Jevin sadar sedang bermain-main dengan masalah. Ia pun tidak menyangka akan mengalami hal ini. Penasaran setengah mati dengan wanita yang belum dikenal dengan baik. Wanita itu tidak memakai riasan di setiap jengkal wajahnya, hanya bedak tipis dan lipstick. Rambutnya dikuncir ekor kuda, kadang dicepol asal. Bukan tipe wanita yang biasa mencuri perhatian Jevin. Beca pun tidak memamerkan lekuk badannya, semua tertutup rapat. Namun, Jevin bisa menebak ada sesuatu menggiurkan jika dibiarkan polos. Dan juga hebat dalam permaianan menggoda dan memuaskan, bisa dinilai dari teknik ciuman Beca tadi.
Sialan! Bibir Beca. Jevin rela melakukan apa pun untuk menikmati bibir itu lagi.
"Gue balik!" seru Bang Jimmy dengan wajah kesal. "Capek gue, dua jam ngomong sama tembok."
Jevin melirik Bang Jimmy. Alih-alih menunjukkan penyesalan, Jevin justru menghela dan mengembuskan napas kasar. Jevin bersikap seolah sedang menghadapi masalah yang lebih pelik daripada pekerjaan.
"Malam ini lo istirahat aja, besok gue jemput jam lima."
"Pagi atau sore?"
Bang Jimmy berdiri di depan Jevin, berkacak pinggang, diikuti pandangan membunuh.
"Iya. Iya. Gue siap sebelum jam lima. Santai bro, gue ingat kok kita pesawat pertama." Jevin ikut berdiri dan merangkul bahu Bang jimmy dengan cepat. Tanpa dosa, dia menggiring Bang jimmy menuju pintu. "Sekarang lo pulang, kasih jatah yang banyak buat istri. Besok baru bahas kerjaan lagi, oke?"
Bang Jimmy siap untuk menjawab, tapi Jevin lebih dulu menutup pintu. Sebenarnya Jevin merasa sedikit bersalah melakukan hal tidak sopan itu, bagaimana pun juga Bang Jimmy lebih tua darinya, tetapi dia butuh ruang untuk menyendiri.
Ketika Jevin mendapati ketenangan, matanya melirik ke tembok di sisi kiri. Beca...
Jevin melemparkan diri ke sofa, mengadahkan kepala, dan memejamkan mata untuk sejenak. Ia dapat merasakan ciuman Beca, dengan mudah mengingat bagaimana bibir dan lidah Beca bergerak bersama di antara bibir dan lidahnya. Tidak banyak wanita yang bisa mencium dengan tekanan seperti itu. Beca wanita yang sempurna untuk bersamanya, tapi kenapa wanita itu besikap seolah tidak tertarik? Beca pasti tertarik padanya. Mereka berciuman. Itu sudah bukti kuat.
"Arghhhh!" Jevin berteriak sekaligus menyingkir dari sofa menuju balkon apartemennya.
Jevin menghirup udara sebanyak-banyaknya seolah dia terkurung dalam ruang tanpa udara selama berhari-hari. Bukan hanya itu Jevin berupaya memenuhi otaknya dengan wanita lain. Dia berpusat mengingat Ranggini—model yang pernah berkencan dengannya. Jevin mengenang cara Ranggini mencium, menyentuh otot-ototnya, membisik namanya dengan mesra, bergoyang lincah di atasnya. Kemudian, bayangan bibir Beca melumat bibirnya masuk tanpa permisi.
"Sialan!" Jevin menggerutu sembari memukul pagar besi di balkon. Hal selanjutnya yang dia lakukan adalah melirik balkon Beca. "Ayo, keluar! Kita harus bicara," bisik Jevin seperti merapalkan sebuah mantra.
Lampu apartemen itu masih menyala, kemungkinan Beca masih bangun 100%.
"Beca..." Jevin megumamkan nama wanita itu. Suaranya pelan tapi pandangannya berharap Beca mampu mendengar.
Tidak berapa lama, terdengar suara klik dari seberang sana, diikuti gesekan pintu yang bergeser. Usaha Jevin mengumpulkan udara menjadi sia-sia, karena dadanya kembali sesak terutama saat sosok wanita yang dia bayangkan itu keluar hanya menggunakan tank top dan mini pants hitam. Memamerkan leher jenjangnya yang menggoda untuk ditandai. Mempertontonkan lekuk badan yang sempurna. Wanita itu lebih mirip pemeran film dewasa yang menyamar sebagai kutu buku.
Jevin menghela napas panjang lalu mata keduanya bertemu.
"Hai," sapa Jevin kaku.
"Demi Tuhan! Apa yang kamu lakukan di sana?"
Jevin tersenyum geli. "Ini balkon apartemenku. Dan aku mencari udara segar lebih dulu. Seharusnya aku yang bertanya; apa yang kamu lakukan di balkon dengan pakaian seperti itu?"
"Oh... ini..." Beca menarik ujung bajunya, membetulkan posisi celana, memeluk diri sendiri dengan upaya menutupi kedua dadanya. "Di dalam sana... ada dua kecoa yang datang entah dari mana."
"Kecoa?"
"Ya. Aku belum membeli obat serangga, dan aku terlalu takut untuk mengusir atau memusnahkan binatang itu secara langsung."
"Kamu takut kecoa?"
Beca mengangkat kedua bahunya bersamaan. "Ya, begitulah."
"Kamu mau aku bantu memusnahkan binatang itu?" Jevin menjaga nada suaranya tetap datar.
"Kamu bisa?"
Senyum menggoda yang sempurna menghiasi bibir Jevin. "Kalau itu bisa membuatmu lebih baik, aku akan melakukannya."
Untuk beberapa detik, Beca terdiam, terlihat memikirkan tawaran Jevin. Wanita itu menggigit bibir bawahnya cukup kuat, sepertinya Beca juga belum bisa melupakan ciuman tadi.
"Tapi, kalau kamu ragu membiarkanku masuk setelah yang terjadi antara kita beberapa jam lalu. Aku nggak masalah." Jevin memasukkan kedua tangan ke saku celana, masih berusaha menutupi keinginannya untuk meninggalkan balkon dan bertindak bagai pahlawan untuk Beca. "Baiklah!" Jevin sengaja menaikkan nada suaranya. "Aku masuk dulu."
Beca masih belum bergerak, bahkan saat Jevin memutar badannya dengan anggun, tidak ada tanda-tanda Beca akan menghentikannya.
"Can you help me?" Pertanyaan itu menghentikan langkah Jevin memasuki apartemennya.
Jevin membalas tatapan Beca. "Aku sudah menawarkannya sejak tadi."
"Ya. Dan sekarang aku menerimanya."
"Bagaimana aku bisa masuk ke apartemenmu? Melompat dari balkon ini?"
"Aku nggak mau bertanggung jawab kalau terjadi sesuatu yang buruk sama kamu."
"Lalu?"
"Pintuku nggak dikunci."
Jevin menggeleng kecil, kemudian berlari cepat melintasi apartemennya. Memang keamanan di gedung ini cukup ketat, tidak bisa masuk atau mengoperasikan lift tanpa akses card. Tetapi tetap saja, membiarkan pintu tidak terkunci bukan pilihan bijak. Apalagi, Beca adalah wanita. Dan tinggal sendiri.
Jevin berhasil memasuki apartemen Beca. Apartemen ini tidak jauh berbeda dengan apartemennya, hanya lebih rapi dengan aroma lembut dan feminim yang sangat kental. Barang yang menghiasi setiap sudut ruang pun hanya untuk kebutuhan pokok. Wanita itu benar-benar tidak berminat untuk tinggal lama.
"Kecoanya ada di kamar mandi dan dapur!" teriak Beca tanpa membuka pintu balkon.
Tanpa menyahut, Jevin bergerak ke ruangan yang disebutkan Beca. Dua serangga itu memang ada di sana. Karena tidak mau membunuh dengan memukul, Jevin mencari plastik putih yang biasa digunakan untuk membungkus gula pasir atau lauk, setelah mendapatkannya Jevin memasukkan kedua serangga secara bergilir lalu diikat dengan rapat. Kemudian membuangnya ke tempat sampah.
Beca sepertinya tahu Jevin sudah selesai mengusir pengganggu. Wanita itu masuk, berjalan menghampiri Jevin yang sibuk membersihkan tangannya dari sisa-sisa kuman.
"Kamu membuang kecoa di tempat sampah? Kalau begitu bisa aku minta tolong sekali lagi? Tolong buang kantung sampah itu ke pembuang akhir. Kamu tahu kan posisi pembuangan akhir itu?" Jevin menaikkan satu alis sambil terus memandang Beca. Ia tidak memperhatikan permintaan kalimat dan nada suara Beca. Posisi keduanya terlalu dekat jadi Jevin tidak bisa memikirkan apa pun selain badan wanita itu. Tiba-tiba Jevin merasakan matanya berkunang-kunag, entah karena terlalu lelah karena seharian ini dia belum beristirahat, mengambil dua kecoa dengan tangannya padahal dia pun tidak menyukai serangga itu, atau karena Beca begitu menggairahkan di sampingnya.
Beca menatap Jevin dengan heran. Entah memang heran, atau Jevin salah mengartikan gerakan bibir wanita itu. "Terima kasih untuk bantuannya."
"Ya, namanya toleransi antar tetangga."
Beca mengulas senyum yang mampu membuat Jevin mengerang tidak tahan untuk mengulang ciuman mereka. "Kamu mau aku balas dengan apa?"
"Kamu serius?"
"Iya." Jarak Beca semakin dekat. Dan sebagian kulitnya basah, mungkin terlalu panas berdiri di luar selama 45 menit.
Jevin tidak mau menganggap tawaran dan gerakan Beca sebagai sebuah undangan, tapi setelah adegan berciuman, Jevin tidak bisa lagi berpikir yang sebaliknya. Dia sudah sangat menyadarinya. Sejujurnya, Jevin bahkan rela memunguti puluhan kecoa kalau itu bisa membuat Beca menggodanya seperti sekarang.
Ekspresi Beca kelihatan sangat berhati-hati, tidak ada gairah seperti yang dirasakan Jevin. "Jadi, kamu mau apa? Jangan memintaku untuk menciummu lagi, atau ke hal yang lebih dari itu." Jevin tersedak ludahnya sendiri. Humor melintasi pandangan Beca dan beringsut ke sudut bibirnya. Kali ini Jevin benar-benar yakin wanita itu menggodanya. "Kalau itu harapanmu, maaf, aku memilih membayar dengan cara lain. Yang nggak melibatkan ciuman, sentuhan, atau apa pun itu."
"Aku kecewa," sahut Jevin, yang masih dianggap lelucon oleh Beca.
"Sudah kembali ke unit kamu sana. Besok aku buatkan sarapan, kamu biasa sarapan roti? Nasi goreng? Atau...."
"Aku harus pergi subuh, kamu pasti belum bangun."
"Kalau begitu... istirahat sana. Kalau penampilanmu menurun, penggemarmu akan kecewa."
"Untuk menikmati pemandangan indah di depan sini, rasanya setimpal."
Beca mengerjap. Kata-kata Jevin sepertinya membuat wanita itu terkejut. Dan dengan berani, Jevin semakin mendekat ke arah Beca. Dengan ujung jemari, ia mengangkat keliman tank top sedikit, lalu naik lagi. "Ini terlalu menggoda untuk dilewatkan. Seksi," kata Jevin. "Berlekuk. Rata dan lembut. Kamu tahu, banyak pria akan rela bertarung untuk membenamkan diri ke dalam sesuatu yang lembut seperti ini."
Keadaan berubah menjadi senyap. Beca mundur tiga langkah dan Jevin menahan diri untuk tidak mengikutinya.
Beca menelan ludah. "Masalah ciuman tadi sudah aku jelaskan," katanya, suara Beca sedikit bergetar. "Ingat? Jangan melewati batas Jevin. Aku—"
Tatapan Beca bergerak turun dari mata Jevin dan Jevin pun melakukan hal yang sama. Keduanya saling mengagumi kelebihan fisik masing-masing secara terbuka. Satu menunjukkan gairah. Yang satu berusaha tidak terpengaruh, walaupun keringat yang muncul di pelipisnya menjadi bukti kalau gairah yang dirasakan sama besarnya.
"Sudah terlalu larut, Jev. Kembali saja ke unitmu."
Jevin menyerah, dan menyeret kakinya menuju pintu. Sebelum keluar dia kembali berbalik ke arah Beca. "Setidaknya aku akan mengambil sedikit balasan yang kamu tawarkan."
"Hah?"
Sebelum sempat Beca menghindar. Jevin mengulurkan satu tangan menangkup belakang kepala Beca, menarik bibir wanita itu ke bibirnya. Sementara satu tangan yang bebas merengkuh pinggang Beca, menekan badan Beca rapat dengan badannya. Sedikit ciuman yang ingin dicuri oleh Jevin berubah menjadi ciuman penuh gairah. Dengan susah payah keduanya melepaskan ciuman itu, dan mendapati sorot mata Beca dipenuhi gairah yang sama dengan yang menguasainya saat itu.
"Terlalu mengikuti aturan ternyata membosankan," bisik Beca.
"Terkadang kita harus sedikit keluar jalur untuk mendapatkan pengalaman tak terlupakan."
"Mau membantuku melanggar aturan?"
"Kupikir kamu nggak akan perah menanyakannya."