Empat hari berlalu. Akibat kejadian waktu itu, San terpaksa dilarikan ke klinik Kamp Sektor dan mendapatkan perawatan intensif. Lanya dan kawan-kawan tim kerap menjenguknya bergantian, baik seusai kelas atau sebelum waktu makan tiba, dan Hera yang bertugas merawat jadi jengah sendiri dengan kehadiran mereka semua. Bertepatan saat Lanya menjenguk bersama Stefan, Hera akhirnya memutuskan untuk mengeluh. “Sudahlah, dia bukan anakmu, Lanya. Kau tak perlu sekhawatir itu. Dia toh bisa ikut beraktivitas lagi setelah ini.” Stefan hanya tertawa, sementara gadis itu meringis malu. “Maaf, tapi kau sudah mendengar apa yang terjadi padanya waktu itu, bukan?” Hera menghela napas. “Ya, tapi karena San tidak menunjukkan tanda-tanda seperti yang kau sebutkan, aku ragu dia akan mengalaminya lagi dalam w

