10

1199 Kata
Golden Resto, Bar, & Cafe menjadi pilihan terbaik bagi Jevin untuk mengajak Rebbeca menghabiskan sisa malam dengannya. Mempunyai kenalan si pemilik tempat membuat Jevin dengan mudah mendapatkan tempat paling strategis di sana. Tempat paling pojok. Privasi terjaga dengan pemandangan malam ibu kota. "Tempat yang bagus untuk kencan tanpa diganggu, dan sepertinya kamu member vip—dilihat dari cara kamu mendapatkan meja ini, menerobos tiga antrian," kata Rebbeca setelah mereka duduk nyaman saling berhadapan. "Sudah berapa wanita yang kamu taklukan dengan membawa dinner romantis ke sini?" Jevin memainkan ujung jemari di atas meja. Seharusnya dia menanggapi kalimat Rebbeca, namun senyum wanita itu, wajah cantik di bawah lampu temaram—membuatnya terpaku. Rebbeca terlihat begitu spesial. "Jev?" "Ya?" Jevin merapikan posisi duduk tanpa melepaskan pandangan dari Rebbeca. "Kamu terlalu memesona, sampai konsentrasiku kabur terbirit-birit." Jevin menjawab sambil tertawa kecil. Rebbeca memainkan ujung sendok. "Kamu pandai mengalihkan pembicaraan." "Memang kita sedang membicarakan apa?" "Berapa wanita yang sudah kamu bawa ke sini?" "Satu. Kamu." Rebbeca terdiam sejenak, lalu menyendokkan potongan steak ke mulutnya. Sementara Jevin melegakan tenggorokannya dengan meneguk lemon tea dari gelasnya. Jevin tidak mau membuat Rebbeca tidak nyaman, dia mau Rebbeca menikmati kebersamaan mereka. Jevin yakin, Rebbeca telah sangat terbebani oleh semua hal yang menimpanya—sehingga wanita itu lupa cara menyenangkan diri sendiri. Jevin bertekad mengalihkan pembicaraan. "Jadi, apa tema novelmu selanjutnya?" Jevin mencoba membahas tentang novel. Dia pernah membaca buku Rebbeca, jadi Jevin paham betul bahwa wanita itu sangat berbakat. Alih-alih menjawab Rebbeca mengangkat kedua bahunya, memainkan garpu di piring. "Baru bab awal, masih belum tahu harus dilanjutkan seperti apa." "Temanya?" "Rahasia." "Aku pintar menjaga rahasia kok." Senyum Rebbeca kembali terbit dan gemuruh di d**a Jevin kembali terdengar. "Mungkin aku akan membuat cerita tentang kehidupan pernikahanku yang menyedihkan dan kerinduanmu sebagai seorang ayah." Jevin tertegun, bukan dia tidak menyukai ide itu hanya saja dia terkejut untuk pertama kalinya ada orang lain yang memikirkan perasaannya sebagai ayah. "Eh, kalau kamu nggak suka... hmm... aku nggak akan menulisnya. Aku hanya bercanda." Rebbeca bergerak gelisah di bangkunya, dan Jevin tiba-tiba saja mengeluarkan handphone, lalu menyodorkan ke Rebbeca. Sebuah foto anak perempuan berumur empat tahun dengan rambut hitam ikal panjang sedada, bermata bulat, beralis tebal. "Ini...." "Namanya Arkasia," kata Jevin. "Yang di sebelahnya Yolan—Ibu Asia, ah, aku memanggilnya Asia." Jevin tertawa kecil sambil menyugar rambut hitamnya yang tebal. "Aneh ya? Aku dan Yolan suka keliling negara Asia, waktu kami berhubungan traveling merupakan kegiatan utama kami. Memang saat Yolan melahirkan Asia, dia nggak melibatkanku tapi dia sudah menduga aku akan menyukai nama itu... aku pernah bilang sama dia, kalau aku punya anak entah laki-laki atau perempuan—aku ingin menamakannya seperti itu—dan ya, Yolan memakainya." "Cantik," puji Rebbeca saat menatap dua wanita yang berpengaruh dalam hidup Jevin, namun keberadaannya harus disembunyikan demi kelangsungan karir Jevin. "Keduanya cantik. Asia dan Ibunya..." "Yolan memang cantik," ujar Jevin. "Kalian mempunyai beberapa kemiripan..." Rebbeca melepaskan genggaman dari handphone Jevin, lalu menaikkan satu alisnya. "Maksudnya?" "Masa lalu kalian, kesedihan kalian, dan terkadang itu terlihat." "Dia juga sering kamu selingkuhi dulu?" Jevin tertawa geli. "Aku nggak suka menjalanin hubungan bercabang." "Lalu?" "Tingkah laku kalian sama. Dia sering menjauhi hal-hal yang sangat dia butuhkan, mengatakan pada orang-orang di sekitarnya agar nggak perlu mengurus dan mengkhawatirkannya. Hal-hal seperti itu. Seperti menyembunyikan banyak kesedihan dan ditelan sendiri. Memilih menyalahkan diri sendiri daripada orang lain." Jevin memikirkan ini ketika mendengar cerita Rebbeca, kata-kata Rebbeca tadi menggambarkan bahwa Jevin adalah orang pertama yang mengetahui kekacauan rumah tangga yang dialami setahun belakangan ini. Seolah Rebbeca telah mengubur rapat, menutupi luka, dan membiarkan borok itu bernanah tanpa orang lain tahu. "Memendam marah yang menggelegak. Terlalu percaya diri bahwa mampu menanggung beban seluruh dunia dengan pundaknya sendiri." "Kamu... Jevin." "Kamu kesepian tapi memastikan nggak ada yang tahu itu. Kamu juga marah, dan menganggap musuh paling berbahaya di dunia ini adalah dirimu sendiri. Aku paham apa yang kamu rasakan, karena bertahun-tahun lalu aku juga merasakan itu." Jevin memajukan badannya. "Kita akan terus terjerumus dalam masalah besar kalau terus nggak mau mengakui kapan kita benar-benar ingin lepas dari penderitaan itu atau membiarkan orang lain membantu mengurangi beban di pundak kita." Rebbeca menyeka bibirnya dengan tisue. "Berarti kamu hebat, karena sudah terlepas dari hal menyedihkan yang seperti kamu ucapkan tadi." "Kamu juga bisa, Beca. Lepaskan dan biarkan senyummu kembali." "Aku sudah tersenyum sejak tadi." "Senyum secara keseluruhan." Rebbeca menatap Jevin dengan sorot mata khawatir. "Kalau itu, aku harus melepaskan kesedihaan sampai ke akarnya." "Kalau begitu lepaskan." Rebbeca menunduk dan mencengkeram sendok kuat-kuat. "Nggak bisa, Jev." "Buat apa ada dalam ikatan pernikahan kalau sudah nggak bisa saling membahagiakan? Memperbaiki pun nggak bisa. Anak-anak?" Rebbeca mengangguk pelan. "Anak-anak akan lebih sedih kalau melihat dan sadar orangtuanya nggak bahagia, bersama hanya demi formalitas." "Nggak semudah itu, Jev." Karena Jevin sudah menghabiskan makanannya, jadi dia sengaja menggeser piring sedikit supaya ada sedikit ruang untuk kedua tanganya bertumpu di atas meja. "Apa yang membuatnya menjadi sulit?" "Sebelum menikah... aku dan dia membuat perjanjian pra-nikah." Jevin terkejut mendengar hal itu. Oke, dia memang tahu ada hal semacam itu tetapi... dia selalu mengira hanya orang-orang dengan kekayaan menggunung yang melakukannya, hal yang mendasari perjanjian pra-nikah itu pun sendiri biasanya menyangkut keselamatan harta masing-masing. "Wah..." Rebbeca meringis, sepertinya tidak suka mengetahui perjanjian pra-nikah itu sangat menyulitkannya. "Kalau aku mengajukan gugatan cerai sebelum sepuluh tahun usia pernikahan kami, hak asuh anak-anak harus aku serahkan pada pihak suami. Dan aku nggak mau hal itu terjadi...." Jevin memperhatikan jemari Rebbeca kiat erat mencengkeram sendok besi hingga urat-urat punggung tangan wanita itu terlihat, merasa ikut sakit, jadi Jevin meraih tangan Rebbeca dan mengurai kepalan itu. "Pernikahanku tanpa restu dari mertua—orangtua suami, karena status sosialku yang di bawah mereka. Awalnya perjanjian pra-nikah ini kami buat agar semuanya mudah, agar mertuaku tenang dan mengizinkan kami menikah—nggak pernah terlintas kalau suamiku akan tega mengkhianati pernikahan kami setelah semua yang terjadi. Tentu saja isi perjanjian itu bukan hanya sekadar urusan anak, ada hal lain, materi—tapi aku nggak peduli... aku hanya memikirkan anak-anak." Jevin menautkan jemari keduanya. "Terus? Kamu akan seperti ini sampai beberapa tahun ke depan?" "Aku nggak punya pilihan, Jev. Kalau aku nekat, ini akan menjadi masalah... aku mungkin akan dipisahkan dari anak-anakku secara paksa, dan aku... aku nggak bisa menghadapi itu." "Jadi, nggak ada yang tahu kalau suamimu bercinta dengan wanita lain?" Rebbeca menggeleng. "Jadi, kamu bersikap seolah nggak ada kejadian fatal yang menyakiti hatimu?" "Apa lagi yang bisa kubuat? Berhenti menjalani hidup? Menunjukkan kesedihanku secara terang-terangan? Mengurung diri dalam rumah?" Rebbeca mengerutkan kening, "Di sana aku seorang diri. Aku akan kalah. Aku pasti disalahkan atas pengkhianatan yang dilakukan suamiku. Aku—" Tiba-tiba saja Jevin melepaskan tangannya dari Rebbeca, lalu berdiri di samping Rebbeca tapi tidak melakukan apa pun selain memandang keluar kaca. Cukup lama, Jevin membiarkan Rebbeca kebingungan dengan kebisuannya. Sampai akhirnya, tangan Jevin terulur dan menepuk ringan satu bahu Rebbeca. "Mulai detik ini bagi semua kesusahanmu denganku. Kalau kamu nggak mau menangis, biar aku yang menangis. Kalau kamu nggak mau marah, biar aku yang memaki setiap orang di sekitarku." Pandangan keduanya saling terpaku. Ini gila. Namun, seseorang harus membantu Rebbeca mengurangi beban. Memang dia tidak diminta, tapi dia mengajukan diri. Perlahan, tangan Jevin merayap naik dan menangkup wajah Rebbeca.  "Kamu nggak akan sakit sendirian lagi... aku di sini. Aku sudah menemukan kamu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN