"Mas Jevin, tadi pagi supplier biji kopi nelpon. Katanya, ada yang mau diomongin." "Oh ya, Mas. Kedai jadi dipake syuting syuting Mas Yungki? Kalau jadi, udah bisa konfirmasi waktu dan tanggalnya belum—saya mau siap-siap kasih pengumuman ke pengunjung." "Jev, hari Rabu... si Ranti mau ketemu, mau nawarin project—film, adaptasi dari novel. Lo mau kan?" Pertanyaan demi pertanyaan datang, tapi tidak satu pun yang dijawab Jevin. Dia tidak punya hasrat untuk bekerja. Tidak berniat berbicara. Tidak punya semangat untuk melakukan apa pun. Kalau saja Bang Jimmy tidak datang, mungkin dia akan memilih mengendap di apartemen. Duduk di balkon, sampai tanda-tanda kehidupan kembali muncul dari unit sebelahnya. Ke mana dia? Dua hari, apartemennya sunyi. Jevin memijat pelipis, bergerak gelisah di kurs

