“Apa kau gila?” pekik Lanya. Alih-alih menjawab, Dana memerhatikan sejenak ekspresi gadis di sampingnya. Tentu saja gagasan ini tidak semudah bagaimana kedengarannya. Mencari seorang ilmuwan, terlebih-lebih sekelas Roland, dengan segala kemungkinan yang baru saja Dana ucapkan, terdengar mustahil. Ah, apakah Dana terlalu melebih-lebihkannya di depan Lanya, dengan mengatakan kalau-kalau Adam dianggap sangat berharga dan barangkali bekerja di laboratorium yang lebih baik? Sejujurnya, sebagian dari ucapan itu adalah spekulasi Dana saja. Adam memang ilmuwan yang mumpuni, seperti Roland sang ilmuwan bengis, tetapi Adam sangat berharga dimata Dana yang sudah pasrah menerima suntikan-suntikan sel virus. Dan kenyataannya, para ilmuwan itu toh sama saja. Cara-cara mereka menghadapi para Yang Teri

