“Hoi, yang bener lo??”tanya Revan gak percaya mendengar apa yang diucapkan lawan bicaranya ditelpon.
“Yeah. Gw bakal pindah ke Jakarta. Ke sekolah lo. Gw udah gak ada alasan lagi lama-lama di London, lagian Dad sama Mom udah lama ke Jakarta.”
“Oke, gw tunggu lo disini. Tapi lo cepetan kesini ya. Soalnya dikelas gw ada anak baru yang cakep lho!”
“Oh ya? Siapa namanya?”
“Vela, Vela Carina, pindahan dari London juga.”
“Gw jadi penasaran... Apa gw kenal sama cewek ni ya?. Oke, akan gw percepat keberangkatan gw... Wait me.”
“Of course. Tapi gw bener-bener penasaran sama ni cewek.”
“Kenapa lagi emang??”
“Lo tau kan kalau disekolah, gw termasuk the triangle star?? RDR gitu biasanya orang manggil kami.”
“He eh.”
“Nah itu dia... Semua orang yang ketemu kami atau minimal sehari main sama kami, pasti langsung ngerasa ‘kecil’”ujar Revan,”Eits, tunggu dulu. Bukannya gw mau nyombong. Tapi ya itu, kalau gw perhatikan, dia jauh lebih banyak memberikan pengaruh sama kami daripada pengaruh kami ke dia. Sumpah, gw penasaran banget sama dia. Dan asal lo tau, baru kali ini Diana ngelarang gw pdkt sama cewek untuk pertama kalinya.”
“Gw jadi lebih penasaran, gimana sih sebenarnya ini cewek sampai bisa ngebuat seorang Revan penasaran. Seorang Revan yang biasanya dikejar-kejar cewek, eh sekarang malah ngejar cewek.”
“Alah elo... By the way, gebetan lo gimana?”
“Buruk. Gw malah gak tau dia ada dimana sekarang. Gw udah ngelakuin semua hal yang terpikirkan sama gw, tapi dia tetap gak tertarik sedikitpun sama gw. Mana baru-baru ini satu-satunya keluarga yang dia punya meninggal. Gw pingin banget ngehibur dia, meluk dia kalau nangis. Tapi selama pemakaman, dia gak nangis. Gw tau dia kuat, dia tegar. Tapi, apa sedikitpun dia gak sedih atas meninggalnya keluarganya??”
“Gak nangis bukan berarti gak sedih, g****k! Kali aja karena dia tau lo ada di sana makanya dia gak mau terlihat lemah. Atau mungkin, dia udah kebanyakan nangis kali? Makanya udah gak bisa keluar lagi air matanya.”
“Mungkin karena gw ada di sana makanya dia sok kuat. Dia kan benci banget sama gw.”
“Gw jadi simpati sama lo.”
“Gak butuh kali. Mendingan lo kasih gw apa gitu. Duit, coklat, apa lah gitu. Masa’ lo cuma bisa ngasi gw simpati.”
“Eh monyet lo...”maki Revan.”Ow ya, udahan dulu yah. Pulsa gw entar bengkak nih...”
“Okay. Tunggu kabar dari gw ya?”
“Seph, Bos!”
Revan mengakhiri pembicaraannya di telpon. Setelah meletakkan gagang telpon pada tempatnya, Revan menyambar kunci mobilnya di atas tempat tidur dan langsung berlari menuruni dua anak tangga sekaligus.
Walaupun pas keluar rumah tadi Revan semangat 45, tapi setelah sampai di jalanan, Revan malah bingung mau kemana. Akhirnya Revan hanya mutar-mutar bingung di bundaran HI. Setelah puas muterin bundaran HI tujuh kali, barulah Revan beranjak dari sana. Dan itupun tujuannya cuma supermarket.
Saat baru turun dari mobil, Revan menangkap siluet seseorang yang dikenalnya. Tanpa membuang waktu, Revan berjalan cepat menghampiri orang itu.
“Vela!!”panggilnya kuat pada seorang gadis yang mengenakan jaket biru tua dengan ransel penuh dipunggungnya.
“Revan?!”ucap gadis itu dengan ekspresi tak percaya. Ekspresi yang mungkin muncul kalau melihat kuntilanak muncul siang-siang bolong di mall buat cari baju baru.
“Lo mau kemana?? Tas lo penuh banget.”tanya Revan sambil melirik ransel yang dibawa Nara.
“Kabur.”
“Kenapa??!!”
Nara memandang Revan dengan tatapan menyelidik, tapi sesaat kemudian dia menghela nafas panjang,”Panjang ceritanya, Van.”ucap Vela pelan.
“Lo bisa percaya sama gw. Cerita aja... Kita cari tempat, yah??”bujuk Revan lembut.
Nara sama sekali gak melakukan penolakan, saat Revan membawanya ke sebuah restoran mewah dengan mobil Revan.
“Jangan disini... Pasti mahal.”tolak Nara mengingat uang sakunya yang benar-benar minim untuk ukuran seorang Nara yang biasanya dapat uang saku sekitar £500 per harinya.
“Udah, lo tenang aja. Kan gw yang maksa lo buat cerita, jadi gw yang bayar semuanya... Oke??”ujar Revan meyakinkan.
“Tetap aja... Walaupun itu uang kamu, yang keluar pasti gak sedikit. Aku malah jadi gak enak...”tolak Nara halus.
“Jadi lo maunya dimana?”tanya Revan mengalah.
“Kita cari warung di pinggir jalan aja yah?”
“Oke.”
“Jadi itu yang membuat lo pindah dari London ke Jakarta??”tanya Revan sambil menyeruput teh manis pesanannya.
Nara selesai menceritakan kenapa dia pindah ke Jakarta dan kenapa dia bisa kabur malam-malam dari rumahnya. Tetapi Nara masih ingat dengan jelas, kalau dia dilarang memberitahukan siapa nama dia sebenarnya. Bahkan Nara juga tidak menceritakan masalah surat wasiat itu. Nara hanya mengatakan kepada Revan kalau kedua orangtuanya meninggal saat dia berumur 3 tahun, dan sejak umur segitu dia diasuh oleh adik ibunya. Dan baru-baru ini, keluarga satu-satunya itu meninggal. Karena itulah Nara harus pindah ke Jakarta, tempat Raka, orang yang dipercaya Pamannya untuk mengurus Nara hingga tamat SMA.
“Ya, dan buat aku itu gak jadi masalah. Masalah terbesarnya adalah kenapa aku harus tinggal sama orang seperti Raka itu.”geram Nara.
“Raka tuh orangnya nyebelin banget ya??”
“Bukan nyebelin lagi. Tapi dia udah masuk level memuakkan.”
“Udah, cuekin aja. Semakin lo protes sama dia, dia malah semakin ngerasa menang. Dia akan semakin merasa kalau dia berhak buat ngatur lo.”
“Jadi, menurut kamu aku harus nurut aja gitu??”
“Ya gak harus nurut terus sih, awalnya aja. Ntar kalau situasi udah memihak ke elo, elo baru berontak.”ucap Revan semangat.
“Tapi... Bukannya kalau aku nurut malah dia ngerasa berhasil ngatur-ngatur hidupku??”
“Bisa iya, bisa enggak. Kali aja dengan lo nurut sama dia, lama kelamaan dia jadi bosan sendiri ngatur-ngatur hidup lo..”
“Tapi...”
“Ayo donk… Masa cuma buat 7 bulan aja lo gak bisa?? Fight girl!!”ujar Revan memberi semangat,”Ingat, lo punya gw, Diana, dan Reno yang bakal selalu ngedukung dan ngehibur lo. Kami bakal selalu ada di samping lo saat lo butuhin. Itu kan gunanya teman??”
“Hei, kita baru ketemu hari ini lho!”
“Buat gw yang namanya teman gak harus yang udah kenalan bertahun-tahun. Kalau gw suka lo at the first sight ya gw temenin.”ujar Revan terdengar serius di telinga Nara.”Lo gw antar pulang, ya?? Udah malam, gak baik cewek pulang sendirian. Apalagi naik angkutan umum.”tawar Revan kemudian.
“Oke.”
“Tapi sebelum itu gw mau ngajak lo ke suatu tempat. Cuma bentar koq... Dan gw yakin lo pasti suka.”
“Boleh, deh...”
Revan turun dari mobil dan mengantar Nara sampai depan pintu rumahnya.
“Jadi yang itu yang namanya Dheo?? Keren lho cara dia bawa mobil.”ujar Nara sambil duduk di kursi yang ada di teras.
“Apa gw bilang. Awal dia ikut drag race, gak ada seorangpun yang percaya sama kemampuan dia, cuma Derby yang percaya. Untungnya dia memang bener-bener anak ajaib, dia bisa mengubah semua pendapat hanya dalam waktu 3 hari. Gara-gara itu juga gw bisa kenal sama dia...”
“Orangnya juga ramah. Pasti banyak yang suka sama dia kan??”
“Banyak banget!!”
“Ha ha ha....”
“Ah udahlah. Ingat yang gw bilang yah? Fight!!”ujar Revan menyemangati,”Have a nice dream, baby...”ucap Revan lembut lalu mencium sekilas dahi Nara.
“Alah... Banyak gaya. Thank’s buat semuanya ya, guys.”ujar Nara tanpa memprotes tindakan Revan padanya,”Aku gak tau, kalau gak ada kamu, mungkin aku udah beneran kabur, terus kerja sambilan buat cari duit beli tiket balik ke London. Soalnya aku lebih ngerasa bakalan tetap hidup walaupun luntang lantung setahun di London, daripada luntang lantung seminggu disini.”
Dan tanpa sepengatahuan mereka, ada sepasang mata elang yang memperhatikan keduanya sejak turun dari mobil. Sepasang mata yang hanya melihat, tapi tidak mendengar apa yang diucapkan oleh Nara dan Revan.
“Dari mana saja kamu?”tanya Raka saat Nara menutup pintu rumah dibelakangnya.
Nara yang tidak menduga hal itu langsung terlonjak kaget dan segera mencari darimana suara khas itu berasal.
“Raka?!”ucap Nara begitu melihat Raka menghidupkan lampu ruang tamu.
“Kenapa kaget gitu?? Takut ketahuan kalau pergi pacaran??”tanya Raka sinis,”Aku menyuruh kamu sekolah, bukan cari pacar! Tapi aku salut sama kamu, di hari pertama sekolah aja udah dapat pacar anak tunggal pemilik sekolah. Buat menutup semua kekurangan biaya hidup kan??”
“Aku...”
“Ada pembelaan atas semua yang kulihat, gadis kecil?? Seorang gadis pulang hampir tengah malam diantar seorang cowok. Dan cowok itu memberikan ciuman pada sang gadis. Kesimpulan apa yang bisa diambil dari adegan itu?? ”tanya Raka sambil berjalan mendekati Nara.
Nara menggeleng kuat,”Aku gak akan membela diriku, karena aku gak salah padamu atas apapun. Aku juga gak berhutang penjelasan apapun padamu. Tapi yang jelas aku mau kamu ingat, aku bukan gadis kecil. Jangan memanggilku seperti itu lagi! Aku sudah dewasa.”kecam Nara lalu pergi meninggalkan Raka.
Belum sempat Nara melangkah lebih jauh, tangan Raka sudah mencengkram lengannya,”Buktikan kalau kamu bukan gadis kecil...”ujar Raka serak sambil mendekatkan wajahnya dengan wajah Nara.
Raka semakin dekat, Nara bisa merasakan hembusan nafasnya, dan tiba-tiba Raka mencium Nara. Nara tidak bisa melawan. Satu tangan Raka mencengkram lengan Nara sementara tangannya yang satu lagi memegang belakang kepala Nara, menahannya. Dengan satu tangan yang bebas Nara memukul d**a Raka sekuat yang dia bisa. Tapi usahanya sia-sia karena Raka sama sekali tidak menghentikan ciumannya. Bahkan Raka semakin memperdalam ciumannya.
Raka baru melepaskan Nara saat keduanya sama-sama kehabisan nafas,”Melawan ini aja gak bisa, udah minta diakui dewasa. Atau jangan-jangan, ini baru yang pertama buat kamu??”ucap Raka tanpa perasaan bersalah yang kemudian pergi masuk ke dalam kamarnya meninggalkan Nara dengan segunung kebencian yang terpendam.
Sementara itu Revan menelpon seseorang, seseorang yang tadi berbicara dengannya di telpon.
“Tumben lo nelpon pake hp. Biasanya pake’ telpon rumah melulu.”sahut suara diseberang.
“b******k lo.”umpat Revan,”Gak ada masalah penting sih yang mau gw bicarain sama lo, gw cuma mau bilang aja, supaya lo gak kaget ntar kalau udah nyampe di Jakarta, gw positif mengalami yang namanya Love at the firs sight sama Vela.”
“Gila lo?!”
“Alah, lo juga sama kayak gw.”
“Ow yeah??”
“Lo juga gak lama kan kenal sama gebetan lo. Trus kenapa lo bisa sampai ngejar-ngejar dia dan tega ngelakuian segala cara buat menarik perhatian dia??”
“Iya iya... Sorry. Gw sama kayak lo.”
“Kan ngaku juga lo. Eh udah dulu yah, ntar tagihan pulsa gw bengkak terus Papa ngamuk-ngamuk lagi di rumah. Cepetan kesini yah?”ujar Revan mengakhiri pembicaraannya.