Pergi dan kembali??

1514 Kata
Baru saja Nara meletakkan gagang telpon, telpon itu kembali berdering. ”Hallo??” ”Bisa bicara dengan Nara??”ujar suara di seberang. ”Ya, saya sendiri. Ini siapa??”tanya Nara karena merasa tidak mengenal suara si penelpon. ”Ini aku, Wina. Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu. Bisakah kita bertemu siang ini??” ”Tapi aku gak ingin membicarakan apapun denganmu.” ”Aku yakin kamu mau.” ”Darimana kamu punya keyakinan setinggi itu??”tanya Nara malas. ”Karena hal ini menyangkut Raka.” ”Jam berapa??” ”Jam 1 siang di Fluorish Restaurant.” “Baiklah. Aku akan datang.”ujar Nara lalu meletakkan gagang telpon kembali di tempatnya. Tepat jam 1 siang, Nara sudah sampai di Fluorish Restaurant, dia segera mencari keberadaan Wina. Dan akhirnya Nara mendapati Wina melambai padanya dari meja di dekat wall aquarium. ”Terima kasih sudah mau datang.”ujar Wina tulus. Dia masih tetap seperti dulu, cantik, bathin Nara. ”Gak masalah. Kita langsung saja, karena aku gak punya banyak waktu. Apa yang ingin kamu bicarakan?”tanya Nara to the point. ”Kamu sudah sedikit berubah ya?”gumam Wina tapi dapat didengar oleh Nara. ”Tolong langsung aja, jangan bicara hal-hal yang tidak perlu.”sindir Nara. ”Baiklah, aku tau kalau kamu sekarang bukan lagi anak SMA, tapi sudah menjadi seorang CEO perusahaan besar. Kalau begitu aku akan langsung ke pokok permasalahannya. Aku ingin kamu meninggalkan Raka.” ”Kenapa?? Atas dasar apa kamu menyuruhku untuk meninggalkan Raka?? Bukankah kalian sudah bercerai?? Dan seharusnya kamu sudah gak berhak mengatur siapa saja orang yang bisa berhubungan dengan Raka.”tanya Nara bingung. ”Benar. Tapi perceraian ini hanya berdasarkan keinginan Raka. Aku sama sekali gak punya niat untuk meninggalkannya. Apalagi...” ”Apa?” ”Aku sedang mengandung anak Raka.” ”Gak mungkin! Kalau memang iya, seharusnya kalian bisa menunda perceraian ini. Dan aku tahu, Raka bukan orang yang sangat kejam sampai-sampai dia menelantarkan anaknya begitu saja. Raka gak mungkin melakukan itu semua.” ”Aku gak menyadari kalau aku hamil sampai seminggu setelah perceraian kami. Karena itu aku mohon. Tinggalkan Raka sebelum hubungan kalian terlalu serius. Aku gak ingin anak ini gak punya ayah. Aku mohon. Aku ingin memulai kembali semuanya bersama Raka.” ”Tapi aku mencintai Raka.” ”Aku juga mencintainya. Aku rela melepaskannya kalau diantara kami gak ada anak ini. Tapi aku gak akan sanggup mengatakan pada anak ini kalau dia gak punya ayah. Aku gak sanggup. Tinggalkan Raka dan jangan pernah menemuinya. Aku mohon. Aku gak ingin anak ini besar tanpa kasih sayang dari ayahnya. Aku mohon.”ujar Wina dengan suara bergetar menahan tangis. Kasihan anak itu. Aku gak mau dia bernasib sama sepertiku, gak pernah merasakan kasih sayang orangtua..bathin Nara sedih. ”Baiklah. Aku akan meninggalkan Raka. Aku juga gak akan menemuinya. Mudah-mudahan kalian bisa bersatu kembali. Dan semoga anak ini mendapatkan kasih sayang yang cukup dari Raka.”ujar Nara,”Kalau gitu aku permisi. Ada hal yang harus aku urus. Selamat siang.”pamit Nara yang sesegera mungkin meninggalkan Fluorish restaurant. Sesampainya di rumah, Nara langsung mengemas baju-bajunya. Dia sudah berniat meninggalkan Jakarta, mungkin untuk selamanya. Nara bahkan menghubungi Ratih dan memerintahkan untuk sesegera mungkin pindah kantor ke gedung baru dan kantor yang selama Nara berada di Jakarta menjadi kantor pusat, sekembalinya Nara ke London akan kembali menjadi kantor cabang. Apalagi saat Nara dalam perjalanan pulang tadi, Dyon sempat menelpon dan mengatakan kalau Revin akan kembali ke London dengan penerbangan malam nanti. Nara meraih ponselnya dan menelpon seseorang. ”Hallo, Diaz??” ”Nara?? Ada apa??” ”Kamu ikut aku pulang ke London beberapa jam lagi yah? Orang tua Revin meninggal. Nanti malam mereka berangkat ke London, kita harus sampai sebelum itu. Kamu mau kan??” ”Baiklah. Sejam lagi aku sampai di apartement kamu.” ”Makasih...” Selesai menelpon, Nara kembali mengemas barang-barang yang dia rasa masih bisa dipakai. Setelah selesai, Nara pergi ke beranda kamarnya, memandang pemandangan dari sana. ”Maafkan aku, Raka. Aku mungkin gak akan kembali... Seandainya Wina gak datang pun, aku mungkin akan tetap meninggalkanmu. Aku tahu aku mencintaimu. Aku bahagia dengan lamaranmu. Tapi... Kenapa semuanya harus terlambat?? Aku gak bisa menjalin hubungan denganmu. Maaf Raka. Aku... Aku...”isak Nara dalam tangisnya. Nara buru-buru menghapus air matanya. Dia tidak mau terlalu lama larut dalam kesedihan. Dan saat Diaz datang tidak sampai sejam kemudian, Nara sudah siap membereskan semua barang-barangnya. Bahkan, apartement yang beberapa jam lalu masih miliknya kini sudah berganti kepemilikan. ”Nar... Ada apa sebenarnya??”tanya Diaz saat mereka berdua sudah berada di dalam pesawat. Nara memandang Diaz heran,”Maksudnya??” ”Jangan bohong sama aku. Aku tahu tujuan utama kamu kembali ke London hari ini mungkin memang untuk mempersiapkan segala sesuatu yang di butuhkan untuk pemakaman orangtua Revin. Tapi kalau cuma itu masalahnya, kamu gak akan mungkin mau mengorbankan waktu kerjamu.”jelas Diaz,”Jadi jelaskan apa masalah yang kamu hadapi sekarang.” Nara menggeleng pelan,”Gak ada apa-apa. Aku hanya sedikit mengantuk.”jawab Nara datar. ”Okay... Terserah kamu mau cerita apa enggak. Tapi saat kamu benar-benar butuh seseorang untuk bicar, ingat, aku akan selalu ada untuk kamu.”ucap Diaz lembut. ”Aku selalu ingat itu.”gumam Nara lalu memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya di lengan Diaz. Nara sampai di rumahnya di London hampir tengah malam. Semua penghuni rumahnya menyambut kedatangan Nara dengan penuh suka cita. Apalagi Nara pulang bersama Diaz, salah satu orang yang paling disenangi oleh hampir seluruh orang yang bekerja pada keluarga Shamash. Nara yang kembali tertidur dalam perjalanan dari bandara ke rumah, kini berada dalam gendongan Diaz menuju kamarnya. Diaz membaringkan Nara di tempat tidurnya kemudian menyelimuti tubuh Nara dengan selimut tebal yang ada di sana. Tepat saat Diaz akan beranjak pergi dari tempat tidur, Nara mengigau,”Jangan pergi, Paman...”ucapnya lirih. Sebutir air mata mengalir dari matanya. Diaz langsung menghapus air mata Nara itu. Dibelainya pipi Nara dengan lembut. ”Udah berapa lama kamu gak memimpikan Nero??”tanya Diaz lembut setelah mengurungkan niatnya untuk meninggalkan Nara. Diaz mengambil satu bantal Nara dan kemudian memilih untuk tidur-tiduran di sofa panjang sambil menunggu Nara bangun. Baik Nara maupun Diaz sama-sama gak ada yang terbangun saat seseorang memasuki kamar Nara. ”Apa-apa’an lo, Yaz? Ngapain lo tidur di kamar Nara. Lo kan tahu kalau Nara tunangan gw!!! Lo gak berniat ngerebut dia dari gw kan?!”tanya orang itu sambil menarik Diaz dengan paksa dari sofa. Padahal saat itu Diaz masih tidur. Diaz membuka matanya secepat mungkin untuk melihat siapa orang yang udah ngamuk-ngamuk padanya tanpa mendengar penjelasannya terlebih dahulu. ”Revin Johnson! Lo bisa gak sih nanya dulu baru marah?? Lo gak punya hak nuduh gw kayak gitu!! Kalau gw mau ngerebut Nara dari lo, gak akan mungkin gw biarin dia sampai tunangan sama lo!! Sama gw aja hubungan kami gak pernah lebih dari tunangan!”omel Diaz. ”Sorry... Gw bener-bener gak konsen. Gw gak tau apa yang gw lakukan. Gw bener-bener minta maaf.”ujar Revin setelah sadar sepenuhnya dari kantuk yang ditahannya selama 24 jam sebelumnya. ”Dengar Revin, kalau kamu takut aku sudah disentuh Diaz, kamu benar... Kamu pikir aja sendiri, selama setahun kami berhubungan, gak mungkin kami gak melakukan hubungan intim. Apa lagi kami tinggal satu rumah. Dan hanya ada satu alasan kenapa Diaz sampai berbuat nekad selingkuh. Karena saat itu aku gak ada, dan kami gak bisa berhubungan seperti biasanya.”ucap sebuah suara begitu tiba-tiba sampai membuat kedua laki-laki yang masih mengantuk itu segera sadar. ”Nara... Itu gak benar! Kamu tahu itu.”tukas Diaz. ”Ya... Diaz benar... Kamu gak mungkin mau melakukannya. Dan aku percaya Diaz gak akan berani melakukan hal itu padamu. Karena kami sama. Buat kami, kamu adalah orang yang paling berharga yang ingin selalu kami jaga tanpa berniat untuk merusaknya.”jelas Revin. Diaz mengangguk dalam,”Ya... Karena kalau hal itu sampai terjadi, aku gak yakin kamu masih ’bersih’ sampai saat ini... Karena setiap wanita yang berhubungan denganku pasti sudah ’kotor’...”sahut Diaz. Nara tersenyum sinis,”Kalau kalian tau itu, kenapa kalian berantem tadi?? Ada yang bisa memberi penjelasan padaku??”tanya Nara serius. ”Kami minta maaf.”ujar Revin dan Diaz bersamaan. ”Itu bagus. Oh ya, bagaimana dengan pemakaman Paman dan Tante, Vin??”tanya Nara serius. ”Tenang saja. Pemakaman mereka sudah selesai sebelum aku kembali kesini. Mereka sudah lama berpesan agar saat mereka meninggal, mereka dimakamkan di Athena.”jelas Revin sambil menghempaskan badannya ke sofa terdekat. Nara mengikuti jejak Revin,”Maaf, karena aku gak bisa ikut pemakaman mereka. Tapi suatu saat, tolong antar aku ke tempat mereka dimakamkan.”ujar Nara pelan,”Oh ya, aku mau minta satu hal pada kalian. Bisa??”tanya Nara kemudian. ”Pasti bisa”sahut Revin dan Diaz bersamaan. ”Aku ingin ke suatu tempat. Tapi kalian wajib menemaniku hari ini.”ujar Nara sok serius. ”Dengan senang hati!”sahut Diaz. ”Bukan masalah.”jawab Revin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN