Pria itu mengernyit. “Kamu tidak mengenali suamimu sendiri?”
“Su-suami?” Otak Aluna bekerja cepat, kepingan memori hari ini satu demi satu tersusun rapi. “Tuan Reza?” lirihnya.
“Ya, aku Reza, suamimu.”
“Oh, baguslah sekarang kamu sudah mau menemuiku. Aku pikir selamanya aku tidak akan pernah bertemu dengan laki-laki yang katanya suamiku. Tapi itu tidak masalah, aku memakluminya, ya, aku tahu kamu orang sibuk, dan mungkin banyak istrimu yang lain yang butuh perhatianmu juga.”
Reza berdehem. “Istriku cuma kamu.”
Aluna terdiam. Ia tidak salah dengar kan?
“Oh, maksudnya istri yang belum diceraikan, begitu kan?”
“Sebelumnya aku pria lajang, dan baru menikah denganmu.”
“Kenapa?”
“Apa?”
“Kenapa aku yang kamu pilih?”
“Karena kamu butuh uang, dan aku butuh istri.” Reza kembali menjawab dengan singkat dan
tanpa ekspresi.
Aluna menggigit bibir bawahnya. Ia merasa harga dirinya terlalu murah karena dinikahi dengan alasan seperti itu. Tapi kenyataannya ia memang butuh uang untuk operasi ayahnya. Semua uang mahar yang dia dapat dari pria itu tidak ada satu lembar pun yang dia gunakan untuk dirinya pribadi, bahkan setelah akad selesai, ibu tirinya langsung menyeret koper berisi mahar uang itu dan menyimpannya entah di mana.
“Aku butuh satu anak laki-laki dari kamu,” kata Reza tiba-tiba.
“Apa? A-anak?”
Reza mengangguk.
“Maksudmu aku ... aku harus hamil anak kamu?”
Reza kembali mengangguk.
“Berarti kita harus melakukan ....”
“Aku sudah siapkan pakaian untukmu, pilih saja salah satu dari lima gaun itu,” ujar Reza. “Aku mandi dulu.” Dia berjalan meninggalkan Aluna yang masih tampak syok.
“Aku harus gimana?” Aluna bergerak gelisah, ia turun dari atas kasur dan berjalan mondar-mandir seperti orang bingung. “Apa kabur aja ya?” Pandangannya seketika tertuju pada pintu kamar, dia mungkin bisa melarikan diri, tapi apakah kabur pilihan yang tepat?
“Aluna.” Suara Reza terdengar, pria itu muncul di balik pintu, hanya terlihat kepalanya saja.
“Ya?” Aluna merespons dengan ekspresi kaget. Dia baru saja berencana kabur tapi pria itu seolah memergoki niatnya. Seketika nyali Aluna menciut. Lagi pula di rumah ini ada satpamnya, kalau pun Aluna nekat kabur, dia pasti akan ditangkap oleh para satpam yang menjaga keamanan.
“Aku lupa bawa handuk. Bisa tolong ambilkan aku handuk,” pinta Reza.
“Handuk? Di mana?”
“Masuk saja ke ruangan itu, bagian kanan ruangan itu semuanya barang-barang milikku, kamu cari saja rak yang berisi tumpukan handuk,” jelas Reza.
Aluna mengikuti arahan yang diberikan, dia masuk ke area walk in closet, lalu menyusuri sisi kanan ruangan, di sana memang berisi barang-barang pribadi Reza. Aluna hanya perlu mencari rak berisi tumpukan handuk.
Tidak sampai satu menit, Aluna menemukan handuk itu, ia mengambil salah satu handuk dan segera memberikannya pada Reza.
Setelah handuk itu diterima oleh Reza, Aluna melangkah mundur, memalingkan wajahnya karena merasa sedikit canggung dengan situasi saat ini.
“Terima kasih,” ucap Reza, kemudian ia menutup pintu kamar mandi.
Aluna menghela napas pelan, dia lantas melangkah kembali ke walk in closet, lalu memilih salah satu gaun vulgar itu untuk dipakai.
Dia sengaja memilih warna hitam karena pikirnya itu tidak akan terlihat mencolok, dan di antara gaun lingerie lainnya hanya warna itu yang terlihat paling menutupi area privasinya.
“Cantik.” Komentar itu membuat Aluna tersentak kaget, dia menoleh dan mendapati Reza berada di belakangnya, pria itu masih mengenakan handuk, rambutnya tampak basah, dan itu membuat Reza terlihat mempesona.
Aluna sempat terbius sejenak dengan pesona Reza, tapi dengan cepat dia memalingkan mukanya, menutupi rona merah yang diam-diam tertoreh di wajah.
“Apa Erik memberitahumu tentang warna gaun yang aku rekomendasikan untuk kamu pilih?” tanya Reza sambil berjalan mendekati rak berisi pakaiannya yang di susun rapi.
“Tidak.”
“Oh, jadi kamu pilih sendiri. Aku pikir Erik memberitahumu,” ujar Reza. “Dan kebetulan gaun yang kamu pilih sesuai dengan apa yang aku rekomendasikan.” Reza berbalik menghadap Aluna sambil mengenakan pakaian dalam dan celana boxernya.
“Kamu sudah makan?” tanya Reza saat Aluna diam tak berkomentar apa pun.
Ketika Reza menanyakan hal itu, perut Aluna seolah langsung bersuara, ia berbunyi hingga Reza bisa mendengarnya.
“Oh, perutmu sudah memberikan jawaban,” kata Reza sambil menahan senyum. “Ayo makan dulu,” ajaknya.
Reza berjalan lebih dulu, Aluna dengan malu-malu mengekori Reza di belakang.
Dalam hati, Aluna mengutuk perutnya yang sudah membuatnya malu di hadapan pria itu. Tapi perutnya memang tidak salah, sejak sore tadi Aluna belum makan apa pun, dia hanya dikenyangkan oleh tidur panjang hingga membuatnya lupa waktu.
***
Makan malam itu berlalu dengan hening, selama menyantap makanan tidak ada percakapan di antara Reza dan Aluna, yang terdengar hanya denting sendok dan piring yang terkadang saling bergesekan.
“Tuan Reza.” Erik mendadak muncul dengan langkah lebar. Pria itu mendekati Reza yang untungnya sudah selesai menyantap makan malamnya. “Maaf mengganggu waktu Anda, Tuan. Tapi....” Erik mengucapkan kalimat selanjutnya dengan berbisik di telinga Reza, sehingga Aluna ataupun pelayan yang ada di sekitar mereka tidak dapat mendengarnya.
Setelah Erik selesai berbisik, pandangan Reza kemudian tertuju pada Aluna yang sejak tadi diam mengamati.
“Malam ini sepertinya kita harus menunda dulu rencana kita. Aku minta maaf karena aku harus pergi, ada urusan pekerjaan yang tidak bisa aku abaikan,” tutur Reza. Kalimatnya sopan, membuat Aluna sulit untuk berkata-kata. Walau padahal dalam hatinya dia bersorak lega. Itulah yang dia inginkan.
Setelah berpamitan, Reza langsung bergegas menuju kamar, berganti pakaian dengan jas formal, lalu pergi bersama Erik menggunakan mobil yang sudah disediakan.
Dari balkon kamar, Aluna menatap kepergian Reza. Pria itu sempat memandang sejenak ke arahnya dan tersenyum, lalu masuk ke dalam mobil yang tak lama kemudian melaju pergi.
Saat gerbang rumah kembali di tutup rapat, Aluna masuk ke dalam kamar, tak lupa dia mengunci jendela dan menutup tirai.
Malam ini dia berhasil lolos dari prosesi ‘malam pertama’ bersama pria itu, setidaknya itu membuatnya lega, walaupun prosesi itu pasti tetap akan terjadi pada malam-malam selanjutnya.
Aluna menguap, anehnya dia merasa mengantuk walau padahal sebelumnya ia sudah tidur cukup lama.
Saat melihat jarum jam, waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Ternyata sudah cukup larut.
Aluna akhirnya memutuskan untuk tidur.
***
Silau sinar matahari mengusik kelopak mata Aluna untuk terbuka. Tubuhnya menggeliat untuk merenggangkan ototnya agar tidak kaku. Tapi rasanya ada yang aneh, tubuhnya terasa berat, seolah ada yang menindihnya.
Saat kelopak mata Aluna terbuka, dia tersentak kaget.
“Apa yang terjadi?” pekik Aluna, bergerak gelisah, membuat Reza terbangun.
“Ada apa?”
“Kapan kamu pulang?”
“Sekitar pukul tiga dini hari,” jawab Reza, ia duduk di atas ranjang, menatap Aluna yang terlihat panik.
Reza menahan senyumnya saat melihat ekspresi Aluna.
“Tenanglah, aku tidak memperkosamu saat kamu tidur.”
Aluna terhenyak dengan pernyataan vulgar dari pria itu, tapi kalimat itu membuatnya sedikit tenang.
“Atau ... kamu berharap aku melakukannya?” ujar Reza, sengaja menggoda Aluna.