“Beneran nih Bos mau tinggal di sini?” tanya Adam masih kaget dengan keputusan mendadak Kai.
“Iya,” jawab Kai sambil menuang air minum ke dalam gelasnya.
Adam menatap curiga ke Kai. “Boleh tau alasannya?”
Kai menggeleng. “Gak ada alasan. Cuma ngerasa cocok aja.”
“Cocok?” ucap Adam meragu.
Jawaban Kai adalah kata yang sangat sulit untuk diterima oleh Adam, mengingat tadi Kai sampai memarahinya.
Tentu saja hal ini membuat Adam semakin curiga. Dia yang sudah mengenal Kai sejak jaman mereka sama-sama kuliah di Inggris, bahkan kini Adam juga dipercaya memegang peran penting di perusahaan keluarga Kai, sudah sangat mengenal karakter sahabat baiknya itu.
Kai bukan orang yang plin-plan apa lagi mudah terpengaruh. Jadi, pasti ada alasan besar yang membuat Kai mau tinggal di sana.
Kai melihat ke arah Adam yang melihatnya dengan tatapan aneh. “Apa? Ngapain liat-liat!” ucap Kai ketus.
Adam menggeleng. “Gak papa. Agak aneh aja.”
Kai menatap sinis ke arah direktur keuangan di kantornya itu sambil mendengus. Tentu saja Kai tidak akan mengatakan alasan yang sebenarnya pada sahabatnya itu.
“Oh ya, tolong pasang CCTV di depan dong,” pinta Kai sambil meraih gelas untuk membersihkan mulutnya dari sisa makanan.
“CCTV. Buat apa?” Satu lagi permintaan aneh tercetus dari Kai.
Kai menatap kesal pada sahabatnya yang selalu cerewet itu. “Buat liatin depan lah. Siapa tau ada maling masuk!” geram Kai.
“Oh ya, satu lagi. Bawa mobilku ke apartemen dan ganti ama yang lain,” lanjut Kai.
“Mau ganti yang mana?”
Kai terdiam sejenak. Dia mencoba berpikir, kira-kira mobil mana yang cocok dia pakai selama dia di tempat ini.
Sayangnya, semua koleksi mobilnya sangat mahal. Tidak akan cocok dipakai untuk mendukung identitas barunya.
“Aku pinjem mobilmu aja lah,” ucap Kai.
“Apa?! Pinjem mobilku?” Adam kembali dibuat kaget.
“Kai, lu gak papa kan? Lu gak ketempelan setan di sini kan, Kai?” imbuh Adam yang takut kalau saat ini Kai yang bersamanya, bukan Kai yang dia kenal.
“Ketempelan palamu! Pokoknya mobilmu tinggal sini dan kamu bebas mau pake mobilku yang mana.”
Adam menatap Kai penuh kekhawatiran. Dia bahkan sampai mendekatkan wajahnya ke Kai, memastikan kecurigaannya salah.
Adam takut pada sosok Kai yang mendadak berubah. Perubahan yang sangat besar, sampai dia hampir tidak mengenalinya.
“Kai, kamu beneran gak papa kan?” tanya Adam sekali lagi.
Kai menatap menjauhkan wajah sahabatnya dari hadapannya. “Bawel amat sih jadi orang. Balik ke kantor sana! Inget ya, kalo papa nanya aku di mana, bilang aja aku di luar negri!” pesan Kai tegas.
“Iya, beres. Tapi beneran kan kamu gak papa? Lu Kai kan?”
“Kampret! Gw kepret juga lu lama-lama!” Kai sukses di buat kesal.
Kai beranjak dari ruang makan, meninggalkan Adam yang masih bengong menatapnya. Dia ingin istirahat sejenak, menikmati kebebasannya dari tekanan papanya.
“Bos, berkasnya gimana?” tanya Adam sebelum Kai menghilang di balik pintu.
“Ambil ke sini jam 4. Aku istirahat dulu. Ngantuk!”
Kai menutup pintu kamarnya, tanda dia tidak ingin di ganggu. Dia ingin menikmati tidur siang, yang sudah lama tidak dia rasakan, setelah dia mulai sibuk di kantornya.
Adam masih duduk di ruang makan. Tatapannya kosong dan lurus ke depan.
“Dia kenapa ya? Gak biasanya banget dia begini. Pasti ada alasannya ini. Gak mungkin dia berubah gitu aja tanpa alasan. Tapi kira-kira apa ya alasannya?”
Adam melihat ke sekeliling rumah. Dia ingin mencari sesuatu yang bisa dijadikan alasan kuat untuk bisa menahan Kai di rumah ini.
Tapi semua yang ada di sana tidak ada yang janggal. Tidak ada yang patut dicurigai sampai membuat Kai langsung berubah.
“Rumah ini gak beneran ada hantunya kan? Buset! Kuat banget setannya sampe bisa bikin Kai berubah secepat itu. Ih, ngeri ah,” gumam Adam sambil mengusap kedua lengannya sendiri yang tiba-tiba merinding.
Adam pun segera beranjak dari rumah itu. Dia harus kembali ke kantor dan menjadi kamera pengawas sekaligus penjaga kantor untuk Kai.
Sesuai dengan perintah sahabat rasa atasannya, Adam segera menukar mobilnya dengan mobil sport milik Kai. Dia tidak mau mendengar teriakan Kai lagi, kalau dia belum membawa mobil super mahal milik Kai dari kompleks ini.
Saat Adam sedang mengeluarkan mobil Kai, di balik gorden rumah depan, ada wanita cantik yang sedang mengintip. Emma, sedang memperhatikan Adam yang sedang sibuk menukar mobil di depan rumahnya.
“Itu siapa ya? Kok mobilnya Mas Gun di tuker ama punya dia,” gumam Emma sambil terus melihat ke arah luar.
Emma terus memperhatikan, sampai Adam berlalu pergi dengan membawa mobil Kai. Tapi sampai Adam pergi, Emma sama sekali tidak melihat ada Kai di sana.
Pencarian Emma terhenti saat dia mendengar suara dering ponselnya. Emma langsung melihat ponselnya dan senyumnya merekah lebar melihat nama yang ada di sana.
“Halo, Mas,” sapa Emma dengan senyum lebar.
“Halo, Sayang. Kamu lagi apa?” tanya Doni, suami Emma, di seberang sana.
“Baru aja makan siang. Mas Doni udah makan?”
“Belum. Masih pesen, belum dateng OB-nya.”
“Jangan telat makan, Mas. Ntar Mas sakit loh.”
“Enggak kok, Sayang. Lagian tadi pagi udah sarapan.”
“Mas, Mas Doni jadi pulang hari ini kan?” tanya Emma yang sudah ditinggal pergi suaminya ke Bandung sejak dua hari lalu.
Doni terdiam sejenak. “Emm ... Sayang, aku mau minta maaf. Kayaknya kerjaan aku masih banyak. Ini aja baru dateng kerjaan baru. Jadi kayaknya aku gak bisa pulang hari ini,” ucap Doni pelan dengan nada penuh penyesalan.
Senyum yang tadi merekah di bibir Emma, perlahan memudar. Rada bahagianya karena malam ini akan bertemu dengan suaminya, kini mendadak gagal.
Ada rasa kecewa di dalam hati Emma. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa, karena dia tidak mau menjadi penghambat suaminya.
“Oh gitu ya, Mas,” ucap Emma pelan yang tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya.
“Iya. Maafin aku ya. Aku janji, nanti kalo libur kerja, kita jalan-jalan berdua ya,” ucap Doni berusaha menghibur sang istri.
Senyum tipis kembali mengembang, mendengar janji manis dari sang suami. Meski sempat kecewa, setidaknya Doni berusaha mengganti kekecewaan itu untuk sang istri.
“Beneran ya, Mas. Ajak aku jalan-jalan ya,” ucap manja Emma.
“Iya, Sayang. Ntar kita jalan-jalan dan makan enak. Makan makanan kesukaan kamu.”
Senyum Emma semakin lebar. Wanita yang sangat mencintai suaminya itu merasa bahagia meski suaminya jarang ada di rumah.
Tapi sebagai seorang istri, Emma mencoba memahaminya. Dia bahkan rela berhenti kerja, seperti keinginan suaminya sejak mereka menikah.
“Eh Mas, rumah depan sekarang ada yang nempati loh,” ucap Emma bercerita.
“Baguslah kalo udah ada orangnya. Setidaknya gak serem lagi kayak kata kamu.”
“Iya, Mas. Orangnya keli—“
Belum tuntas Emma bicara, dia sudah mendengar suara benturan besi di pagar rumahnya. Emma segera menoleh ke luar, melihat siapa yang datang bertamu.
“Ada siapa, Sayang?” tanya Doni.
“Bentar, Mas. Itu kayaknya—“