6. Mencurigakan

1245 Kata
“Liat apa, Mas?” tanya Emma yang mendengar ucapan Kai. Kai menoleh ke Emma. “Oh enggak. Kayaknya pernah liat mobil suami kamu.” Emma tersenyum. “Di jalanan juga banyak, Mas. Merek sama dan warna juga sama. Namanya juga mobil harga terjangkau.” Kai ikut tersenyum. “Iya juga sih. Oh ya, kamu jadi dianterin belanja gak?” “Boleh deh. Aku pesen di aplikasi mana, Mas?” “Aplikasi? Gak usah aplikasi, langsung chat aja kalo kamu,” ucap Kai beralasan, karena dia juga belum mendaftar jadi pengemudi ojek online. “Loh kok gitu, Mas?” “Iya. Biar gak diserobot yang lain. Bisa aja kan mereka bakalan klik lebih cepet dari aku.” “Bener juga ya. Ya udah Mas, aku siap-siap dulu ya.” “Iya. Aku tunggu di sini ya.” Emma masuk ke dalam rumahnya. Dia akan bersiap pergi belanja, setelah dia membiarkan stok bahan makanannya habis saat suaminya dinas. Emma memang suka sekali memasak. Dan masakannya selalu mendapatkan pujian dari suami dan mertuanya. Kai juga ikut masuk kembali ke dalam rumahnya. Dia yang tadinya ingin keluar untuk makan, kini malah semakin girang, karena akan mengantar Emma berbelanja. Kai bahkan mengganti kaosnya dengan kemeja. Tidak lupa juga dia menyemprotkan parfum andalannya yang bisa mendatangkan para wanita ke pelukannya. “Baru kali ini jalan ama bini orang. Gimana ya rasanya,” gumam Kai dalam hati sambil melihat bayangannya sendiri. “Hais! Apaan sih. Gak boleh. Gak boleh ganggu rumah tangga orang lain. Ntar bisa kena karma.” Semangat perjuangan Kai yang ingin mendapatkan Emma, dengan terpaksa akan dia kubur dalam-dalam. Setelah mengetahui kalau Emma telah bersuami, dia jadi sedikit ragu untuk mendekati Emma. Meski bukan dari keluarga yang religius, tapi orang tua Kai selalu mewanti-wanti anak mereka agar tidak bermain dengan wanita milik pria lain. Agak gengsi juga Kai, kalau harus merebut istri orang hanya demi kesenangannya. Sementara itu Emma juga sedang bersiap untuk pergi berbelanja. Nanti malam, dia ingin membuat masakan enak untuk suaminya. Emma mencatat apa saja yang dia butuhkan. Tentu saja agar dia tidak sembarangan mengambil barang dan malah melupakan apa yang dia perlukan. Emma keluar dari rumah dengan beberapa kantong belanja di tangannya. Dia melihat Kai sudah berdiri di samping mobilnya, siap mengantar Emma. “Udah siap?” tanya Kai. “Udah, Mas,” jawab Emma sambil membuka pintu belakang mobil. Kai melihat ke arah Emma. “Seriusan nih mau duduk di belakang? Beneran kayak sopir dong aku.” “Hmm ... aku gak enak Mas kalo di depan. Ntar ada yang liat, malah jadi bahan omongan,” jawab Emma sedikit tidak enak. “Oh, I see. Ok, gak papa. Yuk, masuk.” “Kampret! Beneran jadi sopir gw!” geram Kai dalam hatinya. Kai menarik napas dalam dan panjang. Dia sedikit kecewa karena gagal duduk bersebelahan dengan Emma. Emma yang duduk di bangku tengah, juga sedikit tidak enak pada Kai. Tapi bagaimana lagi, dia tidak mau jadi bahan gosip kompleks. Apa lagi kalau suaminya sampai tahu, dia pasti akan sangat kecewa. “Kita mau belanja di mana nih?” tanya Kai saat mobil sudah keluar dari kompleks. “Ke mall yang di deket Gor aja, Mas. Aku sekalian mau beli roti,” jawab Emma. “Ok.” Seperti biasa, Kai langsung mengetikkan mall yang disebutkan Emma di mesin GPS, untuk membantunya menemukan jalan. Maklumlah, dia tidak begitu hafal jalanan kota, karena lebih sering diantar sopir. Ternyata apa yang dilakukan Kai, diketahui oleh Emma dan membuat wanita cantik itu tersenyum. “Gak apal jalan, Mas?” celetuk Emma. “Eh, hehehe ... iya nih. Belum terlalu apal,” jawab Kai sedikit malu. “Lucu ya, gak apal jalan tapi mau jadi ojek online.” “Ya kan ada GPS. Udah canggih sekarang.” “Emang sebelumnya kerja apa, Mas?” “Hmm ....” Kai sukses dibuat bingung oleh pertanyaan Emma. “Aku kerja di luar negeri. Iya, TKI,” jawab Kai asal. “Oh, pantes aja.” “Iya, maaf ya. Tapi bakalan aman kok,” ucap Kai sambil terkekeh dan melihat Emma dari spion. “Kamu udah lama nikah, Emm?” tanya Kai mengganti obrolan. “Baru kok. Baru setahun lebih,” jawab Emma. “Baru banget ya.” “Iya.” “Trus Rani itu siapa?” “Dia sahabat aku sejak aku kuliah, Mas. Kami juga sempet kerja di kantor yang sama. Trus aku resign pas aku mau nikah.” “Kenapa resign?” “Kata Mas Doni suruh di rumah aja. Ya udah, aku nurut aja.” “Oh gitu. Emang kerja di mana dia? Siapa tau bisa cariin lowongan,” tanya Kai sambil terkekeh. “Di Art Solution, Mas.” “Art Solution?!” Kai kaget mendengar nama perusahaan tempat Doni bekerja. Kai melihat ke Emma lagi dari spion. Wanita di belakangnya itu tampak sedang sibuk dengan ponselnya. “Doni kerja di perusahaanku? Beneran ini?” gumam Kai masih tidak percaya. Kai memang akan pindah memimpin Art Solusion, anak cabang perusahaan milik keluarganya. Baru dua hari berkantor, Kai langsung kabur, karena akan dijodohkan oleh mamanya. Alhasil kini Kai malah sembunyi di depan rumah anak buahnya sendiri. Kai akhirnya berhasil mengantar Emma sampai di tujuan. Kai, yang masih ingin bersama Emma, sambil mencoba mengenal Emma, memilih menemani Emma berkeliling mall. Mereka menuju ke supermarket, tempat yang disasar Emma. “Mas Kai mau belanja juga?” tanya Emma. “Iya. Bahan makanan di rumah juga mau abis. Biar irit, masak sendiri aja,” jawab Kai sambil tersenyum lebar. “Iya, Mas. Kalo jajan terus, malah boros.” Dua orang itu mulai berjalan sambil membawa troli belanja mereka masing-masing. Kai dengan setia menemani Emma berbelanja sambil berbincang. “Kamu asli orang sini, Emm?” “Gak, Mas. Aku dari Yogya,” jawab Emma. “Oh, orang Jawa. Pantes manis banget.” “Bisa aja, Mas Gun ini. Kalo Mas Gun dari mana?” “Jakarta. Deket kok.” “Kalo deket, kenapa ngontrak, Mas?” Lagi-lagi Kai terjebak dengan jawabannya sendiri. “Oh anu ... aku mau mandiri. Iya, mau belajar mandiri.” “Oh iya sih. Tapi punya sodara?” “Punya, adek perempuan. Seumuran kamu kayaknya.” “Oh ya. Pasti seru ya kalo punya sodara. Dari kecil aku udah yatim, jadi gak punya sodara.” “Gak juga sih. Bawel dia. Nyebelin anaknya, gangguin mulu,” jawab Kai sambil terkekeh. “Abis ini kita ke mana?” tanya Kai. “Pulang aja, Mas. Aku mau masak.” “Mampir makan dulu mau gak? Dari pagi aku belum sarapan.” “Loh, kok bisa sih. Mau kerja itu makan dulu, Mas.” “Iya, tadi gak sempet, makanya ini mau belanja,” jawab Kai sambil menunjuk ke keranjang belanjaannya. Emma mengikuti arah yang ditunjuk Kai. Dia sedikit kaget dengan bahan makanan yang ada di dalam troli Kai. Buah dan sayur organik dan premium, udang berukuran besar, daging dan beberapa bahan makanan yang harganya lebih mahal dari yang ada dikeranjang Emma. “Gak salah tuh dia ambilnya. Itu kan premium semua. Oh ... mungkin dia terbiasa di luar negeri kali ya,” gumam Emma dalam hati. Setelah selesai berkeliling supermarket, kini akhirnya tiba saatnya mereka membayar. Lagi-lagi Emma memperhatikan sikap Kai di kasir sebelah. Kai tampak kebingungan karena tidak memiliki uang tunai. Tapi dengan santainya, pria itu malah mengeluarkan black card dari dalam dompetnya. “Eh, gak salah tuh. Itu tadi black card kan?” gumam Emma pelan sambil terus melihat ke Kai. “Dia beneran sopir?” Emma tampak meragu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN