Aduh!! Gimana nih? Aku gak sempat ngasih tau Raka kalau tadi malam Diaz nginap. Mana tuw anak sekarang belum bangun-bangun juga lagi. Mati deh...bathin Nara kebingungan saat terbangun esok paginya.
Tadi malam, saat jam sudah menunjukkan pukul 1 pagi, Diaz tiba-tiba muncul di depan apartement Nara, dan ujung-ujungnya menginap di apartement Nara. Nara gak mungkin menolak permintaan Diaz, mengingat hari sudah pagi, dan Diaz bukan orang asing untuknya.
Nara merapikan sendiri tempat tidurnya. Setelah selesai mandi, dia bergegas ke dapur untuk membuat sarapan. Saat Nara sedang membuat omelet, tiba-tiba ada seseorang yang memeluk pinggangnya dari belakang.
”Pagi, sayang...”sapa orang itu lembut sambil mencium bagian belakang leher Nara yang terbuka.
Nara langsung membalik badannya,”Diaz! Jangan begini. Kita udah gak ada hubungan apa-apa lagi. Aku mohon. Hentikan kebiasaanmu saat kita bersama dulu. Aku bukan lagi kekasihmu. Aku mohon...”ucap Nara pelan sambil berusaha melepas pelukan Diaz.
”Maaf. Aku tau kalau kamu bukan milikku lagi sejak kamu bersama ’dia’. Tapi dalam hatiku, aku selalu berharap kalau kamu bisa memaafkan kesalahanku waktu itu. Aku benar-benar gak ada niat untuk mengkhianatimu. Karena aku benar-benar mencintaimu dari dulu sampai sekarang.”ujar Diaz serak setelah melepas pelukannya dari Nara.
Nara meraih tangan Diaz, digenggamnya tangan cowok di depannya itu,”Aku udah maafin kamu sejak kamu minta maaf untuk pertama kalinya waktu itu. Aku tau kalau kamu hanya di jebak sama wanita itu. Tapi, aku gak mau terus menyakiti kamu, dengan berpura-pura mencintai kamu, padahal selamanya aku gak pernah melupakan Raka.”jelas Nara,”Lagipula bukankah hubungan kita yang seperti ini jauh lebih baik daripada saat kita bersama?? Kita jauh lebih dekat dengan status seperti sekarang daripada saat kita masih pacaran.”
”Kamu memang anak baik.”ujar Diaz sambil menarik kepala Nara ke dalam pelukannya,”Eh... Kok ada bau gosong sih??”tanya Diaz sesaat kemudian.
”Mati aku!!”pekik Nara saat teringat kalau dia sedang menggoreng omelet,”Yah... Gosong deh. Gara-gara kamu sih!”rutuk Nara sambil membersihkan penggorengan.
”Udahlah... Kita cari makan di luar yah? Kemarin, setelah dari Rumah sakit, aku ketemu tempat makan yang enak... Kita kesana yuk?”ujar Diaz sambil menarik tangan Nara untuk keluar.
Tepat saat kedua orang itu membuka pintu, ada seseorang telah berdiri di depan pintu apartement Nara.
”Revan??”ucap Nara tidak percaya saat melihat Revan sudah berdiri di depan pintu apartementnya.
”Nara?? Siapa lagi dia??”tanya Revan tak percaya melihat ada cowok lain yang digandeng Nara selain Raka,”Yang kemarin aja gw masih belum jelas, sekarang lo udah ngegandeng cowok lain??”
Nara tersenyum,”Kamu masuk dulu deh. Aku jelasin di dalam.”bujuk Nara sambil membuka pintu sedikit lebar agar Revan bisa masuk.
Revan melangkah masuk dengan gontai, dia tidak percaya Nara bisa berubah sedrastis itu. Nara yang dulu pernah bilang kalau dia tidak mau menjalin hubungan dengan siapapun. Tapi sekarang, tidak hanya satu pria yang bersamanya. Setelah Revan duduk di sofa, barulah Nara mulai buka mulut.
”Kamu tahu, Diaz ini dokter pribadi aku. Dia ada disini karena aku yang menyuruhnya datang dari London kesini untuk memeriksa keadaanku. Kamu tahu kan kalau aku semalam gak fit?? Sebelum aku sakit, aku udah menghubunginya supaya secepat mungkin datang kesini.”
”Yah... Gw tau.”
”Nah... Jadi apa masalahnya??”
”Lo sama dia gak keliatan kayak dokter dengan pasiennya. Kalian begitu mesra. Aku gak percaya kalau hubungan cuma sebatas itu aja.”
”Diaz dengan aku udah bersama dari kecil. Kami dibesarkan bersama. Diaz bukan orang asing dalam hidupku. Dia udah seperti kakak kandung aku sendiri. Tapi...”ucapan Nara terpotong, Nara menatap Diaz minta tolong.
”Kami pernah menjalin hubungan gak lama setelah Nara kembali ke London 3 tahun yang lalu.”sambung Diaz.
”Kalian...”ujar sebuah suara yang sangat dikenal Nara seperti Nara mengenal suaranya sendiri.
”Raka??!”ujar mereka bertiga serempak.
”Nara... Kamu gak pernah cerita apa-apa sama aku. Tapi kenapa sama dia kamu bisa menceritakan segalanya? Aku gak percaya. Selain hubunganmu dulu dengan Diaz, apalagi yang kamu sembunyikan dariku?? Berapa banyak lagi hal yang aku gak tau tentang kamu??”tanya Raka dengan suara bergetar karena emosi.
Nara melangkah mendekati Raka, diraihnya tangan Raka, tapi Raka mengibaskan tangan Nara.
”Baiklah... Aku akan menceritakan semuanya. Semuanya! Aku mohon kalian duduk, dan jangan ada yang menyelaku sebelum aku selesai.”ujar Nara sedih menerima perlakuan Raka.
Raka memilih untuk duduk di dekat Revan daripada harus di sebelah Nara. Melihat itu, akhirnya airmata Nara menitik keluar. Nara cepat-cepat menghapusnya sebelum Diaz melihatnya. Karena Nara tau, Diaz akan membuat perhitungan dengan siapapun yang berani membuat Nara menangis. Dan itu sudah pernah terjadi saat mereka masih kecil.
”3 tahun yang lalu, aku kembali ke London dengan perasaan kacau. Aku sakit hati kalau mengingat Raka sudah bertunangan dengan Wina tanpa memperdulikan perasaanku sedikitpun. Padahal aku sudah memohon padanya agar membatalkan pertunangannya, mengatakan padanya kalau aku mencintainya. Tapi dia berkata kalau aku hanya anak kecil yang belum mengerti arti cinta. Dia sendiri juga gak tahu kalau cinta gak pernah memandang usia. Kamu tahu gimana sakitnya aku waktu itu, Raka?? Hatiku benar-benar hancur. Hancur! Mungkin aku jauh lebih sakit saat itu daripada waktu kehilangan Nero.”tanya Nara pada Raka,”Tapi aku tetap kembali ke London, menjadi pimpinan perusahaan dan terus menekan perasaanku padamu. Aku berhasil melewati 3 minggu pertama tanpa mengingatmu dengan memulai kesibukan baru. Rutinitas baru. Bertemu wajah-wajah baru... Memenuhi hari-hariku hanya untuk bekerja... Tapi ternyata kamu akhirnya menikah dengan Wina tepat sebulan aku pergi. Aku benar-benar kecewa, aku benci kenapa aku yang dulu bisa tenang menghadapi perasaanku, mampu mengendalikan emosiku, tapi saat itu aku benar-benar hancur. Aku gak masuk kantor selama berhari-hari, aku mengurung diri di kamar selama itu. Aku gak menyentuh makanan apapun yang di antar ke depan kamarku. Sampai akhirnya Dyon memanggil Diaz untuk kembali ke London. Karena Dyon tahu, hanya Diaz yang saat itu dekat denganku, walaupun kami sudah lama gak bertemu. Hanya Diaz, selain Nero yang bisa mempengaruhiku. Saat itu Diaz sedang berada di Kairo. Mendengar aku gak keluar kamar bahkan sampai gak makan membuat Diaz meninggalkan semua pekerjaannya di Kairo, dan langsung pindah ke London.
Diaz datang hari berikutnya, dia mendobrak kamarku. Dan menyeretku ke kamar mandi. Dia menenggelamkan kepalaku di dalam westafel. Kejam memang, tapi... Dia membuatku sadar bahwa bumi terus berputar walaupun kamu menikah dengan orang lain. Diaz selalu ada di sampingku, menemaniku, mencoba mengobatiku luka hatiku dengan cintanya, yang aku tahu, telah diberikannya padaku sejak aku masih kecil. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk pacaran dengannya. Aku juga ingin dicintai dan mendapatkan kebahagiaan. Tapi ternyata ada orang-orang yang gak suka melihat aku pacaran dengan Diaz. Diaz terlalu populer dikalangan dokter dan kampus tempatnya kuliah dulu. Mereka terus mencoba untuk memisahkan kami. Tapi semuanya gak ada yang berhasil. Hubungan kami semakin membaik, sampai memasuki tahun pertama, tapi saat itu semua terjadi. Aku harus ke luar negeri untuk menangani masalah perusahaan di Caracas. Dalam jadwal, lama keberangkatanku adalah 1 minggu, tapi ternyata hanya 5 hari aku disana. Dan aku langsung kembali ke London pada hari ke-enam untuk merayakan tahun baru bersama Diaz. Aku pulang ke rumah, tapi Diaz gak ada, aku mendatangi rumahnya. Disana aku melihat dia...”Nara kembali gak melanjutkan ucapannya.
Diaz menatap Nara dengan pandangan penuh sayang, di genggamnya tangan Nara,”Malam itu, Nara datang ke rumahku, dia biasa masuk ke rumahku tanpa mengetuknya, karena dia juga punya kunci rumahku, jadi dia langsung ke kamarku. Saat itulah dia melihatku bersama seorang wanita di tempat tidur tanpa pakaian, melakukan hal yang biasa kulakukan pada wanita-wanita yang kukencani sebelum Nara. Nara memutuskan hubungan kami keesokan harinya, dan dia juga langsung memaafkanku saat aku minta maaf padanya untuk pertama kali. Sejak saat itu hubungan kami hanya sebatas dokter dan pasien, tapi kami lebih senang dengan hubungan itu daripada harus berpacaran. Karena Nara memang gak pernah mencintaiku, dia hanya membalas semua yang pernah kulakukan padanya. Membalas semua kebaikan yang pernah kuberikan padanya. Nara sama sekali gak ada menjalin hubungan dengan siapapun sesudahnya. Dia terus menyibukkan dirinya dengan kerjaan kantor. Dan gak jarang Nara pingsan di kantor karena kelelahan. Dia...”
”Jangan teruskan Diaz.”sela Nara,”Cukup sampai disitu aja yang kamu ceritakan. Mereka berdua udah terlanjur emosi sebelum kita menceritakan semuanya, aku takut kalau nanti mereka tetap gak percaya, sia-sia aja kita cerita panjang lebar, kan??”ucap Nara yang sudah mendapatkan kembali ketenangan dirinya yang tadi sempat hilang.
No me dejes, no me dejes, no me escuches, si te digo "no me ames"
No me dejes, no desarmes, mi corazòn con ese "no me ames"
No me ames, te lo ruego, me amargura dèjame
Sabes bien, que no puedo, que es inùtil, que siempre te amarè
Nara bergegas mengambil ponselnya di dalam kamar, dilihatnya nama yang tertera di layar,”Ada apa, Dyon??”
”Maaf mengganggu Anda. Apa disana masih pagi??”
”Iya... Tolong katakan ada apa kamu menelponku, masalahnya sekarang keadaan disini kurang baik.”
”Maaf kalau saya mengganggu. Saya hanya ingin memberitahukan kalau saat anda kembali ke London nanti, anda sudah bisa menempati rumah anda yang baru. Dan saya juga menemukan lagi sebuah surat di dalam lemari rahasia Tuan Nero yang ada di balik rak-rak buku.”
”Bisakah kamu kirimkan surat itu sekarang juga??”
”Bisa, anda akan menerimanya beberapa saat lagi.”
”Terima kasih atas semua usahamu.”
”Nona...”
”Ada apa lagi, Dyon??”
”Tidak. Jaga kesehatan Nona. Jangan sampai sakit.”
”Terima kasih atas perhatianmu. Kalau udah gak ada keperluan lagi, aku akan menutup telponnya.”
”Tidak ada lagi yang harus saya sampaikan.”
Setelah menyelesaikan pembicaraannya dengan Dyon di telpon, Nara kembali ke ruang tamu, ke tempat ketiga pria itu menunggunya dengan membawa note book-nya.
”Dari siapa, Nar??”tanya Diaz mendahului Raka.
”Dyon... Dia bilang rumah baru aku di sana udah bisa ditempati.”sahut Nara datar.
”Lo mau balik ke London lagi??”tanya Revan yang akhirnya buka suara.
Nara memandang Raka sebelum menjawab pertanyaan Revan, tapi ternyata Raka malah bersikap acuh tak acuh.
”Iya, tapi gak sekarang. Aku belum bisa melakukan perjalanan jauh. Lagian sepertinya udah gak ada alasan lagi aku ada disini. Orang yang kuharapkan untuk mengerti semua tentangku ternyata sama sekali gak memahamiku. Lebih baik kalau aku kembali ke London dan...”
Ucapan Nara terhenti saat sebuah kotak dialog muncul di layar note book-nya, menandakan kalau ada sebuah e-mail yang masuk. Nara langsung membuka e-mail yang masuk itu.
Nara,
Saat kamu menerima surat ini, aku yakin kalau saat itu aku udah gak bisa lagi berada di samping kamu... Aku udah gak bisa lagi melindungi kamu... Aku udah gak bisa lagi memperhatikan kamu... Maafkan aku karena terlalu cepat meninggalkanmu. Aku udah lama tahu kalau usiaku gak akan lama, penyakit ini semakin lama semakin parah, dan semakin sulit bagiku menyembunyikannya darimu, tapi aku sama sekali gak berani memberitahukannya padamu, mungkin bukan gak berani, lebih tepatnya aku gak ingin memberitahukannya padamu. Aku takut kalau kamu akan sedih. Karena semua orang yang udah mengenalmu seperti aku mengenalmu, seperti aku memahamimu, seperti aku menyayangimu, gak akan pernah ingin melihat kamu sedih... Ksesedihanmu adalah hal yang paling tidak kuinginkan di dunia ini.
Nara...
Maaf kalau semua surat wasiatku menyusahkanmu. Aku gak bermaksud seperti itu... Kamu tau sendiri kalau aku gak akan pernah membuatmu susah... Maaf kalau aku ternyata memanfaatkanmu untuk membuka sesuatu yang saat ingin kuketahui dari Raka... Sesuatu yang aku yakin benar adanya... Walaupun pada akhirnya aku gak bisa melihat sendiri hal itu terjadi...
Nara....
Untuk menebus semua kesalahan yang pernah kulakukan, aku memutuskan untuk memberikan mu sesuatu... Sesuatu yang aku yakin, harta yang paling kamu inginkan... Harta ini gak akan bisa kamu beli berapapun juga harganya... Harta yang sangat tak ternilai oleh apapun... Karena yang dimiliki harta ini bukanlah prestise, tapi kenangan... Kenangan, Nara... Sesuatu yang akan tetap abadi dari manusia walaupun manusia itu sudah tiada...
Nara...
Melihat sifatmu, kamu gak akan meneruskan untuk tinggal di rumah kita... Mungkin kamu akan menyumbangkan rumah itu ke lembaga sosial atau menjadikannya sebagai panti asuhan seperti yang pernah kamu bilang... Aku yakin kalau kamu pasti akan pindah secepatnya... Tapi Nara, aku mohon... Sebelum kamu pindah... Sebelum kamu melakukan apa-apa pada rumah itu... Sebelum semuanya terlambat... Aku memohon sesuatu padamu... Sesuatu yang aku harap kamu bisa melakukannya...
Nara...
Di kamarku ada sebuah tali tergantung di dekat tempat tidur... Tarik tali itu... Dan sebuah tangga akan terbuka dari langit-langit kamarku... Naiklah... Kamu akan menemukannya di sana... Menemukan harta yang kukatakan itu... harta yang tak ternilai itu...
Setelah melihat itu semua, terserah kamu akan terus tinggal di rumah itu atau pindah ke rumah lain... Aku akan terus mendukung semua keputusanmu walaupun aku gak ada di sampingmu...
Nara...
Aku hanya menginginkan yang terbaik untukmu... Karena itulah aku akan melakukan apapun agar kamu bahagia... Agar gak pernah ada airmata mengalir di wajahmu... Agar kamu dapat selalu tersenyum... Karena aku gak pernah ingin senyuman yang selalu ada itu menghilang dari wajahmu... Diaz, Dyon, dan Revin... Mereka adalah orang-orang yang aku percaya yang akan selalu berada disampingmu, membantumu mendapatkan apapun yang kamu inginkan demi kebahagiaanmu... Orang-orang yang aku yakin akan selalu memberikan kebahagiaan untukmu... Orang-orang yang menyayangimu seperti aku...
Nara...
Diaz akan selalu melindungimu dengan semua kasih sayangnya, dia gak akan membiarkan orang lain membuatmu menangis... Dia gak akan menyakitimu... Dia akan terus berada disampingmu... Butuh atau tidak... Karena aku tau, buat Diaz, kamu sama pentingnya dengan nyawanya...
Nara...
Aku tau kalau kamu sama Revin gak pernah akur... Kalian selalu bermusuhan... Tapi apakah kamu tau kalau Revin juga sanggup melakukan apapun agar semua keinginanmu terkabul?? Apakah kamu tau kalau Revin sanggup melenyapkan segala rintangan agar kamu dapat bahagia?? Apakah kamu tau kalau Revin sanggup membunuh perasaannya agar kamu bahagia?? Revin yang kukenal adalah seorang laki-laki yang akan melakukan apapun agar perempuan yang dicintainya bahagia, walaupun dia harus mengorbankan kebahagiaannya... Semua keinginannya... Bahkan harga dirinya...
Nara...
Dyon gak hanya bekerja sebagai asistenku... Dulu dia juga asisten yang sangat dipercaya oleh kedua orangtuamu... Dia mengenal kedua orangtuamu dengan sangat baik... Dyon pernah mencintai Kak Lyra... Mencintainya dengan segenap hati... Karena itu dia rela Kak Lyra menikah dengan Kak Fornax... Karena bagi Dyon, apapun yang membuat mamamu bahagia adalah kebahagiaan untuknya... Karena itulah dia menyayangimu seperti anaknya sendiri... Aku harap kamu bisa mempercayai Dyon... Dyon akan memberimu perhatian yang jauh lebih besar dibanding yang pernah kuberikan... Dyon akan selalu menjagamu seperti dia menjaga anaknya sendiri... Percayalah...
Nara...
Kebijaksanaan tidak lagi merupakan kebijaksanaan apabila ia menjadi terlalu angkuh untuk menangis, terlalu serius untuk tertawa, dan terlalu egois untuk melihat yang lain kecuali dirinya sendiri...
Nara...
Kalau saat kamu membaca ini kamu menjalin hubungan dengan Raka, tolong katakan padanya kalimat itu... Katakan padanya bahwa kalimat itu dari aku... Dari abangnya... Lalu suruh dia mengingat ini...
Seorang wanita telah dilengkapi oleh Tuhan dengan keindahan jiwa dan raga adalah suatu kebenaran, yang sekaligus nyata dan maya, yang hanya bisa kita pahami dengan cinta kasih, dan hanya bisa kita sentuh dengan kebajikan...
Nara...
Raka adalah satu-satunya orang yang kukenal yang mempunyai harga diri paling tinggi... Sangat tinggi mungkin... Saat dia menyakitimu karena semua kemunafikannya, maafkanlah dia... Karena dengan memaafkannya akan membuatnya merasa kalau harga dirinya jatuh... Karena Raka yang kukenal adalah orang yang paling enggan untuk mengakui kesalahannya... Ya, dia memang laki-laki yang angkuh... Dia adalah laki-laki paling angkuh yang pernah ku kenal, sekaligus laki-laki paling rentan...
Nara...
Kalau kamu menemukan cintamu, tapi saat itu kamu berada dalam situasi yang gak memungkinkan... Ingatlah... Apapun yang terjadi, seburuk apapun keputusan yang kamu buat, kalau itu memang dari hati nuranimu, lakukanlah... Karena hanya sedikit orang didunia ini yang benar-benar bisa melakukan sesuatu seperti yang diinginkan hati nuraninya... Karena kebanyakan orang di dunia ini melakukan sesuatu berdasarkan nafsu belaka... Percayalah pada apapun yang hatimu katakan... Karena pemimpin tertinggi dari seorang manusia adalah hati mereka... Gak kurang dari keinginan hati yang tertinggilah yang dapat membantu mereka...
Nara...
Aku akan selalu menyayangimu.... Hiduplah dengan bahagia keponakanku... Jangan pernah menangis saat kamu kehilangan sesuatu... Tapi bergembiralah karena itu pernah terjadi... Karena dengan begitu kamu akan memiliki sesuatu yang akan terus abadi sampai kapanpun...
Nara...
Bermimpilah tentang apa yang ingin kamu impikan, pergilah ke tempat-tempat kamu ingin pergi. Jadilah seperti yang kamu inginkan, karena kamu hanya memiliki satu kehidupan dan satu kesempatan untuk melakukan hal-hal yang ingin kamu lakukan... Jangan lupa, walaupun aku udah gak ada, tapi tetap ada orang yang menyayangimu, orang-orang yang selalu memperhatikanmu, orang-orang yang siap melindungimu... Sayangi mereka seperti mereka menyayangimu...
Nero
Selesai membaca e-mail yang dikirim Dyon, Nara langsung menghadapkan layar note book-nya pada Raka,”Bacalah. Ada hal yang ingin Nero sampaikan padamu.”ujar Nara datar.
Raka langsung membaca bagian yang memang ditujukan untuknya. Raka sama sekali gak menunjukkan reaksi apapun saat Nara menutup note book-nya. Hanya saja Raka baru buka mulut saat Nara kembali akan bicara.
”Sudah cukup kamu bicara Nara, kali ini biarkan aku yang bicara. Aku mungkin memang pria paling cemburuan yang pernah ada, aku akui itu. Tapi itu hanya terjadi saat kamu yang jadi kekasihku. Aku gak pernah bisa berpikir jernih saat kamu gak ada di sampingku. Aku selalu mengkhawatirkanmu, mencemaskanmu. Aku takut terjadi apa-apa padamu... Tapi saat kamu berada di dekatku, detak jantungku semakin tak beraturan. Bahkan aku sama sekali gak bisa berpikir dengan tenang. Dan kalau saat itu datang, aku sama sekali gak ingin kamu pergi atau berada diluar jangkauan mataku. Aku hanya ingin kamu ada untukku. Aku ingin memonopolimu untukku sendiri.”ujar Raka,”Karena itulah aku gak pernah bisa menahan emosi saat melihat kamu bersama lelaki lain. Walaupun itu hanya teman, ataupun saudara. Kamu tahu? Hari ini aku kesini karena ingin mengatakan sesuatu... Tapi yang kudapati adalah kenyataan bahwa kamu gak sepenuhnya jujur padaku. Dan ternyata itu malah membuatku semakin yakin dengan keputusan yang aku ambil.
Nara... Maukah kamu menikah denganku??”tanya Raka serius.
Semua yang hadir disana kontan terbelalak mendengar ucapan Raka, terutama Nara dan Diaz. Mereka benar-benar terkejut sampai-sampai gak bersuara sama sekali.
”Lo serius??”tanya Revan shock berat.
”Kalau aku gak serius, aku gak mungkin masih ada disini sekarang. Aku gak pernah melamar wanita manapun, termasuk Wina.”jelas Raka serius.
Nara masih terdiam. Dia duduk bersandar di sebelah Diaz. Jangankan Revan, Nara saja benar-benar gak pernah berpikir kalau Raka akan sampai melamarnya seperti ini. Apalagi dalam waktu sedekat ini sejak Raka menyatakan cintanya. Nara gak tau harus bicara apa.
”Nara... Kamu gak mungkin selamanya diam kayak gini kan?”tanya Diaz sambil menggenggam tangan Nara, tanpa memperdulikan tatapan gak suka dari Raka.
Nara menunduk, menutup wajahnya dengan kedua tangan,”Aku gak tahu harus ngomong apa. Aku benar-benar kaget. Beri aku waktu untuk memikirkannya.”ucap Nara pelan.
”Kenapa?? Bukankah kita saling mencintai?? Apa lagi yang mau kamu pikirkan?? Kamu gak suka??”tanya Raka bingung mendengar jawaban Nara.
”Bukan gitu... Aku senang kamu melamarku. Aku mencintaimu. Hanya saja semuanya gak semudah yang terlihat. Aku masih harus memikirkan banyak hal. Masih ada hal yang sangat penting yang harus aku selesaikan.”sahut Nara.
”Tapi, Nar...”
”Tolong beri aku waktu. 3 hari saja. Biarkan aku meredakan emosi yang ada di sini.ujar Nara sambil menunjuk d**a-nya.
”Baiklah kalau itu yang kamu mau. 3 hari. 3 hari ini, aku mohon pikirkan baik-baik. Aku gak akan menemuimu selama 3 hari ini, supaya kamu benar-benar bisa tenang memikirkannya. 3 hari lagi aku kesini”putus Raka.
”Makasih... Dan aku mohon, kalian semua sekarang pergi dari sini. Aku mau istirahat.”ujar Nara.
Nara mengurung diri di kamar setelah semua pengunjung tak diundang di rumahnya pulang. Nara benar-benar bingung dengan lamaran Raka yang begitu mendadak.
Saat semua masalah jadi satu di kepalanya, telpon di kamarnya berdering.
”Hallo??”
”Maaf kalau saya lagi-lagi mengganggu anda, Nona. Tapi ada hal penting yang harus saya sampaikan.”ujar suara di seberang yang ternyata adalah milik Dyon.
”Ada masalah apa, Dyon?”
”Orang tua Tuan Revin Johnson meninggal karena kecelakan kapal saat mereka berlayar dengan kapal pesiar mereka di sekitar Samudera Atlantik.”
”Kamu serius??”
”Ya, Nona.”
”Revin dimana sekarang??”
”Tuan Revin ikut tim SAR melakukan pencarian ke Samudera Atlantik. Dan mungkin ini akan memakan waktu berhari-hari.”
”Oke... Tolong cari kabar kapan Revin akan kembali ke London. Kalau dia sudah siap akan kembali, hubungi aku segera kapan saja. Aku akan langsung terbang kesana. Tolong sediakan apapun yang dibutuhkan Revin. Siapkan pemakamannya dan semua yang diperlukan. Pokoknya aku mau yang terbaik saat pemakaman mereka.”
”Baik, Nona. Kalau begitu saya akan segera mengurus semuanya. Selamat beristirahat Nona.”