ARDHAN ITU JAHIL

1211 Kata
"Ardhan! Buku gue!" teriak seorang gadis sembari mengejar laki-laki tersebut, Ardhan mengelak agar gadis yang sedari tadi mengejarnya tak bisa menggapai buku miliknya.  Sedangkan Raffa dan David ikut menghalangi gadis itu untuk mengambil bukunya. Ardhan sudah berdiri diatas meja guru. Semua orang tengah memperhatikan Ardhan, ingin tau apa yang akan Ardhan lakukan saat ini, sedangkan para kaum hawa tiada henti-hentinya memasang wajah memuja kepada Ardhan. Ardhan tersenyum miring dan sedikit bahagia akan tingkah jahilnya. Sedangkan sang pemilik buku yaitu Anisa sudah memasang wajah takutnya, Anisa berharap Ardhan tidak akan mengatakan semuanya. "Dengerin semuanya!" suara Ardhan mendominasi sehingga seisi kelas langsung menghentikan aktifitas mereka dan beralih menatap Ardhan. "Ardhan! Gue jitak palak lo sama licin entar! Turun, temen gue itu!" ancam Athaya dari bawah, namun Ardhan tetap tidak peduli, menurutnya mau botak sekalipun kalau dari berojolnya udah ganteng yah bakalan tetep ganteng. Anisa memasang wajah memelas kepada Athaya sedangkan Ardhan tak peduli, karena ada Raffa dan David di bawah yang akan menghalangi Athaya dan Anisa. "Surat cinta teruntuk Aroon." ‘Waesek, boleh tu buat project film 2018,’ teriak semua anak kelas mereka menggoda. Semua langsung bersorak riuh, Anisa menutup matanya rapat-rapat, ini semua karena ia terlalu teledor ketika sedang asik mencorat-coret bukunya. Aroon yang sibuk berkutat dengan laptopnya kini menengok ke arah Ardhan penasaran, karena sekarang namanya sedang dibawa. Suasana kini sangat hening, Anisa meringis sedangkan Athaya sudah meredam amarahnya karena geram akan kelakuan kembarannya itu. "Ciahhh naksir Aroon," celetuk Raffa, telunjuknya mengarah kepada wajah merah padam Anisa. Anisa langsung memasang muka temboknya, ia tidak tau lagi seberapa malu dirinya sekarang, bahkan para kaum hawa sudah berbisik dan bergosip tentangnya, siapa yang tidak tau Aroon? Ketua osis galak yang paling di segani, kecuali Ardhan siapa yang berani dengan Ardhan? Aroon saja tidak berani berkutit. Ardhan melanjutkan membaca tulisan yang terdapat di halaman paling belakang buku Anisa. "Kutub utara saja bisa cair kalau bertemu dengan matahari, apalagi hatimu jika di hangatin, kau selalu bisu dan diam sama seperti hatiku yang tak bisa menyampaikan perasaan ini, aku hanya bisa merangkai kata-kata dalam tulisan, berharap ini akan berubah menjadi mantra yang akan membuatmu dekat denganku." "Asek asek jos," celetukkan receh dari Raffa. Aroon mengerjapkan matanya beberapakali, laki-laki itu tak percaya atas apa yang ia dengar barusan, sahabat Athaya sekaligus teman sekelasnya menyukai laki-laki dirinya. "Aroon sini lo!" panggil Ardhan. Anisa mengusap wajahnya geram, sedangkan yang dipanggil sudah melenggang untuk maju kedepan. "Tembak! Tembak! Tembak!" seisi kelas berseru, Athaya hanya diam kemudian duduk bersamaan dengan Angela yang sedari tadi hanya menyaksikan adegan seru itu. Ardhan menatap wajah pucat pasi Anisa, laki-laki tersebut kemudian tertawa terbahak-bahak sembari memegang perutnya,"Tulisan kayak ceker ayam aja masih bisa-bisanya jatuh cinta." Anisa semakin malu karena ulah Ardhan, jika bisa dilihat mungkin sudah ada tanduk banteng dikepala Anisa, tapi gadis itu tak bisa apa-apa, Ardhan selalu melakukan hal sesukanya. "Liat aja nanti kak Ardhan ya!" gumam Athaya. Aroon kini sudah berdiri dihadapan Ardhan, Ardhan langsung meloncat turun dari atas meja guru. Laki-laki itu kemudian merangkul Aroon, lalu merangkul Anisa. Semua kaum hawa berteriak histeris karena iri dengan Anisa yang sudah diapit 2 cogan padipura sekaligus. Aroon menyipitkan sebelah matanya,"Kenapa?" Ardhan merapikan rambut dan seragam Aroon, kemudian mengambil bunga lavender ungu dari vas meja guru,"Tembak dia!" perintah Ardhan kepada Aroon.  