Nara Ability

2401 Kata
Nara terbangun keesokan paginya dengan mata penuh lingkaran hitam. Nara sama sekali tidak bisa memejamkan matanya semenit pun. Insiden Raka menciumnya, membuat Nara shock berat untuk kedua kali dalam hidupnya. Memang, itu bukan ciuman yang pertama buat Nara. Tapi tetap saja Nara tidak bisa menerimanya. Karena ciuman Raka adalah ciumannya yang kedua, dan dua-duanya direbut paksa. Yang pertama sewaktu SMP, ada seorang cowok yang merebut first kiss Nara di malam promnite senior kelas 3, waktu itu Nara kelas 2. Dan gara-gara itu, Nara setengah mati membenci cowok itu sampai meninggalkan sekolah umum dan memilih untuk home schooling. Dan sekarang ciuman keduanya juga dilakukan tanpa keinginannya oleh orang yang sifatnya mirip banget dengan cowok yang merebut ciuman pertama Nara. Tipe orang egois yang akan melakukan segala cara, halal gak halal, supaya semua yang dia mau terlaksana. Nara mengutuk nasibnya kenapa harus selalu bertemu dengan orang seperti itu. Nara masih sempat mengkompres kedua matanya sebelum keluar untuk sarapan, sehingga saat dia bertemu Raka di meja makan, lingkaran hitam dibawah matanya sudah menghilang. Tidak ada sedikitpun tampak tanda-tanda kalau Nara tidak tidur sama sekali. Sedangkan Raka sudah terlihat rapi dengan stelan kerjanya. “Hari ini kamu ku antar. Jadi gak usah berangkat sama Diana.”ujar Raka tenang seakan gak terjadi apa-apa diantara mereka tadi malam. “Tapi aku udah janji untuk berangkat bareng Diana.”ujar Nara sambil mengambil selembar roti lalu mengolesinya dengan selai strawbery. “Kalau begitu, ajak saja Diana sekalian.”ucap Raka mudah, semudah membeli kacang dipasar. Nara menatap Raka dengan pandangan penuh kebencian,”Jangan egois lah! Aku udah janji duluan dengan Diana daripada tawaran kamu untuk mengantarku. Lagian Diana dijemput sama pacarnya, gak mungkin dia membatalkan janji kami begitu aja hanya karena kamu yang memintanya.”tegur Nara sambil menahan dalam-dalam emosinya. Tepat pada saat itu, bel rumah berbunyi. Nara berjalan ke pintu depan dan membukanya. Revan berdiri dengan senyumannya saat melihat Nara. “Revan??” “Hai... Mulai hari ini, gw yang antar jemput lo. Gak enak banget kalau kita bareng Diana sama Reno. Biarkan orang berdua itu punya dunia mereka sendiri.”ujar Revan cepat. “Mau sarapan dulu??”tawar Nara. Revan menggeleng cepat,”Gw gak biasa sarapan... Lo udah siap??”tanya Revan. “Udah.” “Kita berangkat sekarang??” “Oke, aku ambil tas dulu yah?”ucap Nara lalu kembali ke ruang makan. Dilihatnya Raka masih membaca koran, dengan enggan Nara pamit pada Raka,”Aku berangkat dulu.”pamit Nara berusaha terdengar sopan. Raka melipat koran yang tadi dibacanya,”Jadi itu alasan kamu yang sebenarnya kenapa gak mau aku antar?? Harus berapa kali kubilang kalau kamu itu pergi sekolah, bukan pacaran!”ucap Raka dingin. “Aku bukan...” “Sudahlah. Yang jelas, jangan sampai terlambat pulang. Jam dua guru privatmu sudah tiba.”tegas Raka lalu masuk ke ruang kerjanya. Hate point Raka bertambah dalam hidup Nara. Dengan perasaan penuh emosi, Nara berjalan keluar, menuju mobil Revan. “Lo koq jadi kusut gitu sih?”tanya Revan saat mobilnya mulai melaju. Nara mendengus kesal.”Biasa, Raka... Dia cari gara-gara lagi sama aku.” “Kenapa lagi sih?” “Udahlah, semakin aku ingat tentang dia, semakin eneg aku buat sekolah. Tolong jangan bahas tentang dia atau apapun yang ada kaitannya dengan dia.” “Oke, gini aja, ntar pulang sekolah kita jalan-jalan biar lo gak bete’ lagi. Okay??”tawar Revan lalu memamerkan senyum komersilnya. Nara menggeleng pelan,”Sorry, aku gak bisa. Raka bilang hari ini aku harus pulang cepat karena jam dua guru privat ku sudah datang.” “Dia sampai ngatur jadwal belajar kamu??”tanya Revan gak percaya. “Semuanya dia yang ngatur. Kapan aku pulang, sama siapa aku pergi, jam berapa aku tidur, hari apa aku privat, hari apa aku beresin rumah, hari apa aku masak, berapa uang saku-ku, untung aja jadwal mandi aku gak dia juga yang menentukan” “Sabar, yah... Kalau lo memang bener-bener gak tahan lagi, lo bisa ke rumah gw. Rumah gw selalu terbuka buat lo. Lo bisa tinggal disana, tanpa harus mikir kapan masak atau kapan beresin rumah. Lo bisa anggap kayak rumah sendiri.” “Ye... Ngapain juga aku kerumah kamu.” Sepanjang perjalanan ke sekolah, Nara benar-benar melupakan masalah Raka. Revan berhasil membuatnya melupakan semua masalah yang ada. Tapi semuanya hanya bertahan sebentar. Senyuman di wajah Nara menghilang saat dia mendengar pembicaraan anak laki-laki di kelasnya. “Gw tadi denger bokap gw ngobrol bareng nyokap di ruang makan. Bokap bilang, CEO perusahaannya meninggal, dan semua harta kekayaannya jatuh ke tangan keponakannya yang seumuran kita.” “Kira-kira apa aja yang bakalan diwarisin tuh anak??” “Wah... Itu dia! Kata bokap, The Shamash Company itu banyak banget perusahaan cabangnya. Itu baru untuk satu divisi doank. Nah, dia sendiri aja perusahaan segala bidang, kebayang gak sama otak lo berapa ratus perusahaan yang bakal diwarisinnya??” Bukan ratusan perusahaan, ribuan malah... Di Eropa aja satuannya udah berapa ratus cabang gitu kalo di total dari semua bidang. Belum yang ada di Amerika sama Amerika Selatan. Gak dikit tau,bathin Nara. “Gila!! Kaya banget dia. Ponakannya cewek apa cowok??” “Kalau gw gak salah cewek lho. Namanya Titanara apa gitu. Panjang banget namanya, susah lagi disebut.” “Coba dia ada disini ya, pasti udah gw pacarin. Kan enak tuh punya cewek orang kaya. Gak keluar duit, guys!” BRUAK!! Nara menendang kursi di dekatnya hingga terjatuh. Semua anak yang ada di dalam kelas langsung memandangnya dengan tatapan curiga. “Sorry... Ketabrak. Aku ganggu ya??”ujar Nara sambil tersenyum, padahal dalam hati, dia bahkan lebih kejam dari semua pembunuh, semua maling, semua rampok, pokoknya lebih brutal dari semua penjahat yang ada. “Matre!!”celetuk Diana yang tiba-tiba sudah berada di samping Nara. “Gak salah donk, Na. Punya pacar orang kaya tu asyik lagi. Lo aja juga pacaran sama orang kaya kan??”ujar seorang cowok yang bilang kalau Nara ada disini, bakalan dia pacarain. “Eh tolong ya, gw pacaran sama Reno gak ada hubungannya sama harta. Dan kalau kalian masih berniat membahas masalah ini, lihat aja apa yang bakal gw lakukan.”tegas Diana sedikit emosi. Tidak ada yang berani melawan kata-kata Diana. Semuanya memilih untuk diam dan baru berkomentar kalau Diana gak ada di kelas. Diana langsung duduk di tempatnya, di sebelah Nara. “Ngapain lo tadi sampai nendang kursi??”bisik Diana pelan. Nara menatap Diana dengan curiga,”Gak ada, aku cuma gak suka aja dengar orang tu ngomong kayak gitu. Sok kecakepan...”jawab Nara pelan. “Iya sih. Tapi ngomong-ngomong si Titanara tuh hebat yah? Umur segini dia udah jadi pimpinan tertinggi perusahaan sebesar itu.”puji Diana. Hebat dari Hongkong! Merana yang ada. Liat ni aku! Apanya yang hebat hidup kayak gini?? Kalau ada yang mau gantikan aku, silahkan! Hoi!! Ada yang mau gantikan aku gak?? Dengan senang hati nih...bathin Nara kesal. “Kamu tau juga berita itu??”tanya Nara. “Iya dong! Papa kan kerja di kantor cabang Shamash Company bidang konstruksi bangunan divisi pengembangan.”sahut Diana tanpa bisa menyembunyikan kebanggaannya. “Papa kamu suka gak kerja di sana??”tanya Nara tiba-tiba tertarik untuk mengetahui pendapat orang tentang perusahaannya. “Menurut gw, papa asyik-asyik aja kerja disana. Papa gak pernah ngeluh apa-apa. Malah papa sering banget muji kantornya. Yang katanya gaji selalu up to date lah, kalau ada karyawan yang salah, benar-benar diselidiki kenapa dia bisa berbuat salah, kalau alasannya masih bisa dimaklumi, gak ada SP...”jelas Diana pelan karena guru yang akan mengajar sudah memasuki kelas. “Baguslah...”gumam Nara pelan. “Apanya yang bagus, Vel??”tanya Revan tiba-tiba. Nara langsung salah tingkah,”Gak ada apa-apa kok.”elak Nara. “Oh ya, lo punya hp kan?? Minta donk nomornya...”ujar Revan dengan wajah lucu. “Gak ada. Aku gak punya hp.”ujar Nara jujur. “Masa’??”ucap Reno tertarik mendengar jawaban Nara. “Serius lo, Vel?”desak Revan. “Serius lagi. Kamu kan tahu sendiri uang saku-ku berapa sebulan. Gak mungkin dong aku pakai juga untuk beli pulsa.”jelas Nara pelan. “Hey yang dibelakang!! Kalian berempat tidak ada yang memperhatikan saya!! Maju kalian berempat sekarang!”ujar Bu’ Simanjuntak dengan wajahnya yang emang udah galak dari lahir. “Well... Kita dapat masalah.”gumam Nara lalu bangkit dari tempat duduknya diikuti oleh Diana, Reno dan Revan. “Kalian harus menjawab semua pertanyaan saya dengan tepat kalau tidak ingin saya kirim ke ruang pembinaan.”tegas Bu’ Simanjuntak. “Pembahasan kelas berapa, Bu’??”tanya Reno terdengar agak cemas. “Dari kelas 1. Kalau ada yang bisa jawab dengan benar semua pertanyaan saya, kalian berempat bebas hukuman.” “Yah, Bu’... Masa dari kelas 1... Kelas 3 aja deh, Bu’? Ya, Bu’ ya?? Ibu’ cantik deh.”ujar Revan mulai merayu. “Dari kelas 1!”tegas Bu’ Simanjuntak,”Kalau jawabannya sempurna, akan saya bebaskan dari hukuman.” “Promise??”tanya Nara berani. “Ya.”sahut Bu’ Simanjuntak,”Pertanyaan pertama siapa nama ilmuwan dan pada tahun berapa dia mengembangkan sistem 5 kingdom?” “Whitaker tahun 1969”jawab Nara yakin. “Ciri-ciri hewan yang tergolong Pisces?” “Vertebrata, otak terlindung oleh cranium, rangka berupa endoskeleton, poikiloterm, bersisik, fertilisasi eksternal, bersifat ovipar, alat gerak berupa sirip.” “Jelaskan mengenai Rhizobium leguminosarum dan Lumbricus terrestis.” “Rhizobium leguminosarum merupakan bakteri yang hidup bersimbiosis dengan akar kacang-kacangan sehingga mampu mengikat nitrogen sehingga dapat menjadikan tanah menjadi subur. Lumbricus terrestis merupakan cacing (Oligochaeta) yang makan zat-zat organik dari sisa-sisa organisme mati terutama tumbuhan mati keadaan ini dapat meningkatkan kesuburan tanah.” “Cara untuk menghindari erosi tanah?” “Reboisasi terhadap hutan gundul, perbaikan sistem saluran air, membuat terasering atau sengkedan pada tanah miring, pembajakan tanah dengan arah melintang terhadap kemiringan tanah, pengaturan tanaman secara selang seling antara tanaman berakar banyak dengan tanaman berakar sedikit.”ujar Nara menjawab semua pertanyaan yang diberikan padanya dengan benar,”Maaf Bu’, saya hanya ingin bilang kalau semua buku teks kelas 1 sampai kelas 3 sudah saya hapal isinya. Sekaligus semua pertanyaan disana sudah saya jawab saat senggang. Jadi kalau ibu hanya menanyakan masalah itu, saya pasti bisa menjawab semuanya dengan benar.”sambung Nara kemudian. Revan, Diana, dan Reno berdecak kagum mendengar jawaban Nara. Dan akhirnya Bu’ Simajuntak membebaskan Nara cs dari segala hukuman. Setelah berjanji gak akan membuat keributan dan tidak menyepelekan pelajaran lagi, barulah Nara cs. duduk kembali di tempat mereka. Dan akhirnya setelah bel pergantian jam pelajaran berbunyi, Diana langsung memborbardir Nara. “Vel, gw gak tau lo punya masalah apa, tapi dari yang gw tangkap koq kayaknya lo sama Kak Raka gak akur yah?”tanya Diana sebagai permulaan. Nara mendengus,”Bukannya gak akur lagi, aku benci setengah mati sama dia.” “Tapi dia ramah lho.”tukas Diana. “Sama orang lain mungkin, tapi enggak sama aku. Tadi malam aja dia sampai...”ucapan Nara terputus. “Sampai apa, Vel??”tanya Revan penasaran. “Dia ngamuk aku pulang telat. Dan yang gak bisa dia tolerir adalah kenapa aku harus pulang sama kamu. Dia nyangka kita pacaran.”jelas Nara. Gak mungkin kan aku bilang sama mereka kalau aku dicium Raka dengan paksa? Mereka pasti kaget... Orang aku sendiri masih shock juga...bathin Nara. “Kalian tadi malam keluar berdua?? Kok gak ada yang ngasi tau gw?”tuntut Reno. Revan mengalungkan tangannya di leher Reno,”Emang lo siapa??”tanya Revan,”Gimana kalau kita realisasikan kecurigaan dia??”tanya Revan sambil memandang Nara. “Maksudnya??”tanya Nara bingung. “Lo gak ngajak dia bener-bener pacaran kan?”tanya Diana cemas. “Gw serius kali.”tegas Revan. Diana menggeleng cepat,”Gak mungkin! Gw tau gimana reputasi lo dalam pacaran, dan gw gak mau kalau Vela ikut rusak!”tegas Diana. “Hei-hei... Gw gak pernah ngajak cewek manapun buat pacaran ya. Mereka yang ngajak gw. Gw baru sekali ini ngajak cewek pacaran lho. Dan gw juga gak pernah ngapa-ngapain mereka. Kalau mereka rusak, itu berarti mereka udah rusak sejak sebelum pacaran sama gw atau setelah putus dari gw. Bukan gw lagi yang ngerusak mereka. Gak nafsu lagi gw sama mereka. Lagian gw tuh bukan tipe cowok yang bakal langsung tidur sama cewek yang gw pacari. Gila aja! Kena AIDS kan ngeri juga gw.”ujar Revan jujur. Nara tersenyum,”Udah, percuma kalian bertengkar kayak gini.”ucap Nara pelan,”Van, sorry, bukan aku benci sama kamu, tapi aku masih belum mau pacaran dengan siapapun. Aku belum ada niat buat punya pacar.”ujar Nara serius. “Yes!”sorak Diana. Reno sama sekali gak berpendapat apapun, karena yang bertengkar adalah sahabat terpenting dan pacar tersayangnya. Reno gak ingin memihak siapapun. Jadi, saat mendengar keputusan Nara, Reno sama sekali gak bereaksi. Sedangkan Revan tetap berusaha mempertahankan sikap cueknya. “Kalau itu yang lo mau, gw gak masalah. Tapi asal lo ingat, gw bakal terus nunggu lo. Gw benar-benar tertarik sama lo.”ucap Revan bersahabat. “Oh ya, Vel... Ngomong-ngomong, lo kok lancar sih bahasa Indonesia? Lo orang luar asli kan??”tanya Reno yang selama ini berusaha menahan rasa penasarannya. “Ha ha ha... Akhirnya ada juga yang nyadar.”ujar Nara setengah tertawa,”Aku tuh lancar banget bahasa Indonesia karena, walaupun namanya agak kebarat-baratan gitu, keluarga papa aku tuh Indonesia asli, murni.”jelas Nara. “Terus, ini yang mau gw tanya sejak tadi. Lo koq lancar benget ngejawab pertanyaan Bu’ Simanjuntak?? Itu bukan pelajaran yang mudah diingat lho? Apalagi tadi itu bukan hanya pelajaran kelas 3.”tanya Revan serius. “Alah bilang aja lo takut disaingin, iya kan??”ledek Diana sambil menyikut Revan. “Ha ha ha... Juara satu sekolah udah takut kehilangan singgasananya nih.”ujar Reno tambah meledek Revan. “Ah diem deh kalian.”tegur Revan yang gak suka kalau peringkatnya di sekolah, jadi penyebab retaknya hubungan pertemanan mereka. Nara tersenyum,”Mungkin aku harus benar-benar bersyukur sama Tuhan, ya... Karena aku diberi kelebihan bisa mengingat apapun yang aku lihat, walaupun cuma sesaat. Walaupun aku gak mau ingat, tapi tetap aja, apapun yang aku liat, bakal terekam dengan baik dalam memoriku...”jelas Nara. “Kereeeennnn!!!”seru ketiga temannya kompak, hampir membuat atap kelas lepas dari tempatnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN