3. Badai Masih Bergemuruh

1222 Kata
Sore itu Mina meninggalkan kediaman keluarga Aqsa setelah dia meluapkan semua tangisan dan kekecewaannya dikamar Aqsa. Mina menolak semua tawaran oleh keluarga Aqsa, dia tidak ingin di antar oleh siapapun walaupun mereka khawatir tentang Mina yang mengemudi sendiri tapi Mina bersikukuh pulang sendiri berdalih dia ingin menenangkan pikirannya. Surat yang Aqsa tinggalkan untuknya menjelaskan semuanya. Dia merasa seperti sampah. Persis seperti itu. Sebuah barang tak berharga lagi, dilupakan di tepi jalan oleh tangan yang dulu berjanji akan menjaganya selamanya. Hatinya perih dan kosong, berdenyut dengan rasa sakit. "Aku harus pergi, Mina." Kata-kata dalam surat itu menggema di pikiran Mina. Dia Tidak ada janji untuk kembali, hanya kepergian yang tergesa, seolah Mina adalah kotoran yang harus segera disingkirkan oleh Aqsa. Ia melihat bayangannya di kaca jendela, seorang perempuan yang nyaris tak dikenalinya didepan sana, dengan mata sembab dan tatapan hampa. Ini bukan Mina yang biasa selalu memancarkan aura bahagia. Langkah kakinya membawa beban. Beberapa kisah harus berakhir bukan karena kurangnya di cinta di dalamnya melainkan karena takdir memilih jalan yang lain. Di tengah keramaian kota yang mulai beranjak senja, Mina sendirian, memeluk kebenaran yang getir dan surat yang menjadi saksi bisu itu. Dia pulang dengan membawa serta awal dari babak baru hidup tanpa Aqsa. Mina sudah tidak punya kekuatan lagi bahkan untuk berdebat dengan Mama nya sampai di rumah nanti pun dia benar pasrah dengan berbagai pertanyaan. "Kenapa kamu sendirian? Di mana Aqsa? apakah terjadi kepada mu ? Ada apa dengan matamu Mina ?" Bahkan untuk berdebat seperti biasa yang dia lakukan dengan Mama nya pun tidak sanggup apalagi sekadar berbohong, ia tak sanggup lagi. Jiwanya terlalu lelah, terkikis habis oleh kenyataan yang ia paksa harus menerimanya. Ia adalah cangkang kosong, sebuah reruntuhan yang tidak punya tenaga lagi untuk menahan gemuruh di dalam dadanya. Setelah setengah jam perjalanan Mina sampai di rumah dalam kondisi kacau kalau dia tidak berhati-hati mengendarai mobilnya tadi, mungkin dia sudah mengalami kecelakaan di jalan. Dia masih ingat kedua orang tuanya yang cemas menunggunya di rumah. Tadi dia buru-buru sampai lupa pamit sama Mama nya secara baik-baik. Sampai dirumah Mina sudah disambut Mama dengan wajah yang khawatir. "Mina, kamu kenapa Nak ?, apa yang terjadi Hah." Ucap Mama Irianti menghampiri Mina, melihat anaknya seperti mayat hidup sampai dirumah. Tapi dia sempat mendengar Mina menangis tadi, kini Irianti mendapati anaknya pulang dengan keadaan yang kacau, dia sudah menduga terjadi sesuatu kepada anaknya. Mina langsung tergeletak di lantai. "MINA... !" Irianti teriakannya melengking, memecah keheningan sore ini, disusul oleh derap langkah cepat Papa Ilham . Kekalutan menyelimuti wajah keduanya. Ilham berlutut di samping tubuh Mina, mencoba mengguncang bahunya perlahan. " Mina! Bangun, Nak!" Suaranya tercekat, penuh kepanikan yang teramat sangat. Irianti dengan air mata mulai menggenang, tangannya gemetar meraih pergelangan tangan putrinya, mencari denyut nadi yang terasa terlalu lemah. Dengan segera mereka membawa Mina ke rumah sakit bisikan doa yang terucap dan sentuhan lembut yang tak ingin mereka lepaskan dari tubuh putri semata wayangnya. Dalam sekejap, tawa dan cerita riang akhir-akhir ini, kini berganti menjadi mimpi buruk yang tak terduga. *** Mina mengedarkan pandangannya pada ruang yang ditempatinya ini. Langit-langit putih polos ini menandai bukan kamarnya, bukan pula rumahnya. Lalu, matanya jatuh ke tangannya. Sebuah infus menancap di punggung tangan kirinya, selang tipis itu mengular naik, membawa cairan bening ke nadinya. Rasa sakitnya bukan lagi denyutan tapi sebuah fakta di sedang berada di kenyataan dia kira kejadian tadi hanya sebuah mimpi. Ia mencengkeram sprei, berusaha menembus batas antara tidur dan bangun. Mina berusaha mengumpulkan ingatannya, seperti potongan-potongan kaca yang berserakan. Ada apa? Mengapa? tapi rasa sakit di tangan Mina sudah menjelaskan semuanya tak terhindarkan dari apa pun yang telah terjadi. "Mina ?" Irianti meraih tangan Mina. "Apa yang sakit Nak ?" "Mina sudah hancur Ma." Bisiknya, suaranya serak dan nyaris tak terdengar, tenggelam di antara derasnya air mata. "Apakah Mina lebih baik mati saja Ma ?" "Astaghfirullah jaga ucapan mu sayang." Irianti mendekapnya erat anaknya membiarkan bahunya basah oleh air mata Mina. Ia membelai rambut Mina, Dia sedang menerka-nerka sendiri apa yang terjadi kepada anaknya hari ini. "Mina sudah hancur Ma, bahkan kehancurannya menjadi berkeping-keping." Ucap Mina Sesenggukan. Irianti mengurai pelukan itu. "Apa yang terjadi Mina, bilang sama Mama yang sebenarnya biar Mama tidak menerka-nerka." "Calon suaminya Mina meninggalkan Mina, Ma ?" "APA ? Jangan becanda Mina ?" "Apakah Mina terlihat sedang bercanda, Ma..?" Suara isak tangisnya serak dan parau. Ia mendongak sedikit, menatap mata ibunya. "Mas Aqsa pergi meninggalkan Mina, Ma." Setiap kata yang terucap adalah serpihan pedih yang harus ia tarik keluar dari kerongkongan. Rasa perih itu menjalar dadanya. Kata-kata Mina barusan terucap sangat menyayat hati siapa pun yang mendengarnya. Isak nya bukan lagi tangis duka biasa, itu adalah suara dari jiwanya yang hancur. "Pa cobalah cari tahu yang sebenarnya Pa. Mama tidak terima Mina di giniin." "Iya Ma, "dia Ikut merasakan kehancuran pada putri tercintanya ini. Di pelukan Mama Irianti, Mina tidak lagi menyisakan daya. Ia hanya gumpalan kerapuhan, serta isakan yang tak terkontrol. "Dia benar-benar pergi, Ma." "Apa yang Mina akan katakan sama orang-orang Ma ?. Bisikannya tercekik, terpotong oleh sedu yang menyesakkan. "Mina sudah di tinggalkan oleh Mas Aqsa. Mau taruh di mana muka Mina ini Ma, Mas Aqsa sudah pergi entah kemana." "b******k kamu Aqsa, kamu melukai anak ku." Batin Irianti. Pertanyaan-pertanyaan dari Mina kepada Mama nya ini, seharusnya tak pernah ia ucapkan, kini menggantung di udara, pedih menghujam hatinya. Ini semua bukan hanya tentang rasa sakit karena kehilangan cinta, tetapi juga tentang beban rasa malu yang tak tertahankan. Tentang tatapan menghakimi yang akan dia dengarkan, bisik-bisik yang akan mengiringi namanya yang membuat Mina terpuruk, dan pertanyaan yang tak akan pernah bisa ia jawab. Ia merasa seluruh harga dirinya seketika direnggut, dibiarkan tergeletak di hadapan semua orang. Mama Irianti hanya bisa mendekap sang putri lebih erat, air matanya ikut menetes membasahi rambut Mina. Ia ingin mengucapkan kata-kata penghiburan untuk sang putrinya tetapi ia tahu, di hadapan duka dan kehancuran sebesar ini, semua kata terasa hampa. Yang tersisa hanyalah keheningan pahit dan janji bahwa mereka akan menghadapi badai ini bersama, meski hati Mina sudah terlanjur hancur berkeping-keping. Tapi sangat berharap Mina bisa melewati semua ujian yang diberikan ini. Ia mengusap lembut punggung Mina mencoba memberikan kekuatan lewat usapan ini, tetapi ia tahu sentuhan hangatnya ini tak akan bisa menyembuhkan luka sedalam ini begitu saja. "Ma, apakah dengan Mina tidak ada di dunia ini lagi, semuanya akan baik-baik saja kan, Ma?" Suara Mina kini terdengar pelan, nyaris seperti bisikan namun setiap kata mengandung beban putus asa yang tak tertanggungkan di hati Mina. Irianti menarik napas dalam-dalam Ia mengurai pelukan itu mengangkat wajah putri tercinta sudah basah yang tidak bisa dicegah sejak dari tadi, Irianti menangkupnya lembut dengan kedua tangan. Mata Mina yang sembab memancarkan kekosongan yang membuat Irianti merasakan kepedihan yang sama dengan anaknya. "Tidak, Nak. Tidak akan pernah baik-baik saja," jawab Mama Irianti, suaranya tegas namun penuh kasih. "Dengarin Mama, Nak. Kau adalah dunia bagi Mama dan Papa. Jika kau pergi, justru semua akan hancur berkeping-keping bagi kami. Baik-baik saja itu tidak ada tanpa kamu, Mina. Mama tidak peduli dengan orang lain, dengan muka atau dengan kata-kata mereka. Yang Mama peduli hanya kamu. Kamu harus ada. Kamu harus hidup." Dekapan itu kembali menguat, kali ini bukan hanya untuk menenangkan, tetapi untuk menahan, untuk meyakinkan Mina bahwa kehadirannya adalah segalanya, bahwa cinta seorang ibu jauh lebih kuat dari rasa malu atau kehilangan yang Mina rasakan ini. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN