7

1178 Kata
'I am married. I have children. Three...' 'Oh? Married?' 'Ya.' Setelahnya Jevin hanya mengangguk, lalu masuk ke apartemennya begitu saja. Sudah lima hari berlalu sejak kejadian malam itu, Jevin tidak pernah muncul lagi. Apartemen  Jevin masih senyap, sepertinya pria itu belum kembali dari syuting luar kota. Rebbeca tahu itu dari instastory Jevin, dua hari yang lalu. Tentu saja Jevin tidak sadar Rebbeca melihatnya. Jevin tidak tahu kalau dia adalah penulis Perfect Love, orang yang pernah bertukar pesan singkat via direct message. Banyak hal telah berubah selama satu tahun. Kehidupan Rebbeca. Pioritas Rebbeca. Hati Rebbeca. Fisik Rebbeca. Rebbeca menghela dan mengembuskan napas kasar. Dia memandang hampa layar laptop. Halaman word hanya berisi kata prolog tanpa rangkaian kata lain. Rebbeca berusaha keras mengisi halaman itu, membuat sebuah cerita seperti dulu, membangun sebuah situasi yang siap menghanyutkan pembaca. Namun tidak bisa—sangat sulit. Setiap kali sebuah narasi tercipta, terlihat seperti omong kosong bagi Rebbeca. Kesepian yang mengusik hidupnya sudah benar-benar menghancurkannya. Pandangannya tentang cinta sudah rusak. Lalu, bagaimana bisa dia menuliskan kisah cinta bermakna kalau hidupnya saja tanpa cinta.             Rebbeca berkonsentrasi sangat keras untuk mengisi halaman itu, sehingga butuh beberapa detik untuk menyadari seseorang sedang mengamatinya. Saat akhirnya tersadar, dia terlonjak.             "Hai," sapanya dengan napas terengah. Pria itu jalan menghampiri tempat duduk sambil berkacak pinggang. "Akhirnya ketemu... kamu tahu, aku memasuki seluruh kedai—kafe di sepanjang jalan ini." Lalu, suara tawa canggung mengudara—semakin membuat Rebbeca merasa posisinya sungguh menyedihkan.             "Hai, Jev...," balas Rebbeca, setelah menutup laptopnya dengan kasar.             Jevin maju satu langkah lagi, dan mencengkeram tepian kursi di depan Rebbeca. "Bukan aku yang menyebabkan itu, kan?" Jevin bertanya, menunjuk laptop yang tertutup.             "Bukan." Rebbeca berbohong. Kemudian, dia memperkuat jawaban dengan kenyataan. "Aku memang berniat pulang dari tadi. Kesalahan dan pengulangan terjadi terus sejak pagi tadi, dan ini sudah..." Rebbeca melirik jam tangannya. "Jam tujuh malam. Jadi, aku mau pulang."             "Benarkah?"             "Iya." Rebbeca menjawab. "Memang aku punya alasan lain apa lagi?"             Jevin menarik kursi, lalu duduk di sana. "Menghindariku."             Setelah diam selama beberapa detik, Rebbeca mengembuskan napas dan memasukkan laptop ke tasnya. "Baru pulang kerja?"             "Yap." Jevin merengut sambil menyugar rambutnya. "Dua syuting, dua kota."             "Pasti melelahkan."             "Sangat... tapi, menyenangkan. Setiap pekerjaan yang dilakukan karena passion sangat mengasyikan. Kamu juga, kan? Menerjemahkan buku, pasti seru."             "Nggak."             Jevin terkekeh datar. "Masa?"             "Aku menulis novel, bukan menerjemahkan novel. Aku bohong soal itu."             "Penulis novel? Bohong?"             "Iya." Jevin mengamatinya sehingga Rebbeca tidak terlalu nyaman untuk membiarkan kesunyian lama-lama hadir di tengah mereka. "Jadi... untuk apa kamu memasuki semua kedai dan kafe di sepanjang jalan ini?"             "Kamu." Salah satu sudut bibir Jevin terangkat. "Aku mau tahu sebenarnya siapa kamu. Kamu bilang; kamu sudah menikah dan punya tiga anak. Sekarang, kamu mengaku bohong tentang pekerjaan." Jevin memajukan badan dan bertopang dagu dengan tangan kanan. "Kejutan apa lagi yang akan kamu berikan, Beca?"             Nyaris mustahil untuk tidak membalas senyum Jevin, tetapi Rebbeca melawan desakan itu. Dia tetap harus berhati-hati sepanjang waktu. Jevin sangat mempengaruhinya, seolah pria itu telah melakukan sesuatu terhadapnya yang tidak dapat dia mengerti—tidak masuk akal. Mereka baru bertemu. Namun, Jevin membuatnya ingin bangkit dari kematian.             Kematian, itu yang dirasakan Rebbeca selama satu tahun ini. Bernapas, tapi jiwanya terkubur di kedalaman tak terukur. Rebbeca merasakan mati rasa pada sekelilingnya. Dan Jevin... di dekat Jevin. Dia kembali merasakan hal-hal yang telah lama meninggalkannya.             "Haruskah kita mengulang perkenalan?"             "Sepertinya itu perlu."             Rebbeca mengulurkan tangan, dan disambut Jevin dengan cepat. "Rebbeca Larina." Tatapan menyelidik Jevin beraksi seperti malam itu, dan tiba-tiba pria itu melepaskan jabat tangan mereka. Kemudian, tertawa geli.             "Jangan bercanda. Rebbeca Larina."             Rebbeca seperti sudah menduga Jevin tidak akan percaya, jadi dia mengeluarkan kartu beberapa kartu kredit dan debit dengan ukiran namanya. Rebbeca Larina.             "Aku sungguh minta maaf tentang kebohonganku," ujar Rebbeca. "Aku sendiri bingung kenapa aku nggak memperkenalkan diri sebagai Rebbeca Larina. Setelah aku ingat-ingat, mungkin aku tersanjung seorang Jevin bertekad mendekatiku. Kalau aku bilang, aku ini Rebbeca Larina... kamu pasti akan—ya... kamu mengetahui bahwa Rebbeca sudah menikah dan punya tiga anak. Jadi, kamu pasti akan—paham maksudku." Rebbeca merapikan seluruh barangnya membuat meja benar-benar kosong. "Aku melakukan kesalahan, maaf untuk itu. Aku nggak pernah menduga, kalau kita... akan ada di tahap seperti kemarin. Aku—benar-benar minta maaf. Aku belum pernah melakukan hal seperti ini, jadi... kemarin aku sedang gila."             "Aku mengerti beberapa orang yang sudah menikah sesekali ingin merasakan kesenangan." Jevin menyugar rambutnya lagi. "Apa istilah kamu kemarin? Melanggar aturan..."             "Tapi, aku bukan w************n yang merayu setiap pria, baru terjadi satu kali. Kamu."             "Aku mengerti."             "Kalau begitu... bisakah kita berpura-pura nggak pernah terjadi?"             Pandangan Jevin melembut, dan tiba-tiba Rebbeca tersadar mengapa dia menutupi jati dirinya, mencium pria itu. Hanya dari cara Jevin menatapnya—seolah membelainya penuh kelembutan dan kasih sayang, seolah mereka sudah lama kenal dekat—membuatnya merasa kehadiran Jevin sangat menyenangkan hatinya. Jevin memiliki daya tarik seksual, dan sebagai wanita menikah yang kesepian, Rebbeca rapuh. Sudah dua belas bulan dia tidak merasakan sentuhan pria—sebuah sentuhan yang dia inginkan bukan paksaan atau kewajiban, dan sudah empat bulan dia benar-benar tidak mengizinkan dirinya disentuh oleh pria—suaminya. Dia merindukan belaian lembut.             "Tentu saja. Kita bisa mulai pertemanan yang baru," kata Jevin, memberi kesan bahwa bukan kali ini saja pria itu mengalami kejadian seperti ini.             Mungkin Jevin sering dirayu wanita, tanpa mengungkapkan identitas asli. Rebbeca sadar, tidak mungkin dia satu-satunya wanita yang mengganggap didekati Jevin sesuatu yang menarik.             "Bagus." Rebbeca bangun dari kursi, menunjuk pintu keluar kedai. "Sebaiknya aku pulang. Masih banyak yang harus aku kerjakan malam ini.             "Rebbeca?" Jevin menghentikan sebelum Rebbeca keluar dari area meja, dan nada suara Jevin menunjukkan bahwa apa pun yang ingin disampaikan bukan sesuatu yang ringan.             "Ya?"             "Mau makan malam bersamaku?"             Rebbeca nyaris mengulangi apa yang dia katakan pada Jevin malam itu. Bahwa dia sudah menikah. Bahwa ada tiga anak yang menunggu kepulangannya. Bahkan, fakta dia benar-benar kesepian dan sangat tertarik pada Jevin, tidak dapat membenarkan perbuatannya. Semuanya akan kacau. Mertuanya akan memandang Rebbeca rendah dan tidak layak, lalu akan menuntut hak asuh anak-anak kalau sampai Rebbeca nekat mengajukan perceraian. Pilihannya hanya dua saat ini; menghindari Jevin dan hidup baik sampai dia kuat mengajukan gugatan cerai, atau menikmati keliaran indah bersama Jevin—ketahuan—hidup seumur hidup di 'penjara'.             Namun, bukannya mengatakan 'tidak', Rebbeca justru bertanya, "Kapan?"             "Besok malam?"             Jevin merendahkan suara seakan jawaban itu berarti, sehingga jantung Rebbeca berdegup kencang. Rebbeca memandang Jevin, dia ingin menolak, dia ingin menjelaskan bahwa makan malam bukan gagasan yang bijak, tetapi tidak bisa. Dia pun mengangguk.             "Aku akan menjemputmu jam 7," kata Jevin.             "Kamu hanya tinggal melangkah." Jevin tersenyum, dan degup jantung Rebbeca semakin menggila. Apa yang dia lakukan? Dia sudah benar-benar kehilangan akal sehat—tetapi, untuk kedua kalinya, Rebbeca mengalahkan penilaiannya yang bijak. "Aku menunggumu besok."             Saat senyum jevin melebar, Rebbeca merasa lututnya goyah. "Sampai besok."             Rebbeca mengangguk, lalu berjalan menjauhi Jevin.             "Beca?" Lagi, Jevin menghentikan langkah Rebbeca.             Rebbeca berbalik. "Apa lagi?"             "Perfect Love. Novel itu sangat bagus."             Rebbeca memeluk tas laptopnya erat-erat. "Kamu membacanya?"             "Iya. Aku beli di toko buku. Kamu harus memberikan tanda tangan nanti." Rebbeca masih tidak percaya. "Semangat menyelesaikan novel barumu. Aku... sangat menantikannya, sama besarnya seperti aku menantikan bisa menghabiskan waktu denganmu sebagai... teman."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN