5

1020 Kata
Rebbeca tidak pernah mengira kalau bibir Jevin lebih candu dari yang dia duga. Ini tidak boleh terjadi. Ini salah. Kalimat demi kalimat itu terus hilir mudik di benaknya, tapi tak juga Rebbeca berhenti. Tanpa melepaskan bibir keduanya, dia terus membimbing Jevin menuju ke kamar. Ketika pintu terbuka, angin dingin berembus kencang hingga membuat dia melepaskan ciuman dan mundur dua langkah. "Kenapa?" tanya Jevin "Hanya terlalu kaget sama AC-nya. Biasanya nggak sedingin ini." Kemudian Jevin merengkuh pinggang, dan menarik Rebbeca kembali mendekat. "Aku akan membuatmu hangat sepanjang malam." Setelah mengatakan itu, Jevin mencondongkan diri ke arahnya dan memberikan ciuman yang menajubkan di bibir Rebbeca. Ciuman paling tulus dan lembut yang pernah dia rasakan. Keteguhan hati yang dia miliki runtuh seluruhnya. Jevin adalah pria yang luar biasa, terlalu menggoda untuk diabaikan. Jemari Jevin merangkak masuk di balik tank, menyusuri tulang punggung Beca, dan hal itu membuat keteguhan Rebbeca semakin hancur berkeping-keping. "Semakin kedinginan?" "Lumayan." Jevin memandang Rebbeca sejenak. Tatapan pria itu membuat Rebbeca tidak mampu bergerak. Degup jantungnya yang telah lama senyap mulai menimbulkan keributan lagi. Apalagi, saat dia membayangkan Jevin berbaring di atas ranjangnya, dengan kepala saling bersentuhan dan badan mereka saling terjalin. Gangguan logika itu mendorong Rebbeca untuk melirik ke ranjangnya. Ranjang.... Rebbeca gamang. Namun Jevin sudah memantapkan hati. Pria itu menarik mundur tangannya, meninggalkan Rebbeca seolah sang pemilik kamar adalah dia. "Kamu mau ke mana?" tanya Rebbeca ragu-ragu. Jevin tidak menjawab. Pria itu duduk di tepi ranjang, membentangkan kedua tangannya di masing-masing sisi. "Kemarilah," Rebbeca mengerjap dan langsung tersesat dalam matanya yang jernih. Lagi. Rebbeca meninggalkan kegamangannya. Bagai terkena sebuah mantra, Rebbeca menjalankan perintah Jevin, menghampiri pria itu dan berdiri di depannya. Jevin mengulurkan tangan dan menyibak sulur rambut dari wajah Rebbeca. "Aku ingin menciummu lagi." "Apakah kamu sedang meminta izin?" Rebbeca berusaha terlihat masih memiliki sisa-sia pendiriannya, padahal satu-satunya yang dia inginkan adalah menyerahkan diri pada Jevin. Jemarinya ingin menyentuh perut pria itu, tapi dia khawatir Jevin akan semakin menyangka dirinya murahan, jadi dia mencengkram pelan kemeja pria itu. Kedua mata Jevin kian melembut, menciptakan rayuan khusus untuknya. Pria itu membelai sebelah wajah Rebbeca, kemudian lehernya. "Iya." "Kamu sudah menciumnku sejak tadi, dan kamu tidak bertanya." "Itu berbeda. Aku nggak bermaksud mencium dengan serius, tapi kali ini berbeda. Aku ingin mulai sesuatu yang serius." Sesuatu yang serius? Rebbeca melepaskan cengkeramannya dari kemeja Jevin dan meletakkan jemarinya di d**a pria itu, kagum pada kepadatan d**a Jevin. Tetapi kekaguman itu tidak lama karena Jevin kembali berbicara. "Kamu belum menjawab." Bisikan pelan, parau, dan lembut—suara Jevin membuat Rebbeca hampir meleleh karenanya. "Cium aku, Jev." Kata-kata itu belum sepenuhnya keluar dari bibir Rebbeca ketika Jevin menarik pinggangnya dan melemparkan Rebbeca ke atas ranjang, kemudian memosisikan diri di atas Rebbeca. Jins Jevin terasa kasar namun menyenangkan di kulit Rebbeca saat pria itu beringsut di antara kedua pahanya, dengan bibir yang sibuk melahap dengan sangat lembut. Dia melingkarkan jemarinya di rambut Jevin, berusah menarik pria itu lebih dalam. Jevin dengan mudah menguasainya. Tanpa diminta, Rebbeca melingkarkan kedua kaki ke pinggang Jevin. Mendorong pria itu semakin intim dengannya. Kepadatan di bawah sana yang menyentuh area di antara kedua kaki Rebbeca, membuat Rebbeca terkejut. "Hmm." Rebbeca bergumama, tidak sanggup mengucapkan apa yang dipikirannya. Senyum tersungging di bibir Jevin. "Kamu menyukainya?" Rebbeca menanggapinya dengan menarik pria itu untuk menciumnya lagi. Kali ini Jevin tidak lembut. Jevin mendesaknya, dan membuat Rebbcea membayangkan desakan lain yang akan pria itu lakukan. Yang dilakukan dalam keadaan telanjang. Yang akan membuat mereka berkeringat meskipun AC di kamar ini sangat dingin. Ciuman-ciuman Jevin bergerak menuju lehernya, dan Rebbeca memalingkan kepala. Jari-jari pria itu sudah berlabuh di puncak dadanya ketika lagu twinkel-twinkel menggema memenuhi kamar Rebbeca. Seperti orang telah tertangkap mencuri, Rebbeca mendorong Jevin dengan kuat hingga nyaris terjungkal. "Astaga!" pekik Jevin. "Apa yang—" Rebbeca meminta Jevin diam dengan tangannya. Dia merangkak ke sisi atas ranjang, meraih handphone dari meja lampu tidur. Begitu melihat siapa yang menelpon, Rebbeca mengumpat pelan seraya turun dari ranjang. "Kamu harus pulang sekarang," perintah Rebbeca tanpa melihat Jevin. "Kenapa?" "Pulang, Jev!" "Hei... whats wrong, Beca?" Jevin menyusul turun berusaha untuk meraih lengan Rebbeca namun ditepis oleh Rebbeca dengan cara yang kasar, seolah tangan Jevin terlalu berkuman untuk menyentuhnya. "Beca?" "Pulang, Jev," pinta Rebbeca dengan suara sedingin udara kamar itu. "Please." Kekecewaan terlihat jelas menghiasi wajah tampan Jevin, tapi Rebbeca berusaha tidak peduli. Dia mengumpulkan kepingan keteguhan miliknya, mencoba menyusun dan membangunnya kembali. Suara bantingan pintu bersahutan dengan lagu twinkel-twinkel yang terus menggema, merajuk minta diangkat oleh Rebbeca. Rebbeca merosot ke lantai, bersandar pada tepian ranjang. Dia tidak punya keberanian mengangkat panggilan itu. Dia menggenggam handphone dengan kedua tangan. Menghela dan mengembuskan napas secara kasar secara berulang. Sunyi. Lagu itu berhenti. Namun, lima menit kemudian kembali terdengar. Berusaha tenang, Rebbeca menanggapi panggilan itu. "Halo?" "Adel mau ngomong sama kamu," sahut suara di seberang sana tanpa basa basi. "Oh. Oke." "Kenapa lama sekali sih?! Kamu kan tahu aku harus ke kantor setelah mengantar anak-anak." Satu tangan Rebbeca terkepal di atas lantai. "Sorry. Aku baru selesai mandi." Tidak ada tanggapan di seberang sana. Satu menit. Dua menit. Tiga menit. Empat menit. "Halo! Mama!" suara penuh sengat membuat kepalan tanagn Rebbeca terlepas. "Princess-nya Mama!" "Mama, kapan pulang?" Kapan pulang? Pertanyaan itu membuat Rebbeca melirik pintu yang tadi dilewati oleh Jevin. Dia nyaris meyakinkan diri untuk tidak pulang. Dia nyaris menciptakan alasan agar tetap di sini. "Tiga minggu lagi. Kangen mama?" "Yes! I miss you so much, Mama." "Hmm. Me too." "Can't you go home faster?" Sunyi beberapa saat. Pulang lebih cepat? Rebbeca tidak punya keinginan itu. "Adry dan Adrel kangen Mama. Papa juga kangen Mama. Iya kan, Pa? Tuh! Papa jawab iya, Ma!" "Mama usahakan pekerjaan di sini cepat selesai ya." "Oke." "Adel jangan nakal ya. Harus dengar-dengaran sama Papa. Oke?" "Yes, Mam!" Rebbeca tertawa kecil. "Nanti Mama telpon lagi ya. Papa mau kerja. Mama mau bobo, di sini sudah malam." "Oke." "Bye, Princess. I love you." "I love you too, Ma." Rebbeca tahu Adel akan mengembalikan handphone ke sang Papa, jadi Rebbeca menutupnya cepat-cepat. Dia tidak peduli setelah ini akan mendapat pesan berisi omelan. Dia sudah biasa mendapatkannya. Dia hanya tidak mau mendengar suara pria itu. Tidak sekarang. Tidak nanti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN