JEALOUS (1)

976 Kata
Sorak riuh, bahkan tepuk tangan yang meriah sudah terdengar memenuhi lorong-lorong padipura. Siapa lagi dalang dari semuanya selain Ardhan Arizkiandra, Ardhan yang sudah membiarkan kancing seragamnya terbuka semua, sehingga menampakkan kaus upin-ipin di dalamnya. semua murid Padipura berteriak histeris menyebut nama Ardhan, seakan-akan seperti suporter yang sedang menyaksikan pertandingan sepak bola. Bukk!!! Satu pukulan kuat dari Ardhan mengenai rahang laki-laki di hadapannya. Ardhan meluapkan semua emosinya dengan pukulan bertubi-tubi yang ia berikan kepada lawannya. Laki-laki di hadapannya itu sudah tergeletak dilantai tak berdaya. Namanya Rendi, ketua geng bullying padipura. Ardhan berjongkok, menarik kerah seragam Rendi yang sudah tak berdaya, Ardhan mengepalkan tangannya, ingin meninju Rendi untuk yang berulang kalinya. "ARDHAN!" Ardhan menghentikan aksinya, ketika suara Andine terdengar begitu saja ditelinganya. Andine menatap Ardhan dengan pertanyaan yang sudah menggumpal dipikiran Andine, gadis itu langsung mencekal pergelangan Ardhan kemudian mengajak laki-laki itu untuk menjauh dari kerumunan murid padipura, sedangkan semuanya sudah bersorak kecewa karena tontonan gratis telah usai. Rendi menatap sinis kearah Ardhan dan Andine yang sudah pergi dari hadapannya. Semua murid padipura akhirnya bubar, membiarkan Rendi yang masih tergeletak di lantai lorong padipura. "Lo kagak papa Ren?" tanya Deni yang sukses membuat Randi menendang dengkul laki-laki itu.  "Bego banget sih! Udah tau Rendi habis dipukulin sama Ardhan monster," celetuk Rama. "Berisik! Tolongin gue, gue lagi di penghujung maut lo sibuknya berantem," cetus Rendi sembari memegang perutnya yang terasa sakit karena tendangan dahsyat dari Ardhan. Dani dan Rama kemudian membantu Rendi untuk berdiri, ketua geng bullying yang paling ditakuti saja bisa kalah apabila berhadapan dengan Ardhan.  Ardhan sudah melipatkan kedua tanganya, sembari melipatkan kedua tanganya di dadanya, laki-laki itu hanya diam menunggu Andine yang akan berbicara kepadanya. Andine menatap Ardhan dengan kesal,"Lo ngapain berantem? Ardhan! Gue enggak mau nama gue ikut jelek karena lo." Ardhan menaikkan sebelah alisnya, tak mengerti akan apa yang Andine katakan barusan kepadanya, kenapa nama Andine yang jelek? Kan yang adu jotos tadi Ardhan bukan Andine apalagi Aldi papanya,"Meskipun nama lo jadi jelek lo tetap cantik kok." "Maksud gue itu, lo pacar gue jadi apapun yang lo lakuin semua murid Padipura bakal nyangkut-nyangkutin masalah lo ke gue," jelas Andine dan Ardhan sudah tersenyum tipis. Laki-laki itu hendak mengeluarkan rokok dari saku celananya, namun tangan Andine langsung menghentikan aksi Ardhan, Ardhan akhirnya memasukan kembali rokoknya. “Berhenti ngerokok, karena rokok bisa membunuhmu,” nasehat Andine. Ardhan tertawa keras,”Bukan rokok yang bisa membunuhku tapi cintamu.” "Jadi sekarang lo udah ngakuin gue pacar lo?" tanya Ardhan sehingga kedua pipi Andine langsung bersemu merah seperti tomat rebus. "Bu ... bukan gitu, gi ... gini, maksud gue, ahhh tau ah!" "Kenapa lo berantem? Semua murid Padipura ngeliat lo Ardhan! Lo kagak malu? Gue aja malu ngeliat kelakuan lo." Ardhan menunduk menyembunyikan senyuman kecewanya dihadapan Andine, Andine yang berdiri dihadapan Ardhan hanya menghela napasnya panjang. "Semua yang gue lakuin, cuma buat lo," Ardhan mendongak, mendapati mata cokelat milik Andine. Andine mengerutkan dahinya tak mengerti,"Buat gue?" Ardhan membalikkan badannya, ia tak ingin memperlihatkan wajah sedihnya di hadapan Andine, karena Ardhan tak ingin terlihat lemah dihadapan gadis itu. Ardhan melangkahkan kakinya ingin meninggalkan Andine, namun langkahnya terhenti, ketika tangan Andine sudah menyentuh lengannya. "Lo kenapa bisa berantem sama Rendi?" ulang Andine. Ardhan mengepalkan kedua tanganya, membiarkan emosinya memuncak yang sudah sampai ke ubun-ubun kepalanya. "KARENA GUE ENGGAK MAU ADA COWOK LAIN YANG DEKATIN LO SELAIN GUE!" Teriak Ardhan sembari meninju balkon, hal itu membuat jantung Andine seketika berdetak kencang atas apa yang Ardhan lakukan barusan kepadannya. "Gu ... gue salah apa?" Mata Andine mulai berkaca-kaca, karena Andine sangat rentan dengan yang namanya kekerasan. Ardhan mengusap wajahnya kasar,"LO PUNYA GUE ANDINE! GUE ENGGAK MAU SI ANJING RENDI NGEREBUT PUNYA GUE LAGI!!" teriak Ardhan tepat di hadapan Andine. Andine menggigit bibir bawahnya yang sudah gemetaran,"Gue bukan pacar lo! Lo yang asal mengklaim gue!" balas Andine tak kalah sengit. Ardhan terdiam sejenak, laki-laki itu kemudian tersenyum kecil, Ardhan mendekati Andine yang sudah berdiri dengan tangisnya, semua murid yang tadinya tengah duduk dan berlalu lalang, langsung berlari menjauh ketika mendengarkan teriakan Ardhan. Ardhan langsung merengkuh tubuh Andine kedalam pelukkanya, membantu Andine agar meredakan tangisannya. "Maafin gue Din," lirih Ardhan kepada gadis itu. Gadis itu langsung menghapuskan air matanya, lalu Andine memukul d**a bidang milik Ardhan dan laki-laki itu hanya diam. "Gue enggak suka dibentak!" Ardhan mengangguk, laki-laki itu merapikan rambut Andine kemudian mengahapus air mata Andine. "Gue juga enggak suka lo dekat sama cowok lain Din, gue enggak bakal kayak gini kalau lo enggak deket sama mereka, apalagi Rendi." Andine rasanya ingin memekik kesal,"Tapi dia kemarin cuma minjam pena sama gue Ardhan." Ardhan mengangguk,"Iya gue tau, makanya gue gak suka." Pernah ada timbul niat jahat di pikiran Andine, yaitu menculik Ardhan malam-malam, memasukkanya kedalam karung kemudian melemparkannya di empang. "Gue juga perlu berinteraksi Ardhan, gue juga manusia," protes Andine. Ardhan meraih kedua tangan Andine, kemudian menggenggamnya,"Berinteraksi nya sama cewek aja ya Din." "Sedangkan lo playboy?" Ardhan menggeleng, laki-laki itu kemudian mengeluarkan benda pipih dari sakunya. "Pegang ponsel gue," Ardhan berujar sembari menyodorkan ponselnya kearah Andine. Andine mengerutkan dahinya tak mengerti,"Buat apa?" "Lo pegang handphone gue Din, lo boleh baca semua notif ataupun apa aja, dan satu lagi sehari sesudah kita pacaran, gue udah mutusin semua hubungan gue sama semua pacar gue.” Andine menatap Ardhan tak percaya, gadis itu mengambil alih ponsel milik Ardhan. "Lo mau tau kenapa gue ngelakuin hal itu? Karena gue tau ada perasaan seseorang yang seharusnya gue jaga, dan gue mau lo juga ngelakuin hal yang sama." "Sini ponsel lo." Andine yang tadinya diam langsung mengernyit,"ponsel gue? Buat apa?" "Kalau ponsel gue sama lo, gue mau ngehubungin lo pake apa?" Andine kemudian mengeluarkan ponselnya, lalu Ardhan langsung meraihnya begitu saja. Laki-laki di hadapannya itu langsung mengotak-ngatik ponsel Andine,"lo mau ngapain?" Ardhan tersenyum sumringah,"Akhirnya enggak ada kontak cowok lagi handphone lo." Alhasil, Andine  langsung membulatkan matanya,"Nomor bokap gue lo hapus juga? Masya allah Ardhan!" Ardhan hanya terkekeh seakan-akan tak bersalah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN