Ardhan tengah menyandarkan tubuhnya di balkon belakang sekolah. Laki-laki itu mengeluarkan asap dari hidung dan mulutnya, bahkan asap rokok sudah mengepul di sana.
"Lo suka beneran Dan sama Andine?" David mulai membuka mulut untuk bertanya.
Raffa ikut mengangguk,"Belakangan ini lo sama dia mulu," timbrungnya.
"Suka itu wajar geblek," tambah Azka yang sedang berdiri sembari membaca novel. Semuanya tengah mengisap benda beracun berbentuk slinder tersebut, tapi beda dengan Azka, laki-laki itu menghabiskan waktu bolosnya dengan membaca novel, karena Athaya pernah bilang kalau ia benci cowok perokok.
Ardhan tersenyum kecil, disentilnya putung rokok yang hampir habis itu kebawah, lalu ia pijak hingga apinya benar-benar padam. Laki-laki itu mengacak rambutnya asal.
"Pertanyaan lo sama aja kayak, lo bisa jatuh cinta? Gue juga manusia kali, mau juga ngerasain apa itu yang di namakan dengan love at first sight." David dan Raffa mengerutkan dahi mereka, sedangkan Ardhan hanya tersenyum kecil.
Wajah Andine tak pernah luput dari pikirannya, yang ada hanya Andine dan Andine, semenjak gadis itu hadir di kehidupannya planning Ardhan cuma satu yaitu membahagiakan Andine. Ardhan mengecek handphonenya yang bergetar disakunya.
Athaya : BANG! OII BANG! BABAANG!
Ardhan menatap pesan tersebut heran, tumben Athaya menghubunginya karena biasanya gadis itu ogah-ogahan chatingan dengan Ardhan jika tidak ada sesuatu yang lebih penting, Ardhan mengarahkan jarinya untuk membalas pesan dari Athaya.
Ardhan : Nape? Tu capslock biasa ae.
Athaya : ANDINE DI RUMAH SAKIT! GILAK! LO KAGAK TAU? MASIH SEMPATNYA LO BOLOS!
Mata Ardhan langsung terbelalak, Ia segera memasukkan handphone-nya dan melesat pergi.
"Mau kemana?" tanya Azka.
Langkahnya terhenti, kemudian menengok kearah kawanannya sejenak,"Rumah sakit! Andine sakit, gue duluan." Ardhan mempercepat langkahnya, menerebos kerumunan Murid padipura yang menatapnya kagum, ada juga yang mulai berbisik dan bertanya-tanya, ada apa dengan Ardhan? wajahnya tampak begitu khawatir.
Ardhan keparkiran untuk mengambil motornya lalu melajukannya kencang, melewati tengah lapangan untuk menuju depan gerbang sekolah, bahkan semua sudah bersorak riuh, Ardhan bagaikan pembalap handal yang sangat ditunggu.
Ardhan mendesah pelan ketika gerbang sekolah tertutup, ditatapnya satpam tersebut dengan matanya yang sudah memerah,"Pak! Saya ada urusan penting!"
Dengan langkah cepat dan terpontang panting Pak Nonono langsung membuka gerbang Padipura. Ardhan melajukan motornya sangat kencang, dan pak Nonono hanya menggelengkan kepalanya pelan. Disepanjang jalanan Ardhan menerka-nerka apa yang terjadi dengan Andine.
Banyaknya pemikiran buruk dengan gadis itu membuat Ardhan langsung menepisnya, ia sedikit kesal karena Andine, kenapa gadis itu tidak memberitahunya kalau ia lagi sakit.
Andine kenapa yah? Masa sih dia jantungan?
Apa dia gak sarapan?
Dia sakit apa sih?
Ardhan menatap arloji miliknya, Ardhan memakirkan motornya di parkiran rumah sakit. Kemudian, Ardhan langsung jalan dengan tergesa-gesa di lorong rumah sakit, ia celingak-celinguk mencari ruangan Andine.
Athaya : Ruangan Anggrek nomor 2.
Ardhan langsung menuju kesana dengan cepat. Ardhan akhirnya dapat bernapas lega ketika melihat Andine yang sudah duduk di atas matras rumah sakit, dan gadis itu terlihat baik-baik saja. Ardhan menarik kursi disamping Andine, lalu ia duduk dengan wajah masamnya.
"Lo kok enggak ngeberi tau gue?!" Ardhan menatap Andine dengan perasaan kesal. Andine hanya menatap Ardhan dengan dahinya yang sudah terlipat-lipat, Seperti gulungan tikar.
"Dine," lirih Ardhan lagi.
Andine mencibir diserahkannya handphone milik Ardhan yang ia letak diatas nakas rumah sakit,"Gue lupa pola handphone lo, jadi gue enggak tau gimana caranya ngehubungin lo." Ardhan langsung memasang wajah cengonya, Ardhan yang tadinya sedangkan kesal sekarang malah menahan tawanya karena gadis itu.
Ardhan mengambil ponselnya lalu membuka polanya tepat diwajah Andine,"Polanya A Dine," Andine mengangguk seolah-olah paham, padahal ia tetap tidak tau, pola Ardhan ribet, handphone Andine saja tidak ia pakaikan pengaman karena takut lupa.
Ardhan mengembalikan handphone Andine kepada pemiliknya,"Yaudah pake aja handphone lo, setiap hari gue bakal cek apa aja isinya." Andine memgambil handphonenya kembali dari tangan Ardhan dengan wajah sumringah.
"Lo sakit apa?" Ardhan membuka apel yang berada diatas nakas lalu memberikannya kepada Andine.
"Mencret,"jawab Andine dan Ardhan langsung menaikkan sebelah alisnya,"MENCRET?" tanya Ardhan tak percaya.
Andine mengangguk,"Iya, ini gue udah mau disuruh pulang."
Andine menatap ke sekeliling rumah sakit sejenak, lalu ia mendekatkan bibirnya di dekat telinga Ardhan,"Dokternya jahat, masa gue udah disuruh pulang, kan perawatnya cogan," bisik Andine.
Ardhan langsung menatap gadis itu dengan kesal, sedangkan Andine langsung tertawa keras karena melihat ekspressi Ardhan yang lucu,"Canda."
"Kalau gitu kita pulang!" ajak Ardhan kepada gadis itu.
"Sore aja, lagi mau istirahat,"tolak Andine namun Ardhan langsung menggeleng.
Andine mengerucutkan bibirnya,"Tubuh gue terlalu lemas buat jalan Ardhan," alasan klise dari Andine
membuat Ardhan tetap teguh dengan pendiriannya.
Ardhan menepuk pundaknya,"Apa?" tanya Andine mengernyit.
Ardhan menarik napasnya dalam,"Lo bilang, lo lemas? Yaudah gue gendong, ayok!"
Andine memutar bola matanya malas, akhirnya Andine mengalungkan tangannya di leher Ardhan, Ardhan menggendong Andine untuk keluar rumah sakit, semua menatap mereka iri, bahkan seorang suster yang berlalu lalang saja memekik karena mereka berdua. Andine dan Ardhan sudah menjadi pusat perhatian, Ardhan menyusuri lorong-lorong rumah sakit dengan Andine yang sudah berada di gendonganya sembari bernyanyi.
Ku ingin cinta hadir untuk selamanya.
Bukan hanyalah....
Untuk sementara, menyapa dan hilang.
Terbit tenggelam bagai pelangi,
Yang indahnya hanya sesaat.
Tuk kulihat dia mewarnai hari ku, tetaplah engkau disini.
Jangan datang lalu kau pergi, jangan anggap hatiku jadi tempat persinggahanmu.
Ardhan hanya tertawa kecil mendengar suara cempreng milik Andine,"Dine kan lo mencret, tapi otak lo kok malah geser? Mau check up gak? Mumpung masih dirumah sakit."
Andine menepuk pelan pundak Ardhan,"Ihh apaan sih."
Ardhan terkekeh,"Lo kenapa bisa mencret?" tanyanya.
Andine memanyunkan bibirnya, gadis itu berdecak sebal,"Gara-gara tadi malam gue makan ayam geprek, pedes gila."
Ardhan menghela napasnya, diturunkannya Andine di parkiran,"Makanya makan itu yang bener, liat-liat dulu," Ardhan berujar sembari mengacak pelan rambut Andine, lalu Ardhan mengambil motor ninja merahnya yang ia parikirkan tadi. Andine hanya menatap laki-laki tersebut dengan senyum yang tak luput dari bibirnya.
"Naik," Andine langsung naik keatas motor Ardhan yang cukup tinggi tersebut. Namun sebelumnya, Ardhan melepaskan jaketnya sejenak lalu memberikannya kepada Andine"Pake Dine, entar lo sakit lagi."
Andine hanya mengikuti Ardhan, Ardhan kemudian mengambil tangan Andine, di lingkarkannya tangan Andine di pinggangnya,"Pegangan entar lo jatuh."
Ardhan melajukan motornya keluar dari halaman rumah sakit, Andine hanya tersenyum tipis, dilihatnya ekspressi Ardhan yang sangat serius dan perhatian kepadanya, saat itu kenakalan tentang Ardhan di pikiran Andine langsung lenyap bagai di terpa angin begitu saja.
Andine menempelkan pipinya di punggung Ardhan, dan Ardhan sudah merekahkan senyumannya di balik helm laki-laki itu.
Dia bukan nakal, tapi ia hanya ingin menikmati masa remajanya.
Dia bukan over, tapi ia takut kehilangan.
Dia possesive, karena ia khawatir.
Dia adalah Ardhan, sang pemilik hati dan samudra tempat kemana perasaan akan berlabuh.