"Pelan-pelan Andine," rintih Ardhan sembari memegang tangan Andine yang akhirnya berhenti bergerak. Andine menghela napasnya, dilemparnya kapas yang baru saja ia pakai untuk membersihkan luka Ardhan ke d**a bidang laki-laki itu. "Habisnya lo ngapain juga pake berantem-berantem segala!" dumel Andine dengan lotottan matanya. Ardhan mengerucutkan bibirnya, laki-laki itu memasang wajahnya yang sudah tertetekuk dengan beberapa luka lebam di wajahnya, terlebih lagi dipinggir bibir. "Kalau Rendi gak ngajak lo ngobrol gue juga gak bakal ngajakin dia berantem." Andine benar-benar tidak tau lagi, bagaimana caranya mengatasi sikap possesive Ardhan, laki-laki yang hobi berantem, balap dan bisanya cuma mainin hati cewek doang. Andine duduk bersandar disebelah Ardhan, gadis itu melipatkan kedua tanga

