Begin (Part 1)

3787 Kata
Akhirnya setelah marah-marah seharian, Nara memutuskan untuk pindah ke Indonesia. Nara tidak mau kalah dengan tantangan terakhir yang diberikan Nero. Nara harus bisa memenangkan tantangan terakhir dari Nero. Walaupun sebenarnya tanpa diketahui Nara, tantangan sesungguhnya bukanlah hidup di Indonesia dengan dana yang minim, uang bulanan yang dibatasi Nero sangat jauh dari uang bulanan yang biasa diterima Nara. Uang bulanan Nara yang biasanya bahkan cukup untuk membeli 1 buah unit mobil tiap bulannya. Tantangan sesungguhnya akan menguji Nara di berbagai hal. Dan Nero tahu dengan pasti bahwa Nara sangat tidak mempercayai akan adanya hal ini. Nara menyukai semua perjalanannya ke luar negeri. Hanya ke Indonesia saja dia tidak suka. Dan itu dikarenakan salah seorang sahabatnya meninggal saat terjadinya ledakan bom di hotel J.W Marriot. Sejak saat itu Nara sangat membenci Indonesia. Dia pernah berjanji tidak akan pernah mengunjungi Indonesia. Tapi saat ini, Nara mengesampingkan semuanya. Yang dia pikirkan saat ini hanya bagaimana cara supaya bisa secepatnya menyelesaikan tantangan Nero. Dengan hanya membawa sebuah travel bag, Nara celingak celinguk mencari orang yang menjemputnya di bandara Soekarno-Hatta. Hampir sejam lamanya Nara menunggu sebelum akhirnya seorang laki-laki yang mengenakan kaos putih dan celana jeans mendatangi Nara, “Kamu Vela Carina??”tanya laki-laki itu dengan suara beratnya. “Gak, aku....”Nara nyaris menyebut nama aslinya kalau saja dia tidak ingat saat itu dia sudah berada di Jakarta,”Eh, iya. Aku Vela Carina. Lama banget sih jemputnya?! Lagian aku koq sabar banget yah, disuruh nunggu jemputan yang gak profesional gini...”omel Nara tanpa memandang orang yang bicara dengannya. “Kamu benar-benar Vela Carina??”tanya laki-laki itu lagi. “Iya!! Gak percaya amat sih!?”tegas Nara langsung menatap galak laki-laki di depannya. Nara yang tadinya sudah ingin mengomel lebih lanjut langsung terdiam. Di depannya berdiri seorang laki-laki berkaos putih yang sangat tampan. Wajahnya terlihat tegas dengan mata elangnya. “Kenalkan, aku Raka, yang akan menjadi wali kamu selama kamu di Jakarta. Aku harap kamu gak membuat banyak masalah. Aku benci harus menyelesaikan masalah.”ujar laki-laki yang mengaku bernama Raka itu dengan datar. Sialan, si Paman. Kenapa aku harus bertemu makhluk sejenis Revin Johnson. Padahal salah satu alasan aku pindah ke Indonesia karena ingin menghindar dari Revin. Eh, sekarang malah ketemu dan bakal tinggal sama orang sejenis Revin, bathin Nara sambil mengamati Raka. “Apa kamu masih mau mengamatiku hingga malam?? Asal kamu tahu, kerjaanku bukan hanya menjemput kamu. Aku masih punya setumpuk pekerjaan lagi dirumah yang harus kutinggalkan karena harus menjemput kamu disini. Dan sekarang kamu hanya diam mengamatiku seakan aku bom waktu yang setiap saat bisa meledak.”ujar Raka dingin,”Kalau kamu gak bergerak juga dan mengikutiku segera, aku akan meninggalkanmu disini. Terserah kamu mau tinggal dimana nanti.”sambung Raka lalu berbalik dan berjalan pergi. Nara setengah berlari mengikuti Raka,”Maaf... Aku hanya...” “Sudahlah. Cepat masuk mobil.”tukas Raka sebelum Nara menyelesaikan ucapannya. Baik Nara maupun Raka sama-sama diam selama perjalanan menuju rumah Raka. Akhirnya setelah setengah jam perjalanan, mobil yang mereka naiki berhenti di halaman sebuah rumah minimalis yang nyaman. Raka turun dan langsung berjalan ke teras rumah tanpa sedikitpun berniat untuk menurunkan travel bag Nara. “Selamat datang dirumahku.”ujar Raka sambil membukakan pintu rumahnya. Nara hanya terdiam melihat rumah Raka. Dan memilih cepat-cepat masuk sebelum Raka berniat mengurungnya diluar. “Rumah yang asri, walaupun besarnya gak sampai sepersepuluh rumahku...”gumam Nara pelan. “Kamu bilang apa??”tanya Raka cepat. Nara langsung salah tingkah,”Gak ada... Aku gak bilang apa-apa koq...”jawab Nara.”Oh ya, kamarku yang mana??”tanya Nara. “Ini kamar kamu.”ujar Raka sambil membuka sebuah pintu dan memperlihatkan sebuah kamar berukuran 3x4 yang tertata rapi. Isi kamar itu cukup lengkap, sebuah spring bed single, lemari pakaian dua pintu, dan meja belajar plus komputer. Nara memasuki kamar barunya. Diamatinya dengan seksama kamar yang besarnya tidak sampai setengah dari kamar mandi di rumahnya sendiri. “Aku harus mengingatkan satu hal padamu. Di rumah ini berlaku jam malam. Jam malamnya jam 9. Lewat dari jam 9, semua pintu akan dikunci. Senin sampai Jumat aku ada kuliah sampai sore. Jadi kamu yang harus masak sarapan dan makan malam. Aku gak suka rumah ini kotor. Senin sampai Rabu, aku yang akan membersihkan rumah, hari selanjutnya kamu yang akan melakukannya. Selain itu kamu juga sudah kumasukkan ke sekolah yang disiplin, jadi aku minta kamu jangan sampai membuatku dipanggil pihak sekolah akibat keonaran yang kamu lakukan. Kamu akan mengikuti privat setiap hari Senin, Rabu dan Jumat jam 7 malam. Dan yang terakhir, kamu berangkat sekolah dengan angkutan umum bersama Diana, anak tetangga sebelah. Pulang sekolah langsung pulang, jangan kemana-mana. Dengan kata lain, aku gak mau kamu terlambat sampai di rumah.”ujar Raka tegas. “Aku harus ini, aku harus itu, memangnya aku ini robot yang bisa kamu atur sesuka hatimu! Paman saja gak pernah mengatur apapun dalam hidupku, bahkan kedua orangtuaku juga enggak!! Kenapa malah kamu yang sok mengatur hidupku! Kamu bukan siapa-siapa!! Kamu gak punya hak mengatur hidupku!!”bentak Nara sebagai puncak kekesalannya. “Gimana kamu bisa diatur oleh kedua orangtuamu kalau kedua orangtuamu meninggal saat kamu bahkan belum bisa menyebut namamu dengan benar?? Kalau soal Nero yang tidak pernah mengatur segala sesuatu tentangmu, itu karena dia gak mau saja. Sebenarnya Nero itu orang yang sangat pengatur. Dan saat dia ingin mengatur sesuatu hingga berhasil, dia akan melakukan segala cara. Sama seperti saat ini. Dialah yang sebenarnya mengatur hidupmu, bukan aku. Nero selalu bekerja dengan teratur, dia gak akan pernah membiarkan ada cacat sekecil apapun dalam rencana briliant-nya. Dan kalau bicara soal hak, aku rasa aku punya hak mengatur hidupmu. Karena secara hukum, aku adalah walimu.”sahut Raka dingin. “Jangan bawa-bawa Paman dan orangtuaku!!” “Kamu yang duluan membicarakan mereka, gadis kecil...” “Sudah cukup!! Keluar dari sini sekarang juga, b******k!!”teriak Nara emosi. “Baiklah. Tapi aku ingatkan, makan malam jam setengah tujuh. Aku gak akan menunggu.”ujar Raka lalu menutup pintu kamar baru Nara. “b******k!!!”teriak Nara sekuat-kuatnya. Nara tidak keluar saat makan malam, dan Raka juga tidak memanggilnya. Karena itu saat tengah malam, Nara yang kelaparan, keluar dari kamar dan mencari makanan di dapur. “Agh... Kulkas pun gak ada isinya. Kalau Paman biasanya pasti udah menyuruh pembantu untuk membeli semua snack kesukaanku. Kalau ada Paman, pasti selalu ada eskrim untukku. Kalau ada Paman aku mana pernah kelaparan seperti ini. Kalau ada Paman...”ucapan Nara terhenti saat dia menutup pintu kulkas. Nara terduduk di depan kulkas dan memeluk kedua lututnya. Nara yang gak pernah nangis saat dapat nilai terendah di kelas, Nara yang gak pernah nangis saat diejek gak punya orangtua, Nara yang gak pernah nangis saat disuntik, Nara yang gak pernah nangis walaupun kepalanya dijahit 13 gara-gara berkelahi, langsung menangis saat mengingat Nero gak lagi ada di sampingnya. Gak ada lagi Nero yang akan mengajaknya bercanda, berantem, dan berdebat. Gak ada lagi Nero yang sampai memohon hanya agar Nara mengenakan gaun. Nero gak akan bisa berada lagi disampingnya untuk selamanya. “Aku akan menyelesaikan tantangan terakhir Paman dengan baik. Aku akan melakukannya. Aku pasti bisa membuat Paman bangga. Aku kuat, makanya aku pasti bisa. Amati jalan hidupku dari sana, Paman. Hanya itu permintaan terakhirku...”gumam Nara kemudian bangkit dan kembali kekamarnya. Tanpa disadari Nara, sepasang mata memperhatikannya sejak Nara keluar kamar sampai Nara kembali lagi ke kamar. Sepasang mata elang. *** Nara terbangun keesokan paginya dengan perut keroncongan. Tapi Nara menyempatkan diri untuk mandi dan berpakaian dengan rapi untuk sekolah. Berhubung Nara belum mendapat seragam. Nara mengenakan jeans, kaos tanpa lengan warna putih bergaris-garis, dan jaket yang senada dengan celananya. Rambut hitamnya dibiarkannya tergerai. Dengan menyandang tas ranselnya, Nara menuju ruang makan. Di meja makan Raka sudah menunggu Nara. Hidangan sederhana tersaji di atas meja. Raka menurunkan koran paginya saat melihat Nara sudah duduk di kursi seberang meja. “Ini uang saku kamu bulan ini. Pakai dengan hemat. Aku gak mau dengar kamu meminjam uang. Sebelum berangkat sekolah, sarapan dulu. Aku masih ada kerjaan.”ucap Raka sambil menyodorkan sebuah amplop pada Nara. “Tunggu dulu!”cegah Nara sebelum Raka beranjak ke ruang kerjanya,”Apa aku boleh kerja sambilan??”tanya Nara pelan. “Tidak.”jawab Raka tegas dan langsung masuk ke ruang kerjanya. Nara menatap Raka dengan pandangan kebencian mendalam sampai pintu ruang kerja Raka tertutup. Diambilnya dua lembar roti dan diolesnya dengan selai kacang lalu memakannya dengan geram. Tanpa pamit, Nara langsung keluar rumah. Di pagar depan, sudah menunggu seorang gadis imut dengan seragam sekolah_yang menurut Nara_yang manis. Nara menghampiri gadis itu. “Kamu Diana??”tanya Nara ramah. “Ya, kamu pasti Vela?? Kamu cantik banget yah?”puji Diana tanpa tedeng aling-aling. Nara yang masih aneh dengan nama barunya hanya tersenyum simpul,”Kalau boleh tahu, sekolah disini masuk jam berapa??”tanya Nara sambil menutup pintu pagar. “Setengah delapan...”jawab Diana ramah. “Emangnya kita gak terlambat, kalau jam segini belum berangkat??”tanya Nara sedikit khawatir. “Kalau naik angkutan umum, ya pasti telat. Tapi semalam temanku bersedia menjemput karena aku cerita kalau aku hari ini berangkat dengan anak baru sebelah rumahku...”jelas Diana,”Nah itu dia!”sambung Diana sambil menunjuk sebuah mobil Terrano hitam yang melaju ke arah Nara dan Diana. Terrano itu berhenti tepat di depan Diana,”Hai... Lama nunggunya??”tanya si pengemudi Terrano yang ternyata seorang cowok yang tidak kalah imut dengan Diana. Di sampingnya duduk seorang cowok yang terlihat begitu playboy. “Gak koq...”sahut Diana sumringah. “Ayo naik!!”seru cowok yang duduk di sebelah si pengemudi. “Elo yang ke belakang, b**o’! Masa’ lo suruh cewek gw yang duduk di belakang.”ujar si pengemudi cepat. Tanpa diusir dua kali, cowok yang duduk di kursi penumpang itu langsung pindah kebelakang dan duduk bersama Nara. Sedangkan Diana duduk di depan. Setelah semuanya duduk dengan aman, barulah mereka berangkat. Mobil melaju stabil di jalanan. “Vel, kenalin, ini Reno, pacar aku.”ujar Diana sambil menyentuh bahu si pengemudi. “Hai, gw Reno... Gw harap lo seneng temenan sama kami...”ujar Reno sambil memandang Nara melalui kaca spion. Reno itu cowok yang tubuhnya tidak terlalu tinggi untuk ukuran cowok, kulitnya kuning langsat dengan rambut bergelombang yang di potong pendek sehingga membuat rambutnya mengikal sempurna. “Kalau yang disebelah kamu itu Revan.”lanjut Diana sambil menunjuk makhluk sok cakep_walaupun memang cakep_yang duduk disebelah Nara. “Hai... Nama lo siapa??”tanya Revan cepat. “Vela.”sahut Nara singkat. “Nama yang cantik, kayak orangnya.”puji Revan mulai merayu. “Jangan mulai, Revan.”tegur Diana. Kalau Reno tipe cowok yang menyenangkan, Revan tipe cowok yang mampu memikat cewek manapun yang melihat senyumnya. Revan memiliki body yang atletis dengan kulit agak kecoklat-coklatan. Mungkin karena sering berolahraga. Rambutnya yang agak panjang dari Reno membuatnya memang cocok seperti penakluk cewek. “Wah... Wah... Jangan gitu donk. Lo sih enak, kekasih hati ada di sebelah lo. Lha gw?? Boleh donk kalau gw pdkt sama Vela. Untung-untung bisa jadi...”sahut Revan asal. “Revan! Aku gak mau kalau temen aku yang kamu ganggu. Ngerti? Dan kalau gak salah bukannya beberapa hari yang lalu lo baru jadian sama Tika?”ucap Diana. “Yeee... Basi kali, Di. Gw udah putus kemarin.”jawab Revan santai. “Dasar playboy. Pokoknya gw gak mau dengar kalau Vela lo sakiti.”ancam Diana. “Yah elo... Segitunya sama gw.” “Lo nurut aja kenapa, Van?”desak Reno. “Elo mah bela pacar lo, kodok!”umpat Revan,”Gak setia kawan nih...” “Ha ha ha... Kalian... Aku suka banget lihat kalian. Kawanan yang ceria.”tawa Nara tanpa ada sedikit pun ada niat jaga image. Mobil yang mereka naiki langsung berhenti. Semua mata memandang Nara dengan seksama, sampai akhirnya Reno buka mulut. “Gw setuju dengan Revan. Baru kali ini dia benar dalam menilai cewek. Lo cantik. Apalagi kalau tertawa. Tadi wajah lo kayak orang habis dimarahi tujuh turunan. Kusut banget.”ujar Reno jujur sambil mengemudikan mobilnya lagi. Diana tersenyum manis,”Benar yang aku bilang tadi pagi kan?? Kamu cantik.”ujarnya bangga atas penilaiannya. “Kalian... Aku gak cantik-cantik amat koq. Biasa aja lagi.”ujar Nara mulai terdengar santai. “Oh ya, nanti kalau ada cowok-cowok sekolahan ‘nembak’ lo, bilang aja lo udah punya pacar yah. Gw yang lo akuin jadi pacar juga gak masalah.”ucap Revan sok serius.”Soalnya kalau mereka tau saingannya gw, mereka gak bakal ada yang berani ganggu elo.” “Yeee.... Maunya....”ujar Nara dan Diana bersamaan. Sesampainya di sekolah, ketiga teman barunya mengantar Nara ke ruangan kepala sekolah. Bahkan mereka menunggu sampai Nara keluar dari ruang kepala sekolah. Entah kenapa, seperti ada yang mengatur, keempat anak itu berada dalam kelas yang sama. Mereka berempat sama-sama terlambat masuk kelas. “Darimana saja kalian berempat? Kenapa bisa terlambat bersamaan seperti ini?”tanya guru yang sudah mengajar dalam kelas. “Maaf, Bu... Mereka tadi mengantar saya ke ruangan kepala sekolah dan saya meminta mereka untuk menunggu saya. Jadi kalau ada yang harus dihukum, saya lah orangnya. Anda bisa menghukum saya kalau Anda mau.”ujar Nara berani. Seperti kebiasaan Nara saat di London, berdebat dengan guru salah satu kebiasaan Nara. Bahkan saat di London, Nara pernah diskors seminggu gara-gara berdebat dengan guru. Untungnya saat itu Nero sudah menyadari kalau Nara akan melakukan apapun untuk Nero. Nara menyayangi Nero seperti orangtuanya sendiri. Jadi, dengan sedikit ancaman kalau Nero akan sangat sedih melihat Nara selalu membuat masalah, Nara sukses jadi anak baik di sekolahan. Dan yang paling menguntungkan, Nara cuma tahan setahun berada di sekolah umum. “Bukan, Bu... Kami kok yang mau nunggu dia.”tukas Diana. “Kalau saya ikut-ikut aja, Bu. Gak mungkin kan ninggalin cewek saya, Bu’...”sambung Reno. “Kalau kamu, Revan?”tanya guru itu. “Wah, Bu Emi, masa’ yang lain nungguin Vela, saya balik ke kelas. Gak setia kawan namanya, Bu’. Tapi kita harus saling tolong menolong. Betul kan, Bu’??”jawab Revan asal. “Kalian... Ya sudahlah. Karena kamu anak baru, untuk kali ini saya maafkan. Cepat duduk di tempat kalian.”ucap Bu’ Emi pasrah melihat kelakuan murid-muridnya. Nara, Diana, Reno, dan Revan saling berpandangan. Tiba-tiba mereka sama-sama tersenyum puas sebelum duduk di tempat mereka masing-masing. Reno duduk dibelakang Diana, sedangkan Revan duduk di belakang Nara. “Hoi, Vel. Lo pindahan dari mana sih??”bisik Revan sedikit mencondongkan badannya ke depan. “Kenapa??”Nara balik bertanya. “Gak ada, cuma mau tau aja.” Paman gak ada ngelarang aku ngasi tau kalau aku dari London kan?bathin Nara. ”Aku dari London.”jawab Nara pelan, karena Bu’ Emi lagi serius menerangkan di depan kelas. “Oh... Lo sekolah dimana disana?? Soalnya sepupu gw juga ada di London...”tanya Revan lagi. “Aku home schooling, cuma setahun aku masuk sekolah, itupun pas SMP.”jawab Nara sambil mencatat apa yang ditulis Bu’ Emi di whiteboard. “Cool...”ujar Revan kuat sampai membuat Bu’ Emi melihat kearahnya. “Apa yang cool, Revan??”tegur beliau. “Oh, gak koq, Bu’. Gak ada apa-apa.”jawab Revan salting. ”Jangan main-main. Sekarang kita sedang membahas Pancasila sebagai ideologi terbuka. Ibu minta nanti setelah jam istirahat, kamu menyerahkan ringkasan tentang Perbandingan ideologi berbagai negara.”lanjut Bu’ Emi. Melihat itu, Diana dan Reno langsung tersenyum jahil,”Syukurin.”gumam Reno. Nara tersenyum melihat reaksi Revan, Nara menyukai suasana di kelas barunya. Ramai dan gak membosankan. Sebenarnya Nara bisa aja melanjutkan ke sekolah umum dulu sewaktu di London, hanya saja ada seseorang yang membuat Nara sangat enggan untuk bersekolah di sekolah umum. Nara merindukan masa-masa saat dia belajar di sekolah umum. Penuh tawa. Akhirnya jam istirahat pun tiba, Nara, Diana, Reno, dan Revan langsung pergi ke kantin. Walaupun mereka sudah secepat mungkin ke kantin sekolah, tetap aja, mereka gak dapat tempat. Reno melihat keseluruh penjuru kantin, dan tiba-tiba matanya menangkap sesuatu. “Kita ke sana aja, yuk!”tunjuk Reno pada sebuah meja disudut yang ditempati gerombolan anak cewek. Nara yang memang belum mengenal situasi hanya mengikuti mereka berjalan ke meja di sudut. “Hallo adek... Boleh gak kakak gabung disini??”tanya Revan ramah sambil memamerkan senyum malaikatnya. Gerombolan cewek itu langsung menatap Revan dengan pandangan gak percaya, dan mereka juga mulai memandang Diana dan Reno,”RDR?!?!”seru ketiga cewek itu kompak, pas banget buat paduan suara. Diana tersenyum,”Boleh kami gabung disini??”ulang Diana. “Oh tentu boleh.”jawab salah satu dari mereka cepat. Tanpa basa-basi lagi, Revan langsung duduk di bangku panjang dan menyediakan tempat untuk Nara. “Thank’s.”ucap Nara tulus. Mereka segera memesan makanan, dan langsung memakannya begitu pesanan datang. Tapi ketiga cewek tadi sama sekali tidak memesan apapun. Mereka malah terlalu asyik memperhatikan Diana, Reno, dan Revan. Tapi yang diperhatikan malah cuek aja, seperti tidak ada kejadian apa-apa. Setelah kembali dari kantin, keempat anak itu kembali ke kelas dan mengobrol sambil menunggu bel masuk berbunyi. “Kalian tadi koq mudah banget dapat tempat??”tanya Nara penasaran dengan apa yang tadi sempat diliatnya. “Gini lho, Vel... Bukannya mau pamer yah. Tapi gini-gini kami bertiga masuk tiga besar sekolahan dalam berbagai bidang. Kami juga masuk lima besar seluruh Jakarta. Cuma ada 1 orang yang bisa nyaingin kami saat ini. Dia anak SMA Athena. Namanya Dheo, pindahan dari Singapore. Jujur, gw pribadi salut banget sama tuw anak. Bukan di jalan yang bener aja dia bekennya, di jalan yang buruk dia juga beken.”jelas Revan. “Maksudnya??”tanya Nara semakin bingung. “Jalan baik yang dibilang si b**o’ itu maksudnya prestasi akademik dan sejenisnya. Kalau jalan buruk itu maksudnya dalam lingkungan di luar sekolahan. Dheo sekarang jadi pimpinan drag race se-Jakarta. Padahal pimpinan sebelumnya aja hebat banget, tapi cuma sekali tanding, Dheo berhasil merebut posisi sakral itu. Sampai-sampai pimpinan sebelumnya melarikan diri ke Bandung.”sahut Reno. “Aku jadi pingin tahu, gimana sih yang namanya Dheo itu.”gumam Nara. Nara sangat menikmati hari pertamanya di sekolah, walaupun ada beberapa guru yang protes kenapa dia memakai celana ke sekolah, kenapa tidak pakai rok kalau memang baju seragamnya belum selesai. Dan dengan tenang Nara menjawab kalau dia pindah ke Jakarta karena rumahnya terbakar, dan semua baju-bajunya juga ikut terbakar. Yang tersisa hanya beberapa potong celana jeans, kaos dan jaket yang memang sengaja ditinggal di rumah saudara kalau-kalau menginap disana. Bohong banget!! Padahal, bukannya Nara gak punya rok, atau baju yang sedikit feminin, memang Nara-nya yang gak mau pakai baju seperti itu. Padahal baju-baju yang berbau feminim udah disediakan oleh Nero satu lemari penuh. Tapi tidak ada satupun yang dipakai Nara. Bahkan baju-baju lebih sering diberikan Nara pada para pembantunya yang memang masih gadis. Saat Nara sampai dirumah, mobil Raka sudah terparkir manis di halaman. Itu berarti dia sudah pulang. Mau tidak mau, Nara harus berhadapan lagi dengan Raka. Nara melangkah gontai memasuki rumah, dilihatnya Raka sedang menerima tamu seorang wanita cantik di ruang tamu. “Aku pulang...”ujar Nara sopan saat memasuki rumah. “Langsung ganti baju, makan siang ada di meja makan.”ujar Raka dingin, seperti biasa. “Permisi.”pamit Nara yang langsung berjalan menuju kamarnya. Dari kamarnya, Nara dapat mendengar dengan jelas apa yang dibicarakan Raka dengan tamunya. “Gadis yang cantik dan sopan, Raka.” “Gak terlalu sopan kalau melihat kelakuannya semalam.”sahut Raka “Oh ya, bagaimana dengan tawaranku untuk pergi ke Bandung? Orangtuaku ingin bertemu lagi denganmu sebelum kita bertunangan.” “Aku gak bisa janji, Wina. Banyak sekali masalah yang harus kutangani. Belum lagi ada Vela disini. Aku gak mungkin meninggalkan dia sendirian selama seminggu. Dia baru sampai kemarin dari London.” “Jadi kapan kamu bisa? 3 bulan lagi kita tunangan, Raka.” “Aku tahu, Wina.” “Bagaimana kalau kamu bawa saja Vela ke Bandung? Aku gak masalah koq, dan kurasa kedua orangtuaku juga gak mempermasalahkannya.” “Saat ini aku gak bisa. Mungkin saat liburan semester. Aku gak mau kalau Vela sampai ketinggalan pelajaran.” Asal kamu tau, Mr Sok Ngatur, aku bisa mengingat apapun yang kulihat, walaupun aku gak mau, aku akan tetap mengingatnya. Jadi gak usah takut aku akan ketinggalan pelajaran,bathin Nara. “Liburan semester kamu bilang?? Itu lebih dari 2 bulan lagi.” “Aku tahu, Win. Tapi aku hanya bisa pergi saat itu.” “Raka... Jarak Bandung-Jakarta dekat. Kamu bisa pergi satu hari dan balik lagi kesini hari berikutnya. Kalau hanya dua hari, kamu bisa menitipkan Vela sama tetangga sebelah.” “Aku gak bisa Wina. Lagian, kalau aku berangkat dam waktu dekat ini, mau berapa banyak seminar dan kuliah yang aku tinggalkan??” Wow!! Mr. Sok Ngatur bertengkar sama pacarnya... Kasihan banget... Lagian kamu pergi sekarang atau 2 bulan lagi sama aja. Kalau gak niat, bilang aja... Pakai banyak alasan segala...bathin Nara. “Agh... Sialan!”maki Nara pelan dari dalam kamarnya sambil melempar bantal guling ke pintu. Tepat pada saat bantal guling itu menyentuh pintu, pintu kamar Nara terbuka. Raka muncul sesudahnya. “Gak bisa ketuk pintu, ya??”tanya Nara tajam. “Gak ada yang rugi kan??”Raka balas bertanya,”Aku hanya mau bertanya kenapa pulang terlambat?? Sepanjang pengetahuanku, sekolahmu sudah bubar saat jam setengah 2. Sekarang, sudah jam setengah 4, kamu baru sampai rumah. Jangan mentang-mentang baru diberi uang saku, lantas kamu langsung menghabiskannya. Kamu harus ingat kalau itu untuk keperluanmu selama sebulan. Aku gak akan memberikanmu pinjaman, apalagi tambahan. Kamu harus belajar menghemat semua pengeluaranmu..”ujar Raka mulai berpidato. “Kamu tahu, aku muak dengan semua yang kamu bicarakan!! Kenapa gak kamu urus saja masalah tunangan kamu!! Kenapa kamu malah ngurusin masalah aku!! Apa pedulimu?? Toh kalau terjadi apa-apa padaku, gak akan ada yang minta pertanggung jawabanmu. Jadi tolong, jangan atur aku lagi!! Jangan campuri semua urusanku!!”bentak Nara emosi. Raka berjalan mendekati Nara hingga Nara tersudut di antara Raka dan dinding kamarnya,”Aku memang gak rugi apa-apa kalau terjadi sesuatu padamu. Dan jangan ikut campur dalam masalahku, gadis kecil. Kamu belum tahu apa-apa. Nero selalu melindungimu dari kejamnya dunia, Vela. Karena itu kamu gak pernah mengetahui kehidupan diluar jalan hidupmu.”ucap Raka sambil menyentuh dagu Nara. “Jangan_bawa_Paman_dalam_hal_ini!!”kecam Nara. “Kalau aku melakukannya kamu mau apa?” “Kamu...”geram Nara. “Kamu gak bisa apa-apa kan?? Makanya, selama kamu belum bisa melawanku, aku akan terus mengatur hidupmu. Dan jangan coba untuk membantah semua yang kuperintahkan. Aku mau semua yang kuinginkan berjalan dengan lancar...”tegas Raka sambil berjalan keluar lalu menutup pintu kamar Nara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN