45. Panik

1252 Kata

Sabil tersentak dari tidur panjangnya. Sebuah kekosongan yang dingin yang membangunkannya. Jantungnya berdebar, bukan karena mimpi buruk, melainkan karena kesadaran yang perlahan merayap. Ia mengedarkan pandangannya, mencari kehangatan yang selalu dia dapatkan namun pagi ini hanya menemukan hamparan seprai yang terasa asing bahkan kosong. Istrinya, Mina, tidak ada disampingnya saat dia terbangun. Kini mata Sabil terbuka, menyambut ruangan yang diselimuti bias cahaya pagi. Pandangannya menyapu sekeliling, mencari sosok istrinya Mina yang biasanya sudah sibuk atau setidaknya, sudah bangun jauh sebelum ini. Kesunyian membekap. Pagi telah bergulir jauh, ditandai dengan sinar matahari yang berani menerobos tirai kamar. Kesiangan. "Astaghfirullah," gumamnya pelan, menyadari keterlambatan yang

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN