Prolog
Wangi kopi menggelayut di ruangan semenjak seorang pemuda masuk membawa secangkir kopi. Asapnya yang putih mengepul pekat, laiknya kabut yang masih menggantung rendah di balik jendela, memburamkan kaca seolah dunia luar tak pernah ada. Pemuda itu merasa agak jenuh. Ia tidak terlalu menyukai pagi hari. Dan, bukan. Bukan karena ia adalah tipe pemalas yang selalu bangun kesiangan untuk melewati dingin yang menusuk, tetapi karena kabut yang sepekat s**u. Ia tidak bisa menikmati apa-apa. Tidak ada yang bisa dilihat selain ruangan kelabu yang menjemukan ini.
Ia merasa agak melankolis. Seharusnya hari ini adalah hari terakhir ia tinggal di sini, dengan anggapan bahwa dirinya bakal nyaman di tempat barunya nanti. Namun salahkah jika ia berharap bahwa cuaca akan mengerti kondisinya saat ini? Ia bosan dengan kabut. Ia tidak betah dengan dingin yang tak bisa dinikmati selain dengan kopi panas. Sesekali, ia ingin menikmati pemandangan di balik jendela tanpa harus menunggu matahari naik lebih tinggi. Ia ingin sesekali duduk berselimut dengan cangkir kopi di tangan, menghadap jendela basah yang menampilkan pemandangan spektakuler pagi hari yang selalu disembunyikan kabut.
Sayangnya, cuaca kali itu memilih untuk tidak mendengarkan penyesalan seorang pemuda aneh macam dirinya. Lagipula ia sadar bahwa percuma saja meracau pada alam. Ia mengerjap, kembali kepada kenyataan, dan bergegas duduk.
Sang pemuda menyalakan radio tua setelah meletakkan cangkir di sisinya. Selama beberapa saat ia memutar, menentukan mana saluran yang setidaknya bisa memperbaiki harinya, namun semakin ia memutar, rasanya hanya suara-suara propaganda yang menggaung di ruangan.
...penahanan walikota Tanah Merah, sejak... bzzz... perampokan di kediaman Panglima Tinggi menandakan pemberontakan para tahanan... bzzz... kemudian, suara tinggi seorang priayi: “Jika sampai saat ini Bapak besar kita tidak kunjung menetapkan keputusan resmi, maka saya yakin—seyakin-yakinnya—bahwa negeri ini sudah...”
Sang pemuda mendesah. Duh, apakah para penyiar sudah kehabisan berita? Atau selera humor dan tanggung jawab untuk menghibur para pendengarnya sudah ikut direbut? Dan, mengapa ia tidak mendendangkan lagu sendiri saja ketimbang mengutuki para penyiar radio yang malang? Ia setengah memukul radio saat mematikannya kembali, kemudian mulai meracaukan lagu tidak jelas sembari membetulkan posisi cermin besar berlapis kain di meja. Ia menarik kain putih kusam itu, menebar debu-debu yang melapisi tiap jengkal kain ke seluruh penjuru ruangan, termasuk berusaha menelusup ke cupang hidungnya yang kembang-kempis.
Ia tersentak memandang cermin.
Ah! Sudah lama sejak terakhir kali ia berkaca. Ia melotot tanpa kedip selama sesaat, menuruti hasrat matanya untuk meneliti tiap-tiap petak wajahnya yang dilapisi perban dan... astaga, aku bahkan tidak tega menjelaskannya untukmu. Sebaiknya kau tidak membayangkan wajahnya. Sejujurnya dia bahkan terperanjat saat melihat wajahnya lagi... dan, tunggu, apakah ini masih pantas disebut wajah?
Pemuda itu selama sesaat mengagumi bentuk kepalanya yang tiada sandingan. Ia pun tidak tahu jika mimpi masa kecilnya untuk menjadi sosok pahlawan super akhirnya terwujud. Ia bahkan memiliki topeng tersendiri dengan kepala yang diperban seutuhnya! Bukankah itu keren? Bukankah ia terlihat seperti seseorang dengan kekuatan luar biasa?
Sang pemuda senyum-senyum sendiri seperti orang d***u dan, paham sekali bahwa situasi saat ini bisa saja membuatnya gila sungguhan, ia pun memutar bola mata. Duh. Dasar sinting.
Masih sembari menggumamkan nada-nada lagu yang tak karuan, ia membeber gulungan kain di tepi cermin. Belasan jarum dan alat jahit dalam berbagai ukuran terhampar di hadapannya. Benang-benang khusus tersimpan di kantong-kantong yang dijahit serampangan. Setelah memastikan bahwa peralatannya masih sesuci setelah diangkat dari rebusan air, pemuda itu mulai melepas perban dari kepalanya.
“Aku... dapat undangan... harus ganteng....”
Seandainya sang pemuda tidak hidup sendirian, dan seandainya ada orang lain di ruangan itu, mungkin ia akan dicacimaki karena pilihan kata-katanya barusan. Pemuda itu bahkan sudah membayangkannya, dan kini terkekeh geli. Astaga, bukankah kata-kata barusan sangat menjijikkan? Ia bergidik oleh kepercayaan diri yang entah dari mana ia dapatkan. Mengapa ia bisa-bisanya menyanyikan itu?
Mungkinkah karena sepucuk amplop yang bersandar manis pada cermin? Pandangan pemuda itu sesungguhnya tak pernah jauh-jauh dari amplop ini. Sekilas, tak ada yang spesial dari amplop yang membosankan, namun yakinlah, kata-kata yang tersimpan di dalam amplop itu telah mengubah dunia sang pemuda.
Seperti yang ia nyanyikan tadi—ia mendapatkan undangan! Dan itu bukan sekadar undangan biasa!
Sang pemuda sudah gatal untuk meraih amplop tersebut dan membaca ulang kata-katanya, namun ia telah melakukannya setidaknya seratus kali sejak kedatangan surat itu kira-kira seminggu yang lalu. Ia sangat tidak menyangka bahwa sebuah undangan akhirnya muncul untuknya. Ditujukan kepadanya. Semula ia tidak yakin, terlebih-lebih dengan kondisinya, tetapi surat itu memang dialamatkan atas namanya!
Sekali lagi, ia mendapat un-dang-an!
Memikirkan tentang undangan membuatnya tak sadar bahwa perban sudah terlepas dari kepalanya. Tak repot-repot ingin berkaca tanpa perban melilit, ia segera mengambil gulungan perban baru. Ia membersihkan seluruh kepalanya dengan cepat, tak ingin merusak angan-angannya dengan memandang wajah sendiri, kemudian segera memasang perban yang baru.
Ah, sayang, padahal dulu ia tampan.
Pemuda itu mendengus. Mengapa memikirkan dahulu? Masa lalu takkan kembali, begitu pula dengan ketampanannya. Lagipula, bukankah ia jauh lebih keren dengan kepala dibalut perban? Ia nampak seperti pahlawan bertopeng!
Seusai memasang perban baru dan memastikan tak ada sisa rambut yang mencuat, pemuda itu segera meneguk kopi yang mulai mendingin. Ia mengecek jam, menyadari bahwa hanya ada beberapa menit yang tersisa, dan mengutuk dirinya sendiri yang terlalu menyia-nyiakan waktu. Ia menggulung peralatan menjahitnya dengan buru-buru, lantas memasukkannya ke dalam tas yang teronggok di bawah meja. Ia menjejalkan sisanya secepat kilat; jaket, amplop undangan, pulpen, dan sekotak tisu yang mulai menipis. Setelah mengecek bahwa tidak ada barang yang tertinggal, pemuda itu bergegas meninggalkan ruangan.
Sebelum menutup pintu, sang pemuda menoleh untuk terakhir kali. Matanya menyapukan pandangan ke seluruh penjuru ruangan dan... ew. Ini adalah ruang kelabu yang amat, amat menjemukkan. Satu-satunya warna hanyalah meja dan kursi yang terbuat dari kayu. Sisanya benar-benar kelabu—sprei hitam yang memudar, dinding putih yang mengerak dan kusam, serta jendela yang tak pernah benar-benar bersih dari bekas sapuan kotoran. Ia takkan merindukan kamar ini. Tak ada kenangan sama sekali selain pagi-pagi berkabut di luar jendela, bernapaskan debu dan aroma apek, cermin yang selalu ditutupi kain, radio suram, dan langit-langit dengan bekas rembesan air yang mencokelat menjijikkan.
Pemuda itu menghela napas. Bukan, bukan karena berat. Ia justru senang karena ia takkan kembali kemari lagi.
Atau, setidaknya ia berharap begitulah yang akan terjadi.