Semuanya membelalakkan mata mereka, termasuk Anisa. "Bang! Kok jadi lo yang ngatur orang sih," komentar Athaya namun Ardhan langsung mengedipkan matanya,"Mau gue kasih ciuman maut gue gak?" Athaya langsung melototkan matanya,"Setan lo!" Aroon menatap Athaya sejenak, lalu beralih menatap Anisa. Sedangkan Ardhan dan semua murid yang lainya sudah menunggu Aroon mengeluarkan suara emasnya, karena laki-laki itu sangat pendiam dan tertutup. Ardhan melirik arloji dipergelangan tangannya, lalu laki-laki tersebut melemparkan pandanganya ke arah Andine yang baru saja masuk kedalan kelas. Ardhan langsung melesat untuk menghampiri Andine. "Gue tadi kerumah lo, tapi gak ada orang." Andine mengangguk pelan,"Gue nginep dirumah nenek gue." Ardhan hanya ber 'oh' ria,"Tapi kan bisa chat gue, biar gue jemput di sana." Andine langsung berjalan kedalam kelas kemudian duduk dibangkunya,"Kok rame ada apaan?" tanya Andine penasaran. "Kok diem sih?" gerutu Ardhan, laki-laki itu kembali berdiri ditengah-tengah Aroon dan Anisa. Andine menyenggol bahu Athaya,"Ada apa sih?" "Tanya aja sama pacar lo itu," balas Athaya ketus. "Lah, dia kan kembaran lo." "Nauzubillah," guman Athaya kesal. "Tembak dong Aroon!" seru Raffa dan David, dikuti juga dengan suara seisi kelas. "Tembak?" tanya Andine tak mengerti, alisnya bertautan. "Ardhan nyuruh Aroon nembak Anisa," jawab Angela yang sudah melipatkan kedua tanganya didada sembari menyaksikan adegan tersebut. "Jadi semua kelas udah tau kalau Anisa suka sama Aroon?" Athaya dan Angela langsung mengangguk serentak. Aroon menarik napasnya panjang, diraihnya bunga tersebut dari tangan Ardhan, semuanya tampak memperhatikan adegan itu secara rinci dan detail, sedangkan Anisa sudah menahan detak jantungnya yang sedang berdegup kencang sedari tadi.  Jarang-jarang ada adegan Aroon nembak cewek, enggak pernah malah, ketua kelas tertutup dan dingin itu sangatlah disegani oleh murid padipura, Aroon memang tampan tapi sikap cueknya itu membuat gadis Padipura malah ragu untuk dekat dengannya. "Lo suka gue?" Anisa mengangkat wajahnya, ia tak menyangka Aroon akan mengatakan hal tersebut. "Hmm ... eh, duh!" Anisa lagi-lagi tak tau akan mengatakan apa untuk menjawab pertanyaan memalukan tersebut. "Udah bilang aja iya," celetuk Ardhan memaksa. Aroon kemudian memberi bunga tersebut ketangan Anisa, Anisa hanya diam mematung,"Belajar dulu yang bener, rapihin tulisan dan juga jadi siswi teladan dulu, baru deh lo mulai cari tau apa itu makna cinta." Aroon kemudian melengang keluar kelas dengan langkah panjangnya, meninggalkan kata-kata yang bisa mengiris hati Anisa. Semua bersorak kecewa, Anisa menatap Ardhan dengan matanya yang sudah berkaca-kaca,"Udah puas ngebuat gue malu?" Anisa pergi keluar dengan air mata yang sudah siap meluncur bebas, di ikuti juga dengan Athaya yang mengejar langkah gadis terusebut. Andine menarik lengan Ardhan untuk pergi keluar kelas. Kini Andine dan Ardhan sudah berada dikoridor sekolah. Andine bersender sembari menunggu penjelasan dari laki-laki tersebut. "Maksud g-." "Maksud lo baik?"potong Andine. Ardhan kemudian tersenyum lalu mengacak pelan rambut Andine,"Andine gue udah pintar ya sekarang, makin suka deh."  Andine langsung memasang wajah kesalnya,"Ardhan gue serius." "Abang juga serius neng." "Ardhan lo tau gak sih sikap lo tadi itu udah ngebuat hati Anisa sesak." "Wihhh minum obat asma aja, biar sakitnya hilang, temen gue dulu ada yang sesak napas tapi pas udah minum obat itu hilang deh." Andine memijit-mijit dahinya lelah,"Ardhan!" Ardhan tersenyum menyeringai,"Iya sayang." "Lo itu manusia dari apa sih? Kok ginian amat." "Dari hasil goyang papa." Andine langsung memicingkan matanya,"Masya allah." "Ardhan tolong serius," keluh Andine. Ardhan menatap Andine, kemudian laki-laki itu meraih tangan kanan Andine,"Iya serius." Ardhan memain-mainkan jari Andine,"Kenapa lo ngelakuin hal kayak tadi?" tanya Andine lagi. "Niat gue baik kok, gue cuma mau ngebuat mereka jadian." "Tapi cara lo salah Ardhan, jadian itu harus ada persetujuan di antara kedua belah pihak, Anisa cinta Arron, tapi kalau Arron enggak cinta mereka enggak bisa jadian dong." Ardhan tersenyum kemudian menyentil hidung mancung milik Andine,"Berarti lo juga cinta sama gue? Buktinya kita udah jadian." "Itu karena lo asal mengklaim anak orang." "Tapi lo suka-kan?" goda Ardhan seraya menoel-noel hidung mancung milik Andine. Andine menggeleng,"Gak!" "Bohong dosa lo Din." "Siapa yang bohong sih?" Andine melototkan matanya. "Pulang sekolah nanti, temenin gue yuk!" Andine menatap Ardhan sinis,"Malas gue mau latihan musik." "Yaudah gue temenin." "Gak." "Serah, gue tetap mau nemenin." "Ihhh nyebelin." Ardhan hanya tertawa ketika melihat wajah kesal milik Andine.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN