3

1416 Kata
Lelah seolah berkawan dengan Rebbeca, dan meski ingin menyalahkan Dita karena terus menekannya soal deadline, ia tidak bisa melakukannya. Dita sudah memberi waktu selama satu tahun, menunggu dengan sabar karya terbaru dari Rebbeca. Timeline kerja Dita terus berjalan. Tapi Rebecca harus buat apa. Selama satu tahun, bahkan sampai malam ini, ia belum juga tahu apa yang harus ditulis. Ide sedang menghindari benaknya. Semua yang ia mulai berakhir dihapus. Rebbeca memasuki lift apartemen yang menyatu dengan salah satu mal besar di Jakarta. Pandangannya berhenti sesaat pada paper bag berisi baju Jevin. Sengatan aneh terasa di sekujur badan Rebecca, saat ia mengingat obrolannya dengan Jevin—senyum pria itu. Ah, sayang sekali ia tidak punya kesempatan mengenal pria itu lebih dekat. Ia mau, tapi tidak bisa. Pintu lift kembali terbuka dalam hitungan detik. Ada dua orang pria masuk, dan salah satunya membuat Rebbeca nyaris menjerit. Senyum itu. "Kita emang ditakdirkan selalu bertemu." Terdengar suara bernada dalam yang tidak asing, dan Rebbeca masih menganga—tidak tahu harus menjawab seperti apa. "Lo kenal, Jev?" tanya pria tambun yang bersiap menekan tombol lift, tapi tidak jadi begitu melihat lantai 9 sudah dipilih. "Kenal. Dia Beca—pelanggan kedai." Jevin tersenyum semakin lebar. "Oh ya, Beca... ini Bang Tommy—manager aku." Bang Tommy menaikkan satu alisnya, dan memandang Rebbeca serta Jevin bergantian. Mungkin dalam hati sedang bertanya; sejak kapan ada keharusan manager dikenalkan ke pelanggan kedai. Rebbeca mengatupkan bibir begitu sadar Jevin sengaja mengambil posisi di sampingnya, hanya menyisakan jarak beberapa jengkal. Rambut Jevin sedikit basah seolah baru keluar dari kamar mandi. Aroma citrus dari pria itu menggoda sisi liar Rebbeca. "Jadi, apa yang kamu lakukan di sini? Ini bukan lift ke mal. Apa kamu mengunjungi seorang teman, atau..." Sementara Rebbeca masih tertegun. Jevin terus berceloteh. Sialnya, Rebbeca tidak mampu memahami apa yang disampaikan Jevin. Ia hanya fokus memperhatikan cara bibir Jevin bergerak. Sialan. Tiba-tiba saja Jevin pindah posisi di depannya, kilatan jenakan terlihat di mata hazel pria itu, diikuti bunyi ting nyaring. "Well, sepertinya kita keluar di lantai yang sama." Jevin dan Bang Tommy keluar lebih dulu. Rebbeca yang terlalu lelah untuk pura-pura salah lantai akhirnya mengikuti, dan mereka berjalan ke lorong yang sama. Lagi. Rebbeca nyaris menjerit. Jevin berhenti di sebelah apartemennya, Bang Tommy membuka pintu dengan semangat dan masuk lebih dulu. Jevin melirik Rebbeca, yang masih terdiam di depan pintu kamar—tidak mencari kunci, atau berupaya masuk. Hanya memandangi Jevin penuh tanya. Jevin sepertinya menyadari kebingungan Rebbeca. "Wah... semesta sedang memaksa kita untuk dekat." "Sejak kapan?" "Apa?" "Sejak kapan kamu tinggal di situ?" Rebbeca menunjuk apartemen Jevin. "Dua tahun lalu," sahut Jevin diiringi senyum simpul. "Tapi..." Rebbeca mengernyit, selama seminggu ia menepati apartemen ini tidak pernah sekali pun bertemu. Oke. Rebbeca tahu ada kehidupan di sebelah itu namun hanya tengah malam, kemudian lenyap saat subuh tiba. "Ah, lupakan. Kamu artis, pasti jarang diam di sana." "Memang. Tapi, mulai hari ini... sebisa mungkin aku akan lebih sering di dalam sini," kata Jevin. "By the way, ini benar-benar kebetulan. Aku nggak merancang keadaan supaya bisa bertetangga sama kamu." Rebbeca tidak yakin harus menanggapi situasi ini seperti apa, jadi ia hanya tersenyum tipis, satu-satunya hal yang pasti mampu dilakukan tanpa harus terlihat aneh. "Selamat beristirahat tetangga." Jevin memberi kode untuk masuk, lalu menghilang. Rebbeca berhasil mengatasi keterkejutannya, walaupun dalam hati terus saja mengumpat. Mulai malam ini tidurnya tidak akan nyenyak, otaknya akan sibuk menciptakan khayalan-khayalan liar tentang tetangga barunya itu. Jangan lebay deh, Re! Lo udah sering khayalin dia buat kepentingan novel! Rebbeca membentak dirinya sendiri, dan memasukkan kunci ke lobang dengan kasar. Pintu berhasil terbuka, ia sudah berniat masuk tapi Jevin mengejutkannya. Lagi. "Beca...," panggil Jevin. Rebbeca tidak langsung menoleh. Ia mengembuskan napas pelan terlebih dahulu. "Ya?" "Kalau yang tadi siang, itu sengaja." Jevin mengatakannya tanpa malu-malu, yang mungkin merupakan salah satu trik untuk membuat Rebbeca terpesona dengan berani mengakui sesuatu. Dan berhasil. "Lalu?' "Aku senang nggak perlu repot-repot mengikuti kamu lagi. Kamu tepat di samping kiriku, semua lebih mudah." Ya, trik itu sepenuhnya berhasil. Rebbeca terpesona 100% dengan semua hal yang terhubung dengan Jevin. Apa dia harus membagi momen ini pada semua pembacanya, terkhususkan pada pembaca Perfect Love—di mana ia memakai Jevin sebagai visualisasi untuk mempermudah pembaca membayangkan tokoh utama pria di cerita itu. "Baiklah," kata Rebbeca. Cukup sudah memikirkan hal yang terlalu jauh. Ia tidak akan membagi hal ini pada siapa pun, dan Jevin tidak perlu tahu siapa dirinya. "Aku juga senang nggak perlu banyak usaha untuk mengembalikan ini." Rebbeca mengangkat paper bag. "Cukup digantungkan di gagang pintu." Rebbeca mendorong pintu apartemennya terbuka, mematung ketika tangan pria itu berada di depan wajahnya, menghalangi niat Rebbeca untuk masuk. "Kenapa digantungkan begitu saja? Kamu bisa mengetuk pintu, memberikannya langsung. Setelahnya kita bisa mengobrol, minum kopi bersama—di apartemenku atau apartemenmu." Jevin mendekatkan badannya, nyaris menempel dengan badan Rebbeca. "Kan sudah aku bilang, aku sedang berusaha." Setengah mati Rebbeca menahan diri agar tidak terpengaruh. "Jangan membuang waktu. Aku nggak tertarik..." Kebohongan paling t***l yang pernah keluar dari bibirnya. "Tapi aku punya feeling kuat kamu akan tertarik." "Oh ya?" "Kamu akan tertarik dan menetap di sini." Rebbeca terbahak. "Jangan bertaruh." "Serius, aku rasa kita harus bertaruh." "Oke, kemungkinan aku akan tertarik memang besar. Aku nggak bisa mengingkari itu. Tapi menetap... itu mustahil." "Mustahil itulah tantangannya," kata Jevin sambil mengedipkan satu mata. "Waktumu berapa? Tiga minggu? Lihat saja, dalam waktu tiga minggu—kita akan bersama, dan kamu akan menetap di sini." Rebbeca semakin terkejut. Ia tidak pernah menduga Jevin akan seperti ini, maksudnya—hello, mereka baru bertemu tadi siang. Tetapi sikap dan tekad Jevin sekarang menggambarkan mereka sudah lama berkenalan, dan ia sudah lama jadi incaran Jevin. Rebbeca menjatuhkan paper bag dan tas laptopnya ke lantai, melangkah sekali, dan memusnahkan seluruh jarak di antara keduanya. Tanpa ragu Rebbeca menangkup wajah Jevin dengan satu tangannya. Tidak peduli ada Bang Tommy di dalam apartemen Jevin, atau kemungkinan penghuni apartemen lain lewat. Bibir Rebbeca menyatu nyaman dengan bibir Jevin, sehingga membuat Jevin kegirangan seperti mendapatkan hadiah. Rebbeca membawa tangan satu lagi menyentuh wajah Jevin, disusul lidah yang lembut membelai bibir bawah Jevin sebagai permohonan izin. Jevin membiarkan dan memperdalam ciuman, Rebbeca dapat merasakan sesuatu yang lembut dan b*******h menyatu dengan sempurna. Bibir. Ciuman ini. Persis seperti yang dia bayangkan. Jevin mencium dengan hebat. Namun, ini tidak bisa berjalan seperti yang diinginkan Jevin. Atau seperti yang diinginkan Rebbeca sendiri... Jantung Rebbeca berdegup kencang untuk pertama kalinya setelah setahun lebih dia mati rasa tentang semua hal yang berhubungan dengan pria. Rebbeca menarik diri untuk menatap Jevin. Akal sehat menyuruh Rebbeca untuk berhenti. Bukan ini tujuan Rebbeca kembali ke Indonesia. Hubungan satu malam dengan Jevin akan berkembang ke malam yang lain, dan itu bukan hal yang baik. "Kamu pria yang menarik, tapi aku nggak akan pernah bisa menetap di sini." Rebbeca kembali melumat bibir Jevin dengan lembut, hanya sebentar lalu melangkah mundur sampai melewati perbatasan pintu. "Semoga ciuman ini bisa menghilangkan rasa penasaranmu padaku. Dan membuatmu melupakan usaha yang kamu bilang itu." Rebbeca mengambil dua tas bawaannya. "Selamat malam." Rebbeca berusaha meninggalkan Jevin begitu saja dengan menutup pintu, tapi Jevin tidak membiarkan itu terjadi. Pria itu menahan pintu dengan ujung sepatunya, lalu membuka paksa pintu Rebbeca. Jevin terlihat kecewa, memang sepertinya itu tidak masuk akal tapi itu yang diperlihatkan wajah Jevin dengan jelas. Pria itu menginginkan Rebbeca; dia sudah b*******h. Tetapi, Rebbeca tidak bisa mengizinkan semua itu terjadi. Walaupun hubungan satu malam hal yang biasa dilakukan pria seperti Jevin, atau pria di belahan bumi lainnya. Rebbeca tidak bisa mengambil risiko, ada harapan lebih yang di antara mereka. "Katakan satu alasan masuk akal; kenapa aku harus melupakan niatku menyukaimu? Padahal dari ciuman tadi aku bisa menyimpulkan, kamu sama tertariknya seperti aku. Jangan bilang kamu sekadar singgah, karena aku bisa pastikan dari caramu menciumku—aku bisa memaksamu untuk tinggal." Rebbeca menghela dan mengembuskan napas tajam. "Aku nggak berniat melambungkan harapanmu lalu mengecewakanmu." "Itu bukan jawaban dari pertanyaanku." Rebbeca memejamkan mata sebentar, dan membukanya cepat. "Kamu artis, aku orang biasa. Kamu biasa diliput, aku nggak biasa. Sudah lihat alasan kenapa aku enggan berhubungan dengamu?" "Cuman itu?" Jevin mengerutkan kening. "Ya." "Astaga, aku bisa—" "Aku yang nggak mau!" sanggah Rebbeca. Ia dapat merasakan kekagetan Jevin, tapi mengabaikannya. Tanpa pikir panjang Rebbeca mendorong badan Jevin menjauh, lalu menutup pintu tanpa berpamitan. Begitu mendapati dirinya sudah sendirian di apartemen, Rebbeca terkejut untuk hal-hal yang dia lakukan beberapa menit lalu. Apakah ia sudah gila menolak Jevin Adhitama seperti tadi? Puluhan wanita rela merangkak untuk berdekatan sangat intim dengan pria itu, bersalaman, mengobrol, menyentuh wajahnya, merasakan bibirnya yang lembut, atau... menghangatkan ranjangnya. Stop, Re! Tindakan lo sudah benar!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN