Jevin berdiri di bawah pancuran sembari membenturkan dahi dengan pelan ke dinding kamar mandi. Ini gila. Sejak kapan dia begitu mudah menginginkan bercinta. Dia suka bercinta... sangat menikmati kegiatan itu. Namun, hanya dengan wanita yang setidaknya sudah dia ajak kencan sebanyak lima kali. Beca. Wanita itu tidak masuk dalam kriterianya. Namun, dia sangat menginginkan wanita itu.
Kepalan tangan Jevin menghantam dinding keras-keras demi menyalurkan kekeslan. Mereka nyars bercinta. Dia bisa merasakan Beca menginginkan dirinya. Sial! Apa yang dipikirkan wanita itu? Apa yang telah dilakukan Beca padanya sehingga dia kewalahan memegang kendali dirinya sendiri?
"Argh!" Jevin menggeram dan memukul dinding sekali lagi.
Jevin merubah keran air hangat menjadi tiga tingkat lebih dingin.
Jevin menggenggam bukit gairahnya ketika wajah Beca muncul di balik matanya yang terpejam, berdiri sambil tersenyum di ambang pintu. Wanita itu bagaikan malaikat, dikelilingi pendar cahaya. Kemudian? Beca bertanya apakah dia mau melanggar aturan. Walaupun Jevin tidak tahu aturan mana yang harus dia langgar, tapi akan dia lakukan. Dengan senang hati dia akan melanggar semua aturan di muka bumi ini asal diberi kesempatan untuk mengenal Beca, untuk dekat dengan wanita itu.
Selagi memuaskan diri, Jevin membayangkan tatapan Beca ketika mereka berciuman—wanita itu menyandarkan satu tangan ke gagang pintu—payudaranya tak lagi tersembunyi di balik tank top.
Mereka memasuki kamar, sama-sama mengenyakkan badan di ranjang dan saling menyentuh. Bibir keduanya saling memagut. Dia tidak bisa berhenti menyentuh Beca.
Beca bakal duduk sembari melepaskan semua kain yang melekat di badannya. Wanita itu akan senang hati menyambut saat Jevin menghujam—
Sambil mengerang dengan badan bergetar, Jevin mencapai puncak. Sialan. Hari-hari kedepannya akan lebih berat dari sebelumnya.
Jevin membiarkan air dingin mengguyur badannya selama beberapa menit sampai yakin situasi sudah terkendali. Dia mampu mengendalikan diri selama ini. Tentu dia akan mampu menahan diri pada wanita asing itu. Tidak masalah.
Saat mengeringkan badan, dia mendengar sebuah ketukan yang terdengar kencang dan terburu-buru. Bang Jimmy balik? Biasanya terjadi hal seperti ini. Dia melilitkan handuk ke pinggang dan bergegas keluar dari kamar mandi. "Sebentar!" serunya, dan setengah berlari menuju pintu sambil melihat sekeliling apa ada barang Bang Jimmy yang memang tertinggal.
Begitu pintu terbuka, Jevin terkejut mendapati Beca berdiri di sana dengan tangan membawa paper bag yang sama sejak siang tadi.
"Ada apa?" tanya Jevin.
Beca tidak langsung menjawab. Pandangan wanita itu menyusuri d**a Jevin—lalu ke handuk—lantas kembali ke wajah Jevin. "Aku nggak punya waktu buat laundry ini, jadi aku kembalikan dan..." Beca merogoh kantung hot pantsnya. "Uang ganti laundry."
Jevin mecengkram pinggiran handuk kuat-kuat hingga nyaris membuatnya copot. "Kenapa?" Matanya sinis memandang Beca. Dari awal dia bisa mengurus baju sialan itu sendiri. Uang laundry? Serius? Dia mampu membayar sendiri, tidak perlu uang ganti. Bukan itu tujuan dia membiarkan bajunya kotor dan dibawa Beca.
"Aku punya banyak pekerjaan."
"Lalu?"
"Aku nggak sempat ke tempat laundry untuk satu baju saja."
"Memang kamu nggak mencuci bajumu yang lain?"
"Hah?"
"Jadi, kamu ingin menghilangkan alasan bertemu denganku?" Jevin maju satu langkah, tidak peduli penampilannya terlalu terbuka untuk berdiri di lorong apartemen. "Sebenarnya apa sih masalah yang kamu punya? Kamu menginginkan aku. Sama sepertiku. Tapi, kenapa kamu seolah terlarang untuk didekati? Hanya sementara tinggal di sini? Kenapa? Apa kamu buronan yang melarikan diri untuk menikmati hidup sebelum kembali ke penjara?"
Napas Jevin naik dan turun. Dia sudah bertekad untuk mengendalikan diri, namun tidak berhasil. Beca menghilangkan semua pengendalian diri yang dia punya. Dia begitu menginginkan Beca.
"Mungkin," sahut Beca dengan suara datar. Beca menunduk sebentar, lalu kembali mendongak, bibir kenyal wanita itu memaksakan lengkung samar tercipta. Satu tangannya meraih tangan Jevin dan memindahkan paper bag. "Anggap saja, aku ini buronan yang patut kamu jauhi."
"Nggak semudah itu, Beca." Jevin membiarkan paper bag jatuh ke lantai, dan meraih tangan Beca. Menarik Beca mendekat hingga mau tidak mau wanita itu melewati garis pintu, perbatasan luar dan dalam.
"Kamu mau apa?" tanya Beca sambil terus berusaha mempertahankan diri dengan meraih gagang pintu.
"Menurutmu?"
"Aku nggak tahu."
"Menyelesaikan yang kita mulai." Jevin tidak mau kalah. "Kamu memintaku melanggar aturan, ayo, kita langgar aturan."
"Tadi... itu... aku sedang gila, sekarang aku waras."
Jevin tidak mendengarkan, tidak juga memandang Beca. Dia sibuk berusaha membawa Beca masuk ke apartemennya, mengabaikannya haduk yang dia pakai riskan terlepas. "Kalau begitu aku sedang gila saat ini." Melihat Beca saja, sudah membuat Jevin bertekad untuk melemparkan wanita itu ke ranjang dan menyentuhnya. Dia gila. Gila karena pesona Beca merasukinya.
"Stop!" Beca berteriak dan mendorong d**a Jevin. Terus. Dan terus. "Aku memang menyukaimu." Perlahan dorongan berganti menjadi pukulan kecil. "Demi Tuhan! Siapa yang nggak tertarik sama pria sepertimu? Tapi aku nggak bisa! Ini salah!"
"Kenapa nggak bisa? Apa yang salah? Sejak siang kamu selalu mengatakan itu, tapi aku nggak menemukan satu alasan pun untuk menyakinkan diriku sendiri kalau kamu wanita yang nggak bisa kudekati. Status? Kamu dan aku sama-sama sendiri." Jevin menutup jarak di antara mereka dengan satu kali tarikan. "Apa kamu benar-benar penjahat berdarah dingin dengan wajah polos bak mailakat?" Kali ini Jevin menatap Beca seolah-olah mencari alasan lain yang menguatkan alasan Beca.
Beca tidak menjawab, tidak juga melakukan perlawan seperti sebelumnya.
"Berhentilah menolakku dengan alasan nggak masuk akal," bisik Jevin.
"Stop, Jev."
"Kamu punya sisa waktu berapa hari? Tiga minggu? Beri aku kesempatan selama tiga minggu itu. Beri aku waktu selama itu. Jika nggak ada ketertarikan lain yang lebih serius, alasan untuk kamu menetap. Jika aku nggak sanggup—memberikan alasan untuk kamu tinggal, seperti yang aku yakini—kamu boleh pergi dan kita akan menjalai perpisahan secara baik-baik."
Becca menggeleng.
Satu persatu jermari Jevin melepaskan pergelangan tangan Beca berganti meraih pinggang wanita itu. "Mungkin ini terdengar dangkal dan gila, tapi kamu... kamu mempengaruhiku seminggu terakhir ini, Beca. Sejak kamu pertama kali duduk di sudut pojok kedai kopiku. Kamu memenuhi pikiranku. Menghantui mimpiku."
Kemudian Jevin mencium Beca, berharap itu akan meluluhkan Beca. Dia tidak memedulikan posisi keduanya yang terbuka untuk umum—atau keadaan Jevin yang 'polos' jika handuk lepas dari pinggangnya. Namun, Becca tidak membalas ciumannya seperti yang lalu. Jevin berhenti. Memandang Beca untuk melihat apalagi yang salah. Alasan apalagi yang akan dipakai wanita itu.
Dengan lembut dan hati-hati Beca melepaskan rangkulan tangan Jevin dari pinggangnya. Kemudian mundur dua langkah. "I am married. I have children. Three..."