sudah terlambat, ayo masuk ke dalam,” ajaknya, sengaja mengakhiri obrolan basa basi itu agar dia tidak mendapatkan ujaran yang menampar mentalnya lagi. Tristan melangkah masuk ke dalam lift menuju ballroom yang berada di lantai paling atas. Dewi pun segera menyusul masuk, sedangkan Pak David, beliau bilang akan tetap berada di parkiran karena masih menunggu rekan kerjanya yang datang terlambat. Setibanya di ballroom. Dewi langsung memegang lengan Tristan, dia bergelayut manja di lengan pria itu, seolah memberitahu semua orang bahwa mereka adalah pasangan. “Di sini banyak istri petinggi, kalau kamu bisa akrab dengan mereka, itu bagus,” ujar Tristan. “Kamu tenang saja, Sayang. Aku mudah akrab dengan siapa pun,” cakap Dewi. “Lebih bagus lagi kalau kamu bisa kenal dan akrab dengan istri Pak Reza. Dia yang mengadakan acara ini. Ini adalah pesta pernikahannya. Dia melakukan pernikahan secara sederhana dan baru mengadakan pesta malam ini.” Tristan kembali memberikan petuahnya. “Siap, Sayang. Akan aku lakukan apa pun untukmu selama itu bisa membantu kariermu,” cakap Dewi, senyumnya terukir. “Tapi, di mana Pak Reza dan istrinya. Bukankah kita perlu menyapa mereka terlebih dulu? Mereka pemilik acara ini. Kita harus menemui mereka dan memberi selamat.” “Sebentar, biar aku cari keberadaan Pak Reza. Pasti dia sedang sibuk menyapa para tamu penting,” ujar Tristan sambil melihat sekitar. Dia menatap ke bagian depan, dekat dengan podium, dan benar saja, di sana dia melihat sosok Erik, di mana ada Erik di situ pasti ada Reza. “Ayo, ikut aku.” Tristan mengajak Dewi untuk melangkah ke depan dekat podium yang jaraknya lumayan jauh, karena ballroom ini cukup luas. Di sisi lain, Aluna masih sibuk berbincang dengan para istri petinggi perusahaan suaminya, sesekali dia ikut tertawa ketika salah satu dari mereka membuat lelucon. Saat sedang berbincang, Aluna tiba-tiba merasa mual ketika mencium aroma minuman yang baru saja lewat dibawa oleh pelayan. Karena perutnya terasa tidak nyaman, Aluna memutuskan untuk berpamitan ke toilet sebentar. Dia mendekati Reza, berbisik pada suaminya itu untuk meminta izin. Reza pun mengangguk dan menyuruh Eva untuk menemani Aluna. Setelah mendapatkan izin dari sang suami, Aluna melangkah pergi diikuti Eva yang mengekor di belakangnya. “Nyonya, biar saja bantu bawakan Anda,” ujar Eva, melihat Aluna yang terlihat kesulitan membawa tas jinjingnya sembari mengangkat gaun yang menyapu lantai. “Apa tidak masalah? Aku takut merepotkanmu,” kata Aluna. Dia berhenti melangkah, lalu memberikan tasnya kepada Eva. “Sudah menjadi tugas saya, Nyonya,” cakap Eva sembari meraih tas milik Aluna. “Aluna?” Suara itu membuat Aluna langsung menoleh. Dan tubuhnya seketika menegang ketika dia melihat Dewi berdiri di hadapannya bersama Tristan, mereka tampak sangat serasi. Aluna tidak cemburu. Sama sekali tidak. Hanya saja luka yang Tristan torehkan atas perselingkuhan itu membuat hati Aluna perih setiap kali melihat Tristan tampak bahagia bersama Dewi. Kenapa dua orang jahat itu tidak mendapatkan karma? Kenapa orang yang berbuat jahat justru terlihat selalu bahagia? Aluna kesal akan hal itu. “Aluna, bukankah kamu sudah keluar dari perusahaan? Kenapa kamu ada di sini?” Tristan bertanya, dia menatap Aluna lekat, wanita yang telah dikhianatinya itu terlihat cantik dengan gaun berwarna krem. Hatinya seketika merasakan sesuatu yang aneh. “Aku ada di mana pun itu bukan urusan Anda, Pak Tristan,” tukas Aluna. Dia segera berlalu dari hadapan mereka. Namun, tangan Dewi tiba-tiba mencekal lengan Aluna, membuat langkah Aluna terhenti. “w************n sepertimu tidak pantas ada di tempat ini.” Dewi berbicara dengan nada sinis, kemudian dia mengambil segelas sampanye dari nampan yang dibawa oleh pelayan yang lewat. Dan dengan sengaja Dewi menumpahkan sampanye itu ke arah Aluna, mengenai gaun Aluna hingga tampak basah. “UPS! Aku tidak sengaja, Aluna,” ujarnya. Aluna mengepalkan kedua tangannya. Dia ingin sekali marah, tapi dia ingat bahwa ini adalah tempat di mana semua mata siap menilai. Dan Aluna tidak mau nama baik Reza tercoreng karena dirinya. Aluna pun terpaksa berusaha sabar. “Anda harus memberinya pelajaran, Nyonya. Atau Nyonya ingin saya yang memberinya pelajaran?” Eva berbisik, dia ingin maju membela nyonyanya, tapi Eva juga tidak bisa bertindak gegabah, kecuali Aluna memberinya perintah. “Tenanglah,” ucap Aluna. Eva akhirnya mundur, dia berdiri dengan tegang, takut nyonyanya kenapa-kenapa. Karena jika Aluna tergores sedikit saja, maka dia akan terkena hukuman lagi dari Reza, belum lagi Erik—kakaknya pasti akan mengomel seperti kemarin. “Kenapa diam saja, Aluna? Pergi sana. Kamu tidak seharusnya ada di sini. w************n yang menikahi laki-laki karena uang tidak pantas berdiri dengan para konglomerat,” cibir Dewi. “Aku sudah tidak tahan lagi,” ujar Eva. Masa bodoh dengan izin dari Aluna, Eva langsung menjambak rambut Dewi, tindakannya itu langsung membuat Dewi memekik dan berusaha melawan. “Sialan! Siapa kamu?! Lepas! Kamu temannya si murahan itu ya. Bodoh kamu mau berteman dengannya.” Dewi memaki sambil membalas jambakan Eva. Keduanya pun berakhir saling jambak menjambak, dan itu membuat mereka menjadi pusat perhatian. “Eva, tolong hentikan. Jangan membuat keributan. Aku tidak memintamu untuk bertindak seperti ini,” cakap Aluna. Dia menarik Eva agar terhindar dari tangan Dewi. Untungnya Tristan segera membantu Aluna, dia menarik Dewi agar berhenti melakukan pertengkaran itu. Tak lama, akhirnya keduanya terpisah, Aluna memegang lengan Eva, sedangkan Tristan memegang lengan Dewi. Dua perempuan itu sekarang tampak kacau, bahkan dandanan Dewi sudah hancur total, rambut yang dia tata di salon beberapa jam lalu sudah tidak beraturan lagi. “Sialan kamu, Aluna. Kamu suruh temanmu itu untuk melukaiku!” amuk Dewi, frustrasi dengan penampilannya yang sudah kacau. “Kamu yang membuat keributan, Dewi. Aku sama sekali tidak—” PLAK! Dewi menampar pipi Aluna dengan keras. Dia sangat kesal dengan perempuan itu. Tamparan itu menggema di penjuru ballroom, seketika semua pasang mata tertuju ke arah mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN