“Kemari, teman-teman. Ayo berkumpul lagi.” Ucapan Stefan menyentak Lanya. Gadis itu sudah nyaris tenggelam pada sebuah imajinasi mengerikan yang menguasai benaknya. Bagaimana pun juga ini baru pertama kalinya Lanya memasuki kota yang sudah diduduki penjajah. Semenjak ia dan Mama tersingkirkan bersama para penyintas lain, mereka selalu bersembunyi dari intaian penjajah. Bahkan pada tahun-tahun pertama pelarian Mama dan Lanya, suara sesederhana keletak ranting membuat jantung-jantung lemah mereka jumpalitan tak karian. Lanya sama sekali tak menduga, bahwa dirinya akan mencapai titik di mana posisinya mengharuskan untuk menyusup ke kota yang diduduki penjajah. Ini demi Mama, batinnya. Lanya pun bergeser dari tempatnya mengintip tadi. Ia menghampiri lingkar rapat yang terbentuk atas para an

