Sudut Pandang Lanya

644 Kata
Kau mungkin takkan setuju denganku, tapi mayoritas penduduk negeriku itu bodoh. Tak masalah. Aku juga masa bodoh dengan pendapat siapa pun sekarang. Tapi aku yakin ada sebagian darimu yang akan menyetujuinya dengan lantang di hati, dan yakinlah, meski aku mengatakan bahwa mayoritas penduduk negeriku bodoh, masih banyak orang yang cerdas. Maksudku, lihatlah. Negeriku sekarang terjajah dan hanya segelintir penduduk yang berhasil mempertahankan diri. Sisanya sudah terkubur di dalam tanah, dibakar hingga abunya terserap ke paru-paru kami yang malang, atau... entahlah, apalagi yang orang-orang lakukan terhadap para korban virus? Aku ingat dengan kasus virus pandemi yang pecah sekitar dua puluhan tahun lalu, tetapi apa yang terjadi saat itu tidak sebanding dengan apa yang terjadi satu dekade kemudian. Tambah satu dekade lagi, dua ratusan juta penduduk negeri kami menyusut menjadi tiga jutaan orang yang tersebar di seluruh penjuru sudut tak tersentuh di negeri, tak terlacak selain oleh para tentara yang rela mengarungi laut dan menyasak hutan-hutan pedalaman. Kemudian kau akan bertanya, apa hubungannya dengan kebodohan mereka? Kalau kau masih bertanya, maka kau juga bodoh. Aku tak peduli kalau ubun-ubunmu memanas sekarang. Kau berhak untuk meninggalkan teras rumah ini sekarang. Biarkan aku mengacuhkanmu dan memelajari apakah sekiranya mayat-mayat hidup yang menggerung dan meraung di luar pagar itu bisa menembus pertahanan yang kubuat berhari-hari seorang diri. Oh, apa? Kau masih mau di sini, duduk bersamaku dan menikmati suasana? Bagus. Duduklah di lantai teras yang dingin lagi berlapis debu. Acuhkan serpihan tembok yang terkikis atau gumpalan tanah yang tidak repot-repot kubersihkan setelah mencoba menanam tomat kemarin. Abaikan itu. Pedulikan saja sejumlah zombi yang berusaha mencabut berlapis-lapis papan kayu dan seng di pagar. Seandainya mereka manusia, mungkin hanya butuh waktu beberapa jam untuk melepas itu semua, namun mereka bodoh. Otak mereka laiknya binatang yang hanya tahu makan, menyerang, dan refleks bersembunyi saat mencium aroma bahaya. Jangan salah. Ini bukan zombi yang sama seperti di film-film selama puluhan tahun lalu. Kami tidak boleh membunuh zombi. Kami bukan pembunuh. Ulangi bersamaku, ya? Kita bukan pembunuh. Kendati dunia melabeli mereka sebagai zombi secara otomatis, kenyataannya, kerusakan otak takkan membuat mereka serta-merta berlari serampangan dan memakan sesama manusia. Tidak... bukan begitu. Aku juga bakal tersinggung kalau kau melabeli kakakku yang sudah menjadi zombi dan berkata bahwa kau harus membunuh mereka. Tidak. Kenyataan ternyata tidak bekerja—dan seseru—film-film kuno pada tahun 2010-an. Para penyintas cuma bisa membentengi diri agar tidak berjarak terlalu dekat dengan para zombi itu. Biarkan mereka berkeliaran merambah rumput, berebut bangkai hewan, bahkan menggerogoti spons-spons lucu di toko-toko yang disemproti aroma vanila dan stroberi. Biarkan mereka mati dengan sendirinya. Selepas itu, tugas kita hanyalah memastikan mayat mereka disingkirkan ke pusat pembakaran atau dikubur jauh-jauh dari area para penyintas. Membosankan? Jangan salah. Musuh kita bukan para zombi itu. Sayang sekali, perlu kutekankan bahwa korban sebenarnya dari permasalahan terbesar di dunia saat ini bukanlah kami para penyintas. Kami masih waras, bisa tertawa, berpakaian rapi, dan memimpikan masa depan yang terasa makin samar seiring dengan bertambah hari. Para zombi itu bahkan hanya... Ketukan keras pada jendela di balik punggung membuatku terlonjak kaget. Dengan jantung berdentam-dentam, masih terbawa suasana akan raungan para zombi yang membuatku ngeri, aku melotot ke arah sosok di balik jendela. Sedatar ekspresinya yang menjengkelkan, Tante pemilik rumah memberikan isyarat dengan tongkatnya bahwa Mama memanggilku. Aku menghela napas. Segera kuraih sebungkus kresek di bawah kursi. Aroma daging ayam yang mulai membusuk tercium, dan barangkali ini salah satu alasan para zombi itu mampir ke pagar rumah setelah sekian lama. Aku pun melempar kresek itu sejauh mungkin ke luar pagar. Terdengar gemuruh para zombi yang berlomba-lomba mencapainya duluan. Nah, aman. Kalau begitu, ini saatnya kita berpisah, ya? Duduklah dengan tenang di mana pun kau berada sekarang. Aku takkan lagi berkisah dengan sudut pandangku, karena barangkali kau akan kesal dengan pendapat-pendapatku. Kau bisa nikmati dunia dengan lebih luas tanpa melalui kacamataku setelah ini. Terakhir, dan awal dari kisah yang sesungguhnya, perkenalkan; namaku Lanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN