9

1489 Kata
Rebbeca duduk bersantai di kursi ruang tamu sambil meminum teh jasmine hangat yang dibuat beberapa saat lalu. Dia melirik jam dinding—sudah di angka lima, dua jam lagi. Dia ragu semua akan berjalan lancar. Menghabiskan waktu berdua dengan pria seksi yang mencuri perhatiannya, menyikirkan akal sehatnya. Hubungan mereka tidak akan berkembang ke mana pun. Lebih baik menjaga jarak saja. Namun, dia tidak bisa membatalkannya begitu saja. Tidak di saat godaan makan malam—mengalihkan kesendirian dan kenangan yang memilukan, kesempatan mendapatkan ide. Gue bisa menjaga hubungan kami di zona aman, Rebbeca meyakinkan dirinya. Apa salahnya satu kali makan bersama tetangga yang kebetulan adalah temannya? Lagipula, Jevin sudah tahu dia menikah. Tidak ada lagi yang perlu dia khawatirkan. Pria itu pasti tahu batasan apa saja yang berlaku bagi wanita dengan status seperti itu. Dua jam berlalu begitu saja. Tidak bisa dihidari, semakin dekat waktu yang disepakati—Rebbeca kian panik. Anehnya dia dipenuhi oleh kepanikan tidak masuk akal. Tarik napas... embuskan, katanya dalam hati. Ini bukan kencan! Jadi stop bersikap kalau lo terserang panik-kencan-pertama! Pintu apartemen Rebbeca terketuk dengan nyaring, butuh waktu sekitar lima menit untuk Rebbeca membuka pintu dan memastikan wajah datarnya siap dipamerkan. Jevin menjulang di depan sana. Berpakaian rapi—kaus putih dipadu jaket kulit hitam serta celana jins biru gelap dan membawa sebuket bunga. Rebbeca menelan ludah dengan pemandangan di depannya. "Wah... kamu cantik juga ya kalau pakai dress seperti ini," puji Jevin dengan santai sambil memindahkan buket bunga ke tangan Rebbeca. Di tengah kepanikan, Rebbeca menyambut buket bunga bawaan Jevin dan mencengkeram ujungnya cukup kuat. "Terima kasih," sahutnya dengan suara bergetar penuh emosi tidak stabil. "Apa gaun ini cocok dengan tempat makan malam kita? Atau berlebihan? Kalau—" "Cocok. Sangat bagus. Cantik." Masih dengan senyum paling menggoda yang pernah dilihat oleh Rebbeca. "Ah—oke." Rebbeca menyelipkan sedikit rambut ke belakang telinganya, mengalihkan pandangan pada lantai, telivisi—ke mana saja asal bukan wajah Jevin. "Jadi... kapan kita bisa berangkat?" "Sekarang!" Rebbeca meninggalkan pintu tetap terbuka saat dia belari masuk ke kamar dan keluar dengan menggangi buket bunga menjadi tas. "Kita berangkat." Senyum Jevin yang semakin lebar saat keluar dari apartemen Rebbeca membuat Rebbeca ingin meraih lengan kokoh pria itu dan bergelayut manja di sana. Namun, Rebbeca harus menyingkirkan pikiran gila itu. Dia tidak boleh lagi bersikap sembrono. Hanya tersisa sekitar dua minggu, dia harus bertahan. Dia harus berhati-hati. Mereka mengawali perjalanan dalam kesunyian, Rebbeca mengatupkan bibir rapat dan memusatkan perhatian pada pemandangan di balik kaca sebagai upaya menyibukkan diri. "Bagaimana tidurmu semalam?" tanya Jevin menghancurkan kesunyian dengan sekali pukulan. "Aku bangun jam empat subuh untuk olah raga, dan nggak sengaja melihat lampu apartemenmu mati. Itu kamu kembali tidur atau baru mau tidur?" "Ya. Aku baru benar-benar mau tidur subuh tadi—" "Benar-benar?" Jevin menyela saat lampu merah memaksa mobil mereka untuk berhenti. Rebbeca ragu harus menjawab itu. "Aku mengidap insomnia." Jevin tidak akan mengerti, otaknya terbiasa berpikir tanpa henti selama setahun ini, bahkan di saat dia sendiri sudah menyerah dan tidak mau lagi mencari jawaban, otaknya terus saja bekerja—membuatnya kesulitan memikirkan hal lain. Melakukan aktivitas pada umumnya. "Jadi, apa yang kamu lakukan? Minum obat tidur?" "Nggak, aku nggak minum apa-apa." "Kenapa nggak?" "Membayangkan aku di bawah pengaruh obat dan terlalu lamban berpikir membuatku sedikit takut." "Kamu harus tidur teratur," Jevin berkata penuh perhatiaan. "Aku tahu. Tapi, aku tidur sampai siang tadi." Rebbeca tertawa seorang diri. "Begitu bangun, aku menyelesaikan beberapa pekerjaan. Jadi, itu bagus." "Oh ya? Novel baru? Apa aku jadi visualisasimu lagi?" Mobil kembali berjalan, mulai berjuang bersama beberapa mobil lainnya. Suasana yang tadinya terasa kaku di antara keduanya perlahan mencair. Ikatan dalam diri Rebbeca mulai mengendur. "Kamu sudah terlalu melekat pada karakter tokoh di perfect love." "Kedengarnya aku nggak bisa jadi pusat perhatian tahun ini." "Kamu sudah menjadi pusat perhatian setahun penuh, beristirahat saja dulu." "Setahun." Jevin bergumam pelan, melirik Rebbeca sekilas lalu kembali memandang depan. "Apa setahun kemarin berat untukmu? Kamu berubah terlalu banyak..." Hening. "Nggak usah dijawab kalau nggak mau. Aku penasaran, tapi nggak memaksa." Keraguan dan kekhawatiran yang tampaknya menyelubungi Rebbeca bagai jubah mulai merosot. "Sangat berat. Perubahannya pun terlalu tiba-tiba." Rebbeca duduk tegak dengan kedua tangan saling terkepal di atas pangkuannya. "Setahun lalu... kehidupanku diterpa tsunami secara tiba-tiba. Wush! Sejauh mata memandang hanya ada puing-puing." "Sekarang?" "Masih sama." Rebbeca menghela dan mengembuskan napas dengan kasar. "Aku mengumpulkan puing-puing yang kupikir bisa diperbaiki, tapi... nggak ada bisa diperbaiki. Jadi, aku berhenti mengumpulkan puing-puing. Aku nggak lagi mencoba memperbaiki apa pun." Jevin terdiam, tenggelam dalam lamunan. Kemudian berkata, "beberapa bulan sebelum kita berkomunikasi di i********: setahun yang lalu. Duniaku juga baru terkena tsunami..." Rebbeca langsung menebak ini berhubungan dengan skandal yang pernah dialami Jevin ketika pria itu baru saja naik daun sebagai presenter acara travelling dan model iklan. "Apa ini berhubungan dengan gosip, tentang—" "Itu bukan gosip. Itu fakta." Ketika mendengar itu Rebbeca secara otomatis menoleh ke Jevin. "Anak perempuan yang harus kuakui sebagi keponakan di depan khalayak umum adalah anakku." Jevin mengangkat kedua bahu, tetapi Rebbeca tahu, itu bukan isyarat meremehkan. "Nggak pernah terbayang, kesempatan menjadi ayah lewat di depan mata begitu saja. Anak itu darah dagingku, tapi dia mengenalku sebagai Uncle. Wah. Rasanya nggak adil saat itu, tapi mau gimana lagi... aku terikat kontrak. Aku harus patuh dengan semua yang mereka rencanakan. Lagipula, anak itu lahir di luar ikatan pernikahan." Mobil berhenti untuk kesekian kalinya karena lampu merah. Jevin mengambil kesempatan itu untuk membalas pandangan Rebbeca. "Dibalik publik figure yang sempurna ini lah aku... hanya pria brengsek." Jevin menarik napas panjang, lelah, terdengar menyayat. "Kenapa... nggak menikah secara resmi?" tanya Rebbeca. "Karena nggak ada cinta di antara aku dan wanita itu, hubungan kami hanya main-main. Tapi saat aku tahu dia melahirkan anak, dan itu darah dagingku. Aku menawarkan pernikahan... cinta bisa datang belakangan, yang penting bagaimana caranya agar ibu dari anakku nggak mendapatkan hinaan karena belum menikah sudah punya anak. Dan ya... lagi... management keberatan." "Sekarang?" "Dia sudah menikah. Ada pria baik yang menerima dia dan anak kami dengan baik." Senyum Jevin tertekuk ke satu sisi. "Dia berjuang keras menjauhkan kami dari masalah. Dia nggak mau kehadirannya dan anak kami menjadi penghancur karir yang kurintis dengan susah payah, ya, jarang ada wanita seperti itu. Kamu tahu, biasanya beberapa wanita memilih membesar-besarkan di muka umum. Mendapatkan perhatian. Simpatik." Rebbeca mencengkeram erat sisi dressnya. Entah bagaimana caranya Rebbeca merasa mual mendengar cerita Jevin, bukan karena dia merasa Jevin pria b******n yang suka menabur benih tanpa peduli akibatnya. Pria itu sakit hati karena anaknya tidak bisa mengenalnya sebagai ayah, itu udah cukup bukti kalau Jevin b******n yang siap bertanggung jawab. Hanya saja... dia mengerti seperti apa rasanya menyembunyikan rahasia besar—menjadi satu-satunya orang yang patah hati. Itu salah satu aspek tersulit yang harus dihadapi Rebbeca. Membuatnya cukup menderita karena menyalahkan diri sendiri selama setahun. "Kamu nggak mau bertanya tsunami macam apa yang mengubahku?" "Mau, tapi nggak mau memaksa. Kalau kamu mau cerita aku dengarkan, kalau nggak juga nggak masalah." Rebbeca bersandar untuk mengamati Jevin. Saat menyadari Jevin rela mendulukan ego Rebbeca, perasannya bergetar. "Kamu ingat Martin—suami yang aku tunjukkan fotonya waktu kita skype." "Hmm." Rebbeca mengira, selama ini air matanya telah habis tercucurkan. Namun, gumpalan sialan di kerongkongannya membengkak dan matanya memanas. "Aku nggak pernah membayangkan Martin akan tega menyebabkan tsunami besar dalam pernikahan kami. Aku mencoba mengikarinya." Sebutir air mata menetes dan dihapusnya cepat-cepat. "Selama tujuh tahun kami menikah, nggak pernah sekali pun Martin menunjukkan tanda-tanda aneh. Dia ayah yang baik. Dia suami yang bertanggung jawab. Aku—hidup bersamanya bagaikan dongeng yang nggak pernah usai. Bagaikan novel percintaan yang menghanyutkan. Dia memang sering pergi keluar kota atau negeri sendirian, alasannya kuat, kami punya tiga anak dengan umur berdekatan yang nggak bisa ditinggal. Aku nggak curiga, kamu tahu? Seharusnya aku sebagai istri curiga, tapi nggak. Aku nggak pernah berpikir dia hanya alasan saat pergi, atau satu hari nanti aku akan mendapati dia tidur di ranjang kami dengan wanita lain—" Rebbeca berdeham agar suaranya tidak bergetar. Jevin menyela sebelum Rebbeca memaksakan akhir kalimatnya. "Dan mengkhianati kepercayaanmu," kata Jevin lembut. "Ya." Rebbeca mengerjap cepat, berusaha menahan air mata lagi. "Dia sering melirik wanita lain saat berpacaran, tapi saat kami menikah dan lahir si kembar... dia berubah. Family man. Seharusnya aku tahu dia nggak akan pernah bisa berubah." Jevin mengulurkan satu tangan dan meraih tangan Rebbeca. Jevin tidak bicara. Matanya pun sibuk memandang kondisi jalan. Jemari Jevin hanya memainkan jemari Rebbeca, hingga emosinya terkendali. Kemudian, Jevin melepaskan tangan mereka dan kembali ke kemudi mobil. "Dia akan menyesal," kata Jevin. "Dia sudah menyakiti wanita yang berkorban banyak untuknya." "Entahlah... karena sejak hari itu, hatiku mati rasa padanya. Sebaik apa pun dia mencoba membuatku percaya dia menyesal dan mau berubah, semua terlanjur tawar." Rebbeca merapikan posisi seat belt di depan badannya. "Dia begitu mudah bergembira bersama wanita lain di belakangku, tapi kenapa aku nggak bisa melakukan hal yang serupa denganmu. Waktu itu—saat kita... ah, lupakan!" Jevin tampak berhati-hati memikirkan sesuatu. Kemudian, setelah jeda singkat, Jevin mengangkat bahu sediki. "Sepertinya posisi teman sangat baik untuk memulai dengamu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN