BAB 11 | Emosi Karena Cemburu

1183 Kata
Aluna terhuyung ke belakang. Tamparan keras dari Dewi membuat pandangannya kabur sejenak. “Nyonya, Anda baik-baik saja?” Eva menatap dengan cemas, dia khawatir Aluna terluka. Apalagi saat dia melihat bekas tamparan yang tampak memerah di wajah nyonyanya. “Aluna.” Reza. Suaranya menggema, pria itu berlari mendekati istrinya dengan raut cemas. “Kamu terluka?” Dia bertanya sambil memeriksa kondisi sang istri. Terlihat jelas di matanya, pipi Aluna tampak memerah, bekas tamparan Dewi. “Pipi kamu....” Reza menggeram. Dia langsung menoleh ke belakang. “Siapa yang berani melukainya?!” Amarah Reza membuat semua orang terdiam, tak ada yang berani bersuara. “Aku.” Dewi dengan berani maju ke depan, berdiri di hadapan Reza dengan ekspresi angkuhnya. “Dewi, sudah cukup.” Tristan menahan calon istrinya itu untuk tidak bertindak lebih jauh. Apalagi dia tahu siapa Reza sebenarnya. “Tenang saja, Sayang. Aku tidak takut dengan laki-laki ini. Dia itu suaminya Aluna. Laki-laki yang mungkin saja memiliki kelainan karena dengan bodohnya mau menikahi Aluna yang tidak ada apa-apanya,” cibir Dewi. Semua orang hampir menganga tak percaya dengan perkataan tidak sopan yang Dewi lontarkan. Berani sekali wanita ini mencari masalah dengan seorang Reza Handoyo, sikapnya itu membuat semua orang merasa kasihan padanya. Di lain sisi, Tristan tampak terkejut dengan perkataan Dewi barusan, yang mengungkapkan bahwa Reza adalah suami dari Aluna. Tristan tidak menyangka kalau Aluna akan menikah dengan seorang pria kaya raya yang begitu sempurna, jauh dibandingkan dirinya. Seketika perasaan menyesal karena telah membuang Aluna terselip di hati Tristan. “Apa Anda sudah merasa puas menghina saya dan istri saya, Nona?” ucap Reza, dengan tenang dia menghadapi cibiran Dewi. “Jika sudah puas, Anda bisa pergi dari sini,” tandasnya, berbicara tanpa ekspresi. “Puas?” Dewi tertawa. “Oh, tentu saja belum. Kamu pikir kamu orang hebat berani mengusirku dari sini. Aku tidak takut denganmu. Kamu tahu, tunanganku jauh lebih segalanya dari kamu.” Dewi melantur seperti orang yang haus validasi, sikapnya itu membuat Tristan merasa malu. Apalagi saat ini mereka menjadi tontonan banyak tamu undangan, yang kebanyakan dari mereka adalah para petinggi perusahaan dan orang penting di negara ini. “Kamu tahu, Dewi. Kamu akan menyesal dengan apa yang kamu katakan,” sahut Aluna. “Diam kamu wanita murahan.” “Jaga ucapanmu, Dewi.” Tristan tiba-tiba membentak. Dia sudah berada di ambang batas kesabarannya. Tristan benar-benar sudah sangat malu. Bahkan rasanya dia ingin menutup wajahnya dengan topeng agar Reza dan yang lainnya tidak mengenali dirinya. “Kenapa, Sayang? Kamu mau bela mantan pacarmu itu, huh?” Dewi mendesis tidak suka. “Aluna hanya sedikit beruntung saja menikah dengan laki-laki ini, tapi dia tetaplah w************n yang menjijikkan,” ujar Dewi. PLAK! Oh, astaga. Suara tamparan lagi-lagi terdengar. Sepertinya malam ini adalah malam di mana semua orang memiliki hobi melampiaskan amarah mereka dengan cara menampar. Ini kedua kalinya suara tamparan keras menggema di penjuru ballroom. Namun, kali ini tamparan itu dilakukan oleh Tristan pada Dewi. Ya, Tristan menampar tunangannya di depan mata semua orang. Pria itu sepertinya sudah sangat kesal. “Tristan!” Dewi berteriak kesal. “Kamu tampar aku demi bela Aluna?” tanya Dewi, matanya menatap Tristan dengan nanar. “Sudah cukup aku bilang,” ujar Tristan. “Ayo pulang,” ajaknya. Dia langsung menarik paksa Dewi agar segera pergi dari tempat itu. Beberapa saat setelah kepergian mereka, suasana berangsur stabil. Erik tampak langsung membuat pernyataan klasifikasi dan permintaan maaf di depan podium. Atas perintah Reza, dia juga mengatakan akan memberikan kompensasi berupa hadiah untuk semua para tamu undangan karena telah membuat mereka tidak nyaman di acara ini. Sedangkan Reza dan Aluna, mereka berdua pergi ke kamar hotel yang sudah disediakan oleh penanggung jawab acara. Kamar hotel itu memang sudah dipesan untuk menjadi tempat istirahat Reza dan Aluna setelah pesta berakhir. “Kamu baik-baik saja?” tanya Reza setelah mereka memasuki kamar hotel. Dia langsung mendekat ke arah Aluna, menatap cemas istrinya itu. “Biar aku kompres pipi kamu, tunggu sebentar, aku siapkan handuk dan air hangat dulu,” ujarnya. “Mas.” Aluna mencekal lengan Reza. Saat Reza menatap kembali padanya, Aluna tersenyum tipis. “Aku baik-baik saja,” ucapnya, meyakinkan bahwa dia memang baik-baik saja. Tapi Reza masih tidak bisa melepaskan rasa khawatirnya, terlebih saat dia menatap pipi Aluna yang masih memerah. Melihat Reza yang masih sangat khawatir, Aluna tiba-tiba maju satu langkah lebih dekat ke arah suaminya itu. Lalu detik berikutnya dia memeluk tubuh Reza dengan hangat. Tindakan yang Aluna lakukan membuat tubuh Reza langsung menegang. Dia terkejut dengan pelukan istrinya yang di luar dugaan. “Percaya sama aku. Aku baik-baik saja,” bisik Aluna. “Pipiku mungkin memang masih terlihat merah, tapi itu sama sekali tidak sakit,” jelasnya. Reza tidak menjawab. Dia sibuk mengatur ritme jantungnya yang berdebar kencang. Mungkin saat ini Aluna sudah baik-baik saja, tapi sekarang tidak dengan Reza. Dia tidak baik-baik saja setelah mendapatkan pelukan hangat dari istri yang dia cintai. “Jantungmu....” Aluna mengernyit heran saat mendengarkan detak jantung Reza yang terasa berdebar lebih kencang dari detak jantung normal. “Kamu sakit?” tanya Aluna, dia mendongak, menatap Reza yang juga tengah menatapnya. Wajah pria itu tampak tegang, seperti menahan sesuatu yang sangat darurat. “Mas?” Aluna menyentuh wajah Reza untuk memeriksa kondisi pria itu, siapa tahu Reza mungkin saja demam, badannya barangkali panas. Saat Aluna sedang mencoba memeriksa kondisinya, Reza tiba-tiba memegang tangan istrinya itu, membuat gerakan Aluna terhenti. Dia terdiam membalas tatapan Reza yang terlihat sendu. “Kamu kenapa, Mas?” Aluna bertanya dengan hati-hati. “Pria tadi... dia mantan pacarmu?” Reza tiba-tiba menanyakan hal itu. Aluna cukup kaget mendengarnya. “Kami sudah putus satu tahun lalu. Dia berselingkuh dengan Dewi, dan aku sudah tidak memiliki perasaan apa pun padanya,” terang Aluna, segera menjelaskan pada sang suami agar tidak ada kesalahpahaman. “Jadi, selama ini kamu melupakan masa lalumu dan tetap melanjutkan hidupmu dengan menjalin hubungan dengan pria lain ya,” gumam Reza. “Maksudnya?” Aluna mengernyit tak paham. ‘Kamu tahu, Aluna. Selama ini aku setia sama kamu. Cuma kamu satu-satunya wanita di hatiku setelah belasan tahun kita berpisah. Tapi, kamu ternyata benar-benar melupakanku dan tetap melanjutkan hidup seolah aku adalah masa lalu yang harus dilupakan. Bahkan sampai detik ini kamu masih tidak mengenaliku.’ Reza ingin sekali mengutarakan semua unek-uneknya. Tapi kata-kata itu hanya terucap di dalam benaknya saja. “Mas?” Reza melepaskan pelukannya, dia mundur satu langkah, menatap Aluna sejenak, kemudian berbalik. Aluna yang tidak mengerti dengan tingkah aneh Reza hanya bisa diam melihat Reza yang tampak seperti sedang kesal padanya. Aluna pikir Reza akan meninggalkannya di kamar hotel itu. Tapi.... Saat Reza hampir sampai di pintu kamar hotel tersebut, tiba-tiba saja dia berbalik dan melangkah lebar mendekati Aluna. ‘Tidak. Aku tidak bisa marah padanya.’ Batin Reza bersuara. “Mas, ada ap—” CUP! Bibir Reza mencium paksa bibir ranum Aluna tanpa permisi. Itu membuat mata Aluna membulat, tentu saja dia syok dengan tindakan Reza. Ini terlalu mendadak. Awalnya Reza hanya menempelkan bibirnya saja, seperti sebuah kecupan biasa, tapi selanjutnya, Reza memperdalam ciuman itu menjadi sebuah ciuman yang begitu intens. ‘Hanya aku yang boleh memilikinya!’
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN