“Tidak.” Aluna langsung memberikan penolakan cepat.
Reza mesem mendengarnya, dia menyingkap selimut yang masih menutupi kakinya, lalu bangkit dari atas kasur.
“Hari ini jadwalku cukup padat. Aku minta maaf karena belum bisa menghabiskan banyak waktu bersamamu semenjak kita menikah. Tapi aku janji, setelah proyek kerja samaku dengan pengusaha Dubai selesai, aku akan mengajakmu bulan madu, kamu yang akan memilih tempat mana yang akan kita kunjungi,” cakap Reza.
Aluna hanya diam, tak menanggapi.
“Aku pergi mandi dulu.” Reza menatap wanita itu sejenak, lalu ia melangkah menuju kamar mandi.
“Tunggu.” Saat Reza hendak masuk ke dalam kamar mandi, Aluna tiba-tiba bersuara.
Reza pun menoleh. “Ada yang ingin kamu sampaikan?” tanyanya.
“Jangan lupa bawa handuk,” kata Aluna.
Reza terkekeh, dia pikir wanita itu akan berbicara sesuatu tentang bulan madu mereka atau memprotes tentang jadwalnya yang terlalu padat, tapi ternyata di luar dugaan.
“Ya, sepertinya kamu enggan mengambilkan handuk untukku. Terima kasih sudah mengingatkan,” ujar Reza sambil menahan senyum. Dia lantas berjalan menuju walk in closet untuk mengambil handuknya. Setelah itu dia masuk ke kamar mandi.
Aluna menghela napas pelan, kemudian bangkit dari kasur, ia lantas merapikan tempat tidur karena sudah menjadi kebiasaannya. Padahal di rumah itu semuanya akan dikerjakan oleh pelayan.
Setelah selesai merapikan tempat tidur, tiba-tiba terbesit di benak Aluna untuk menyiapkan pakaian Reza.
Tanpa pikir panjang, Aluna masuk ke walk in closet, dia menatap sejenak setelan jas mana yang cocok untuk Reza pakai. Setelah melihat-lihat, Aluna memutuskan untuk mengambil setelan jas berwarna abu-abu, tak lupa dia mengambilkan dasi dengan warna abu bercorak hitam.
Selesai memilihkan pakaian untuk Reza, Aluna meletakkannya ke atas tempat tidur. Lalu dia memutuskan untuk keluar dari kamar.
Dia merasa suntuk karena sejak kemarin terlalu banyak waktu yang dia habiskan di kamar itu.
Di luar kamar, Aluna melangkah menyusuri lorong hingga menemukan anak tangga, dia menuruni anak tangga itu dan melangkah menuju ke area belakang rumah.
Kemarin Erik sempat mengajaknya untuk berkeliling, dan area yang membuat Aluna tertarik adalah halaman belakang.
“Nyonya Aluna.” Seorang wanita paruh baya terkejut melihat kehadiran Aluna. “Selamat pagi,” sapanya kemudian, senyumannya merekah dengan sopan.
“Selamat pagi,” balas Aluna dengan senyum ramah.
“Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?” tanya wanita paruh baya itu.
“Tidak ada, aku cuma mau lihat-lihat aja,” kata Aluna.
“Apa Anda suka berkebun?”
Aluna mengangguk. “Ya. Aku punya beberapa tanaman, juga sayuran di rumah orang tuaku.”
“Wah, kalau begitu saya akan menunjukkan sesuatu pada Anda. Mari ikut saya. Anda pasti akan menyukainya.”
Wanita paruh baya itu mengajak Aluna ke suatu tempat.
Ketika mereka tiba di tempat itu, Aluna dibuat terperangah dengan hamparan bunga yang bermacam-macam, tidak hanya itu saja, wanita paruh baya itu juga menunjuk beberapa area yang dibangun seperti sebuah rumah kaca.
“Itu kebun anggur, di sebelah sana kebun strawberry, di sana ada kebun ubi, dan di sana....” Wanita paruh baya itu terus menjelaskan beberapa area dengan penuh semangat.
“Kalau Nyonya Aluna ingin mengundang teman-teman Nyonya atau keluarga Nyonya untuk minum teh bersama, Nyonya bisa menggunakan area itu untuk menikmati waktu bersama mereka,” jelasnya sambil menunjuk sebuah area seperti gazebo modern di tengah hamparan tanaman bunga yang terlihat sangat estetik dan mewah.
Aluna tersenyum tipis mendengar semua penjelasan wanita paruh baya itu.
“Siapa nama bibi?” tanya Aluna kemudian.
“Saya Asti. Panggil saja Bi Asti. Dulu saya pengasuh Tuan muda Reza, tapi sekarang saya jadi kepala pelayan di sini.”
“Oh begitu.” Aluna manggut-manggut, dia tidak peduli soal Reza atau hal apa pun yang menyangkut pria itu. Fokusnya sekarang adalah tanaman-tanaman yang tumbuh subur di sini, semuanya seperti yang Aluna impikan saat kecil dulu. “Ngomong-ngomong, apa bibi yang tanam semua tanaman di halaman ini?”
Bi Asti tampak sedikit terhenyak, senyumnya sempat pudar sejenak tapi kemudian senyum yang lebih lebar langsung menggantikan.
“Saya pikir Nyonya akan bertanya tentang Tuan muda Reza setelah saya mengatakan kalau saya dulu pengasuhnya,” ujar Bi Asti, wanita paruh baya itu memang lebih suka mengutarakan apa yang ada di dalam pikirannya.
Aluna diam tak menanggapi, dia tidak tahu harus menjawab apa.
“Oh ya, tentang siapa yang menanam semua tanaman dan tumbuhan di sini, itu bukan saya. Saya hanya mengarahkan para pelayan, selanjutnya pelayan yang bertugas yang akan mengerjakannya,” jelas Bi Asti setelah melihat Aluna tak memberikan tanggapan apa pun.
“Aluna.” Mendadak suara Reza terdengar.
Bi Asti memberi senyum hormat pada sosok Reza yang baru saja muncul.
“Selamat pagi, Tuan muda.”
“Selamat pagi, Bi.” Reza tersenyum sekilas, lalu pandangannya kembali fokus pada Aluna. “Kamu belum mandi.”
“Ya, aku mandi dulu,” ujar Aluna, kemudian berjalan masuk ke dalam rumah.
Reza mengikuti Aluna dari belakang. Sampai akhirnya mereka tiba di kamar.
“Terima kasih sudah menyiapkan baju untukku,” ucap Reza, berdiri di ambang pintu.
“Aku hanya berusaha menjadi istri yang baik,” kata Aluna.
Reza mengangguk paham.
Setelah percakapan singkat itu keduanya saling diam. Aluna menghadap ke arah jendela, sedangkan Reza menatap punggung Aluna yang membelakanginya.
“Aku pamit. Sudah hampir pukul tujuh.”
Aluna menoleh. “Tidak sarapan dulu?”
Reza menggelengkan kepalanya. “Tidak sempat. Hari ini ada rapat penting, sebagai pemimpin rapat, aku tidak boleh terlambat,” ujar Reza.
Aluna tiba-tiba melangkah mendekati suaminya itu, lalu dia mengamit tangan Reza dan menciumnya.
“Hati-hati di jalan. Semoga semuanya lancar,” kata Aluna.
Reza terpaku dengan sikap Aluna. Hatinya berdesir merasakan kehangatan yang Aluna berikan.
“Terima kasih,” lirih Reza kemudian.
Dia langsung melangkah pergi.
Sikap Aluna memberikan efek yang kuat pada hatinya, pria itu salah tingkah, wajahnya bahkan terasa memanas.
Sepanjang perjalanan menuju kantornya, pikiran Reza tak lepas dari sosok Aluna. Wanita itu terus membayang di dalam benaknya.
“Pak Reza.”
“Ya?” Reza tersentak dari lamunan ketika sopir pribadinya memanggil.
“Sudah sampai,” ujar si sopir.
“Oh, terima kasih,” ucap Reza. Dia segera keluar ketika sopirnya itu membukakan pintu untuknya.
“Selamat pagi, Tuan Reza.” Erik langsung menyambut kedatangan bosnya.
“Pagi.” Seperti biasa, Reza menjawab dengan singkat. “Apa semua sudah siap?” tanyanya kemudian.
Erik pun menjelaskan tentang persiapan rapat hari ini.
Namun, sepanjang Erik menjelaskan, sebenarnya Reza tidak sepenuhnya fokus mendengarkan apa yang pria itu jelaskan. Pikirannya tentang Aluna masih berkecamuk.
REZA POV
Aluna. Entah kenapa dia tetap menjadi satu-satunya wanita di hatiku.
Banyak orang bertanya, kenapa aku memilihnya menjadi istriku.
Jawabannya singkat saja, yaitu karena hatiku miliknya.
Tapi, ada satu hal yang membuatku sedikit kecewa.
Aluna melupakanku.
Ya. Sepertinya dia lupa siapa aku. Apa mungkin karena sekarang tubuhku lebih kurus dari tiga belas tahun yang lalu?
Tiga belas tahun lalu—aku dan Aluna pernah menjalin hubungan. Kami berpacaran saat masa SMA. Aku yang menembaknya, aku pikir saat itu dia tidak akan menerimaku, tapi ternyata dia menerimaku. Dialah cinta pertamaku dan kekasih pertamaku. Walaupun hubungan kami hanya berlangsung selama dua bulan, tapi momen itu terasa indah.
Saat itu aku terpaksa putus dengannya karena aku harus pergi ke luar negeri. Dan semenjak itu, Aluna selalu tersimpan di hatiku.
Sejak kepulanganku ke Indonesia satu tahun lalu, aku terus mengawasinya, untungnya dia belum punya pacar, dan sampai kemudian aku memiliki peluang untuk menikahinya.
Aku pikir Aluna akan mengenaliku ketika kami pertama kali bertemu malam itu. Tapi ternyata, dia sama sekali tidak mengenaliku. Atau mungkin ... dia lupa denganku?
***
“Kamu ngapain datang ke sini?”
“Ini rumahku. Rumah orang tuaku. Aku punya hak datang ke rumah ini kapan pun aku mau,” tukas Aluna. Ia lantas masuk ke dalam rumah. “Di mana ayahku?” tanyanya kemudian.
Siang tadi Aluna mendapat kabar bahwa ayahnya dipulangkan dari rumah sakit, padahal ayahnya belum melakukan operasi yang seharusnya sudah dijadwalkan.
“Ada di kamar,” jawab Dewi, acuh tak acuh.
Aluna langsung melangkah menuju kamar ayahnya.
Di dalam kamar itu, ayahnya terbaring lemah, tapi senyuman sang ayah berusaha terukir ketika Aluna datang mendekatinya.
“Ayah, kenapa ayah pulang? Ayah seharusnya dioperasi. Tumor....”
“Tenanglah, Aluna,” lirih Pak Agus.
“Bagaimana aku bisa tenang. Aku rela menikah dengan laki-laki itu demi ayah. Harusnya uang itu....” Aluna terdiam sejenak, ia tiba-tiba memiliki pikiran buruk tentang uang itu. “Di mana Bu Lastri?” tanya Aluna, ketika kesal dia tidak akan sudi memanggil wanita paruh baya itu dengan panggilan mama.
“Aluna, tenang, Nak.” Ayahnya mencoba menenangkan, tapi Aluna sudah kepalang kesal dengan pikiran negatifnya.
“Bu Lastri!!!” teriak Aluna.
Tak lama kemudian, orang yang dipanggil muncul dengan raut tak senang.
“Kamu itu enggak punya sopan santun ya, Aluna. Datang ke rumah orang teriak-teriak. Kamu pikir ini hutan?!”
“Di mana uangnya?”
“Uang apa?” Bu Lastri pura-pura tidak tahu.
“Uang mahar pernikahanku. Di mana uang itu. Uang itu harusnya untuk pengobatan ayah.”
“Haduh, Aluna. Kamu itu kalau enggak tahu enggak usah langsung ngamuk,” tukas Bu Lastri. “Asal kamu tahu ya. Hutang ayahmu itu banyak, Aluna.”
“Bohong.”
“Bohong?” Bu Lastri tertawa sinis. “Heh, bodoh. Kamu pikir selama satu tahun ini ayahmu berobat pakai daun?” tukasnya.
“Selama ini aku selalu bantu pengobatan ayah. Aku tahu Ayah juga punya tabungan,” tandas Aluna.
“Terus kamu pikir aku sama Dewi enggak ada kebutuhan?”
Aluna menghela napas berat, menghadapi ibu tirinya adalah hal yang paling melelahkan. Wanita paruh baya itu memiliki sifat tamak dan egois yang di luar nalar.
“Seharusnya kalian bisa menghemat sedikit.”
“Aduh, Aluna. Kamu enggak usah cerewet deh. Gini ya, kamu kan nikah sama orang kaya, minta dong uang sama suami kamu. Bilang ayah kamu harus dioperasi secepatnya,” cakap Bu Lastri.
“Aku bukan perempuan matre sepertimu!” cibir Aluna.
PLAK!
Tamparan keras itu mendarat sempurna di wajah Aluna.