*** Aksa terbangun ketika jam di nakasnya menunjukkan pukul empat pagi. Ia melirik disampingnya masih ada Adara yang terlelap. Laki-laki itu menatapnya tanpa ekspresi beberapa saat sebelum membuang muka. Langit masih gelap dan Aksa tidak bisa menutup matanya kembali. Hanya suara denting jam memenuhi ruangan itu. Sebuah kesunyian yang biasa ia rasakan. Aksa memicingkan matanya, menatap wajah Adara yang tampak nyaman dalam gelungan selimut tebal miliknya. Aksa benci mengakui ini, namun melihatnya membuat Aksa harus mengumpat bahwa gadis itu masih cantik. Bahkan dengan piyama kekanakan yang Adara gunakan. Tangan Aksa menyentuh bibir Adara, ia ingin mengingat teksturnya yang lembut. Setiap gerakan jari-jarinya, Aksa mengumpat kuat-kuat. Adara membuat kesalahan dihidupnya, gadis itu

